Category Archives: Pondok Cabang Lirboyo

Pembangun Pondok Cabang Santren Kota Blitar

LirboyoNet, Blitar – Kamis pagi kemarin sekitar 250-an santri Lirboyo melakukan roan pembangunan Pondok Pesantren Lirboyo IV Cabang Santren Blitar. Berangkat tengah malam perjalanan Kediri-Blitar menggunakan 4 truk tak mengurangi raut bahagia santri gabungan kelas 3 Aliyah dan Ma’had Aly semester ll tersebut. Mereka bisa jalan-jalan.

Sampai di lokasi sekitar pukul dua dini hari, mereka langsung dihidangkan jamuan makan oleh tuan rumah. Setelah makan sebagian memilih tidur untuk menyimpan tenaganya di esok pagi. Sebagian lain begadang untuk menyiapkan peralatan roan.

Pagi buta yang masih diliputi embun roan pembangunan dimulai, sebelumnya diawali pembacaan tahlil untuk mensukseskan acara dan diiringi pemotongan tumpeng.

Lokasi Pondok Pesantren Lirboyo IV Cabang Santren Blitar ini merupakan tanah yang diwakafkan penduduk setempat kepada Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Kota Blitar untuk dikelola.

Pembangunan kali ini adalah untuk merealisasikan gedung lantai II berukuran kira-kira 25 x 10 persegi. Rencananya, bangunan ini akan digunakan untuk madrasah. Sebelumnya sudah berdiri masjid di sebelah selatan gedung.

“Dana pembangunan didapat dari swadaya masyarakat sekitar, simpatisan, santri dan alumni Kota Blitar dan dibantu langsung oleh Pondok Lirboyo pusat,” tukas Hasan, salah satu santri Lirboyo asal Blitar pagi itu. Selain itu, bantuan yang didapat juga berupa peralatan roan, bahan bangunan dan kebutuhan lain.

Pembangunan yang diprediksi rampung sore hari, ternyata selesai lebih cepat. Molen pengaduk semen sudah dimatikan sesaat setelah matahari bergeser ke barat. Setelah itu para santri yang ngalap berkah itu membersihkah tubuhnya dengan mandi di sungai besar yang berada tepat di selatan lokasi.

Kemudian dengan bersemangat tak kenal lelah untuk pamungkasnya para santri mengibarkan bendera merah-putih dengan tiang seadanya dan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, disusul lagu Yaa Lal Wathon-nya Kyai Wahab Hasbullah.

Setelah shalat Dluhur dan makan siang bersama selesai, mereka segera naik truk dan kembali lagi ke Lirboyo diiringi ucapan terima kasih dari masyarakat sekitar, santri dan alumni Blitar./>

Pesantren Sidomulyo Bakung Blitar

Awal sejarah Pondok Pesantren Cabang Lirboyo yang satu ini, bermula dari seorang dermawan yang tergugah membantu kebutuhan masyarakat dalam hal agama. Sebagai wujud kepeduliaannya, Hj. Tasminingsih binti Karto Thalib, penduduk asli desa Sidomulyo Kecamatan Bakung Blitar (sebuah daerah di Blitar yang pada era 80-an marak dengan misi kristenisasi yang berkedok bantuan pada nelayan), mewakafkan tanah peninggalan ibunya beserta dengan rumahnya seluas 20 x 50 m2 kepada KH. Habibulloh Zaini untuk kepentingan dakwah.

Bersama KH. Ahmad Mahin Thoha, beliau menerima tawaran tersebut dan menyempatkan diri melihat kondisi tanah wakaf. Dan selanjutnya beliau mengamanatkan kepada Abdul Rahman (tamatan MHM Lirboyo tahun 1999) untuk berdakwah di sana. Hari Ahad tanggal 11 Rabi’ul Tsani 1425 H./ 2004 M. Abdul Rahman memasuki desa Sidomulyo dengan diantar oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo dan para pengajar MHM. Sejak saat itulah dia memulai perjalanan dakwahnya di desa tersebut.

Dan pada tanggal 04 Desember 2004, bersamaan dengan acara halal bi halal dengan masyarakat, pondok pesantren ini diresmikan oleh KH. Imam Yahya Mahrus dengan nama Pondok Pesantren Lirboyo Sidomulyo dan ditetapkan sebagai salah satu pondok cabang Lirboyo.

Pesantren Turen Malang

Selain di Pagung, Pondok Pesantren Lirboyo juga membuka cabangnya di Malang, tepatnya di daerah Turen. Pesantren ini bermula ketika tahun 1990 Dr. Suprapto Syamsi (dokter tentara karyawan PT. PINDAD) mewakafkan tanahnya kepada Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah ikrar wakaf tanah seluas 3200 m2 tersebut diterima Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. A. Idris Marzuqi, maka dibentuklah panitia pembangunan. Setelah pembangunannya selesai, mulailah diupayakan untuk menempatkan pengajar di Pondok Turen. Namun setelah dicoba sampai tiga kali, pengajar yang ditempatkan disana selalu tidak betah. Sehingga kemudian sempat tidak berpenghuni.

