All posts by Nur Muhammad Alfatih

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka

Rabu, 16 Juni 2021 M. / 05 Dzulqo’dah 1442 H. Masyayikh Lirboyo meresmikan Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang berada di Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka. Bertempat di desa Tegalaren, kec. Ligung, kab. Majalengka, Jawa Barat.

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mengungkapkan: “Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka didirikan dengan dasar untuk menciptakan kaderisari yang bertaqwa kapada Allah Swt. Pondok Lirboyo juga mengadopsi pendidikan dan keilmuan kebangsaan, yang secara otomatis (santri Lirboyo, red.) punya jiwa nasionalisme.”

Sambutan Mudir ‘Am

Selaku Mudir ‘Am Madrasah Hidayatul Mubtadiin, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar mengutarakan:

Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) yang diselenggarakan di Pondok Lirboyo Cabang Majalengka V adalah bagian yang terintegrasi dengan Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang berada di Pondok Lirboyo Kota Kediri.

Sehingga untuk sistem, kurikulum, pengajar, tenaga pendidik, dan metode, menggunakan ketentuan yang sama dengan yang ada di Pondok Lirboyo Pusat.

Jenjang pendidikan MHM yang dibuka Pondok Cabang Majalengka adalah kelas 3 dan 4 Ibtidaiyyah dengan peserta didik santri dari daerah Jawa Barat. Dan untuk jenjang berikutnya para santri akan melanjutkan pendidikannya di Pondok Lirboyo Pusat.

Fasilitas mendasar yang telah disiapkan Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka untuk para santri meliputi:

  1. Asrama dengan kamar berjumlah 6
  2. Dapur
  3. Kantin
  4. Kos makan
  5. Kamar mandi ada 15

KH. Drs. Ubaidillah Harist, M.Pd. dalam sambutannya meyakinkan kepada masyarakat khususnya wali santri yang buah hatinya dititipkan di Pondok Lirboyo Cabang V Majalengka ini pada dasarnya sama dengan Pondok Lirboyo yang berada di Kediri. Sebab semua asatidz yang mengajar didatangkan langsung dari Pondok Lirboyo. Sistem dan kurikulum yang dijadikan sebagai bahan ajar juga sama, tidak ada yang berbeda dengan Pondok Lirboyo Pusat.

Beliau kemudian menyadur ungkapan ulama:

اَلْمَادَّةُ مُهِمَّةٌ وَلَكِنْ اَلطَّرِيْقَةُ أَهَمُّ مِنَ المَادَّةِ، اَلطَّرِيْقَةُ مُهِمَّةٌ وَلَكِنْ اَلْمُدَرِّسُ أَهَمُّ مِنَ الطَّرِيْقَةِ، اَلْمُدَرِّسُ مُهِمٌّ وَلَكِنْ رُوْحُ الْمُدَرِّسِ أَهَمُّ مِنَ الْمُدَرِّسِ

“Isi itu penting, tetapi sistematika lebih penting. Sistem itu bagus, namun jauh lebih bagus dari itu adalah pengajar. Pengajar itu sangat penting, tetapi lebih penting lagi adalah ruh jihad dari pengajar.”

Sistematika yang berada di pondok pesantren ini menggunakan sistem salaf dengan mempelajari karya-karya ulama yang sering disebut dengan kitab kuning. Sedangkan dari pengajarnya, dikirimkan langsung satu paket dari Pondok Lirboyo. Dan jauh dari pada itu adalah ruh jihad dari pengajar. Di Lirboyo sudah bukan hal yang jarang diketahui bahwa menjadi pengajar di sini dilatih untuk ikhlas, dalam mengabdi ditempa untuk sabar. Ruh jihad, pengabdian dengan niat mendapat ridho Allah Swt. dan para masayikh, akan mengeluarkan energi positif yang sangat baik bagi siswa yang diajarnya.

