Tag Archives: Haflah

Awal Mula Haflah Akhirussanah

Sejak tahun-tahun awal Pondok Pesantren Lirboyo lahir, KH. Abdul Karim tidak pernah memiliki keinginan yang macam-macam. Hari-hari beliau hanya diisi dengan mengaji. Saking penuhnya hari beliau dengan mengaji, para santri sendiri bahkan kuwalahan mengikuti kegiatan beliau. Sejak jamaah salat subuh ditunaikan, kitab kuning hampir tak pernah lepas dari pegangan tangan beliau. KH. M. Anwar Manshur menceritakan, KH. Abdul Karim baru selesai mengaji selepas tengah malam. Itupun tidak segera pulang ke rumah, melainkan tetap di masjid untuk menunaikan shalat dan wirid.

Kalau beliau terus memegang kitab, lalu bagaimana dengan kehidupan santri dan pesantrennya? Bukankah mereka juga butuh diurus sandang, pangan dan papannya?

Dalam keperluan pesantren, simbah nyai Dlomroh lah yang mengatur semuanya. Beliau memang telah sejak mula menyiapkan diri untuk membantu KH. Abdul Karim, suaminya, dalam segala hal, termasuk merawat dan menjaga kondisi pesantren Lirboyo.

Seiring waktu berjalan, santri terus berdatangan. Hingga pada akhirnya, beliau dibantu oleh keluarga dan santri-santri lain. mereka inilah yang kemudian menjadi pengajar dan pengurus di Pondok Pesantren Lirboyo.

Kehidupan santri sekaligus pengajaran yang diberikan di Pondok Pesantren Lirboyo terus berjalan dengan baik. Suatu ketika, simbah Nyai Dlomroh merasa perlu untuk mengungkapkan rasa syukur atasnya. Maka di akhir tahun itu, beliau mengundang seluruh pengajar dan pengurus untuk menghadiri tasyakuran.

Untuk acara tasyakuran itu, beliau, simbah nyai, menyembelih seekor sapi. Beliau, dengan dibantu oleh keluarga besar beliau, mengurus segala hal-hal yang berkaitan dengan acara, baik itu memasak, menyiapkan hidangan, dan lain sebagainya.

Acara dilaksanakan dengan sederhana. Tak ada perayaan yang wah. Tetapi, acara sederhana itu kini menjadi budaya dan tradisi, yang terus dilestarikan oleh dzuriyah, cucu dan cicit beliau. Acara tasyakuran inilah yang kemudian kini dikenal dengan Haflah Akhirussanah.][

 

Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo & Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien akan dilaksanakan pada Selasa malam Rabu, 09 Sya’ban 1439 H./24 April 2018 M, di Aula al-Muktamar. Insya Allah akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. sebagai penceramah.

Bekal Ukhrawi dan Duniawi dari Pesantren

LirboyoNet, Kediri—Senin kemarin (22/05) terselenggara hajat besar di Aula Al-Muktamar. Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah, salah satu pondok unit Ponpes Lirboyo, melaksanakan agenda akhir tahunnya, Haflah Akhirussanah.

Diawali dengan pembacaan maulid, acara berlangsung khidmat ketika satu per satu rangkaian terlewati. Terutama, ketika akhirnya dibacakan daftar siswa dengan nilai terbaik dari masing-masing lembaga pendidikan. Untuk diketahui, PP HM Al Mahrusiyah membawahi beberapa lembaga pendidikan. Sejak Play Group, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan. Selain siswa terbaik, pagi itu juga dibacakan santri Madrasah Diniyah Al Mahrusiyah yang berhasil menghafal seribu bait nadzam Alfiyah Ibn Malik.

Santri-santri berprestasi itu mendapat penghargaan berupa piagam, trofi, dan beberapa bingkisan. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh pengasuh, KH. Reza Ahmad Zahid Imam Yahya dan ibunda beliau, Ibu Nyai Hj. Zakiyatul Miskiyyah Imam Yahya.

