All posts by M Tholhah al Fayyadl

Apa Yang Menyebabkan Masuk Surga

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (32)

“(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), Semoga kesejahteraan untuk kalian semua, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan” (Qs. An-Nahl : 32)

Dalam ilmu qiroat, terdapat perbedaan carabaca. Imam Hamzah az-Zayyat membaca dengan dhomir ya’ (terbaca الذين يتوفاهم) dengan dasar riwayat Ibnu Mas’ud

روى عن ابن مسعود أنه قال: إن قريشا زعموا أن الملائكة إناث فذكروهم أنتم.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, beliau berkata “Sesungguhnya kabilah Quraisy menyangka para malaikat adalah perempuan maka bacalah mudzakkar (laki-laki) pada lafadz malaikat”.

Sedangkan imam qiroah lainnya membaca dengan dhomir ta’ (terbaca الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ) dengan menjadikan fa’ilnya berupa golongan dari para malaikat (جماعة من الملائكة). (Kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi vol.10 hal.100 cetakan Dar Kitab al-Mishriyyah Kairo 1964).

Dalam ayat ini, tugas mencabut nyawa dinisbatkan kepada para malaikat. Sedangkan dalam ayat yang lain dinisbatkan kepada malaikat maut

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11)

“Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu dikembalikan” (Qs. As-Sajadah : 11)

Menurut Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi, kedua ayat ini dapat dikompromikan. Pada dasarnya, tidak ada hamba Allah yang wafat kecuali atas kehendak Allah. Dalam prakteknya, malaikat maut adalah malaikat yang diperintahkan untuk mencabut nyawa. Selain itu, Allah juga menciptakan beberapa malaikat sebagai para pembantu malaikat maut dalam mencabut nyawa. (Kitab Tafsir al-Wasith karya Dr. Muhammad Sayyid Thanttawi vol.8 hal.140 cetakan Dar as-Sa’adah Kairo tahun 2007).

Sedangkan makna thayyibin (طَيِّبِينَ) dalam ayat ini, terdapat 6 makna yaitu ; (1) bersih dari sifat syirik (2) memiliki sifat saleh (3) bersih perbuatan serta ucapannya (4) bagus jiwanya bertabur pahala dari Allah (5) bagus jiwanya dengan kembali kepada Allah (6) menemui kemudahan ketika wafat tanpa kesulitan serta kesakitan. Kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi vol.10 hal.99 cetakan Dar Kitab al-Mishriyyah Kairo 1964.

Kemudian, bentuk salam para malaikat kepada para hamba Allah memiliki dua makna yaitu ; (1) salam pengagungan dari para malaikat sebagai pertanda datangnya kematian seorang hamba Allah (2) kabar gembira atas akan masuknya mereka kedalam surga.

عن محمد بن كعب القرظى قال: إذا استنقعت نفس العبد المؤمن جاءه ملك الموت فقال: السلام عليك ولى الله الله يقرأ عليك السلام.

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurdzi, beliau berkata “ketika nyawa seorang hamba akan ditarik keluar, datanglah malaikat maut mengucapkan “Semoga kesejahteraan tercurahkan kepadamu wahai kekasih Allah, Allah menyampaikan salam kepadamu”.

Sebuah pertanyaan muncul “Amal perbuatan ataukah kasih sayang Allah yang memasukkan seorang hamba ke dalam surga?”

Tentu di sini kita akan menemukan perbedaan sangat mencolok. Dalam ayat ini dikatakan ”masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan”. Sedangkan dalam sebuah hadis dikatakan

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا ، وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ، وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ أَدْوَمُهَا إِلَى اللَّهِ ، وَإِنْ قَلَّ

Diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah ra bahwasannya Rasulullah bersabda “Berpegang teguhlah dan mendekatlah, dan ingatlah tidak akan masuk surga seseorang diantara kalian dengan sebab amal perbuatannya, dan sesungguhnya paling dicintainya amal kebaikan adalah yang paling langgeng kepada Allah meskipun sedikit” (HR. Bukhari)

Dalam hal ini, para ulama memiliki dua penafsiran dalam mengkompromikan di antara nash al-Quran dan hadis ini yaitu :

Pertama, selamat dari api neraka adalah sebab ampunan Allah dan masuknya seseorang ke dalam surga adalah sebab kasih sayang Allah sebagaimana dalam hadis di atas. Sedangkan, derajat yang diberikan kepada seorang hamba di surga adalah berdasarkan besaran amal perbuatannya sebagaimana dalam Qs. An-Nahl ayat 32. Penafsiran ini dihaturkan oleh Sufyan bin ‘Uyaynah dan pengikutnya. Hal ini juga berdasarkan hadis