Tampak hadir dalam acara ini di antaranya KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. An’im Falahuddin Mahrus, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, Agus HM. Ibrahim Hafidz, Agus Zulfa Ladai Rabbi, Agus H. Syarif Hakim, KH. Sarkosi Subki, KH. Amiruddin Abdul Karim, Kyai Wawan Arwani (Rois Syuriah PCNU Cirebon), KH. Husein Muhammad, KH. Maman Imanul Haq (DPR RI).

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka ditandai penandatanganan prasasti oleh KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH An’im Falahudin Mahrus, dan Bupati Majalengka Dr. H. Karna Sobahi yang pada kesempatan kali tersebut diwakili oleh Bapak Kumkum SH. M.pd.[]

Baca juga: Lawatan Pimpinan Pondok ke Majalengka
Saksikan video: Program Zonasi Pondok Pesantren Lirboyo Cabang IV & V

Tahfidz Sebagai Kontributif Pemahaman

Tahfidz Sebagai Kontributif Pemahaman

Menghafal sudah menjadi budaya kaum Salafussholih. Menghafal bukan metode pembelajaran yang menyandera akal dan harus paten akan ketetapan itu. Menghafal menjadikan performa gairah kita dalam belajar lebih giat. Membuat kita berusaha untuk men-takror (mengulang-ulang) dalam memuthola’ah, sehingga kita bisa dengan cepat memahami kandungan isi yang sedang kita pelajari.

Salah satu kriteria yang paling utama untuk dihafalkan adalah matan. Sebab, matan merupakan pijakan pertama sebelum kita memperlebar pembahasan. Di dalamnya menggagas susunan pokok pembahasan fan ilmu yang dirangkai seringkas mungkin untuk memudahkan pemahaman. Ia bagaikan pondasi—yang kegunaannya, menopang cabangan-cabangan ilmu lain. Ulama berpendapat dalam Kitab Kaifa Tuhfadzul al-Ilmu:

من حفظ المتون حاز الفنون

“Barang siapa yang menghafal beberapa matan, maka ia akan mendapatkan berbagai macam fan”. (at-Thorfaawi, tt)

Tidak hanya sebatas satu matan saja. Sebab, cabangan ilmu banyak variasinya. Alangkah eloknya jika kita dapat menghafalkan setiap matan dari beragam ilmu yang dianggap penting. Seperti matan aqidah, nahwu shorof—sebagai acuan awal untuk mengetahui nuktah yang berada dalam penulisan berbahasa Arab, matan fiqh, ushul fiqh, qiro’ah dan tajwid, mustolahul hadist, ulumul qur’an dan masih banyak lagi.

Namun, menghafal beberapa matan saja bukan berarti kita menguasai seluruh rangkaian ilmu. Dalam Fatawi As-Subkati al-Islamiyyah dijelaskan: “Menghafal beberapa matan saja tidak cukup bagi seorang pencari ilmu. Diperlukan juga pemahaman dan melihat kembali syarahnya. Karena, banyak kita lihat paraحافظ للمتون  (Penghafal Matan) tetapi tidak mengetahui apa yang terkandung dalam matan tersebut”.

Rasulullah  صلى الله عليه وسلم menyinggung perihal ini:

وقد قال صلى الله عليه وسلم: فرب حامل فقه ليس بفقيه.

“Terkadang orang yang menghafal ilmu fiqih, tidak bisa dinisbatkan sebagai seorang Faqih (Ahli Fiqih)”. (al-Islamiyah, tt)

Hafal dan faham beberapa jenis matan, akan mampu istihdhorul hukmi fi ayyi waktin (menghadirkan hukum setiap saat). Ketika kita ditanya oleh orang lain—di mana pun berada, kita tidak harus bingung membuka kitab atau mencari referensi sebagai argument jawaban kita. Kita bisa langsung menjawabnya dengan tepat tanpa menyimpang dari jalur qoidah yang telah ditetapkan.

