Tag Archives: hamil

Bolehkah Berkurban dengan Hewan yang Tengah Hamil?

Di masyarakat, banyak dijumpai kurban menggunakan hewan yang hamil. Baik sudah diketahui sebelumnya atau baru diketahui setelah disembelih.

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi permasalahan hewan kurban yang tengah hamil. Syekh Taqiyuddin al-Hishni berkata dalam kitab Kifayah al-Akhyar:

وَهَلْ تُجْزِئُ الْحَامِلُ فِيْهِ خِلَافٌ قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ الْمَشْهُوْرُ أَنَّهَا تُجْزِئُ لِأَنَّ نَقْصَ اللَّحْمِ يُجْبَرُ بِالْجَنِيْنِ وَفِيْهِ وَجْهٌ لَا تُجْزِئُ

“Apakah mencukupi berkurban dengan hewan hamil? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Ibn Rif’ah berkata, pendapat yang mashur adalah mencukupi. Karena kekurangan daging dapat ditambal dengan adanya janin. Dan pendapat lain mengatakan tidak mencukupi.” (Kifayah al-Akhyar, hlm. 531)

Adapun mayoritas ulama Syafi’iyah berpendapat tidak mencukupi. Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin menjelaskan dalam kitab Busyra al-Karim:

وَلَا يَجُوْزُ التَّضْحِيَةُ بِحَامِلٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ لِأَنَّ الْحَمْلَ يُنْقِصُ لَحْمَهَا، وَزِيَادَةُ اللَّحْمِ بِالْجَنِيْنِ لَا يَجْبُرُ عَيْبًا

“Tidak diperbolehkan kurban dengan binatang hamil menurut qaul mu’tamad. Karena kehamilan hewan dapat mengurangi dagingnya. Dan bertambahnya daging disebabkan janin tidak dapat menambal kecacatannya.” (Busyra al-Karim, hlm. 698)

Syekh Khatib As-Syirbini pun menegaskan dalam salah satu kitabnya, Mughni al-Muhtaj:

وَقَوْلُ ابْنِ الرِّفْعَةِ الْمَشْهُوْرُ أَنَّهَا تُجْزِئُ؛ لِأَنَّ مَا حَصَلَ بِهَا مِنْ نَقْصِ اللَّحْمِ يَنْجَبِرُ بِالْجَنِيْنِ، فَهُوَ كَالْخَصِيِّ مَرْدُوْدٌ بِأَنَّ الْجَنِيْنَ قَدْ لَا يَبْلُغُ حَدَّ الْأَكْلِ كَالْمُضْغَةِ، وَلِأَنَّ زِيَادَةَ اللَّحْمِ لَا تَجْبُرُ عَيْبًا بِدَلِيلِ الْعَرْجَاءِ السَّمِيْنَةِ

“Dan pendapat Imam Ibnu Rif’ah, yang mashur bahwa binatang hamil mencukupi karena kurangnya daging ditambal dengan janin seperti halnya binatang yang terpotong testisnya, ditolak dengan alasan bahwa terkadang janin tidak mencapai batas layak konsumsi seperti gumpalan daging serta bertambahnya daging tidak dapat menambal kecacatan dengan dalil binatang pincang yang gemuk.” (Mughni al-Muhtaj, VI/128)

Kesimpulannya, berkurban dengan hewan yang hamil terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Dan kedua pendapat di atas dapat diamalkan. []waAllahu a’lam

Wanita Hamil dan Menyusui

Asslamu’alaikum

Saya mau menanyakan perihal permasalahan wanita yang sedang hamil dan menyusui saat di bulan puasa. Apakah wanita tersebut boleh tidak mengerjakan puasa dengan alasan khawatir terhadap kondisi jabang bayi atau agar bisa menyusui bayi dengan normal. Lalu apa kewajiban bagi keduanya jika tidak berpuasa ? Terimakasih sebelumnya.

Wa’alaikum salam

Jawaban :

Terimakasih atas pertanyaan yang anda sampaikan. Kita ketahui Puasa merupakan salah satu ibadah yang membutuhkan kondisi dan stamina prima untuk menunaikannya. Oleh karenanya, banyak ibu hamil dan menyusui memilih tidak berpuasa dengan berbagai alasan. Seperti khawatir terhadap kondisi jabang bayi atau agar bisa menyusui bayi dengan normal.

Untuk wanita tersebut boleh untuk tidak berpuasa, karena mereka distatuskan seperti halnya orang sakit yang mengkhawatirkan kondisinya sendiri, dimana dalam hal ini ia boleh tidak berpuasa. Selain itu, syariat memberikan keringanan terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan dalam menjalankan ibadah. Dalam al- Qur an Allah berfirman :

يُرِيْدُ الّلهُ بِكُمُ الْيُسْرَ ولَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“ Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al- Baqoroh: 185)

Sedangkan kewajiban yang harus dilakukan keduanya yakni diperinci sebagai berikut:

  • Jika keduanya tidak berpuasa karena mengkhawatirkan dirinya saja, atau menghawatirkan dirinya beserta anaknya, maka wajib qadha` puasa saja. Karena hukumnya disamakan dengan orang sakit yang tidak kuat berpuasa. Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضاً أَوْ عَلَئ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرْ

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. al-Baqarah: 184)

  • Jika keduanya tidak berpuasa karena mengkhawatirkan anaknya saja, maka wajib qadha` puasa dan membayar fidyah. Hal ini berdasarkan ayat:

وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ

“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa), wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. al- Baqarah: 184)

Catatan : Fidyah yang diberikan berupa makanan pokok sebanyak satu mud (7 ons) untuk setiap puasa yang ditinggalkan dan diberikan kepada fakir miskin.

Referensi :

Tafsirul Muroghi (2/17) maktabah mushtofa al- baby wa al- halfy

Tafsir ayatu al- ahkam (51) madrasah hidayatul mubtadiien lirboyo