KH. Reza menyebut bahwa prestasi ini secara khusus, dan kelulusan para siswa pada umumnya adalah hanya salah satu dari rangkaian perjalanan yang akan mereka tempuh. “Kami meminta maaf kepada kalian, karena hanya mampu mengantarkan kalian hingga titik ini. Perjuangan kalian dalam mencari ilmu masih sangat panjang,” imbuh beliau.

KH. Imam Nawawi, seorang wali santri dari Palembang, merasa sangat perlu berterima kasih kepada pesantren karena telah membantu orang tua untuk melindungi anak-anak mereka dari pengaruh buruk lingkungannya. “Pondok pesantren ini mampu menjadi benteng keimanan dan akhlak anak-anak kita sehingga tidak terpengaruh budaya yang buruk. Ini seperti Nabi Musa, yang keimanannya tidak goyah meskipun dia sendirian di tengah keluarga Fir’aun dan masyarakat kafir,” ungkapnya.

Ada beberapa testimoni dari Prof. Dr. Abdul Haris M. Ag, seorang kiai dari Surabaya yang diminta untuk memberikan mauidzah hasanah pada pagi itu. “Saya salut kepada pesantren ini, karena telah ikut serta dalam mendidik anak bangsa sejak kecil, play group, hingga tingkat menengah atas.” Selain itu, beliau juga berpesan kepada para siswa yang telah menyelesaikan pendidikannya di pesantren ini. “Kalian telah ditunggu-tunggu oleh para cendekiawan. Kalian telah memiliki bekal yang sangat berharga, yakni bekal intelektual ukhrawi dan duniawi. Tentu ini bekal yang sangat penting bagi kalian untuk ikut serta dalam membangun bangsa. Di samping Kalian harus menjadi kiai, kalian juga harus menjadi ulama duniawi, menjadi ilmuwan, dan pemimpin bangsa,” harap beliau.][

Dawuh Mbah Mun dalam Haflah 1438 H.

Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien 2017 Jumat (05/05) kemarin, dihadiri oleh KH. Maimun Zubair, kiai sepuh pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang Rembang Jawa Tengah. Beliau hadir untuk memberikan siraman rohani bagi para hadirin. selain juga beliau datang sebagai alumni. Berikut beberapa kutipan maqolah beliau di acara malam hari itu:

 

“Kadang wong Islam iku dirubah gak kroso, kabeh katut opo zamane.”

Terkadang, orang Islam dirubah tidak merasa. Mereka semua terhanyut oleh aliran zaman.

 

“Elek apik seko Allah, sing ngatur yo Allah.”

Semua kebaikan itu datang dari Allah. Yang mengatur semuanya adalah Allah.

 

“Wong sing tawakkal menyang Allah tenan, Allah sing nyukupi.”

Manusia yang tawakkal, berpasrah diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah lah yang nanti akan mencukupi keadaannya.

 

“Wong sing slamet iku wong sing netepi tindakane kanjeng Nabi, lan sohabat-sohabate.”

Manusia yang selamat, adalah mereka yang teguh menjalankan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

 

“Jowo okeh kiaine mergo katah turunane kanjeng Nabi sing ora nasab.”

Di Jawa ada banyak kiai, karena banyak keturunan Nabi saw. yang tidak bernasab.

 

“Allah ndamel kedhidupan wong Islam saben tahun berubah. Jenenge mujadid. Ngurip-ngurip madzhab salaf, tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.”

