Tag Archives: khidmah

Motivasi Khidmah & Penguatan ASWAJA

LirboyoNet, Kediri—Seperti yang kita ketahui bersama bahwa berkhidmah adalah cara ulama kita terdahulu mengabdi kepada guru, mengabdi kepada ilmu. Banyak metode yang ulama-ulama kita terapkan dalam berkhidmah kepada guru, diantaranya dengan mengajarkan al-Qur’an, mengadakan pengajian kitab kuning, dan masih banyak lagi. Maka nilai-nilai inilah yang semestinya diterapkan di pesantren-pesantren sebagai bentuk upaya kita berkhidmah kepada kyai.

Maka dalam rangka melestarikan tradisi ulama-ulama kita terdahulu, Pondok Pesantren Lirboyo melalui MHM, Ma’had Aly Lirboyo, dan LIM Lirboyo melakukan program wajib khidmah bagi santri-santri yang hendak menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren.

Malam selasa kemarin (19/2/2019) MHM bekerjasama dengan LIM mengadakan acara seminar “Motivasi khidmah dan penguatan ASWAJA” untuk Mahasantri Ma’had Aly Semester 5-6 dengan mendatangkan KH. M Azizi Hasbulloh sebagai pembicara. Dalam seminar kali ini pembahasan yang diangkat adalah penguatan ASWAJA, sebagai bekal agar lebih percaya diri dalam berkhidmah kepada masyarakat kelak.

Dalam pembahasan yang begitu panjang terkait khidmah, beliau mencoba mengenalkan kepada para santri yakni konsep mutaba’ah. “Dalam berkhidmah yang paling pokok adalah mengikuti kyai, mengikuti masyayikh. Dan yang harus kalian pegang dalam hati ialah, ‘saya melakukan semua ini hanya karena taat kepada kyai” tutur beliau. Lebih lanjut beliau mencontoh ketika Nabi Musa AS ketika hendak belajar kepada Nabi Khidir AS:

 هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66–67)

Karena mengikuti ulama dengan tujuan khidmah kepada masyayikh sama halnya meneruskan perjuangan masyayikh dalam menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Tutur KH. M Azizi Hasbulloh.

Rutinan Birrul Masyayikh Himasal Magelang

Lirboyonet, Magelang – Rutinan Birrul Masyayikh Himasal Magelang 4 Kecamatan (Bandongan, Windusari, Kajoran, Kaliangkrik). Bertempat di desa Kwangsan Bandongan.

Rutinan yang digelar dua bulan sekali ini sekaligus peluncuran kas syahriah Himasal Magelang untuk santri lirboyo yang kurang mampu.

“insyaAllah dana syahriah ini 75% untuk santri dhuafa’, 25% untuk operasional himasal magelang” kata Bpk. Zainul selaku koordinator 4 kecamatan yang menjelaskan fungsi syahriah.

KH. Noor Machin CH selaku ketua Himasal Magelang menambahkan “dana syahriah selain untuk santri dhuafa’, dana tersebut juga akan bermanfaat untuk kegiatan santri magelang seperti da’i ramadhan atau safari ramadhan,”

“Semoga khidmah kita terus berjalan, meskipun kita sudah tidak di pondok lirboyo,” pungkas beliau.

Repost Himasal Magelang 

Motivasi Khidmah & Penguatan Aswaja

Lirboyonet, Kediri – Allah telah memilih manusia untuk menjadi makhluk yang berpotensial sejagad raya dengan bekal akal untuk dapat mengembangkan setiap apa yang didapatkannya, dalam konsepsi islam manusia diwajibkan untuk mencari ilmu sedalam-dalamnya dan sebanyak-banyaknya hal tersebut telah di tunjukkan dalam Al- Qur-an surat yang pertama kali diturunkan.

Anugerah tertinggi dari Allah adalah pemberian ilmu pengetahuan maka beruntunglah bagi orang-orang yang diberi anugerah ilmu karena dengan ilmu orang akan bisa melewati lika-liku dan ujian hidup dengan selamat. Karena dia tahu apa yang harus dia perbuat berkat ilmu yang terus meneranginya, bahkan dengan ilmu yang didapatkannya orang akan mampu menerangi juga kepada masyarakat disekitarnya.