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَخْبَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ  أَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلُوهَا نَزَلُوا فِيهَا بِفَضْلِ أَعْمَالِهِمْ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda kepadaku “Sesungguhnya penduduk surga ketika masuk ke dalam surga maka mereka menempati sesuai dengan keutamaan amal perbuatan mereka” (HR. Turmudzi)

Dan pada dasarnya, seseorang harus berjuang beramal baik serta senantiasa mengharap kasih sayang Allah. (Kitab ad-Dakhil fi at-Tafsir karya Dr. Ibrahim Abdurrahman Khalifah hal.219 cetakan Maktabah al-Aiman Kairo tahun 2018)

Kedua, amal baik adalah sebab yang lazimnya mengantarkan menuju surga. Akan tetapi, sebab yang hakiki yang mengantarkan hamba ke dalam surga adalah anugerah serta kasih sayang Allah. Ini adalah pendapat yang diusung oleh Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi. (Kitab Tafsir al-Wasith karya Dr. Muhammad Sayyid Thanttawi vol.8 hal.141 cetakan Dar as-Sa’adah Kairo tahun 2007)

Sedangkan, Ibnu Hajar al-Asqalani selaku pakar ilmu hadis memiliki pendapat lain. Menurutnya, amal yang memasukkan seseorang ke dalam surga sebagaimana dalam Qs. An-Nahl ayat 32 adalah amal baik yang diterima oleh Allah. Sedangkan, diterimanya amal ibadah seseorang di sisi Allah adalah sebab rahmat dan kasih sayang-Nya. Maka, tidak ada yang dapat masuk surga kecuali sebab kasih sayang Allah. Oleh karena itu, kasih sayang Allah serta amal baik seseorang memiliki keterkaitan yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga milik Allah.

فإن قيل كيف الجمع بين هذه الآية وحديث لن يدخل أحدكم الجنة بعمله فالجواب أن المنفي في الحديث دخولها بالعمل المجرد عن القبول والمثبت في الآية دخولها بالعمل المتقبل والقبول إنما يحصل برحمة الله فلم يحصل الدخول الا برحمة الله.

“Apabila dikatakan “Bagaimana kompromi diantara ayat ini (Qs. An-Nahl ayat 32) dan hadis “tidak akan memasukkan kalian ke dalam surga amal kalian”. Maka, jawabnya adalah yang dinafikan dalam hadis adalah masuknya seseorang ke dalam surga sebatas dengan amal yang tidak diterima Allah. Sedangkan yang ditetapkan dalam Qs. An-Nahl ayat 32 adalah masuknya seseorang ke dalam surga dengan amal yang diterima Allah. Dan diterimanya amal adalah sebab kasih sayang Allah. Maka, seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan sebab kasih sayang Allah”. (kitab Fath al-Bari syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqalani vol.1 hal.78 cetakan Dar al-Ma’rifat Beirut 2010)

Baca juga:
RAHASIA AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

follow juga:
@pondoklirboyo

Rahasia Ayat Keempat Surat Al-Fatihah

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4

“(Allah) pemilik hari pembalasan”

Dalam ilmu qiro’ah sab’ah terdapat perbedaan dalam membaca ayat ini. Imam Ashim dan imam Ali al-Kisa’I membaca panjang huruf mim lafadz malik. Sebaliknya, para imam qiroah yang lain membaca pendek huruf mim lafadz malik. Dalam ilmu qiro’ah sab’ah, terdapat hikmah yang sangat agung dalam perbedaan cara baca. Karena, selalu ada makna khusus yang dibawa oleh setiap cara baca yang menjadikan al-Qur’an kaya akan perbendaharaan makna.

Qiro’ah yang membaca panjang huruf mim lafadz malik (terbaca Maalik) membawa makna memiliki karena lafadz maalik adalah bentuk isim fa’il dari asal kata milk (ملك) yang bermakna kepemilikan. Sedangkan, qiro’ah yang membaca pendek huruf mim lafadz malik (terbaca Malik) membawa makna merajai/menguasai karena lafadz malik adalah sifat musyabbihat dari asal kata mulk (ملك) yang bermakna kerajaan.

Singkronasi

Ketika kita padukan dua cara baca ini, maka kita akan menemukan makna bahwa Allah lah yang memiliki hari pembalasan dan Allah lah yang mengatur seluruh urusan pada hari pembalasan. Makna ayat ini membawa pesan peringatan agar hamba-Nya ikhlas beribadah kepada-Nya. Karena kelak mereka akan menemui balasan perbuatan mereka pada hari pembalasan.

