Haul Pengarang Simthudduror di Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – (17/11/2022). Ribuan Santri dan masyarakat memenuhi Aula Al-Muktamar dan sekitarnya. Sekitar 1200 penerbang (penabuh rebana) mengiringi lantunan sholawat setelah memasuki waktu ‘Isya. Dengan ketukan nada yang kompak, para santri dan masyarakat juga ikut serta bersholawat.

Setelah sekitar tiga jam bersholawat, acara dimulai dengan lantunan wahyu Ilahi yang dibawakan oleh dua orang Qori sekaligus. Seorang anak kecil dan seorang ayah memadukan nada tinggi dan nada rendah menghasilkan harmoni lantunan ayat suci Al-Quran, sesuai perintah Nabi Saw. زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ “Hiasilah Al-Quran dengan Suara Kalian.”

Habib Muhammad bin Husain Al-Habsyi yang akan menyampaikan Mau’idzoh kali ini merupakan Canggah (keturunan ke empat) dari pengarang Simthudduror. Yakni Habib Muhammad bin Husain Al-Habsyi bin Anis bin Alwi (yang dimakamkan di Solo) putra dari pengarang Simthudduror yakni Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-habsyi. Demikian yang disampaikan oleh Agus Imam Muttaqin, selaku Pengasuh dan Pendiri Majelis Cinta Nabi dalam sambutannya.

Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan dalam sambutannya, “Ada sebuah hadis yang tidak panjang, namun faidahnya sangat luar biasa, manfaatnya sangat luar biasa, menyangkut kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Hadis tersebut adalah قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المرء مع من أحب
Kelak oleh Allah, seseorang akan dikumpulkan dengan siapa yang dia cintai. Hadis ini merupakan modal, orang menjadi baik / bahagia di dunia dan di akhirat. Sehingga hadis tersebut ketika diterima oleh para sahabat, sahabat sangat senang, sangat bahagia. Sebab dengan modal mahabbah saja, seseorang akan dimuliakan oleh Allah.
Akan tetapi mahabbah ini juga harus kita atur. Kalau orang tidak punya ilmu maka mahabbah / rasa cintanya kemana-mana.
Kalau kita mencintai orang sholeh maka konsekuensinya kita harus tasyabuh (menyerupai orang-orang yang sholeh, baik ibadahnya, amalnya, maupun ucapan-ucapannya. Sehingga kata Imam Hasan al-Bashri menerangkan hadis ini مجرد المحبة لا ينفع
Kalau seseorang hanya mencintai saja tanpa direalisasikan dengan perilaku, misalnya seseorang mahabbah kepada orang sholeh, namun dia tetap maksiat, maka ini tidak ada artinya. Istilah jawa mengatakan, cinta palsu yah…
Mahabbah ini ada tartibnya. Pertama kita Mahabbah kepada Allah Swt. Kalau seseorang mahabbah kepada Allah maka dia mencintai orang atau perkara-perkara yang dicintai Allah, dan membenci perkara-perkara yang dibenci Allah. Tanda-tanda orang mahabbah itu selalu dzikir kepada Allah Swt, selalu taat kepada Allah Swt. Kalau orang mencintai Allah tentu dia juga mencintai orang-orang yang dicintai Allah. Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah Rasulullah Saw. Oleh karena itu mahabbah kita selanjutnya adalah mahabbah kepada Rasulillah Saw. Tanda-tanda orang yang mahabbah kepada Rasulillah, orang tersebut banyak membaca Sholawat serta memperhatikan terhadap sunnah-sunnah Rasulullah Saw.”

Dalam mau’idzohnya, Habib Muhammad bin Husain menceritakan kisah hidup Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. Ayah beliau (Habib Muhammad bin Husain) merupakan mufti di tanah Haramain. Namanya sama dengan nama Habib yang sedang menyampaikan mau’idzoh ini. Mata rantai keilmuan Ulama Nusantara banyak yang merujuk kepada beliau. Di antaranya Syaikh Yasin bin ‘Isa Al-Fadani dan Syaikh Mahfud Termas sanad keilmuannya menyambung sampai kepada beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.