Atas usul KH. Makshum Jauhari dan disetujui oleh anggota Sidang BPK tahun 1997, akhirnya disepakati untuk memberikan amanat kepada Romadhon Khotib (alumni Lirboyo tahun 1995 asal Bener, Purworejo, Jateng) untuk menempati tanah wakaf tersebut, agar bisa memberi kemanfaatan bagi yang mewakafkannya. Sedangkan mengenai ada yang belajar atau tidak bukanlah target utama. Bersama istrinya, Shofiyaturrosyidah dan ketiga santri dari Mlandi, Garung, Wonosobo, beliau berangkat ke Malang setelah sebelumnya mendapat restu dari KH. A. Idris Marzuqi.

Seiring bertambahnya usia, pesantren yang berada di jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang ini, sarana dan prasarana pondok semakin meningkat, baik segi fasilitasnya maupun jumlah santrinya. Bisa dibilang pesantren ini cepat dalam perkembangannya. Saat ini disana sudah berdiri masjid, mushalla angkring, rumah kediaman untuk mengaji putri, dua kamar santri putri, lima kamar santri putra, gudang, dan berpagar tembok keliling.

Pesantren Pagung Semen Kediri

Cabang ini berawal dari sebidang tanah yang dibeli Pondok Pesantren Lirboyo yang kemudian di tahun 1989 didirikan sebuah musholla yang pembangunannya dikoordinir oleh Kiai Mahrus Aly Manshur dari Kuningan, Kanigoro, Blitar. Tahun 1991 Kiai Mahrus Aly Manshur diberi amanat dari Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo untuk mengasuh dan mengembangkan Pesantren Lirboyo Cabang Pagung. Di tahun ini pula –tepatnya Juli 1991– Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien di cabang ini berdiri.

Mulanya madrasah ini hanya terdiri dari dua kelas dan diajar oleh Kiai Mahrus Aly Manshur beserta istri dengan dibantu pengajar dari Pondok Lirboyo pusat. Jadwal belajar mengajarnya seminggu empat kali setelah Zhuhur. Untuk menampung siswa yang sekolah umum dan bekerja siang hari, maka dibukalah Madrasah Ibtidaiyah malam hari. Lima tahun kemudian dibuka pula Madrasah Tsanawiyah dan jadwal kegiatan belajarnya ditambah dua jam.

Soan ke Cabang Semen
Dewan Harian Pondok Pesantren Lirboyo Pusat saat berkunjung ke Pesantren Lirboyo Cabang Pagung.

Tahun 1999 Madrasah Aliyah dibuka dan jam sekolah ditambah menjadi enam hari dalam seminggu. Mulai tahun ini pula (hingga sekarang) Pesantren Lirboyo Cabang Pagung diasuh oleh Kiai M. Salim Thobroni dari Bulusari, Tarokan, Kediri (mustahiq MHM Lirboyo tahun 1997) karena pada malam Rabu tanggal 22 April 1999 Kiai Mahrus Aly Manshur beserta istri harus kembali ke Blitar.

Pada tahun 2002 dibentuk Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM) Pagung, organisasi yang khusus mengkoordinir kegiatan musyawarah, muhafazhah umum, pembuatan KTK, penerbitan Majalah Dinding, penataran M3HM dan kegiatan lainnya yang itu semua tidak lain demi meningkatkan kualitas santri.

Sekilas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien

Sebelum berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), pengajian yang terdapat di Pondok Pesantren Lirboyo memakai sistem bandongan, sorogan dan weton. Akan tetapi, metode semacam ini dinilai kurang efektif dan sulit dipahami bagi kalangan pemula, terlebih ketika jumlah santri semakin meningkat. Dan sekitar tahun 1925, pihak pesantren berinisiatif merubah metode pembelajaran ke sistem klasikal dengan mendirikan MHM.

Berdirinya MHM ini sangat direstui oleh KH. Abdul Karim. Suatu ketika beliau pernah menitipkan pesan kepada semua santri dengan bahasa yang sederhana, “Santri-santri kang durung bisa maca lan nulis kudu sekolah (Para santri yang belum bisa membaca dan menulis harus mengikuti sekolah)”. Inilah dawuh beliau yang menjadi nafas pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo dan masih tetap diabadikan ke dalam Tata Tertib Pondok Pesantren Lirboyo hingga saat ini. Di samping itu, nama madrasah ini yang berarti Madrasah ‘Petunjuk bagi Pemula’ juga diharapkan para santri yang masuk madrasah ini selalu memiliki sikap rendah hati dan senantiasa terus mengaji dan belajar sepanjang hayatnya.

Pada tahun-tahun pertama berdiri, MHM mengalami banyak kendala. Selain kurang berminatnya para santri memasuki pendidikan madrasah, juga dilatar belakangi bahwa metode madrasah kala itu merupakan sistem pendidikan yang masih asing dalam dunia pesantren. Sehingga wajar, meskipun setelah bergonti-ganti pengurus kinerja MHM belum bisa maksimal sesuai yang diharapkan. Bahkan pada tahun 1931, MHM mengalami kevakuman.