Dalam ayat ini, “Mengapa Al-Qur’an datang dengan dua cara baca?”

Dengan dua makna inilah, sifat keagungan Allah terlihat jelas di hadapan pembaca Al-Qur’an. Karena hanya Allah lah yang memiliki hari pembalasan sebagaimana dalam ayat al-Qur’an

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (19

“Pada hari (ketika) seseorang tidak memiliki (pertolongan) bagi orang lain. Dan segala urusan pada hari itu adalah milik Allah” (Qs. Al-Infithar : 19)

Dan hanya Allah lah yang mengatur segala perkara yang terjadi pada hari pembalasan, di mana seluruhnya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana dalam ayat al-Qur’an

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ( 16

“Pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman) “Siapakah yang merajai hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan” (Qs. Ghafir : 16)

Seandainya hanya memakai satu cara baca dalam lafadz malik tentu pembaca akan kurang dalam memahami ayat.

Terlindunginya Makna

Ketika hanya memakai makna “Memiliki hari pembalasan” mungkin saja pembaca akan berfikir “Apakah Allah yang memiliki hari pembalasan mampu menghukum hambanya di hari tersebut?”. Karena ada beberapa sekte di luar aliran Aswaja yang tidak mengakui surga dan neraka sebagai balasan yang nyata. Bahkan, sebagian dari mereka menyatakan surga dan neraka bersifat ilusi bukan sebuah balasan yang nyata / hakiki. Sehingga mereka tidak benar-benar mengimani bahwa Allah adalah dzat yang mengatur jalannya hari pembalasan. Misalnya, pembaca dari kalangan sekte Murji’ah akan menyatakan “Allah hanya memiliki hari pembalasan dan Allah tidak mungkin menghukum hamba-Nya pada hari pembalasan karena setiap yang beriman pasti masuk surga tanpa hisab”.

Ketika hanya memakai makna “Merajai hari pembalasan” mungkin saja pembaca akan berfikir “Apakah Allah yang merajai dan mengatur di hari pembalasan adalah pemilik hari tersebut?”. Tentu, pembaca dari kalangan penganut aliran trinitas (agama yang mengakui tiga tuhan) akan berfikir “Esensi yang mengatur sebuah perkara bisa jadi tidak memiliki perkara tersebut, karena bisa jadi ada satu tuhan yang mengatur jalannya hari pembalasan dan ada satu tuhan lain yang memiliki hari pembalasan”.

Kesimpulan

Secara logika, dapat kita sederhanakan bahwa  makna “memiliki” dan “menguasai” adalah dua peran yang berbeda. Misalnya, seorang raja bisa dikategorikan “memiliki” sebuah negara berbasis kerajaan, akan tetapi yang memiliki peran “menguasai” jalannya hukum di negara tersebut adalah perdana menteri.

Selain kedua cara baca di atas, juga beberapa cara baca lain yang bermacam-macam. Misalnya, imam Laits bin Sa’ad yang membaca Malikii Yaumid Diin (ملكي يوم الدين), imam Abu Hanifah yang membaca Malaka Yaumad Diin (ملك يوم الدين) dan masih banyak lagi. Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Itqan mencatat ada 13 cara baca dalam ayat ini.

Kemudian, dalam ayat ini lafadz ad-Din bermakna pembalasan yang masih satu akar kata dengan lafadz Ad-Dain yang bermakna hutang. Karena sebagaimana hutang yang harus dilunasi maka setiap amal perbuatan juga akan dilunasi balasannya di hari pembalasan. Sebagaimana sebuah sya’ir

ولم يبق سوى العدوا     #   ن دناهم كما دانوا

“Dan tidak tersisa kecuali permusuhan, kami membalas sesuai dengan perbuatan mereka”

Kemudian, dalam ayat ini sifat kepemilikan dan menguasai dihubungkan (idhofah) dengan hari pembalasan sebagai waktu dijalankannya pembalasan Allah. Dalam ilmu tata bahasa Arab, hal ini menyimpan faedah ittisa’ (perluasan makna) karena pada dasarnya makna yang dimaksud adalah Allah menguasai dan memiliki seluruh perkara yang ada pada hari pembalasan. Hal ini sebagaimana ungkapan bangsa Arab dalam mensifati seorang pencuri barang berharga “Wahai orang yang mencuri malamnya penghuni rumah”.

Penulis: Muhammad Tholhah Al-Fayyad

Alumni Ponpes Lirboyo Kediri, sedang Menempuh Jenjang S1 Jurusan Ushuluddin di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Baca juga:
ISLAM AGAMA YANG AKOMODATIF DENGAN BUDAYA

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# RAHASIA DI BALIK AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH
# RAHASIA DI BALIK AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

Islam dan Barat : Tak Terpisah Perang

Hubungan Barat dan Islam.

