Category Archives: Pondok Cabang Lirboyo

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Cabang Santren, Kota Blitar diresmikan pada Rabu, 02 Juni 2021.

Acara dibuka oleh Bpk. Ma’rifatussholihin selaku Master of Ceremony.

Dilanjutkan lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an oleh Muhammad Azrul.

Kemudian acara disambung dengan sambutan dari Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Cabang IV yang dibawakan oleh Bpk. Agus M. In’amul Aufa.

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Kemenag Kota Blitar, Bpk. H. Muslih.

Dan sambutan terakhir disampaikan KH. Atto’illah Sholahuddin Anwar selaku Mudir ‘Am MHM. Dalam penuturannya, Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang diselenggarakan di Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Kota Blitar adalah bagian yang terintegrasi dengan Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang berada di Pondok LIrboyo.

Sehingga untuk sitem, kurikulum, pengajar, dan metode, menggunakan ketentuan yang sama dengan yang ada di Pondok Lirboyoo Pusat.

Sedangkan jenjang Pendidikan MHM yang dibuka di Pondok Cabang Blitar adalah kelas 3 dan 4 Ibtidaiyyah dengan peserta didik santri dari daerah Jawa Timur selain Kota, dan Kabupaten Kediri. Untuk jenjang berikutnya, para santri akan melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo.

Fasilitas mendasar yang telah disiapkan di Pondok Lirboyo IV Cabang Santren untuk para santri meliputi:

  1. Asrama dengan 7 kamar
  2. Dapur
  3. Kantin
  4. Kos makan
  5. Kamar mandi berjumlah 22

Selain itu sebagai sarana pokok penunjang kegiatan belajar Madrasah Hidayatul Mubtadiin telah disediakan gedung-gedung lengkap dengan ruang guru, kantor administrasi, dan ruang kelas sebanyak 8 buah.

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Cabang Santren Kota Blitar ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh KH. M. Anwar Mansur dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

Mauidhotul hasanah menjadi acara pamungkas dalam peresmian Pondok Pesantren Cabang Santren. Dalam hal ini mauidhotul hasanah pertama dibawakan oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dan mauidhotul hasanah yang kedua sekaligus penutup dan do’a dibawakan oleh KH. Anwar Mansur.

Masayikh Lirboyo berpesan terutama kepada seluruh masyarakat sekitar Pondok Presantren Lirboyo IV untuk selalu membantu dan mendukung keberadaan pesantren ini. .[]

Baca juga:
PESANTREN SIDOMULYO BAKUNG BLITAR

Simak juga:
[TALKSHOW] PONDOK ZONASI

Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar
Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar

Pembangun Pondok Cabang Santren Kota Blitar

LirboyoNet, Blitar – Kamis pagi kemarin sekitar 250-an santri Lirboyo melakukan roan pembangunan Pondok Pesantren Lirboyo IV Cabang Santren Blitar. Berangkat tengah malam perjalanan Kediri-Blitar menggunakan 4 truk tak mengurangi raut bahagia santri gabungan kelas 3 Aliyah dan Ma’had Aly semester ll tersebut. Mereka bisa jalan-jalan.

Sampai di lokasi sekitar pukul dua dini hari, mereka langsung dihidangkan jamuan makan oleh tuan rumah. Setelah makan sebagian memilih tidur untuk menyimpan tenaganya di esok pagi. Sebagian lain begadang untuk menyiapkan peralatan roan.

Pagi buta yang masih diliputi embun roan pembangunan dimulai, sebelumnya diawali pembacaan tahlil untuk mensukseskan acara dan diiringi pemotongan tumpeng.

Lokasi Pondok Pesantren Lirboyo IV Cabang Santren Blitar ini merupakan tanah yang diwakafkan penduduk setempat kepada Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Kota Blitar untuk dikelola.

Pembangunan kali ini adalah untuk merealisasikan gedung lantai II berukuran kira-kira 25 x 10 persegi. Rencananya, bangunan ini akan digunakan untuk madrasah. Sebelumnya sudah berdiri masjid di sebelah selatan gedung.

“Dana pembangunan didapat dari swadaya masyarakat sekitar, simpatisan, santri dan alumni Kota Blitar dan dibantu langsung oleh Pondok Lirboyo pusat,” tukas Hasan, salah satu santri Lirboyo asal Blitar pagi itu. Selain itu, bantuan yang didapat juga berupa peralatan roan, bahan bangunan dan kebutuhan lain.

Pembangunan yang diprediksi rampung sore hari, ternyata selesai lebih cepat. Molen pengaduk semen sudah dimatikan sesaat setelah matahari bergeser ke barat. Setelah itu para santri yang ngalap berkah itu membersihkah tubuhnya dengan mandi di sungai besar yang berada tepat di selatan lokasi.

Kemudian dengan bersemangat tak kenal lelah untuk pamungkasnya para santri mengibarkan bendera merah-putih dengan tiang seadanya dan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, disusul lagu Yaa Lal Wathon-nya Kyai Wahab Hasbullah.

Setelah shalat Dluhur dan makan siang bersama selesai, mereka segera naik truk dan kembali lagi ke Lirboyo diiringi ucapan terima kasih dari masyarakat sekitar, santri dan alumni Blitar./>

Pesantren Sidomulyo Bakung Blitar

Awal sejarah Pondok Pesantren Cabang Lirboyo yang satu ini, bermula dari seorang dermawan yang tergugah membantu kebutuhan masyarakat dalam hal agama. Sebagai wujud kepeduliaannya, Hj. Tasminingsih binti Karto Thalib, penduduk asli desa Sidomulyo Kecamatan Bakung Blitar (sebuah daerah di Blitar yang pada era 80-an marak dengan misi kristenisasi yang berkedok bantuan pada nelayan), mewakafkan tanah peninggalan ibunya beserta dengan rumahnya seluas 20 x 50 m2 kepada KH. Habibulloh Zaini untuk kepentingan dakwah.