Meskipun demikian, jangka waktu selama 6 tahun terhitung sejak tahun 1925-1931 itu, menghasilkan beberapa pengalaman yang cukup berharga. Diantaranya adalah madrasah sudah terklasifikasi menjadi beberapa lokal.

Masa selanjutnya MHM yang semula jatuh bangun bangkit dan dibuka kembali secara resmi pada malam Rabu bulan Muharram tahun 1353 H., bertepatan dengan tahun 1933 Masehi. Dan demi memperlancar lajunya metode pendidikan madrasah, maka setiap siswa dipungut sumbangan sebesar lima sen setiap bulan.

Tahun 1941, dibentuklah divisi yang khusus mengkoordinir diskusi atau musyawarah siswa MHM/ santri. Divisi yang sampai sekarang masih eksis ini diberi nama Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-Ien (M3HM). Ketika itu jenjang pendidikan MHM baru memiliki dua tingkatan, siffir dan ibtidaiyyah.

Setelah mengalami perubahan kurikulum beberapa kali, saat ini MHM memiliki empat tingkatan: idadiyah (1 tahun), ibtidaiyyah (6 tahun), tsanawiyah (3 tahun), dan aliyah (3 tahun). Tingkat idadiyah tersebut semacam kelas persiapan. Artinya, dikarenakan pendaftaran siswa baru MHM selain tingkat idadiyah hanya bisa dilakukan pada awal tahun (bulan syawal), maka bagi santri baru yang datang setelah syawal akan masuk di kelas persiapan ini. Menunggu sampai pendaftaran tahun ajaran baru dibuka. Dan perlu disampaikan bahwa siswa baru MHM hanya bisa daftar untuk masuk di kelas 1-4 ibtidaiyah, 1 tsanawiyah, dan 1 aliyah dengan terlebih dahulu mengikuti serangkaian tes ujian masuk yang diselenggarakan MHM.

Sedangkan berbicara metode dalam MHM, secara umum, metode yang digunakan oleh para guru (di Lirboyo seorang wali kelas biasa disebut dengan mustahiq) dalam menyampaikan pelajaran cukup bervariasi. Diantaranya metode ceramah (menerangkan secara menyeluruh), demonstrasi (praktek), tanya jawab dan penugasan untuk menerangkan pelajaran yang telah lewat pada siswa. Satu metode atau lebih terkadang digunakan untuk mengajarkan satu mata pelajaran secara saling melengkapi.

Muhafadzoh MHM
Siswa MHM sedang mengikuti Evaluasi Hafalan Nadzom/ Muhafadzah Umum sebagai persyaratan mengikuti semester genap dan naik tingkatan.

Pengajaran materi fikih, semisal bab wudlu, sholat, haji, tentu kurang efektif jika hanya menerapkan metode ceramah. Metode semacam ini perlu diperkuat dengan metode demonstrasi, praktek dan tanya jawab. Dengan begitu proses belajar-mengajar lebih menarik dan guru bisa mengetahui seberapa pemahaman dan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pemahamannya.

Dan sebagaimana lembaga pendidikan di luar pesantren, MHM juga rutin melakukan evaluasi terhadap kemampuan para siswanya. Jenis evaluasi yang digunakan setidaknya ada  lima macam :

  1. Evaluasi Harian; evaluasi ini dilakukan sehari-har
    i oleh pengajar terhadap materi yang diajarkan, baik berbentuk lisan atau tulisan. Di MHM evaluasi semacam ini biasa disebut muraja’ah.
  2. Evaluasi Mingguan; evaluasi ini diadakan setiap minggu oleh pengajar secara tertulis terhadap materi yang diajarkan. Evaluasi ini biasa disebut tamrin.
  3. Evaluasi pertengahan tahun dan akhir tahun; evaluasi ini diadakan setiap pertengahan tahun dan akhir tahun secara tertulis terhadap materi yang diajarkan. Jenis ini biasa disebut semester ganjil dan genap.
  4. Evaluasi/ koreksian tulisan (buku dan kitab); evaluasi ini dilakukan dua kali dalam setahun dan lengkapnya tulisan/ materi pelajaran sebagai persyaratan mengikuti semester ganjil dan genap.
  5. Evaluasi hafalan nadzom; evaluasi ini diadakan setahun sekali yang juga sebagai persyaratan semester genap, serta salah satu syarat untuk para siswa agar bisa naik tingkatan.

Begitulah sekilas tentang MHM yang tentu saja ke depan akan terus melakukan perubahan menuju yang lebih baik. Karena Pondok Pesantren Lirboyo yang sejak awal berdirinya adalah sebagai lembaga yang berkonsentrasi memperdalam agama,  maka menjadi keharusan untuk terus memperbaiki kualitas para santrinya agar apa yang dicita-citakan tercapai.