Islam dan Barat dalam sejarahnya telah memberikan sumbangsih sangat besar dalam peradaban Eropa.sudah seharusnya ketegangan kedua peradaban ini tidak menjadi konflik seperti perang dan sebagainya. Warisan peradaban Islam di Spanyol yang dibangun oleh Dinasti Umayyah di sana telah memberikan batu loncatan untuk peradaban Eropa saat ini. Dalam banyak bidang keilmuan yang berkembang di Barat, ulama-ulama Islam telah banyak menghiasi peradaban Eropa.

Tentu dunia Barat sangat berterimakasih kepada Muhammad bin Musa al-Khawarizmi yang telah mengenalkan kepada dunia dasar-dasar algoritma, juga kepada Ibnu Rusydi dan Ibnu Khaldun yang telah mengenalkan mereka kepada pendekatan filsafat yang dibangun sebelumnya di masa Plato dan Aristoteles dan sederet intelektual muslim lainnya.

Sejarah juga telah menceritakan bagaimana Islam dan Barat saling memberikan sumbangsih satu sama lain. Kedua peradaban ini hanya terpisahkan oleh laut Mediterania. Peradaban yang di bangun umat Islam di Kairo tentu sangat dekat jaraknya dengan peradaban Barat yang dibangun di Prancis kala itu.

Mengenai peradaban Islam dan Barat yang agaknya selalu dipertentangkan oleh sebagian orang, Alquran menjawabnya dengan dogma bahwa perbedaan adalah sebuah hal yang tak bisa terelakkan dalam kehidupan manusia. Karena pada hakikatnya manusia telah diciptakan dengan bermacam-macam warna kulit dan bahasa yang berbeda-beda. Karena itulah, perbedaan peradaban Islam dan Barat tidak seharusnya menjadi alasan kebencian dalam motif apapun, termasuk islamophobia yang saat ini sedang berkembang di Barat. Justru adanya perbedaan inilah yang harusnya merekatkan hubungan keduanya.

Baca Juga : Islam yang Ketinggalan

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Rum: 22)

Di balik semua perbedaan itu, Alquran dari jauh hari juga telah menjelaskan pentingnya pertemuan berbagai suku bangsa agar mampu saling mengenal satu sama lain. Hingga tidak ada lagi pertikaian di antara mereka.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)

Dari sini, kita memahami Alquran telah mengarahkan umat Islam menuju perdamaian dan kasih sayang dengan segala umat beragama.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8)

Tidak hanya itu, Alquran juga telah melarang kita untuk mencaci-maki agama lain agar mereka pun tak balik mencaci agama Islam.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am: 108).

Alquran juga melarang umat Islam untuk merusak tempat beribadah umat agama lain, terlebih umat Nashrani dan Yahudi. Karena di dalam tempat peribadatan Nashrani dan Yahudi, juga banyak disebut nama Allah.

“….Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” Qs. Al-Hajj : 40.

Alquran juga membatasi peperangan sebagai upaya terakhir dalam mempertahankan diri. Kita bisa teliti kembali di mana Alquran banyak memakai lafadz قاتلوا dari asal kata قتل. Di dalam ilmu tashrif, adanya tambahan alif (ا) di sini bermakna musyarakah,atau perbuatan yang dilakukan sebagai balasan dari perbuatan yang sama. Yang artinya umat Islam tidak diperbolehkan memulai sebuah peperangan kecuali dalam rangka mempertahankan diri dari ancaman musuh.

Bahkan bila memang peperangan sebagai pilihan terakhir harus terjadi, Alquran membatasi umat Islam agar tidak berlebihan dalam melaksanakannya.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al-Baqarah: 190)

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa perdamaian adalah cita-cita tertinggi dalam Islam. Inilah mengapa Allah mengutus nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta. Sebagai utusan yang membawa pesan dan ajaran penuh kedamaian.

Namun, sebagian orang yang menahbiskan diri sebagai pelaku ajaran Islam murni, menganggap peperangan terhadap kaum yang berbeda iman sah-sah saja. Hal ini dipercayai mereka, karena ada satu ayat yang—menurut kacamata mereka—melegalkan apa yang mereka yakini itu.

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-Anfal: 39).