Tempat Bersemayamnya Ilmu

Abi Hilal al-‘Askari mengutarakan;

كل علم لا يدخل مع صاحبه الحمّام, فلا تعّده علما

“Setiap ilmu yang tidak bisa masuk bersama pemiliknya ke dalam tempat pemandian, maka tidak dianggap sebagai ilmu”. (al-‘Askari, tt)

Mualif menghendaki penuturannya, bahwa bisa dikatakan berilmu ketika ilmu tersebut bersemayam di dalam hati, yakni ilmu-ilmu yang dihafalkan. Kita bisa membawanya ke mana-mana tanpa takut ada yang melarangnya, walaupun di tempat yang dianggap kotor—kamar mandi, misalnya. Sebab, kita tidak diperbolehkan memasuki khammam (tempat pemandian) dengan membawa buku.

Pengetahuan yang kita tulis di dalam buku, tidak bisa dianggap sebagai ilmu. Buku hanya sebatas alat penambat tulisan, untuk bisa kita tinjau kembali ketika kita menginginkannya.

Pendapat ini, serupa dengan kisah Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. ketika beliau mengajarkan hadist. Muridnya, tidak diperkenankan untuk menuliskan perkataannya di buku catatan. Namun seketika itu diharuskan untuk menghafalkannya.

خذوا من حيث أخذنا، واحفظوا كما حفظنا، فإنما العلم في الصدور لا في السطور

“Ambillah sesuatu yang saya peroleh dan hafalkan sebagaimana saya menghafal, karena ilmu, bertempat di dalam hati bukan di tempatmu menulis (buku)”. (az-Zuhairi, tt)

Tahfidz sebagai kontributif pemahaman

Baca juga: Kompetisi Perspektif Ulama Salaf
Tonton juga: Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany

Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany

Kamis, 10 Juni 2021 | Pondok Pesantren Almahrusiyyah III Ngampel, menggelar Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Sayyidina Syekh Abdul Qodir al-Jailany secara Virtual.

Acara ini dihadiri oleh para Habaib di antaranya Habib Mustofa bin Abdullah al-Haddar, Habib Mustofa bin Muhammad al-Jufri, Habib Ahmad Mustofa al-Haddar dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Mahrusiyyah Lirboyo, KH. Reza Ahmad Zahid, dan KH. Melvin Zainul Asyikin.

Perhelatan majlis merupakan agenda tahunan dalam rangka berkirim do’a untuk segenap kaum Muslimin dan Muslimat, juga kepada kedua orang tua, para guru, khusunya para masayikh Lirboyo.

Susunan acara pada malam Jum’at tersebut diawali dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany, dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Diba’, dan disambung dengan pembukaan acara. Disusul juga sambutan dari Sohibul Bait Agus Haji Nabil Ali Ustman.

Beliau berharap dengan barakah pembacaan manaqib ini, wabah yang sedang melanda dapat segera selesai, juga bagi para santri diberikan dikelancaran dan kemudahkan dalam mencari ilmu.

Setelah sambutan selesai, acara ini kemudian dilanjutkan dengan mauidoh hasanah yang di bawakan oleh Habib Mustofa bin Muhammad al-Jufri.

Mauidhoh

Dalam mauidhohnya, beliau menukil perkataan dari salah seorang ulama;

ثَلَاثَةٌ لَابُدَّ أَنْ تَسْتَقِرَّ فِي ذِهنِكُمْ

“Tiga perkara yang hendaknya senantiasa ada dalam fikiran kalian.”

1. لَا نَجَاةَ مِنَ المَوْتِ

“Tidak ada yang selamat dari kematian.”

Beliau (Habib Mustofa) memaparkan dengan sangat jelas keterangannya bahwa setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian, dan jika hari ini kita (red. kita sebagai orang yang masih hidup) mendoakan orang-orang yang telah meninggal, maka kita juga akan dido’akan oleh orang-orang setelah kita.

2. لَا رَاحَةَ فِي الدُّنْيَا

“Dunia bukanlah tempat untuk bermalas-malasan.”

