All posts by Nur Muhammad Alfatih

Kekhususan Membaca Kitab Dalailul Khairat di Akhir Zaman

Kekhususan Membaca Kitab Dalailul Khairat di Akhir Zaman | KH. Ahmad Idris Marzuqi

Rizki bathiniyyah itu rezeki ilmu atau ilmu sirri di dalam hati. Di dalamnya termasuk ilmu laduni atau ilmu apa saja yang memiliki kaitan dengan ilmu hikmah. Ilmu seperti ini kadang-kadang datang sendiri. Ha ini bisa didapatkan melalui membaca kitab Dalailul Khairat.

Keutamaan membaca kitab Dalailul Khairat

Keutamaan membaca kitab ini, bisa memunculkan ide-ide cemerlang yang timbul dari hati, dan hal ini datang dengan sendirinya. Atau kesulitan apa saja bisa ditemukan jalan keluarnya, dan ketika terjadi apa-apa kadang dalam hati lahir fatwa sendiri. “Oh ini tidak baik, ini baik.” Hal ini tidak lain karena barokah sering membaca kitab Dalailiul Khairat.

Dalam hadis ada istilah “istafti qolbaka” (mintalah fatwa pada hatimu).

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa.(HR. Ahmad no.17545)

Yaitu hati yang bersih, yang murni. Jika dinalar, “masa hati ditanyai?” Hal ini ada keterkaitannya dengan penjelasan yang ada di atas. Yaitu hati yang bersih, hati yang suci, termasuk hati kita orang-orang yang suka membaca shalawat. Itulah ciri khasnya.

baca juga: Kupas Tuntas Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw

Kekhususan membaca kitab Dalailul Khairat di akhir zaman

Dalam situasi zaman akhir seperti zaman sekarang ini, dengan membaca shalawat Dalailul Khairat, kita akan terjaga oleh hati kita sendiri. Pengaruh-pengaruh yang tidak baik, pengaruh-pengaruh yang sesat, sama sekali tidak menyentuh hati kita. Ini keutamaan daripada kita membiasakan membaca Dalailul Khairat.

Jika kita istiqomah mengamalkan kitab tersebut, tidak usah diterangkan, kita akan mengetahui sendiri. “Oh iya ini fadhilah dari membaca kitab Dalailul Khairat.”

Orang yang sudah terbiasa membaca kitab Dalilul Khairat, rezeki tidak pernah lepas. Selalu saja ada rezeki. Di mana rezeki tersebut—min khaitsu la yahtasib (datang dari arah yang tidak disangka-sangka). Inilah fadhilah (keutamaan) daripada membaca kitab Dalailul Khairat.[]

Simak juga: Keutamaan Membaca Dalailul Khoirot | KH. Ahmad Idris Marzuqi
baca juga: Khutbah Jumat: Menyaring Berita, Menjernihkan Suasana

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama | KH  M. Abdul Aziz Manshur

Permasalahan hafalan atau muhafadzah merupakan ciri khas daripada pondok pesantren. Sehingga barokah ilmu yang diperoleh melalui hafalan itu lain daripada yang diperoleh tidak melalui hafalan.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin berkata  bahwa “Dalam tarbiyyah anak kecil, berilah mereka hafalan-hafalan sebanyak mungkin. Karena ketika anak kecil diberi hapalan yang banyak, walaupun yang dihafalakan hanya sebatas ilmu pokoknya saja, ketika ia sudah besar, ilmu pokok melekat kuat dalam hati dan otaknya, yang kemudian nanti ketika sudah besar, akan berkembang dengan sendirinya.”

Yang paling utama bagi anak-anak kecil dipelajajri dan diberi hapalan tentang ilmu tauhid. Sifat wajib dan mustahilnya Allah SWT dihafalkan, nama-nama rasul dihafalkan, nama malaikat dihafalkan, nama kitab Allah SWT dihafalkan, dan seluruh yang terdapat ilmu tauhid dihafalkan semua.

Bisa dilihat perbedaannya, mereka yang langsung belajar tauhid dengan perbandingan- perbandingan menurut Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya, tetapi tidak memiliki hafalan sama sekali, hal semacam itu pemahaman yang diperoleh kebanyakan kurang kuat. Berbeda jika sebelumnya pernah dihapalkan.