Oleh karena itu keputusan MHM Lirboyo begitu tepat dalam program wajib khidmah bagi santi-santri Lirboyo agar ilmunya bisa bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar. Secara tidak langsung program ini akan mendidik para santri tamatan MHM Lirboyo untuk lebih siap dalam mengahdapi masyarakat kelak.

Untuk mensukseskan itu malam tadi kelas 3 Aliyah MHM Lirboyo melaksanakan seminar yang bertema “Motivasi Khidmah & Penguatan Aswaja” dalam seminar ini menitik beratkan pembahasan untuk bagaimana para siswa tamatan MHM Lirboyo lebih percaya diri ketika menjalankan program khidmah satu tahun yang diwajibkan oleh MHM Lirboyo dan juga mampu menguasai medan kelak di masyarakat nanti pada jangka panjangnya.

Seminar yang diprakarsai Pondok, MHM dan Juga LIM Lirboyo ini mendatangkan Drs. KH. Syafruddin Syarip dari Purbolinggo untuk menjadi tutor pada seminar malam tadi, beliau juga merupakan tamatan Pondok Lirboyo Angkatan 1985 dan lulus S1 di Pondok Zainul Hasan Genggong, beliau juga telah melalang buana keberbagai negara dan itu berkat khidmah beliau di Lirboyo.

Dalam pembahadan yang cukup panjang beliau menerangkan akan bahayanya keadaan saat ini dimana sudah banyak orang yang mengaku islam akan tetapi tidak tahu apakah yang dilakukannya benar atau salah. Mereka orang-orang yang tidak bertanggung jawab ingin mengikis adat NU yang meyakini bahwa ilmu memiliki sanad dari guru dan juga hal-hal lainnya, karena keadaan itulah beliau sangat berbangga Lirboyo mewajibkan tamatannya untuk berkhidmah.

“Semakin saya berkhidmah semakin Allah membukakan jalan rizki saya” tutur beliau.

 

 

Khidmah di Hutan Belantara

LirboyoNet, Trenggalek—Program Wajib Khidmah Pondok Pesantren Lirboyo, selain menyentuh lembaga-lembaga pendidikan besar, semisal pesantren salaf, modern,  dan lembaga pendidikan lain, juga menyentuh kampung dan daerah terpencil.

Di Trenggalek misalnya. Ada satu daerah yang cukup tersembunyi. Yakni pedukuhan Dilem Wilis, Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan. Lokasinya cukup jauh dari lingkungan perkotaan. Bahkan, bisa dibilang, desa ini terletak di tengah-tengah hutan. Di sana, ada dua santri yang ditugaskan pesantren. Abdurrozaq dari Malang, dan Ibrahim dari Ponorogo.

Tak seperti objek wajib khidmah yang lain, di sini, kedua santri itu tidak dituntut untuk memberi pendidikan di dalam sebuah yayasan. Mereka “hanya” tertuntut untuk mengajar Alquran kepada anak-anak sekitar. Tetapi, bisa jadi, mereka mendapat tantangan yang lebih kompleks. Karena, mereka dihadapkan pada situasi layaknya hidup di tengah-tengah masyarakat secara penuh, bukan hanya berdiam di dalam lingkungan tertutup semacam pesantren.

Ketika ditemui Kamis (11/01) lalu, keduanya membeberkan beberapa hal. “Di sana, kami menjadi imam shalat lima waktu di mushala. Jangan tanya jumlah makmumnya. Wong kadang kami jadi muadzin, imam plus makmum,” ujar Abdurrozaq. Kebanyakan, mereka tidak datang shalat berjamaah karena sedang berada di kebun, kandang sapi, atau di hutan. Di samping memang pengetahuan agama rerata orang di kampung ini belumlah bisa dikatakan sempurna. Bahkan jauh dari itu.

Lingkungan masyarakat yang awam ini memang menjadi tantangan tersendiri. Selain mayoritas masyarakat adalah peternak sapi, di mana setiap harinya dihabiskan untuk mencari rumput dan merawat sapi di kandang, jarang ditemukan anak muda yang bisa jadi harapan untuk memberi ilmu agama bagi mereka.

