HomePojok LirboyoSeminar Nikah untuk Siswa Tahap Akhir

Seminar Nikah untuk Siswa Tahap Akhir

0 9 likes 802 views share

LirboyoNet, Kediri – Aula Muktamar terasa khidmat di Senin malam kemarin (10/01). Beberapa orang berpakaian necis duduk di panggung, berhadap-hadapan dengan dipisah meja kecil. Di atasnya, terserak beberapa lembar catatan. Sebelum khotbah dibacakan, dua orang mendekati meja. Saling menjulurkan tangan dan berjabat. “Anda sudah yakin dan tulus, ingin menikahi saudari La Faidatalah binti Fidel Haq?”

Calon mempelai putra menatap penghulu dengan yakin. Akad nikah pun bisa dilangsungkan. Ada beberapa kesalahan dalam pengucapan shighah (kalimat akad), sehingga akad harus diulang sekali lagi. Barulah, setelah dinilai benar, acara penting itu kemudian dapat berjalan lancar dan doa segera dipanjatkan.

Ada beberapa koreksi dalam praktik latihan akad nikah itu. Sebagaimana yang diungkapkan H. M. Fathoni Wachid, pemateri malam itu, taukil, atau proses mewakilkan hak menikahkan dari wali kepada pihak lain, hendaknya dilakukan sebelum rangkaian prosesi akad nikah. “Tidak berpengaruh signifikan sebenarnya. Hanya, agar akad nikah dapat berjalan hidmat tanpa disela-selai hal lain,” ujarnya.

Bapak Wachid, yang menjadi tenaga profesional di KUA (Kantor Urusan Agama) ini juga menambahkan, bahwa meski hanya simulasi, para siswa tetap saja terlihat gugup. “Ini menunjukkan bahwa nikah adalah ibadah yang sangat sakral.”

Dalam tanya jawab terbuka, ia tertarik pada persoalan poligami yang ditawarkan siswa. “Memang kami (KUA) sekilas terlihat tidak menghalangi seseorang untuk berpoligami, tapi kami memagari ini dengan syarat-syarat yang juga disyaratkan oleh syariat. Bahkan lebih berat dari itu,” ungkapnya. Misalnya, harus ada surat pernyataan resmi dari istri yang sah, bahwa suaminya telah ia beri izin untuk beristri lagi. Juga harus ada kejelasan sumber nafkahnya. Bisakah nafkah yang biasa ia hasilkan dibagi? Gak boleh kalau cuma mengajukan tawakkal-tawakkalan. Bisa gak beres ke depannya nanti,” imbuhnya.

Praktik akad nikah adalah salah satu program Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, untuk menggembleng dan membekali siswanya dengan masalah-masalah  yang mesti berlaku di tengah masyarakat. Tidak seperti praktik ibadah yang lain, semisal shalat, tajhizul janaiz (merawat jenazah), juga haji, yang semuanya diberlakukan kepada berbagai jenjang pendidikan, praktik ini hanya dikhususkan bagi santri yang telah memasuki jenjang akhir masa didik, yakni tiga Aliyah.

Isyqi, salah seorang panitia mengungkapkan, meskipun di jenjang akhir ini terdapat ujian praktik akad nikah, Seminar Akad Nikah ini baru pertama kali diadakan. “Di tahun-tahun sebelumnya, hanya dicukupkan di kelas masing-masing. Belum pernah ada seminar akad nikah bagi seluruh siswa kelas tiga Aliyah. Jadi, ini hal baru yang semoga menjadi agenda tetap bagi kelas tiga Aliyah pada tahun-tahun berikutnya.”

Kenapa harus dilaksanakan? Ada beberapa hal yang dipertimbangkan. Salah satunya, praktik akad nikah yang berlaku di masyarakat sudah bermacam-macam. Dengan mendatangkan seorang profesional, dan telah memiliki banyak pengalaman dalam bidang ini, diharapkan santri akan mendapat bekal yang lebih. Mereka akan tahu sisi-sisi penting dari akad, yang jarang bisa diketahui dengan hanya membaca kutubus salaf.][

*Hal-hal terkait akad nikah yang biasa dilangsungkan menurut konsep KUA, baik dasar hukum, pelaksanaan, hingga persiapan administrasi pernikahan dapat didownload di link ini.