Sehingga sangat tepat pendapat Imam Ghazali di atas bahwa “Latihlah anak-anka kecil itu dengan hafalan-hafalan pelajaran yang penting dan pokok bagi dia.”

Seperti juga anak-anak kecil dipelajari dan disuruh untuk menghafal surat-surat pendek. Sehingga untuk memudahkan anak-anak tersebut dalam menghafal, para ulama membalik urutan surat dengan mendahulukan surat An-Nas dan mengakhirkan surat An-Naba. Hal ini dimaksudkan agar ayat-ayat pendek tersebut dihafalkan dan mudah dalam menghafalkannya.

baca juga: Dawuh KH. M. Abdul Aziz Manshur

Kisah KH. M. Abdul Aziz Manshur dalam menghafal

“Dahulu, saya dipelajari kitab Jurumiyyah oleh bapak saya sampai saya hafal sampai khatam kitab tersebut. Tetapi pada saat itu saya belum tahu huruf. Disuruh untuk menunjuk huruf ba’ saja saya tidak tahu.

Dengan menghafal itu, barokahnya sangat saya rasakan betul. Sehingga naik ke pelajaran Imrithi dan Alfiyyah, ada barokahnya (mudah dalam memahami pelajaran tersebut).”

tonton juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. M. Abdul Aziz Manshur

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama

Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman

Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman

Khutbah Jumat I

اَلْحَمْدُ للهِ الْعَظِيْمِ الْمَنَّانِ الَّذِى رَفَعَ دَرَجَاتِ اَهْلِ الْإِيْمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ جَعَلَى اَهْلَ الْإِيْمَانِ عَلَى مَنَابِرِ مِنْ نُوْرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُوَحِّدِيْنَ، صَلُّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ  وَنَفْسِيْ  بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ – (النحل: ٩٧)

Hadirin jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah

Marilah sama-sama kita panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman kepada kita, dan telah memilih kita sebagai hamba yang paling beruntung, karena dapat meniti perjalanan yang lurus.

وَاِنَّ اللّٰهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”  (Surat al-Hajj: 54)

Nikmat iman merupakan suatu nikmat yang paling utama yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Keimanan akan membawa kehidupan seorang hamba memiliki ketenangan dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Dengan nikmat iman, juga dapat memberikan kebahagian dalam hati. Yaitu akan menemukan kehidupan yang baik dan balasan yang baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Dijelaskan di dalam Al-Qur’an:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Hadirin jama’ah Jum’at rohimakumulloh

Perlu diketahui bahwa tidak bisa dikatakan beragama Islam kecuali memiliki iman. Dan iman, memiliki beberapa rukun yang harus kita imani. Rukun-rukun tersebut di antaranya:

1. Beriman kepada Allah SWT
2. Beriman kepada Malaikat Allah SWT
3. Beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT
4. Beriman kepada Utusan Allah SWT
5. Beriman kepada Hari Kiamat
6. Beriman kepada Takdir baik dan takdir buruk.

Ketika seorang Mukmin mengimani akan hal ini, maka ia tidak menyembah sesuatu kecuali kepada Allah. Meyakini bahwa tidak ada yang memberikan rezeki kecuali hanya Allah. Dan Allah tidak akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang tercegah menerima rezeki, dan akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang telah ditetapkannya.

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah SWT rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Dengan memiliki iman, kita mengetahui bahwa seorang hamba tidak akan mengalami kematian kecuali atas izin Allah SWT.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah SWT, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Al-Hujarat: 145)

Hadirin jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah

Keimanan adalah suatu aqidah yang menancap di dalam hati. Yang kemudian dapat diamalkan melalui ucapan dan tindakan dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, serta mengikuti segala sesuatu yang telah datang pada diri Rasulullah SAW.

