HomePojok LirboyoSenandung Habib Syech di Malam Mendung

Senandung Habib Syech di Malam Mendung

0 7 likes 1.8K views share

LirboyoNet, Kediri – “Beberapa tahun lalu, saya masih bersama Mbah Idris. Tahun sebelumnya, saya bersama Mbah Imam. Kami sama-sama selalu berdoa, ‘Ya Allah, kami cinta kepada Rasulullah. Kami rindu Rasulullah.'”

Malam itu, Sabtu (09/04) kedua almaghfurlah, KH. Ahmad Idris Marzuqi dan KH. Imam Yahya Mahrus sudah tidak berada di panggung lagi. Namun sang Habib tidaklah merasa di dalam sepi. “Beliau selalu hadir bersama kita. Beliau hadir dalam setiap kebaikan yang kita lakukan.”

Layaknya yang telah menjadi rutinitas, shalawat mulai bergema di lapangan Barat Pondok Pesantren Lirboyo setelah matahari tuntas berselimut di peraduan. Adalah Ahbabul Musthofa, grup shalawat pengiring Habib Syech yang memulai memendarkan cahaya cinta Rasulullah malam itu.

Syecher Mania pelan-pelan mengikuti irama pukulan rebana. Daftar lagu yang disuguhkan sudah di luar kepala mereka. Sambil menggandeng istri, seorang pengunjung berkomat-kamit. Sambil melayani pembeli, bibir penjual buku menggumam lirik-lirik.

Hujan adalah penghalang bagi sebagian orang. Bagi para pecinta, ia adalah wujud dari restu alam atas nama kekasih yang selalu disebut. Periksa saja foto-foto para syecher. Jalan penuh. Lapangan riuh. Tahun lalu, yang hadir sangat banyak. Tahun ini lebih banyak lagi. Benar ujar Habib Syech. Hujan malam itu adalah berkah.

Ribuan santri putri Pondok Pesantren Putri Tahfidzul Qur’an (PPTQ) terpaksa basah kuyup. Santri putri pondok unit lain, seperti Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), P3HM Qur’aniyyah (P3HMQ) yang datang di waktu yang sama juga mengalami hal yang serupa. Tak mengapa. Pakaian dan badan mereka basah oleh hujan. Hati mereka kuyup oleh kerinduan. Mereka beruntung dapat bertemu Habib Syech dua kali. Pagi hari sebelum acara, Habib Syech berkenan menemui mereka. Mereka juga mendapat petuah untuk menemani belajar mereka selanjutnya.

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaff duduk bersila di panggung. Pun para masyayikh Lirboyo. Hadirin juga duduk dengan khidmat. Namun dalam sukma mereka, cinta telah bersujud. Menghamba kepada sebaik-baik pujaan hati, Rasul Muhammad Saw. Maka mengalirlah pujian-pujian yang tak putus. Qashidah satu disambung dengan qashidah lain, layaknya menyambung benang untuk sampai ke tirai kamar sang kekasih.

Di tengah untaian shalawat, Abdullah Abu Bakar S.E selaku Walikota Kediri berterima kasih, dan memberikan apresiasi kepada hadirin yang rela hujan-hujanan dalam even ini. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, juga ikut mengumbar satu-dua kalimat. “Jenengan semerap LGBT? Niku loh. Ganteng-ganteng, rabine lanang. Ayu-ayu rabine wedok.” Cinta adalah anugerah Tuhan. Maka jika tidak sesuai konsep cinta-Nya, masihkah pantas disebut cinta? Sungguh, dia adalah bujukan, rayuan, dan nafsu amarah yang dikendalikan syaitan.

Belum tengah malam, Indonesia Raya dikumandangkan. Memang, Habib Syech harus pulang lebih mula. Ada keperluan yang memaksa beliau untuk tidak berlama-lama. Hadirin kecewa? Tidak. Mereka tahu, kasih yang dipujakan tak akan putus oleh perpisahan. Sepasang kekasih akan selalu menemukan cara untuk bertemu kembali.][