Lampung Tengah Mengintip Tarbiyah

LirboyoNet, Kediri – Ojo sering lungo (jangan sering pergi, –Red),” Begitu pesan KH. M. Anwar Manshur kepada para alumni Pondok Pesantren Lirboyo saat Muktamar Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) tahun lalu. Pesan itu terutama diperuntukkan bagi para alumni yang sudah mendapat amanah di lembaga-lembaga pendidikan di lingkungannya.

Pesan itu pula yang selalu diingat oleh Bapak Jawahir. Tugas yang ada di Lampung membuat beliau terpaksa memendam keinginan untuk berkunjung ke Lirboyo, pesantren tempatnya menimba ilmu dahulu.

Beliau sekarang menjabat sebagai kepala sekolah Madrasah Aliyah Roudlotul Huda, Lampung Tengah. Sekian lama tidak menginjakkan kaki di pesantrennya, Rabu siang (13/04) beliau dapat juga menghirup udara Lirboyo. Beliau menemani para siswanya yang sedang Ziarah Wali Jawa. Kegiatan ini adalah program wajib bagi siswa kelas 2 Aliyah MA Roudlotul Huda. Program ini sekaligus menjadi persyaratan untuk mengikuti Ujian Nasional kelak.

Ada sekitar 150 siswa yang mengikuti program ini. Adapun kunjungan mereka ke Lirboyo, lebih kepada keinginan untuk melihat dan mengetahui sistem pendidikan yang berlaku di sini. “Lirboyo seperti supermarket. Anda mau ambil apa saja ada. Yang salaf murni. Yang ada formalnya. Yang sekaligus tahfidzul qur’an. Semua ada,” Jelas Agus H. Adibussholeh Anwar kepada hadirin.

“Pesantren Lirboyo tidak melulu ta’lim (pengajaran). Tapi juga tarbiyah (pendidikan). Sejak tidur sampai tidur lagi sudah diatur sistem, yang nantinya dapat mengukuhkan aqidah dan syari’ah,” imbuh putra KH. M. Anwar Manshur ini. Menurut beliau, sistem yang dibangun Lirboyo inilah yang sedang dicari oleh pakar pendidikan. Mereka kagum dengan daya tahan pesantren yang luar biasa, mengingat arus global yang kian tak terbendung.

Jika diamati, makanan maupun fasilitas yang dimiliki ponpes Lirboyo terbilang sederhana. Kualitas nasi yang tidak wah dan sayur maupun lauk sekadarnya. “Ini memang disengaja. Agar kelak para santri memiliki mental tangguh, yang bisa di tempatkan di mana saja. Kok nanti bermasyarakat, ternyata berekonomi pas-pasan, tidak kaget. Lah wong biyen neng pondok wes tau (dulu di pondok sudah pernah),” terang beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.