HomePojok LirboyoSilaturahim FORSIB BMPD Jawa Timur

Silaturahim FORSIB BMPD Jawa Timur

0 0 likes 872 views share

(lirboyo.net) Sabtu, 23 Nopember 2013. Suasana Masjid Al Hasan sedikit berbeda, beberapa permadani tertata rapi, di sebelah selatan mihrab terdapat tulisan Silaturrahim FORSIB (Forum Silaturahim Insan Bank) BMPD dan Pondok Pesantren Lirboyo.

Rombongan tiba di Pondok Pesantren Lirboyo sekitar pukul 10.00 Wib dengan menggunakan armada tiga bus dan langsung disambut Pimpinan Pondok serta  beberapa pengurus. Kedatangan rombongan sesuai dengan agenda yang telah dijadwalkan.

Acara silaturahim dimulai pukul 10.30 WIB setelah para peserta istirahat sejenak. Pembawa acara langsung memimpin dengan mengawali pembacaan surat Al Fatihah dengan harapan Acara Silaturrohim berjalan lancar dan bermanfaat.

Sambutan selamat datang dari Pengurus diwakili oleh Bapak HM. Mukhlas Noer, beliau sedikit menjelaskan manfaat silaturahim yang begitu besar. Tak lupa menyampaikan rasa terimakasih kepada para insan perbankan yang telah meluangkan waktu untuk bersilaturrahim dan juga menimba ilmu walaupun tidak lama.

Sambutan diteruskan oleh perwakilan dari rombongan selaku ketua FORSIB bapak Budi, beliau mengucapkan terimakasih atas kedatangannya kepondok Pesantren Lirboyo diterima dengan santun dan ramah, harapannya semoga kegiatan ini bisa bermanfaat bagi para anggota.

Pengenalan Pondok Pesantren Lirboyo dipaparkan oleh KH. An’im Falahudin Mahrus. Berawal dari perjalanan sang pendiri yaitu KH. Abdul Karim yang dulu dikenal dengan nama Manab. MbaKarim menimba ilmu pada Syaikhuna Kholil Bangkalan Madura selama 27 tahun dan diteruskan ke Tebuireng yaitu hadrotus syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang tak lain adalah teman ketika belajar di Bangkalan. Setelah menimba ilmu cukup lama beliau dinikahkan dengan putri KH. Sholeh Banjar Melati Kediri dan dibuatkan rumah gubug di Desa Lirboyo yang kelak menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Lirboyo yang sekarang sudah berumur 100 tahun. Gus An’im (sapaan beliau) menjelaskan perkembangan Pondok Lirboyo yang sudah pesat dengan  jumlah santri sekitar 12.000 orang.

Penerus Pondok dilanjutkan oleh dua menantu yaitu KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly. Keduanya bertugas didalam pondok dan berinteraksi dengan masyarakat luar. Gus Anim menyayangkan pejuangan pesantren tidak dihargai, padahal ketika zaman penjajahan para santri khususnya Lirboyo terus bergerilya, salah satunya beliau bercerita ketika zaman penjajahan jepang, Kiai Mahrus mengutus  santri yang masih kecil namanya Sulaiman, santri disuwuk (jawa) kemudian diutus untuk mengintai markas jepang. Hal ini membuktikan betapa besar perjuangan Pondok Pesantren demi kemerdekaan negara.

Para alumni juga diharapkan bisa berkembang di semua bidang. Dalam dunia perbankan ada salah satu Alumni Lirboyo yang sekarang menjadi Dewan Pengawas Syariah yaitu Drs. Hasanudin. Harapannya bisa muncul alumni-alumni lain yang berkiprah dimasyarakat.

Di akhir penjelasannya beliau mengambil sebuah hadis bahwa kalau orang yang berhutang kemudian dia sanggup membayarnya maka allah akan memberikan pertolongan dengan syarat mempunyai niat untuk membayar dan pemasukannya mampu untuk membayar . beliau menambahkan modal pokok untuk kehidupan seseorang adalah dengan sifat shidiq (kejujuran) dan amanah (dipercaya). Acara  ditutup dengan doa dipimpin langsung oleh Gus Anim dan penyerahan cindera mata dari FORSIB dan Pondok, setelah itu, dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah.

KAJIAN SPIRITUAL

Setelah ishoma, acara silaturrohim dilanjutkan dengan kajian spiritual yang disampaikan oleh KH. Reza Ahmad Zahid LC. MA. Gus reza (sapaan akrab) mengawali penjelasannya tentang perjalanan penyebaran dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah sampai pada kepiawaian nabi dalam mengatur perekonomian pada saat itu, perubahan nama Yatsrib menjadi Madinah diharapkan bisa berkembang dengan pesat baik dalam bidang keagamaan maupun perekonomian. Setelah menjelaskan sekitar satu jam dilanjutkan tanya jawab. Muncul pertanyaan dari para anggota, yaitu bagaimana untuk memotivasi anggotanya agar aktif dalam kegiatan FORSIB?. Beliau mengambil kisah Nabi Ilyas as. yang sampai sekarang masih hidup, ketika menjelang ajal Nabi Ilyas as. didatangi malaikat Izroil, tapi Nabi Ilyas menangis karena ketika di bumi ada perkumpulan, majelis dzikir dan halaqah kelimuan siapa yang akan menjaganya, dengan penjelasan tersebut Nabi Ilyas diberi umur sampai hari akhir. Ada satu pertanyaan menarik yaitu bagaimana anak agar mau mondok? Beliau menjawab ajak anak ke pondok-pondok, silaturahim kiai dan tak lupa disuwuk langsung disambut tawa.

Di penghujung pemaparanya beliau berbagi ilmu tentang konsep untuk berorganisasi yang diambil dari syair nadzam Alfiyah Ibnu Malik bahwa angkatlah bersama, terbukalah untuk semua dan kerjakanlah tugas yang diberikan sehingga bisa berjalan bersama seperti ketika berdzikir kepada Allah. Beliau menambahkan empat hal yang menjadi benteng untuk orang lebih baik dengan adab, Ilmu , bersungguh-sungguh dan amanah. Acara ditutup dengan shalat ashar berjamaah. akhlis