               Hal ini ditekankan oleh beliau khususnya bagi para pelajar untuk tidak diperbolehkan bermalas-malasan dalam mencari ilmu. Orang akan sukses ketika ia bersungguh-sungguh dalam pencariannya. Pesan beliau ini memunculkan semangat baru dalam diri para pelajar.

3. لَا سَلَامَةَ مِنَ النَّاسِ

“Tidak manusia yang selamat dari godaan manusia.”

               Maqolah ini sangat tepat untuk dijadikan tameng menjaga semangat santri dalam mecari ilmu. Bahwa seseorang pasti, dan tidak akan pernah luput dari godaan manusia. Di antara godaan manusia yaitu adanya pro-kontra. Ada yang mendukung dan ada yang bertolak belakang, walaupun bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu.

               Ketika ada hal-hal yang tidak disukai kita—akan pendapat orang lain, hal ini bisa dikatakan wajar. Maka langkah yang baik adalah ketika seseorang beramal harusah diniati karena Allah Swt. bukan yang lain.

               Acara ini ditutup dengan bacaan do’a, kemudian disambung penampilan dari hadroh Al-Mahrusiyyah.[]


Simak acara lebih lengkap di Haul Masayikh Lirboyo & Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir | Lirboyo AL-Mahrusiyah
Baca juga: Pondok Pesantren Lirboyo Al-Mahrusiyah

KOMPETISI PERSPEKTIF ULAMA SALAF

Kompetisi Perspektif Ulama Salaf

Dunia mengalami kemajuan yang sangat pesat. Modernisasi mengharuskan kita untuk berkompetisi. Kompetisi membikin pekerjaan lebih dinamis dan mampu memberikan dorongan agar terus tergerak maju. Kompetisi membuat inovasi-inovasi baru untuk perubahan dalam peradaban manusia.

Perihal kompetisi ini—ketika membuka fakta di lapangan—seringkali dimaknai sebagai persaingan yang memunculkan gerak tidak sehat. Ini ditenggarai kuatnya sifat serakah yang melekat pada diri seseorang, sehingga ia hanya memikirkan untuk kenyamanan dan kemenangan pribadi maupun kelompoknya. Pembangunan yang ada, hanya akan membuat kemajuan di satu pihak dan merugikan dipihak yang lain.

Said Buthi Ramadhan dalam Manhaj Hadhorotil Insaniyyah, mengatakan: “Tak henti-hentinya kita temukan sebuah bangsa yang melebarkan pembangunan peradaban dengan cara demikian. Ia akan menyibukkan satu tangannya untuk mengembangkan peradaban dan segala faktor penyebabnya. Dan di waktu yang sama, bangsa tersebut mengulurkan tangan yang lain untuk menyalakan api permusuhan dan peperangan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain.”

Pendapat Said Buthi di atas menggambarkan; jika ada bangsa dalam keadaan aman dan tidak ada sedikit yang menampiknya (red: keadaan yang tenang dan tidak terjadi permasalahan apapun), pasti ada negara yang sedang mengalami peperangan.

Contohnya saja bangsa-bangsa dari negara manapun, akan terus saling berlomba-lomba menciptakan alat paling canggih dalam segala hal. Tidak kurang semisal ingin menciptakan pengghancur massal atau nuklir. Dengan pengetahuan dan keilmuan, hal tersebut bisa diciptakan.

Tetapi ketika penemuan telah wujud, jika didiamkan saja, atau tidak diuji coba, bagaimana bisa mengetahui kemanfaatan, atau sekedar melihat dan mengetahui sebatas mana pencapaian itu. Maka Ia menjadikan daerah lain sebagai tempat uji coba. Sebab, ia juga tidak sudi dan tidak mau ketika negaranya hancur.

Kompetisi yang Diinginkan Setiap Insan

Kecenderungan kepada dunia yang menggelora, menyebabkan kenyataan yang diwujudkan manusia tidak seperti asal penciptaannya. Meraka salah pengertian bahwa dunia adalah hal yang mereka cari. Padahal, tidak seperti itu.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى (النساء :77)

“Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (An-Nisa: 77)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ  (197) (آل عمران : 196-197)

“Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara. Kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (Ali-Imran: 196-197)

Maka, perlu kembali perenungan dengan lebih hikmat untuk mewujudkan bahwa kita memang benar-benar layak untuk dijadikan khalifah di atas muka bumi ini.