Ada kekeliruan yang sangat fatal dalam memahami ayat ini dengan kacamata itu. Ayat ini justru sejatinya adalah perintah untuk berdamai dengan siapapun. Adapun teks perintah berperang, itu semata seruan agar perang diarahkan hanya untuk kepentingan menghilangkan terjadinya fitnah. Sementara maksud fitnah dalam ayat ini adalah “larangan dari oknum manapun bagi seseorang yang ingin memeluk agama Islam dengan damai.” Dari pengertian fitnah ini lahirlah sebuah pemahaman yang arif: bahwa kebebasan memeluk agama adalah ajaran yang ditekankan dalam Islam. Tak terkecuali, orang-orang di luar Islam yang ingin memeluk agama Islam.

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 256)

Penulis, M. Tholhah al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo.

Nama Muhammad Pernah Dilarang oleh Umar bin Khattab

Alasan Abdul Muthalib memberi nama cucunya yang baru lahir dengan nama “Muhammad” adalah ia ingin cucunya itu dipuji semua orang. Beberapa sumber mengatakan hal yang serupa. Dalam sumber lain dinyatakan bahwa nama Muhammad ini akhirnya membuat para kaum kafir Quraisy bingung dalam menghadapi dakwah nabi Muhammad saw.: mereka membencinya, namun faktanya mereka malah memanggilnya dengan “yang terpuji.”

Muhammad al Bushiri, penyair ulung itu, menjadikan nama “Muhammad” benar-benar keramat. Ia melantunkan kekeramatan itu dalam nadzam Burdahnya

فإن لي ذمةً منه بتسميتي

محمداً وهو أوفى الخلق بالذمم

Sesungguhnya aku punya jaminan (di hari kiamat) yakni namaku “Muhammad”

Dan ia (Nabi Muhammad) adalah makhluk paling sempurna dalam menepati janji (memberikan syafaatnya di hari kiamat)

Tentu ia tidak serta merta mengeramatkan nama itu tanpa dasar. Setidaknya, ada beberapa hadis yang mengungkapkan betapa mulianya nama Muhammad. Pertama, hadis yang disebut Hakim dalam kitab Al-Tarikh-nya,

إذا سميتم الولد محمدا فأكرموه وأوسعوا له المجلس ولا تقبحوا له وجها

 “Jika kalian memberikan anak-anak kalian nama ‘Muhammad’, maka muliakan mereka dan lapangkanlah tempat duduk mereka dalam majelis. Dan jangan kalian hinakan wajah mereka (jangan hinakan atau caci maki mereka dengan kata-kata ‘semoga Allah jelekkan wajah kalian’ atau sejenisnya).”

Kedua, hadis yang diriwayatkan al-Suyuthi di dalam kitabnya, Jami’ as-Shaghir.

إذا سميتم محمدا فلا تضربوه ولا تحرموه

 “Jika kalian memberikan nama ‘Muhammad’ (pada anak-anak kalian), maka janganlah kalian pukul mereka (kecuali karena hukum had dan mengajarkan adab), dan janganlah kalian larang mereka (muliakan dan berbuat baiklah pada mereka).”

Demi kemuliaan nama “Muhammad” ini, khalifah Umar bin Khattab bahkan pernah berang kala ia mendengar ada seseorang mencela nama Muhammad. Muhammad bin Yazid bin Khattab, nama orang yang dicela itu, melakukan suatu perbuatan buruk, sehingga orang-orang mencelanya, “Wahai Muhammad, semoga Allah menghukum perbuatan (buruk) mu.”

Muhammad bin Yazid tinggal di Kuffah, 1.200-an kilometer berjarak dari Madinah, tempat Umar memerintah. Sang khalifah setelah mendengar kisah celaan terhadapnya, ia menyuruhnya untuk segera menghadap ke Madinah. Dengan pengorbanan tenaga dan waktu demikian—jarak ribuan kilometer di masa transportasi sebatas unta itu tentu saja menuntut pengorbanan banyak hal—menunjukkan bahwa ini bukan masalah yang sederhana bagi sang khalifah.

Khalifah Umar memuntahkan amarahnya justru kepada Muhammad bin Yazid bin Khattab. Bukan kepada sang pencela. Jelas karena perbuatan buruknya itu sama sekali tidak dapat ditoleransi. “Aku takut nama Nabi Muhammad dicaci maki karena ulahmu.”

Saking hormatnya sang khalifah kepada nama Muhammad, sejak peristiwa itu ia melarang penduduk Kuffah memberi nama anak-anak mereka nama Muhammad. Ia takut penduduk Kuffah akan serampangan mencaci seseorang yang bernama Muhammad. Wallahu a’lam.

Referensi:

Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi, Al-Tarikh.

Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari, Jami’ as-Shaghir.

Syaikh Ali Al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih.