HomePojok LirboyoHaflah Mubtadiaat, Menelusuri Makna Jihad

Haflah Mubtadiaat, Menelusuri Makna Jihad

0 4 likes 3.1K views share

LirboyoNet, Kediri – “Wahai Nabi, siapa yang memerintahkanmu. Allah, atau keinginanmu sendiri?” Siti Hajar bertanya kepada suaminya, Nabiyullah Ibrahim. Pertanyaan itu mengemuka setelah Nabi Ibrahim berpamitan, “aku akan meninggalkanmu, Hajar. Aku akan kembali ke Palestina.” Beberapa waktu sebelumnya, beliau membawa Siti Hajar serta putranya, Ismail yang masih merah, berjalan jauh. Dari Palestina hingga tanah yang sekarang bernama Makkah. “Allah yang menyuruhku,” jawab Nabi Ibrahim. Sesak. Siapa yang sudi meninggalkan istri dan bayi di tanah pasir tak bersumur? “Allah yang menyuruhku, Hajar.” Ternyata kekasih yang dikhawatirkannya luar biasa tegar. “Jika Allah yang memerintahmu, laksanakan. Pulanglah ke Palestina.” “Jangan kau khawatirkan kami. Dia yang menyuruhmu akan menjagamu, dan akan menjagaku dan anakku.”

Habib Umar bin Ahmad Al Muthohar mengisahkan ini kepada para santri Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), Sabtu (07/05). Malam itu adalah peringatan Haul dan Haflah Akhirussanah Pondok Dan Madrasah Putri Hidayatul Mubtadiaat yang ke-31.

Dimulai sejak ba’da isya, para santri berkumpul di halaman dalam P3HM. Sementara Habib Umar memberikan ceramah di aula, di depan para tamu undangan, wali santri, dan dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo. Namun para santri tidak kecewa, karena di halaman telah terpasang layar lebar guna menayangkan aktivitas yang terlaksana di aula.

Sebelum tausyiah Habib Umar, terlebih dahulu acara diisi dengan penampilan seni hadrah dari para santri. Setelah sambutan dari wali santri dan pengasuh, baru Habib yang berasal dari Semarang ini dipersilahkan menuju panggung.

“Zaman sekarang, orang-orang terbagi dua macam: satu, orang yang salah paham. Dua, mereka yang pahamnya salah. Orang-orang yang salah paham ini akibat dari orang-orang berpaham salah,” ungkap beliau. “Ada orang pernah bertanya kepada saya, ‘Bib, kejadian di Jalan Thamrin (peristiwa bom bunuh diri di salah satu kawasan di Jakarta, -red) itu jihad nopo mboten?’ ‘Loh, ya bukan. Jihad itu di jalan Allah. Bukan di Jalan Thamrin,'” tukas beliau disertai tawa hadirin.

Peristiwa-peristiwa seperti ini, terang beliau, yang menjadikan banyak orang awam menjadi salah paham. Penyebabnya, tindakan yang dilakukan orang-orang berpaham salah itu.

Dalam mauidhoh beliau selanjutnya, beliau mewanti-wanti para santri, khususnya para santri yang hendak pulang ke tengah masyarakat. “Kalian, para santri, sudah dibekali oleh Kiai Anwar (KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat, -red). Kalian sudah dibekali guru-guru kalian. Jangan menjadi orang yang ikut-ikutan.”

Beliau kemudian menyitir Hadits Rasulullah, “Laa takun ma’ah. In ahsanu ahsantu. In asaa’u, asa’tu. Kalau mereka baik, saya juga baik. Kalau mereka buruk, saya juga buruk. Jangan begitu. Kalau mereka baik, kalian harus lebih baik. Kalau mereka buruk, arsyiduu hum wa ansya’uu hum. Tunjukkan mereka. bimbing mereka kepada jalan yang baik.”

Tugas bagi santri adalah mengajak mereka yang menggok, agar kembali kepada jalan yang benar dan baik. Inilah bentuk jihad yang seharusnya. Entah itu berupa ibadah, muamalah, munakahah, dan sebagainya. “Juga ibadah haji. Jenengan nate (pernah) haji? Purun haji? Jenengan cukup maos surat Al-Fatihah ping telu, surat Al-Ikhlas ping telu, kale surat tanah telung lembar. Niku pun cekap damel haji (Anda cukup membaca surat Al-Fatihah tiga kali, surat Al-Ikhlas tiga kali, dan surat tanah tiga lembar. itu sudah cukup buat naik haji),” tawa kembali meledak di tengah hadirin.

Nabi mengaku diutus oleh Allah dari sebagus-bagus suku. Lahir dari sebagus-bagus rumah tangga. Maka Habib Umar berharap, para santri putri dapat mewujudkan rumah tangga yang baik. Karena kunci rumah tangga adalah perempuan. Setelah kelurga baik, akan tercipta lingkungan sekitar yang baik pula. Dengan demikian, para santri ikut berperan dalam membangun masyarakat yang baik pula.][