HomePojok LirboyoMalam Mingguan Membina Kepribadian

Malam Mingguan Membina Kepribadian

0 0 likes 784 views share

LirboyoNet, Kediri – Kata siapa malam Minggu hanya dinikmati anak muda ‘luar’?

Stigma malam Minggu memang cenderung negatif, terutama bagi mereka yang jalan-jalan dengan lawan jenis. Dengan mengendarai motor, mereka mencari tempat tertentu untuk sekedar bercengkerama.

Sesuatu yang lebih positif telah digiatkan oleh para anak muda ‘dalam’, yakni mereka yang berdiam di dalam Ponpes Lirboyo. Sabtu malam Ahad (06/02) kemarin, beberapa diantara mereka berkumpul di Laboratorium Bahasa Ponpes Lirboyo. Gedung ini berada di dalam komplek Aula Al Muktamar. “Malam Mingguan” mereka nikmati dengan mengikuti Kursus Bina Kepribadian, yang dikoordinir oleh Seksi Pramuka P2L. Mereka datang dengan berbagai latar belakang. Mulai mereka yang masih duduk di jenjang Ibtida’iyyah hingga Aliyah.

Di dalam ruangan itu, mereka telah ditunggu oleh sang pemateri, Bapak Saiful Asyhad, SH. Sesuai jadwal, kursus dimulai pada pukul 23.00 waktu Istiwa’. Dengan sigap, puluhan peserta segera memakai earphone yang tergantung di meja. “Dalam mengatur penampilan, kalian harus jeli memilih warna busana dan aksesoris yang akan kalian pakai,” terang beliau mengawali kursus. Para pria maksimal dapat menggunakan tiga kombinasi warna dalam pakaian mereka. Sementara bagi wanita dua warna lebih banyak.

 

Tidak hanya pakaian. Cara melangkah dan ekspresi wajah juga tidak boleh lupa untuk dicermati. “Ketika melangkah, jangan menghentak. Turunkan tumit dahulu, kemudian telapak kaki. Selain lebih halus, ini juga berpengaruh ketika kalian sudah berumur tua,” lanjut Pak Saiful. Jika cara melangkah kurang diperhatikan, efek yang akan dirasakan saat tua adalah pinggang yang mudah sakit, jalan menjadi pincang, dan lainnya.

Pengadaan kursus Bina Kepribadian ini berangkat dari kebutuhan dan kewajiban untuk berdakwah bagi para santri. Di dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi dunia dakwah, banyak hal di luar materi kitab kuning yang harus dipelajari. Bagaimana agar mudah diterima masyarakat, mengajak kebaikan (amr ma’ruf) dengan tanpa menggurui, adalah beberapa tema yang menjadi pekerjaan rumah bagi para santri.

Dengan kursus inilah, paling tidak, santri dapat menemukan cara-cara berkepribadian yang benar, baik dan indah untuk mereka terapkan ketika sudah bermasyarakat kelak. Sehingga, akhlakul karimah dan materi-materi agama yang mereka bawa akan mampu diserap dengan baik oleh masyarakat sekitar, lebih-lebih oleh seluruh elemen masyarakat Nusantara.][