HomePojok LirboyoKelulusan Penghafal Alquran Pesantren Al-Baqoroh

Kelulusan Penghafal Alquran Pesantren Al-Baqoroh

0 17 likes 4.7K views share

LirboyoNet, Kediri – Membaca Alquran semestinya akan menambah kedekatan kepada Tuhan. Itu yang diresapi Rabiah Adawiyah. Suatu ketika, ia menggali tanah. Ia sesuaikan lebar, panjang dan kedalamannya. Ia masuk ke dalamnya. Dia berdiam di liang kubur itu selama seminggu. Agar semakin ingat ia kepada kematian, dibacanya Alquran hingga dua belas kali khatam.

Agus H. Reza Ahmad Zahid menyampaikannya kepada para tamu undangan. Beliau berbicara sebagai penceramah di acara Haul & Tasyakur Khotaman ke-IV Pondok Pesantren Putri Al-Baqoroh (P3 Al-Baqoroh), Kamis pagi (28/04).

Mengingat kematian adalah proses manusia untuk mempercepat taubat, taat, dan sabar. Karenanya, Abdurrahman al Muhdlor mengulang apa yang dilakukan Rabiah. 42 kali ia khatamkan Alquran dalam jumlah hari yang sama.

Semakin tua zaman semakin sedikit manusia yang me-reksa Alquran. “Dari Banyuwangi sampai Ngawi, jumlah huffadz hanya tujuh ribu orang,” ungkap Gus Reza, panggilan akrab beliau, berdasar pada data yang dimiliki RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) Jawa Timur, yang dipimpinnya sekarang.

Sebelum mauidhoh hasanah, para khotimaat (santri putri yang mengkhatamkan Alquran) maju ke panggung satu demi satu. Ibu Nyai Hj. Nur Hannah, istri dari KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus, menyerahkan piagam penghargaan kepada mereka. Keseluruhan, ada 27 santri yang berfoto bersama kedua pengasuh. Mereka terdiri dari delapan belas Khotimaat bil Ghoib, dan sembilan Khotimaat bin Nadhor.

Ada empat hal yang disebut oleh Kiai Zamzami  yang membuat manusia bernilai mahal. Ilmu, adab, jujur, dan amanah. “Orang yang hafal Alquran berbeda dengan yang tidak hafal. Istri saya hafal Alquran, makanya mahal. Saya yang tidak hafal alquran ya murah. Nek kulo apal Quran, mangke bojo kulo kathah (kalau saya hafal Alquran, nanti istri saya banyak),” terang beliau yang segera disambut tawa hadirin.

“Empat-empatnya ini insya allah sudah diajarkan di pesantren,” lanjut beliau. Maka menjadi santri adalah proses menempa diri sehingga menjadi manusia yang berkualitas dan berkelas.

Mereka yang menjadi khatimaat memiliki tugas berat. Mereka harus menjaga Alquran dari mulut orang-orang dzalim (القرأن في جوف الظالم). Diantaranya, mereka yang menafsirkan Alquran sekehendak hati.

Alquran adalah intisari. Ia bagai obat yang mampu menyembuhkan segala sakit. Untuk meminumnya, dibutuhkan dokter yang mengetahui dosis dan takaran. Tidak serampangan. Dokter Alquran adalah ulama. Mereka merumuskan resep-resep itu melalui kutubus salaf. Kitab-kitab mereka telah teruji di berbagai keadaan, ruang dan zaman. Maka haram menafikannya begitu saja.][