Bersama KH. Ahmad Mahin Thoha, beliau menerima tawaran tersebut dan menyempatkan diri melihat kondisi tanah wakaf. Dan selanjutnya beliau mengamanatkan kepada Abdul Rahman (tamatan MHM Lirboyo tahun 1999) untuk berdakwah di sana. Hari Ahad tanggal 11 Rabi’ul Tsani 1425 H./ 2004 M. Abdul Rahman memasuki desa Sidomulyo dengan diantar oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo dan para pengajar MHM. Sejak saat itulah dia memulai perjalanan dakwahnya di desa tersebut.

Dan pada tanggal 04 Desember 2004, bersamaan dengan acara halal bi halal dengan masyarakat, pondok pesantren ini diresmikan oleh KH. Imam Yahya Mahrus dengan nama Pondok Pesantren Lirboyo Sidomulyo dan ditetapkan sebagai salah satu pondok cabang Lirboyo.

Pesantren Turen Malang

Selain di Pagung, Pondok Pesantren Lirboyo juga membuka cabangnya di Malang, tepatnya di daerah Turen. Pesantren ini bermula ketika tahun 1990 Dr. Suprapto Syamsi (dokter tentara karyawan PT. PINDAD) mewakafkan tanahnya kepada Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah ikrar wakaf tanah seluas 3200 m2 tersebut diterima Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. A. Idris Marzuqi, maka dibentuklah panitia pembangunan. Setelah pembangunannya selesai, mulailah diupayakan untuk menempatkan pengajar di Pondok Turen. Namun setelah dicoba sampai tiga kali, pengajar yang ditempatkan disana selalu tidak betah. Sehingga kemudian sempat tidak berpenghuni.

Atas usul KH. Makshum Jauhari dan disetujui oleh anggota Sidang BPK tahun 1997, akhirnya disepakati untuk memberikan amanat kepada Romadhon Khotib (alumni Lirboyo tahun 1995 asal Bener, Purworejo, Jateng) untuk menempati tanah wakaf tersebut, agar bisa memberi kemanfaatan bagi yang mewakafkannya. Sedangkan mengenai ada yang belajar atau tidak bukanlah target utama. Bersama istrinya, Shofiyaturrosyidah dan ketiga santri dari Mlandi, Garung, Wonosobo, beliau berangkat ke Malang setelah sebelumnya mendapat restu dari KH. A. Idris Marzuqi.

Seiring bertambahnya usia, pesantren yang berada di jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang ini, sarana dan prasarana pondok semakin meningkat, baik segi fasilitasnya maupun jumlah santrinya. Bisa dibilang pesantren ini cepat dalam perkembangannya. Saat ini disana sudah berdiri masjid, mushalla angkring, rumah kediaman untuk mengaji putri, dua kamar santri putri, lima kamar santri putra, gudang, dan berpagar tembok keliling.

Pesantren Pagung Semen Kediri

Cabang ini berawal dari sebidang tanah yang dibeli Pondok Pesantren Lirboyo yang kemudian di tahun 1989 didirikan sebuah musholla yang pembangunannya dikoordinir oleh Kiai Mahrus Aly Manshur dari Kuningan, Kanigoro, Blitar. Tahun 1991 Kiai Mahrus Aly Manshur diberi amanat dari Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo untuk mengasuh dan mengembangkan Pesantren Lirboyo Cabang Pagung. Di tahun ini pula –tepatnya Juli 1991– Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien di cabang ini berdiri.

Mulanya madrasah ini hanya terdiri dari dua kelas dan diajar oleh Kiai Mahrus Aly Manshur beserta istri dengan dibantu pengajar dari Pondok Lirboyo pusat. Jadwal belajar mengajarnya seminggu empat kali setelah Zhuhur. Untuk menampung siswa yang sekolah umum dan bekerja siang hari, maka dibukalah Madrasah Ibtidaiyah malam hari. Lima tahun kemudian dibuka pula Madrasah Tsanawiyah dan jadwal kegiatan belajarnya ditambah dua jam.

Soan ke Cabang Semen
Dewan Harian Pondok Pesantren Lirboyo Pusat saat berkunjung ke Pesantren Lirboyo Cabang Pagung.

Tahun 1999 Madrasah Aliyah dibuka dan jam sekolah ditambah menjadi enam hari dalam seminggu. Mulai tahun ini pula (hingga sekarang) Pesantren Lirboyo Cabang Pagung diasuh oleh Kiai M. Salim Thobroni dari Bulusari, Tarokan, Kediri (mustahiq MHM Lirboyo tahun 1997) karena pada malam Rabu tanggal 22 April 1999 Kiai Mahrus Aly Manshur beserta istri harus kembali ke Blitar.

Pada tahun 2002 dibentuk Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM) Pagung, organisasi yang khusus mengkoordinir kegiatan musyawarah, muhafazhah umum, pembuatan KTK, penerbitan Majalah Dinding, penataran M3HM dan kegiatan lainnya yang itu semua tidak lain demi meningkatkan kualitas santri.