HomePojok LirboyoLirboyo Menggerakkan Penulis Perempuan

Lirboyo Menggerakkan Penulis Perempuan

0 1 likes 96 views share

LirboyoNet, Kediri—Jum’at pagi (28/09) kemarin, ada kebiasaan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya di Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ). Sejak pagi set up lokasi acara sudah dipersiapkan dan ditata sedemikian rupa, dari mulai memasang proyektor, menyiapkan karpet untuk peserta dan sebagainya. Karena di hari itu P3TQ memiliki hajat penting: Menggerakkan gairah menulis untuk santri putri.

Dua pembicara dihadirkan. Dhomirotul Firdaus, pengisi kajian rutin “Kiswah Female” di TV9, dan Kholida Ulfa Mubaroka, penggerak literasi perempuan, yang juga mahasiswi S2 di Universitas Airlangga Surabaya.

Kapasitas kedua pemateri ini memacu antusias para santri putri untuk mengikuti acara. Ini terlihat dari penuhnya ruangan aula yang telah disediakan panitia. Acara yang berlangsung hingga pukul 11 siang itu berisi pengenalan dan pemahaman akan pentingnya literasi santri. “Para santri harus tahu bagaimana posisi media yang memiliki peran sangat penting dalam era postmodernisme saat ini,” ujar Kholida.

Dalam kesempatan itu Kholida dan Ning Firda, panggilan akrab Dhomirotul Firdaus, berusaha mengidentifikasi minat santri dalam menulis. Mereka menawarkan materi-materi yang bisa dipersepsikan dengan bebas. Dari penyampaian materi seperti ini, santri diharapkan dapat berperan aktif untuk ikut mengembangkan minat menulisnya. Mereka dituntut untuk menarasikan materi tersebut menurut persepsi masing-masing.

Yang dibutuhkan para santri, di samping materi, juga stimulus agar mereka lebih gemar menulis, apapun bentuknya. Karenanya, diperkenalkan juga kepada mereka, bagaimana menumbuhkan rasa suka dan keinginan mereka dalam menulis tanpa harus menunggu cara-cara penulisan yang baik dan benar. Yang terpenting adalah, menurut Kholida, ide yang muncul harus segera disalurkan dan tidak terpendam.

Ia berharap, santri putri melepas ketakutannya untuk menulis. “Mereka harus berani dan memiliki keinginan untuk mempunyai karya tulis, sehingga bisa memberikan manfaat kepada orang lain.” Harapan serupa disebut oleh Ning Firda, “Santri memang harus melek media, agar saat terjun di masyarakat nanti tidak kaget dengan isu-isu yang terjadi di luar.” -/red