Untuk mendapatkan manisnya iman, Rasulullah Saw pernah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Dari Anas bin Malik dari Nabi shallalahu  ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga (perkara) yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Allah SWT dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya. Bisa ia mencintai seseorang, ia tidak menaruh kecintaan kecuali karena Allah Swt. Dan ia membenci untuk kembali kepada kekufuran, seperti halnya ia membenci ketika akan dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari)

Hadirin jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah

Keimanan haruslah selalu melekat pada seorang hamba sampai akhir hayatnya. Seperti yang disabdakan oleh Nabi:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ –  قَالَ: ” قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، فَاسْتَقِمْ

Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqfi, beliau berkata: Aku berkata: ”Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku satu perkataan dalam Islam, yang aku tidak pernah bertanya kepada seorang pun selain engkau.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah Swt kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Untuk memperkuat keimanan, kita dianjurkan untuk selalu melakukan kesunahan-kesunahan yang telah dilakukan oleh Nabi, memperbaiki ketakwaan, dan selalu bero’a akan kebaikan-kebaikan yang bisa dicecap manisnya baik di dunia maupun di akhirat.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. Yunus: 9)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيم.

baca juga: Khutbah Jumat: Senyum Adalah Obat

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. وأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ. اللهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا عَلَى عَبْدِكَ  وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ مَااتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أَمَّا بَعْدُ ) فَيَآاَيُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ . وَاعْلَمُوْا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ.

فَقالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اَللهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَ عُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ السِتَّةِ الْمُتَمِّمِيْنَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرَامِ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اَللهمَّ لَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَةً ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوَالِ يَومِ الْقِيَامَةِ اَللهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. ودَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ. اَللهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا. وَاجْعَلِ اللهمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِميْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً  وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

baca juga: Khutbah Jum’at: Menjalin Kerukunan
tonton juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul Khatimah

Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman
Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman
Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman

Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim

Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim | Dawuh KH. Ahmad Habibullah Zaini

Teman-teman yang sudah tamat, jangan sampai lupa pesan Simbah KH. Abdul Karim, “Kalau sudah pulang, ngadep dampar.” Dampar itu bermacam-macam. Kalau yang punya pondok atau majelis ta’lim berarti dampar sungguhan, kalau yang tidak punya berarti dampar majazi.

Mbah Habib kemudian melanjutkan: Saya punya teman. Setelah dia mondok di Lirboyo, dia ke Jakarta. Sebelum dia ikut mengajar, dia bekerja dulu untuk mencari nafkah dan tinggal satu kos bersama rekan kerjanya. Ternyata rekan kerjanya itu tidak ada yang tahu tata cara sholat.

Akhirnya teman saya itu yang mengajari sholat. Nah itu juga termasuk dampar. Jadi damparnya di Jakarta di kos-kosan, dengan mengajari rekan kerjanya yang belum bisa sholat diajari sholat, diajari wudlu, dibenarkan yang salah-salah itu.

Ada lagi yang di rumah itu berprofesi sebagai petani. Sawahnya jauh dari rumah. Jadi kalau mau ke sawah berbekal sarung. Lalu sholatnya juga di sawah. Ketika ia sholat di sawah, ia dihampiri oleh tetangga sawahnya.

“Anda sholat kok di sawah Mas?” tanya tetangga itu.

“Rumah saya jauh. Jadi kalau sholat, saya di sawah ini.”

Seharusnya yang baik itu tetap sholat di masjid seraya berjama’ah, tetapi daripada tidak sholat (lebih baik sholat walaupun di sawah). Lalu temannya itu menjadi ikut sholat di sawah (karena sama-sama jauh dari rumah dan tempat sholat). Padahal biasanya (orang yang menanyakan tadi) tidak pernah sholat. Kalau pun sholat biasanya qodlo’, karena malas mengganti pakaian. Nah, itu juga (bisa disebut) dampar, temannya itu.

Dampar yang hidup berarti mengajar orang yang (pada awalnya) tidak tahu tadi (menjadi tahu). Dia kira sholat itu selalu harus di Masjid, dan sholat di sawah tidak boleh.

baca juga: Peringatan 7 Hari Wafatnya Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini

Ada lagi di sini yang dulu pernah menjadi Ketua M3HM (Majelis Musyawaroh Hidayatul Mubtadiin). Ketika melanjutkan studi di Jogja, di sana ia sambil bekerja. Kerjanya kalau malam berjualan martabak.