Allah merubah kehidupan orang Islam setiap tahunnya. Itulah yang dinamakan mujaddid (pembaruan). Seorang muslim harus menghidupkan madzhab salaf (kuno), tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.][

Haul Haflah Akhirussanah Ponpes Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien

Meskipun KH. A. Musthofa Bisri berhalangan rawuh, suasana haul dan haflah akhirussanah Ponpes Lirboyo Kediri kemarin tetap berjalan dengan khidmat. Suasana yang teduh mengiringi berjalanya haul dan haflah. Beliau, KH. Mas Subadar pengasuh Ponpes Raudhatul Ulum, Besuk Pasuruan, hadir sebagai pembicara. Beliau, KH. Mas Subadar merupakan alumni Ponpes Lirboyo yang sudah tamat sekitar tahun 1960 M, atau 56 tahun yang lalu.

Dalam sambutan atas nama dzurriyah Ponpes Lirboyo, KH. An’im Falahuddin Mahrus menyampaikan  “Haul dan haflah ini pada intinya, merupakan rasa syukur dari Pondok Pesantren Lirboyo ini, setiap tahun bisa menghantarkan santri-santri untuk menyelesikan jenjang pendidikan kelas tiga ‘Aliyah.” Menyitir pidato KH. Idham Khalid yang diamini KH. Mahrus ‘Aly, “Barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, berarti tidak berterimakasih pada Allah SWT.

Diamini oleh KH. Abd. Kafabihi Mahrus, “Mayit (Orang yang telah meninggal dunia -Red) seperti orang tenggelam, yang mengharap doa dari dzurriyah-dzurriyahnya, dari saudara-saudaranya. Dan haul merupakan rasa syukur kepada keluarga kita. Kepada orang-orang tua kita” beliau menambahkan, “Sebab kemuliaan anak, ada hubungan dengan kemuliaan orang tua.

Kita Telah Tiba Di Akhir Zaman

Innakum ashbahtum fi zamanin, katsirin qurrouhu, qoliliin khuthobauhu, kasirin mu’thuhu qolilin sailuhu. Al’amal fihi, khoirun minal ‘ilmi. Wa sayakti zamanun, kasirin khutobauhu, qolilin fuqohauhu kasirin sailuhu, qolilin mu’thuhu.” (Kalian semua para sahabat rasul, ada pada zaman yang banyak orang alim, sedikit orang yang pandai bicara, banyak orang yang memberi, dan sedikit orang yang meminta. Dan kelak akan datang, suatu zaman yang banyak orang pandai bicara, sedikit orang yang alim, banyak orang yang meminta, sedikit orang yang memberi.)

Demikian KH. Mas Subadar membuka mau’idhotul hasanah. Beliau bercerita, pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal, sekitar seribu seratus tahun lalu lebih, Imam Ahmad bin Hanbal sedang mengajar mengaji para murid-muridnya. Ketika itu, suara azan terdengar.  Imam Ahmad pun dan murid-muridnya yang hadirpun menghentikan pelajaran sesaat, untuk menjawab azan. Ketika azan selesai dikumandangkan,  para murid-murid Imam Ahmad pun segera berbenah. Menata dan membereskan tempat mereka mengaji, dan hendak menutup kitab-kitab mereka untuk segera menjalankan salat berjamaah. Namun Imam Ahmad buru-buru mencegahnya, “Wes terusno ngajine!” (Lanjutkan mengajinya!) Imam Ahmad justru menyuruh murid-muridnya untuk kembali mengaji. “Bukan berarti gak sembayang, mboten! Yo sembayang, tapi menangno ngaji ndisik.” (Bukan berarti lantas tidak salat. Tetap salat, akan tetapi dimenangkan mengajinya.) Tutur KH. Mas Subadar. Ada yang bisa kita renungkan dari peristiwa tersebut, bahwa ternyata menurut beliau Imam Ahmad seribu tahun silam saja sudah memasuki zaman yang diramalkan rasulillah dalam hadisnya.(Sakniki) tutuk wayahe al-‘ilmu khoirun minal ‘amal.” (Sekarang kita sudah tiba pada masanya, dimana ilmu lebih baik daripada amal.)