Kemajuan peradaban manusia dan keharmonisan yang ada di dalamnya, bisa dengan mudah kita dapat melalui kompetisi yang dibarengi tidak hanya dengan akal sehat, tetapi juga dengan kerja sama. Bukan disertai dengan syahwat (nafsu) atau dengan rasa dendam (marah).

Seperti yang dipaparkan oleh Imam Sulaiman bin Umar al-Ajily dalam Tafsir Futuhatil Ilahiyyah “Sesungguhnya dalam setiap jiwa manusia, ada tiga perkara yang paling kuat dalam menentukan arah peradaban. Di antaranya; syahwat, marah, dan akal. Dua perkara yang awal, hanya akan menghasilkan kemunduran dalam kepribadian manusia. Sedangkan urutan yang terakhir, mengantarkan kesempurnaan dan keutamaan dalam kehidupan manusia.”[]

Kompetisi Perspektif Ulama Salaf

Simak ulasan: KH. Anwar Manshur | Rahasia agar kita menjadi orang alim sampai tujuh turunan
Baca juga: Lirboyo, Pesantren Saaf Inspiratif Indonesia

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Cabang Santren, Kota Blitar diresmikan pada Rabu, 02 Juni 2021.

Acara dibuka oleh Bpk. Ma’rifatussholihin selaku Master of Ceremony.

Dilanjutkan lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an oleh Muhammad Azrul.

Kemudian acara disambung dengan sambutan dari Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Cabang IV yang dibawakan oleh Bpk. Agus M. In’amul Aufa.

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Kemenag Kota Blitar, Bpk. H. Muslih.

Dan sambutan terakhir disampaikan KH. Atto’illah Sholahuddin Anwar selaku Mudir ‘Am MHM. Dalam penuturannya, Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang diselenggarakan di Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Kota Blitar adalah bagian yang terintegrasi dengan Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang berada di Pondok LIrboyo.

Sehingga untuk sitem, kurikulum, pengajar, dan metode, menggunakan ketentuan yang sama dengan yang ada di Pondok Lirboyoo Pusat.

Sedangkan jenjang Pendidikan MHM yang dibuka di Pondok Cabang Blitar adalah kelas 3 dan 4 Ibtidaiyyah dengan peserta didik santri dari daerah Jawa Timur selain Kota, dan Kabupaten Kediri. Untuk jenjang berikutnya, para santri akan melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo.

Fasilitas mendasar yang telah disiapkan di Pondok Lirboyo IV Cabang Santren untuk para santri meliputi:

  1. Asrama dengan 7 kamar
  2. Dapur
  3. Kantin
  4. Kos makan
  5. Kamar mandi berjumlah 22

Selain itu sebagai sarana pokok penunjang kegiatan belajar Madrasah Hidayatul Mubtadiin telah disediakan gedung-gedung lengkap dengan ruang guru, kantor administrasi, dan ruang kelas sebanyak 8 buah.

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Cabang Santren Kota Blitar ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh KH. M. Anwar Mansur dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

Mauidhotul hasanah menjadi acara pamungkas dalam peresmian Pondok Pesantren Cabang Santren. Dalam hal ini mauidhotul hasanah pertama dibawakan oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dan mauidhotul hasanah yang kedua sekaligus penutup dan do’a dibawakan oleh KH. Anwar Mansur.

Masayikh Lirboyo berpesan terutama kepada seluruh masyarakat sekitar Pondok Presantren Lirboyo IV untuk selalu membantu dan mendukung keberadaan pesantren ini. .[]

Baca juga:
PESANTREN SIDOMULYO BAKUNG BLITAR

Simak juga:
[TALKSHOW] PONDOK ZONASI

Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar
Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar