HomePojok LirboyoLonceng Keramat dan Menghitung Liburan

Lonceng Keramat dan Menghitung Liburan

0 2 likes 255 views share

Lirboyo masih menyimpan sisi keunikannya dengan rapi, dari segi tata bangunannya saja yang terkesan carut-marut tidak seperti pondok-pondok lainnya yang tersusun rapi berbaris, tapi justru itu yang patut di banggakan, karena menandakan bahwa pondok ini berdiri setelah kedatangan santri, baru setelah itu bangunan menyusul, pun di bangun atas dasar suka-rela dan gotong-royong para santrinya. Pondok hanya menyediakan tanah saja. Betapa ciri khas Nusanta sangat kentara. Hingga sekarang pembangunan di sana-sini masih terus di galakkan, mengingat terus membludaknya jumlah santri, dengan tetap melibatkan tenaga santri (Ro’an).

Selain itu, dalam menandakan aktifitas sehari-harinya, bergantinya kegiatan satu dengan yang lainnya, Lirboyo masih menggunakan lonceng yang bertebaran di beberapa titik. Lonceng di pukul untuk menandakan masuk sekolah (diniyyah), jam 07-00 untuk sekolah pagi dan jam 19-00 untuk sekolah malam,santri masuk lokal masing-masing untuk mengumandangkan syair-syair (lalaran)  sesuai pelajarannya sampai setengah jam kemudian lonceng di pukul lagi guna menandakan lalaran usai, begitu seterusnya lonceng bulat-besi itu di pukul menandakan jam istirahat dan selesainya jam pelajaran.

Ngomong-ngomong masalah lonceng, ada ‘keajaiban’ tersendiri baginya di kalangan santri lirboyo, yang mungkin juga telah masyhur disini.

Kondisi hujan deras, adalah saat-saat yang menyenangkan untuk “pancal selimut”. Apalagi di sertai pemadaman, pasti gembiralah sekali hati para santri, menandakan kalau sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya otomatis libur.

Tapi sering sekali di jumpai, pada saat jam-jam lonceng hendak di pukul, beberapa menit sebelumnya, hujan yang semula deras, tiada tanda akan reda, mendadak berhentik serentak hanya menyisakan rintik, mau tidak mau, santri-santri yang semula gembira  kerena kegiatannya akan libur karena di paksa oleh hujan, harus berangkat dengan sedikit berlarian kecil.

Yang juga mengherankan, dan sering terjadi, setelah sampai di kelas, hujan rintik tadi kembali deras mengguyur, seakan ia reda hanya untuk mempersilahkan para santri berangkat sekolah.

Tapi sebaliknya, kalau hujan akan reda ketika lonceng di pukul saat jam masuk sekolah, ia sama sekali tak bergeming pada saat jam pelajaran usai, meski lonceng sudah bertalu. Jadi para santri masih tertahan oleh hujan di kelasnya masing-masing, tidak bisa pulang ke kamar, kasihan.

Yang unik lagi, mendekati masa-masa liburan seperti sekarang, hari H liburan di hitung berapa kurangnya, meski toh masih berpuluh-puluh hari datangnya, saking merindukannya masa liburan, setelah berbulan-bulan berkutat dengan kitab. Hingga tak jarang di jumpai semisal tulisa H- 14 Go to Home, gambar bus,kereta bahkan pesawat, dll  di papan tulis bagian atas. Dan angka ini akan terus di up-date sampai hari libur datang.

Dengan menghitung jumlah hari Mungkin ini masih belum seberapa, yang lebih menggemaskan dan bikin geleng-geleng kepala, sebagian santri ada yang sampai menghitung jumlah pukulan lonceng sampai hari liburan !!!.

Jadi kalau diumpamakan sehari-semalam ada 15 kali pukulan lonceng pada masing-masing jam pergantian, maka kalau sekarang liburan kurang 12 hari maka lonceng akan berbunyi 180 kali.

Hitungan bunyi lonceng ini akan lebih bermakna bagi para santri yang hendak menyelesaikan studinya, tamatan. Sebab tidak hanya liburan ada di depan mata, tetapi lebih pada sebutan menjadi alumni Lirboyo akan juga di sandang.