“Ilmu iku sing gae uripe agama islam. Ilmu niku sing gae uripe iman. Nopo maneh zaman sak niki nek mboten di ilmuni, akeh wong kesasar.” (“Ilmu yang menjadikan islam hidup, menjadikan iman hidup. apalagi dizaman sekarang jika tanpa ilmu banyak orang tersesat.”) Tutur beliau. Di zaman sekarang, yang terpenting adalah membentengi diri kita dengan ilmu, banyak faham-faham yang menyimpang, agar kita tidak ikut terseret. “Ilmu iku cekelono, insyaallah selamet. Katah tiang sing kesasar. Gara-garane, mboten gadah ilmu.” (Ilmu itu peganglah! Insyaalah selamat. Banyak orang yang tersesat, karena tidak berilmu.) Beliau menguatkan dengan kisah masyhur yang pernah dialami Syaikh Abdul Qadir Jailani. Suatu hari beliau didatangi seberkas sinar yang mengaku sebagai tuhan. Sosok tersebut memperbolehkan Syaikh Abd. Qodir Jailani melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Namun segera Syaikh Abd. Qadir Jailani menyuruh sosok itu pergi dan menuding sosok itu adalah syaitan. Sinar tersebut langsung padam dan  beberapa saat kemudian menghilang. Beliau, Syaikh Abd. Qadir Jailanipun selamat dari godaan syaitan karena ilmunya.

“Cekelono sing temenan dawuhe masyayikh, insyaallah selamet.” (Peganglah dengan kuat apa yang diajarkan guru-guru. Insyaallah selamat.) “Zaman sakniki mugo-mugokulo panjenengan remen mondokno anak…” (Zaman sekarang semoga saja kita semua termasuk menjadi orang yang senang memondokkan putra-putrinya.)[]

Haflah Akhirussanah Pondok Lirboyo

 

LirboyoNet, Kediri – Selasa Malam Kemaren (26/06/12) Pondok pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mengadakan acara Haul-Haflah Akhirussanah yang ke-102 dalam rangka mengenang kembali perjuangan dan keteladanan para pendiri dan sesepuh Pondok Pesantren Lirboyo.

Rangkaian acara yang digelar di Aula Al-Muktamar ini berupa Lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an yang dibawakan oleh santri Lirboyo bernama Husni Mubarok  yang menjadi Juara Tiga MTQ Nasional ke-24 di Ambon Maluku bidang Tahfizhil Qur’an. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan maulid Nabi oleh Habib Sholeh al-Idrus dari Malang sementara Mauidzoh Hasanah di bawakan Oleh Da’i kondang dari Semarang Habib Umar Al-Muthohar.

Beberapa tamu undangan tampak hadir dalam acara tersebut diantaranya; Keluarga besar pondok pesantren Lirboyo, Para Kyai dan Habaib, Muspida Kota Kediri, segenap pengurus dan pengajar dan Masyarakat umum.

Untuk memeriahkan acara Haul-Haflah Akhirussanah, sebelumnya diadakan beberapa festival-festival baik Jasmani maupun Rohani diantaranya; Lomba Rebana, Cerdas Cermat Islami, MTQ, Muroqi, Hifzhul Al-fiyah, Hifzhul Imrithi, Sedangkan Lomba Jasmani diantaranya; Tarik Tambang, Bola Voli Santri dan Tenis Meja Santri.

Pelaksanaan Haul-Haflah Akhirussanah ini menandai penutupan seluruh aktifitas kegiatan Pondok dan Madarsah pada masa Khidmah 1432-1433 H./2011-2012 M. Selanjutnya kegiatan belajar mengajar dilingkungan Pondok pesantren Lirboyo akan dimulai kembali pada hari Jum’at malam Sabtu, 14 Syawal 1433 H./31 Agustus 2012 M.

Kemudian, insyaAlloh pada Bulan Ramadlan 1433 H. akan dilaksanakan pengajian kilatan beberapa kitab oleh Masyayikh dan Asatidz Pondok pesantren Lirboyo. Nang