Ketika menjual martabak, dia dihampiri oleh anak-anak yang nakal-nakal. Mereka membawa narkoba lalu menyuruhnya untuk memasukkannya ke dalam martabak. Tetapi teman saya tidak mau. Malah mereka dinasehati, diajak untuk  melakukan kebaikan. Itu juga dampar.

Macam-macam dampar itu, pokoknya yang penting mengamalkan ilmunya.

Hadirin, seperti perkataan para sesepuh dahulu bahwa Mbah Kiyai Abdul Karim sering berpesan, “Para santri harus ngadep dampar kalau sudah di rumah.” Termasuk ngadep dampar itu seperti yang saya contohkan tadi.

Dawuh ini disadur dari dawuh Romo KH. Habibullah Zaini yang bisa dilihat di youtube Pondok Lirboyo: Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim | KH. A. Habibullah Zaini

Ikrar dan Serah Terima Wakaf Pondok Pesantren Lirboyo

Ikrar dan Serah Terima Wakaf Pondok Pesantren Lirboyo

Pondok Lirboyo – Hari Ahad 05 September 2021, pukul 09.00 WIB, telah dilaksanakan Ikrar dan Serah Terima Wakaf, di Gedung Yayasan Pondok Pesantren Lirboyo.

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mengungkapkan banyak terimakasih kepada Wakif (orang yang berwakaf) yang telah mewakafkan tanahnya untuk Yayasan Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, tidak lupa kepada orang-orang yang telah membantu serah terima wakaf ini. Beliau kemudian mendo’akan kepada orang-orang yang telah mewakafkan, mudah-mudahan amalnya dapat diterima oleh Allah dan ditempatkan di surga-Nya. Amin.

Acara ini dilanjutkan dengan Karwakaf (Ikrar dan Serah Terima Wakaf) yang dilakukan secara bergilir dari masing-masing wakif. Dipimpin langsung oleh KH. Anwar Manshur.

Ikrar pertama di awali oleh Bapak H. Sabarudin yang mewakafkan sebidang tanah berupa; bangunan masjid, rumah, dan tanah dengan luas tanah 12.000 m2. Terletak di desa Mukti Karya, kecamatan Panca jaya, Kabupaten Mesuji, Lampung.

Kemudian ikrar dari Bapak Abdul Majid sebagai wakil dari Wakif Bapak H. Wajud dan Ibu Hj. Nur Hasanah yang mewakafkan sebidang tanah berupa tanah dengan luas 3330 m2. Terletak di kelurahan Pagiyanten, kecamatan Adiwerna, kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Dilanjutkan oleh Drs H. Hargianto yang mewakafkan sebidang tanah berupa tanah pertanian dengan luas 2161.65 m2. Yang terletak di kelurahan Jabon, kabupaten Banyakan, kabupaten Kediri Jawa Timur.
Diteruskan oleh Bapak Hagui yang mewakafkan sebidang tanah berupa tanah seluas 40.000 m2. Terletak di kelurahan Pasir Jaya, kecamatan Sungai Kakap, kabupaten Potianak, Kalimantan Barat.

Dan yang terakhir ikrar dari Bapak Yayan Efendi yang mewakafkan sebidang tanah berupa tanah seluas 5200 m2. Terletak di desa Purbosono, Candiasa, Wonosobo, Jawa Tengah.

baca juga: Pembangunan Sarana Pendidikan Lirboyo

Tanah tersebut diwakafkan kepada Yayasan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri, yang diterima langsung oleh KH. Anwar Manshur untuk kepentingan pendidikan keagamaan Islam atau didirikan Pondok Pesantren.

KH. An’im Falahuddin Mahrus mengusulkan agar tanah yang telah diwakafkan untuk diberikan patok dengan dituliskan “Tanah ini telah diwakafkan kepada Yayasan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo” dengan niat agar orang yang belum mewakafkan tanahnya, ikut mewakafkan tanahnya untuk kepentingan keagamaan.

Beliau juga mengutip hadis Nabi:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang membuat sunah hasanah dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

Acara ini ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Romo KH. Anwar Manshur.[]

tonton juga: Sejarah dan Fadilah Tahlil | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus