HomePojok LirboyoBekali Delegasi Sebelum Berangkat Safari

Bekali Delegasi Sebelum Berangkat Safari

0 4 likes 694 views share

LirboyoNet, Kediri – Salah satu program penting tahunan pondok adalah safari dakwah. Program yang digiatkan ini bertujuan sebagai media syiar Islam dan praktek lapangan bagi santri untuk belajar bermasyarakat secara langsung. Program ini sendiri diwajibkan menjelang mereka lulus dari Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Tepatnya, ketika para santri menginjak jenjang kelas dua Aliyah. Namun juga tidak sebaku itu, program ini bersifat terbuka, dalam artian, semua santri yang masih berdomisili di pondok tetap boleh dan berhak ikut. Baik dikoordinir oleh Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) daerah masing-masing, atau melalui LIM pusat.

Realisasi safari dakwah memang masih lama, bulan Ramadhan yang akan datang. Namun persiapan yang matang mutlak perlu dan tetap harus dilakukan sedini mungkin, agar delegasi yang nantinya dikirim benar-benar siap menjawab tantangan di medan safari.

Kemarin (14/02), sebelum terjun ke lapangan, Pimpinan Pusat Lembaga Ittihadul Muballighin menggelar diklat dan pembekalan safari dakwah. Tutornya Ust. Ma’rifatus Sholihin dari Blitar. Beliau merupakan alumnus Ponpes Lirboyo tahun 2004. Beliau memiliki riwayat mengajar di Ponpes Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo semenjak beliau tamat, hingga tahun 2010 lalu. Beliau juga dikenal sebagai salah satu dai yang aktif di kawasan Blitar, Jawa Timur.

Banyak sebenarnya hal tak terduga yang mewarnai agenda safari dakwah. Delegasi tidak bisa menebak-nebak masyarakat seperti apakah yang nantinya akan mereka hadapi. Tidak hanya masyarakat yang plural; beda aliran, beda ras, beda adat, bahkan beda agama. Tapi juga  kondisi dan budaya yang berbeda harus benar-benar siap dipahami oleh setiap delegasi. Beliau, Ust. Ma’riatus Sholihin mencontohkan kondisi masyarakat yang sama juga terjadi pada era walisongo. Namun para aulia tanah Jawa tersebut mampu membaca situasi masyarakat yang ada, hingga akhirnya mereka mudah merangkul masyarakat. “Para walisongo piawai sekali. Mereka tidak memakai Alquran, tidak memakai hadis, tapi memakai lagu-lagu”. Ungkap beliau.

Memang juga tidak bisa kita paksakan kepada masyarakat, untuk segera menerima perubahan. Meskipun perubahan itu juga berarti kebenaran. Mengubah tatanan masyarakat secara frontal justru akan lebih banyak punya potensi kegagalan. Dalam arti, dakwah harus dilakukan bertahap. Mengambil hati masyarakat terlebih dahulu, baru setelah mereka terpikat, naik tingkatan. “(Masyarakat dibuat) seneng disek, baru dilakukan tahap selanjutnya”. Kata Ustadz yang dijuluki Pak Dalang, karena kepiawaianya menguasai panggung itu. “Kalau kita bisa menyatu bersama masyarakat, mereka akan suka dan ilmunya akan mudah (diterima).

Peserta dan delegasi yang hadir tampak sepakat saat diberikan banyak pemahaman-pemahaman baru untuk meraih strategi dakwah secara maksimal. Tentunya memang butuh terjun langsung, namun setidaknya pengalaman dari senior juga cukup membantu.  Seperti saat delegasi dihimbau untuk tidak sembarangan dalam “berfatwa”. Menjawab problematika yang bergulir di masyarakat jelas butuh kejelian. “Proporsional dalam memberikan solusi, sebab masing-masing individu butuh solusi yang berbeda”, jelas Ustadz yang juga aktif sebagai dewan harian LIM Blitar ini. Kadang, setiap pertanyaan yang muncul tidak selamanya bersifat ingin tahu, kadang sifatnya menjebak, kadang juga hanya sebatas mengetes. Disitulah kepekaan delegasi diuji. Manakah pertanyaan yang harus dijawab dengan detail, mana yang harus dijawab dengan guyonan, dan mana yang tidak harus dijawab, namun dialihkan menuju pembahasan lain.

Sampai menjelang maghrib, ratusan peserta tetap setia menyimak materi yang disampaikan. Hingga acara selesai sekitar pukul 17.00 WIB. Para delegasi kembali ke kamar masing-masing dengan kesiapan yang cukup untuk menghadapi safari dakwah.

Ballighû ‘annî walau âyatan, sampaikanlah apa yang kalian dengar dariku (Nabi Muhammad SAW) meskipun hanya satu ayat. Diharapkan muncul generasi-generasi yang tetap tabah dan ikhlas berdakwah, sebab andai kata dulu Nabi Muhammad SAW dan generasi setelahnya tidak berdakwah, agama Islam mungkin saja tidak akan bisa tersebar sampai sebesar ini.[]