HomePojok LirboyoPesantren Menuju Pendidikan Tinggi

Pesantren Menuju Pendidikan Tinggi

0 0 likes 81 views share

LirboyoNet, Situbondo—Ma’had aly sebenarnya bukan barang baru di dalam konstelasi pendidikan Islam di Indonesia. Ia telah ada sejak puluhan tahun lalu, di mana Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, yang dipimpin oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin waktu itu, membangun semacam lembaga pendidikan tinggi bagi para santri.

“Kiai As’ad dengan jeli membangun prototipe ma’had aly, yang lalu menarik perhatian pemerintah waktu itu sehingga memberikan status jenjang pendidikan itu setara dengan pendidikan pascasarjana secara legal,” ungkap KH. Abdul Jalal, ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) saat dikunjungi di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Rabu (14/02) lalu.

Prototipe ma’had aly yang ideal adalah ketika seluruh komponen ma’had aly berada dalam satu lokasi. Komponen itu, antara lain, santri ma’had aly, musyrif, pemangku, asrama sekaligus kampus. Dengan begitu, menurut Kiai Jalal, kontrol dan pengawasan ma’had aly akan berjalan dengan baik. “Kemampuan penyatuan seluruh komponen dalam satu lokasi ini dapat dilakukan oleh pesantren-pesantren besar, seperti Salafiyah Syafi’iyah Situbondo maupun Lirboyo. Kemampuan ini harus dimaksimalkan, karena inilah salah satu pembeda antara universitas dengan ma’had aly,” imbuh beliau.

Sistem pembelajaran dalam ma’had aly ini, memandang ia adalah pendidikan tinggi, berbeda dengan sistem pembelajaran madarasah di pesantren. Jika para santri biasanya mengaji kitabnya hanya sebatas pemahaman literer dan cenderung fokus pada khatamnya kitab, pembelajaran di ma’had aly lebih jauh dari itu. “Di ma’had aly, konsentrasi pemahaman kitab, selain secara literer, juga harus mengedepankan pemahaman secara kontekstual. Karenanya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan ma’had aly jauh lebih lama dan lebih besar daripada madrasah. Di ma’had aly bukan hanya pengajian, tapi pengkajian. Bukan hanya pengajian Fathul Mu’in, tapi pengkajian Fathul Mu’in,” contoh beliau.

Untuk keberlangsungan role model pendidikan ma’had aly yang ideal ini, perlu adanya diskusi antar pemimpin ma’had aly dalam waktu dekat ini. “Saat ini, kita membutuhkan ruang dialog bagi seluruh pemimpin ma’had aly. Dari pertemuan itu, akan dapat ditemukan konsep-konsep brilian, prioritas kebutuhan, dan masalah-masalah lain yang memerlukan solusi,” harap beliau. Sementara ini, AMALI yang dipimpin beliau sedang menggalang kekuatan pro ma’had aly di lembaga-lembaga negara, termasuk DPR RI. Pengumpulan kekuatan inilah yang oleh beliau dinilai akan berpengaruh pada bangunan ma’had aly selanjutnya, dan mendapat perhatian lebih dari negara.][