Tag Archives: asian games

Kelanjutan Hukum Imunisasi MR

Setelah publikasi hasil keputusan dan rekomendasi Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM-P2L) mengenai imunisasi Measles Rubella (MR), para netizen (istilah untuk peselancar dunia maya) kaget. Beragam pertanyaan muncul di kolom komentar, “Lho kok beda dengan MUI”, “Bagaimana kalau sudah terlanjur”, dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Sudah dapat dimaklumi bersama bahwa keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM-P2L) sedikit memiliki perbedaan keputusan hukum dengan fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) nomor 33 tahun 2018.

Demi menghindari salah persepsi di kalangan masyarakat, Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM-P2L) merasa perlu untuk melakukan klarifikasi dan penjelasan lebih mendetail terkait keputusannya. Baik yang berkaitan dengan metode pengambilan keputusan serta kejujuran ilmiah yang ditempuhnya.

Sebelumnya perlu kami sampaikan bahwa semua jawaban dan rumusan hasil Bahtsul Masail murni berdasarkan Nash dalil yang sudah ada dalam Al-Quran, Hadits dan kutubus salaf dari para ahli ijtihad Al-Quran dan Hadits, dan tidak ada tendensi kepentingan apapun.”

Perlu diketahui, bahwa standar “dharurat” dalam syariat Islam adalah suatu keadaan yang apabila tidak melakukan /mengkonsumsi barang tersebut akan binasa atau mendekati kebinasaan. Sementara standar “hajat” adalah suatu keadaan apabila tidak melakukan/mengkonsumsinya, tidak sampai binasa atau mendekati kebinasaan, tapi ada unsur masyaqqah (beban teramat berat yang tidak bisa ditanggung). Menilik kasus vaksin Measles Rubella (MR), maka tidak ada dhorurat ataupun hajat sama sekali yang menuntut memakai vaksin tersebut, terlebih sumbernya belum ada dari peniliti pakar dari orang islam sendiri. Apalagi klaim yang menyatakan belum ditemukan pencegahan kecuali dari babi. Dalam kajian fiqh islam tidak boleh terburu-buru menerima adanya penemuan obat najis, apalagi najis berat seperti babi.

Dengan demikian, perbedaan keputusan dalam menyikapi problematika fikih adalah realita hukum yang lumrah dalam dunia intelektual Islam. Sehingga pendewasaan sikap dalam menganggapinya sangat diperlukan demi kemaslahatan untuk seluruh lapisan umat Islam.

 

sumber: Tim Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM-P2L)

Tasyakuran Haji di Nusantara

Siapapun mengakui, memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci merupakan sebuah kenikmatan agung. Perasaan hati yang bahagia dan bersyukur secara otomatis akan dirasakan setiap umat Islam yang mendapatkan ‘panggilan’ tersebut.

Di Indonesia, umumnya para jamaah haji yang telah pulang dari ‘perjalanan suci’ itu mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa. Sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di bandara dan asrama haji, segenap keluarga telah setia menunggu untuk menyambut kedatangannya.

Sebenarnya, tradisi yang serupa sudah pernah dicontohkan oleh para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw. dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah. (HR. Muslim)[1]

Rangkaian penyambutan haji terus berlanjut hingga ke kampung halamannya. Para saudara, kerabat, dan tetangga telah menunggu kedatangannya di tengah-tengah mereka. Biasanya, masyarakat Indonesia menyebutnya dengan istilah ziarah haji, sebuah tradisi untuk mengunjungi para tamu Allah yang telah pulang ke kampung halamannya.

Kearifan lokal umat Islam di Nusantara ini sama persis dengan tradisi yang disebut dengan istilah an-Naqi’ah dalam kajian fikih. Secara pengertian, an-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis Rasulullah Saw,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi.” (HR. Bukhari)[2]

Rangkaian tradisi yang lebih penting dari semua itu adalah mendapatkan berkah doa dari mereka yang baru pulai menunaikan ibadah haji. Karena sebenarnya, doa tersebut lah yang menjadi tujuan utama dari dari para peziarah haji. Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ …رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni.” (HR. Ahmad)[3]

Hadis tersebut juga memberi pemahaman bahwa seseorang yang usai menunaikan ibadah haji dianjurkan untuk mendoakan orang lain meskipun orang tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang yang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Tujuannya adalah agar ia termasuk dalam doa yang pernah diucapkan oleh nabi Muhammad saw. Sebagaimana dalam sebuah redaksi hadis,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji.” (HR. Muslim)[4]

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang usai menunaikan ibadah haji. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keutamaan doa dari mereka terus menerus hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal.[5] []waAllahu a’lam

 

_________________________

[1] Shahih Muslim, IV/185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, IV/400, CD. Maktabah Syamilah.

