HomePojok LirboyoMenyongsong Bahtsul Masail Pamungkas

Menyongsong Bahtsul Masail Pamungkas

0 5 likes 490 views share

LirboyoNet, Kediri – Bahtsul masail merupakan ciri khas pesantren. Salah satu cita rasa yang hanya ada di pondok-pondok pesantren ini sekarang semakin berkembang.  Selain keberadaannya yang semakin dibutuhkan sebagai “solusi aktual” problematika umat, bahtsul masail juga dinilai sebagai jalan tengah dalam menyikapi kasus-kasus yang sekarang tengah hangat merebak. Seperi isu tentang kenegaraan, yang saat ini menjadi hangat diperbincangkan. Bahtsul masail tak ketinggalan mengangkat tema ini. Baik santri maupun alumni, semua turut ambil bagian untuk andil menjawab tuntutan zaman yang semakin cepat. Seperti dikutip dari dawuh KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Ponpes Lirboyo, “Dari mana saja, dari pondok mana saja, kita tingkatkan adanya bahtsul masail, sebab itu satu-satunya ciri khas dari pondok pesantren.”

Dalam rangka penutupan seluruh aktifitas dan kegiatan Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo, dan menyongsong datangnya peringatan Haul dan Haflah Akhirussanah Ponpes Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, dimulailah acara puncak Bahtsul Masail Kubro (BMK) dan Bahtsul Masail Himasal. Seperti halnya jamak diketahui, Ponpes Lirboyo rutin setiap akhir tahun pelajaran mengadakan agenda bahstul masail, sebagai acara pamungkas. Tahun ini sendiri, bahtsul masail pamungkas di pondok Pesantren Lirboyo diagendakan mulai Rabu-Kamis, 22-23 Maret 2017 M./23-24 Jumadal Akhirah 1438 H, di serambi Masjid Lawang Songo dan Kantor Himasal. Acara ini dibuka kemarin.

(Baca beritanya disini)

Hanya saja, yang istimewa tahun ini adalah keturut sertaan Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) dalam bahtsul masail penutup. Jika biasanya ditahun-tahun sebelum ini, bahtsul masail pamungkas hanya dihadiri oleh undangan dari beberapa pondok pesantren, dan para santri Lirboyo sendiri, tahun juga turut hadir, para pengurus Himasal daerah masing-masing guna menyemarakkan jalannya bahtsul masail.

Para pengurus cabang Himasal daerah diundang untuk menghadiri bahtsul masail kali ini. Tak kurang dari dua puluh lima pengurus cabang Himasal jawa Timur, seperti Pengurus Cabang Himasal Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Malang, dan puluhan pengurus anak cabang Himasal Kediri diundang. Perwakilan dari luar Jawa Timur, seperti Jepara, Tasikmalaya, bahkan Palembang juga ikut datang. Sementara BMK, dihadiri oleh delegasi utusan dari pondok-pondok di pulau Jawa. Sekitar enam puluh  pondok pesantren diluar Pondok Pesantren Lirboyo diundang. Seperti PP. Nurul Kholil, Al-Falah, MIS, dan lain-lain.

Menurut Agus HM. Ibrahim Hafidz, adanya Bahtsul Masail Himasal ini dilatar belakangi desakan dari berbagai kalangan, yang meminta alumni Lirboyo untuk lebih turut dan peka terhadap permasalahan yang saat ini sedang hangat. Maka dibentuklah forum khusus yang mewadahi aspirasi ini. “Mulanya, di dalam agenda Himasal, bahtsul masail akan terlaksana setiap lima tahun sekali. Namun, akhir-akhir ini, ada desakan dari para alumni yang merasa bahwa untuk mengakomodir dan memformulasi permasalahan yang aktual, tidaklah cukup dirumuskan lima tahun sekali. Maka kemudian Himasal mencoba mewadahi permasalahan alumni ini dengan mengadakan bahtsul masail Himasal pada akhir tahun ini.”

(Baca wawancara eklusifnya disini.)

Tahun ini, BMK dan Bahtsul Masail Himasal mengangkat dua kajian umum. Untuk BMK khusus membahas bahtsul masail dengan pembahasan-pembahasan waqi’iyyah (aktual), sementara Bahtsul Masail Himasal membahas kajian maudhu’iyyah (tematik).

Ada dua belas soal waqi’iyyah yang dibahas, seperti yang saat ini sedang hangat, apakah hukumnya membagikan berita hoax, dikotomi Alquran untuk menarik minat baca, hukum pelestarian situs sejarah, dan bagaimana maksud “keras” dan “lembut” dengan pemeluk agama lain.

(Soal BMK waqi’iyyah, semuanya dapat diunduh di link ini.)

Sementara bahtsul Masail Himasal dengan kajian maudhu’iyyah mengangkat tema besar “Bersama Pesantren, Merajut Kebhinekaan”. Pembahasannya tak jauh dari polemik keabsahan NKRI sebagai bentuk final negara kita, dan bagaimana sikap yang akan disepakati, juga langkah yang perlu ditempuh. Tak lupa, dicantumkan pula kesimpulan dan rekomendasi.

(Draft Bahtsul Masail Himasal dapat diunduh di link ini.)

Apapun hasil pembahasan yang disepakati nantinya, kita hanya tinggal menunggu, semoga dengan adanya musyawarah semacam ini, keberadaan pesntren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama semakin bisa menjawab “keresahan masyarakat” akan arus globalisasi.[]