HomePojok LirboyoTalkshow Wirausaha Santri di Bidang Industri Kreatif

Talkshow Wirausaha Santri di Bidang Industri Kreatif

0 0 likes 524 views share

LirboyoNet, Surabaya – Ahad kemarin, 30 Oktober 2016, diantara acara pendukung dalam event ISEF (Indonesia Shari’a Economic Festival) adalah Talkshow Wirausaha Santri di Bidang Industri Kreatif. Sebagai pembicara, panitia menghadirkan H. Hadi Rahman, Staf Khusus Menteri Agama RI, Owner Jenahara, Moch. Ghozali, Ketua HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia) dan Mohammad Rosihan, Kadin Bidang UMKM dan Ekonomi Kreatif.

Dihadapan ratusan pengunjung dari berbagai kalangan yang terlihat antusias mengikuti talkshow, pemateri membeberkan banyak hal menarik terkait bagaimana seharusnya para santri lebih berperan dalam bidang ekonomi.

Staf Kementrian Agama RI, setelah memaparkan tentang kondisi ekonomi baik dalam maupun luar negeri berharap, umat muslim atau para santri harusnya lebih produktif lagi. Produktif dalam berbagai hal. Karena sudah waktunya tidak hanya menjadi konsumen, tapi sudah saatnya bisa menjadi produsen. “Produktif dari keilmuan, ekonomi, dan lain sebagainya. Sehingga muslim Indonesia bukan hanya besar kwantitasnya, tapi juga kualitasnya ikut andil dalam berbagai lini,” harap Hadi Rahman.

Menurut Nanida, Owner Jenahara, sebenarnya menjadi wirausaha itu tidaklah sulit. Karena selama ada tekad, pintar mencari peluang, semua pasti bisa. “Dan yang paling penting adalah, ketika memulai sebuah usaha niatkan mencari ridho Allah. Karena dengan niat itu, secara otomatis kita akan menjadi pengusaha yang profesional”.

Hal senada disampaikan oleh Mohammad Rosihan. Bahkan menurutnya, saat ini tidak ada alasan untuk tidak memilih jalur wirausaha. Meskipun banyak hal yang harus dipelajari, kita harus tetap yakin dalam perjalannya nanti hal itu akan ditemukan solusinya. “Bisnis itu seperti naik sepeda. Butuh waktu untuk belajar. Dan meskipun sudah bisa mengayuh, sesekali terjatuh adalah hal yang biasa. Tapi setidaknya, ketika kita jatuh, kita sudah bisa kembali bangkit dan mengayuh lagi”.

“Kegiatan semacam ini perlu digencarkan lagi. Karena setidaknya, setelah dari workshop semacam ini, mindset para santri sedikit berubah. Mereka mulai berpikir, setelah keluar dari pesantren tidak hanya menjadi guru ngaji. Tapi disamping jadi guru ngaji, mereka juga menjadi pengusaha”, terang Ketua HIPSI.

Ketika seorang peserta, Chevi, santri asal Gresik, dalam sesi tanya jawab bertanya tentang trik penjualan, semua pemateri sepakat, saat ini kita harus memanfaatkan era digital dengan berjualan di internet. Baik sekedar di sosial media, ataupun website.][