[3] Dalil Al-Falihin, III/237.

[4] Faidh Al-Qodir, II/101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, II/554, CD. Maktabah Syamilah.

Sisa Darah dalam Daging

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saat hari raya Idul Adha, masyarakat muslim hampir seluruhnya dapat merasakan daging kurban. Berbagai menu olahan daging dibuat, mulai dari sate, gule, rendang, dan lain-lain. Namun, permasalahan muncul ketika proses perebusan daging mentah. Yang mana, air rebusan tersebut seketika menjadi kemerah-merahan. Secara pasti, hal tersebut berasal dari sisa-sisa darah dari daging yang direbus. Meskipun sebelumnya daging tersebut telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Yang kami tanyakan, apakah benar bahwa sisa darah dalam daging tidak najis? Apakah air rebusan tersebut juga dihukumi najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sofia- Jombang)

_________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Perlu diketahui bahwa darah yang tersisa dalam daging statusnya tetap dihukumi najis, namun ditolerir (ma’fu) oleh syariat. Sebagaimana penjelasan syekh Zakaria al-Anshori dalam kitabnya yang berjudul Asna al-Mathalib:

الدَّمُ الْبَاقِي عَلَى لَحْمِ الْمُذَكَّاةِ وَعَظْمِهَا نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فَقَدْ قَالَ الْحَلِيمِيُّ وَأَمَّا مَا بَقِيَ مِنْ الدَّمِ الْيَسِيرِ فِي بَعْضِ الْعُرُوقِ الدَّقِيقَةِ خِلَالَ اللَّحْمِ فَهُوَ عَفْوٌ

Darah yang tersisa dalam daging atau tulang hewan yang telah disembelih statusnya najis yang ditolerir. Al-Halimi juga berkata: Adapun sedikit darah yang tersisa dalam urat-urat kecil yang ada pada daging, hukumnya (najis) yang ditolerir”.[1]

Mengenai persoalan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan tetap dihukumi najis, namun juga ditolerir syariat (ma’fu). Dengan syarat, sebelum proses perebusan, daging telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan:

وَوَقَعَ السُّؤَالُ فِي الدَّرْسِ عَمَّا يَقَعُ كَثِيرًا أَنَّ اللَّحْمَ يُغْسَلُ مِرَارًا وَلَا تَصْفُو غُسَالَتُهُ، ثُمَّ يُطْبَخُ وَيَظْهَرُ فِي مَرَقَتِهِ لَوْنُ الدَّمِ فَهَلْ يُعْفَى عَنْهُ أَمْ لَا فَأَقُولُ الظَّاهِرُ الْأَوَّلُ؛ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ

Dalam suatu pembelajaran, muncul sebuah pertanyaan yang sering terjadi, yaitu: Sesungguhnya daging yang telah dibasuh berkali-kali sehingga sisa air basuhannya menjadi keruh kemudian daging tersebut dimasak dan mengeluarkan warna darah dari air rebusannya, apakah hal tersebut ditolerir ataukah tidak?. Aku menjawab: Yang jelas adalah yang pertama (yaitu ditolerir). Karena permasalahan ini sulit untuk dihindari”. [2]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa status darah dari yang tersisa dalam daging hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Kelonggaran hukum ini juga berlaku dalam permasalahan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan disebabkan darah tersebut dengan syarat telah melalui proses pembersihan maksimal sebelumnya. []waAllahu a’lam

 

____________________

[1] Zakaria al-Anshori, Asna al-Mathalib, vol. 1 hal. 12.

[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘Ala Syarh al-Manhaj, vol. 1 hal 193, cet. Darul Fikr.