“Anak tamat SMP di sini, kalau tidak transmigrasi, ya nikah,” ungkap Ibrahim, kawan seperjuangan Abdurrozaq yang berusia cukup matang itu. Masyarakat benar-benar kurang terdidik kemampuan beragamanya. Walhasil, ketika diharuskan berada di kampung ini, kedua santri ini sedikit demi sedikit memberi pengajaran agama kepada orang-orang tua.

Namun, pengajaran yang diberikan juga tidak bisa ditransformasikan secara intensif dan berkala. “Kampung ini, kalau masuk waktu maghrib bagai kampung mati. Jarang ada orang yang keluar berjalan-jalan. Apalagi untuk mengaji,” terang Abdurrozaq. Pernah, suatu saat, delegasi ini mengajak orang-orang sekitar berkumpul seusai shalat isya, untuk sekedar berbincang ringan. Mereka membuat api unggun. Membakar ranting. Namun tak lama, beberapa dari mereka berpamitan pulang, “Wes mas, wes bengi. Mene isuk ngarit. (Saya pamit mas, sudah malam. Besok pagi harus cari rumput)”

Selain itu, mereka harus siap sedia apapun yang diminta masyarakat. Pernah suatu hari ada tetangga melaksanakan hajat nikah. Mereka diminta untuk qiroah. “Pede nggak pede, tetap harus menuruti permintaan mereka. meskipun toh dengan suara pas-pasan,” imbuhnya. Tantangan mereka bukan hanya itu. Mereka juga dihadapkan pada kondisi masyarakat yang heterogen. Beberapa masyarakatnya beragama lain. Ada juga warga yang beragama Islam, tetapi memelihara anjing.

Mereka tinggal di rumah yang sudah disediakan oleh pamong masyarakat. Ada sebuah rumah, yang kebetulan kosong, ditinggal si empu rumah ke kota lain. jadilah rumah itu serasa milik mereka berdua. Tapi, jangan dibayangkan mereka selalu tidur dan beristirahat dengan nyaman. “Nggak usah jauh-jauh ke tempat-tempat angker untuk merasakan aura horor. Lah wong hampir setiap hari ada suara-suara aneh. Ada bayangan-bayangan asing. Dulu, saya sampai bawa clurit (sabit) kalau tidur. Kalau sampai ganggu, saya sabet. Hahahaha. Tapi sekarang sudah terbiasa,” tukas Abdurrozaq.][

Santri Lirboyo Berkhidmah di Depok

27LirboyoNet, Depok—Program khidmah dan guru bantu tahun ini menyasar ke berbagai lapisan lembaga pendidikan. Dari Taman Pendidikan Al-Quran, Madrasah Diniyah, hingga pondok pesantren besar. Tidak terkecuali, pondok pesantren yang sedang merintis sejarahnya.

Seperti Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien, Depok. Ponpes yang diasuh oleh KH. Agus Salmi ini, sebagaimana halnya pondok pesantren di tengah kota besar, memiliki program pendidikan formal sebagai pendukung pendidikan agama ala pesantren. Meskipun terdiri dari santri putra dan putri, tidak lantas memisahkan program pendidikan berdasarkan gender. Ini terutama terkait tenaga ajar yang masih belum memungkinkan untuk memisahkan program pendidikan antara santri putra dan putri. “Baru beberapa bulan ini kami mendapatkan tenaga ajar putri. Dia dari PP HMQ (salah satu pondok unit Lirboyo, -red),” tukas Abdulloh Faiz, santri yang sedang mengemban tugas dari Pondok Pesantren Lirboyo untuk menjadi guru bantu di sana.

Sampai ketika redaksi berkunjung pada Rabu (22/11) lalu, baru ada sekitar tiga puluh santri yang bermukim di sini. “Tahun kemarin, sempat diperbolehkan santri untuk pulang pergi dari rumah. Namun untuk tahun ini, sistem itu ditiadakan, mengingat kemampuan pengawasan dan pendidikan yang ada terbatas,” imbuhnya.

Jangan bayangkan aktivitas para santri sepenuh para santri di pondok pesantren besar. Aktivitas mereka sedang-sedang saja. Subuh berjamaah, lalu belajar Alquran. Setelah matahari terbit, mereka mendapatkan pendidikan formal.

“Kami berharap, pesantren yang sedang merintis ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, agar dakwah islamiyah kami bermanfaat bagi banyak kalangan,” harap ustadz yang berasal dari Tangerang ini.][