Ringkasan Fikih Kurban

Dalam kajian fikih, ibadah kurban sering disebut dengan istilah Udhiyyah. Udhiyyah sendiri diartikan sebagai ibadah menyembelih binatang ternak tertentu di hari raya Idul Adha (10 dzulhijjah) sampai hari Tasyriq (11, 12, 13 dzulhijjah) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dalil Kurban

Legalitas ibadah kurban bertendensi pada firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan sembelihlah (kurban).” (QS. Al-Kautsar: 2)

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al-Hajj: 36)

Dalam salah satu hadis disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ يَذْبَحُ وَيُكَبِّرُ وَيُسَمِّي وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَتِهِمَا

Sesungguhnya nabi Muhammad saw. pernah menyembelih kurban dua kambing gibas putih yang bertanduk. Beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri, membaca basmalah dan takbir. Beliau meletakkan kaki beliau pada pipi kedua hewan tersebut.”

Hukum Kurban

Hukum menunaikan kurban adalah sunah muakkadah (sangat dianjurkan) untuk setiap orang dan sunah kifayah (kolektif) untuk satu keluarga. Artinya, apabila salah satu dari anggota keluarga telah menunaikannya, maka anjuran tersebut gugur bagi anggota keluarga yang lain. Namun dalam beberapa keadaan kurban akan menjadi wajib. Salah satunya ialah apabila memang kurban tersebut dinadzari.

Binatang Kurban

Adapun binatang yang dapat dijadikan kurban ialah unta, sapi, dan kambing. Sesuai firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَام   

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak (kambing, sapi, dan unta).” (QS. Al-Hajj: 28)

Agar dapat dijadikan kurban, ketiga binatang tersebut harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

Pertama, umur yang cukup. Yaitu apabila unta harus sempurna usia lima tahun dan mulai memasuki tahun keenam, sapi dan kambing harus sempurna usia dua tahun dan mulai memasuki tahun ketiga. Adapun untuk kambing jenis domba dicukupkan usia satu tahun dan mulai memasuki tahun kedua.

Kedua, kondisi binatang dalam keadaan sehat. Artinya tidak ada cacat pada binatang kurban yang dapat mengurangi daging, seperti kurus kering, buta, telinga terpotong dan lain-lain.

Selain kriteria yang harus dipenuhi di atas, setiap jenis binatang kurban memiliki standar masing-masing. Jenis unta dan sapi dapat dijadikan kurban untuk tujuh orang. Sementara jenis kambing mencukupi untuk dijadikan kurban satu orang.

Waktu Penyembelihan Kurban

Penyembelihan hewan kurban dapat dilakukan setelah terbitnya matahari ditambah perkiraan waktu melaksanakan salat dan dua khutbah hari raya Idul Adha (10 dzulhijjah). Dan waktu penyembelihan berlanjut hingga tiga hari sebelum terbenamnya matahari di akhir hari Tasyriq (13 dzulhijjah).

Ketika menyembelih hewan kurban ada beberapa kesunahan yang anjur untuk dilaksanakan, yaitu:

Pertama, membaca basamalah. Kedua, membaca shalawat. Ketiga, menghadap kiblat. Keempat, membaca takbir tiga kali sebelum membaca basamalah atau setelahnya.  Kelima, membaca doa berikut:

اللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ, نِعْمَةً مِنْكَ عَلَيَّ وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ

Ya Allah, kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah. (Kurban ini) adalah nikmat-Mu untukku, dan dengannya aku mendekatkan diri pada-Mu, maka terimalah ini dariku.”

Pendistribusian Daging Kurban

Dalam pendistribusian daging kurban terdapat beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian untuk orang-orang kaya hanya terbatas  untuk konsumsi semata (ith’am). Namun untuk golongan fakir miskin, mereka lebih leluasa, baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya. Karna pemberian pada kelompok ini berstatus pemberian hak milik(tamlik).

Terlepas dari perincian tersebut, apabila kurbannya berstatus kurban sunah, bagi orang yang berkurban disunahkan mengambil sedikit bagian daging kurbannya (tidak melebihi sepertiga dari keseluruhan daging). Hal ini bertujuan mencari keberkahan. Akan tetapi berbeda halnya apabila kurbannya berstatus kurban wajib, maka seluruh dagingnya harus disedekahkan. []waAllahu a’lam

 

________________

Disarikan dari kitab Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Fathil Qorib (t.t. Surabaya: Al-Hidayah), vol. 2 h. 295-302