Tag Archives: kompas

Ulama dan Umara, Kepercayaan Demi Kemaslahatan

Setelah tiga abad lebih menjadi negara terjajah, negeri ini akhirnya dapat mengibarkan merah putih dengan tangis haru dan pilu bersama meneriakkan proklamasi.

Seumur jagung kemerdekaan diproklamirkan, blok sekutu datang untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda. Pesawat terbang meraung-raung diatas Kota Surabaya.

Artileri super canggih didatangkan untuk bermanuver dan mengancam pribumi dalam operasi gagak. Namun kita telah akrab dengan debu perjuangan, tidak lagi takut dengan kematian. Tidak lagi gamang untuk maju perang.

Dan refolusi jihad pun diterbitkan, oleh Rais Nahdlatul Ulama Kyai Hasyim Asyari bersambut dengan ribuan santri yang dikirim ke Surabaya. 10 November 1945, sepuluh santri jadi martir untuk mimpi merdeka, setelah sebelumnya pada 22 oktober 1945  Kyai Hasyim asyari berkata :

“orang yang mati membela tanah air dari serangan penjajah adalah mati syahid”

Mimpi itu telah menjadi nyata, kini kita telah bertempat tinggal ditanah kelahiran sebagai pemilik dan tuan. Bukan budak di kampung halaman. Ini adalah hadiah terindah para pejuang. Hadiah pengorbanan jiwa, raga juga nyawa.Buah kesabaran untuk sebuah tawa yang menjadi nyata dari para santri dan ulama untuk Indonesia.

Sekelumit kisah pengorbanan ulama dan santri untuk indonesia dan tercetusnya Hari Santri yang baru saja kita peringati. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu para ulama sangatlah penting bagi indonesia. Mereka tidak hanya duduk mengaji dan mengkaji kitab suci, tetapi merekapun berdiri tanpa  jeri melawan penjajah negeri.

Mereka tidak hanya salat puluhan rakaat, tetapi merekapun menjembatani kemerdekaan indonesia dengan tirakat. Padahal ulama adalah pemegang kekuasaan informal yang tugas utamanya adalah mendakwahkan agama dan mengajarkannya. Tapi dedikasi mereka kepada negara tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sedangkan pemegang kekuasaan formal adalah para umara. Lantas para umara yang seperti yang kita harapkan untuk indonesia? Yang bijaksana, yang bergaya ulama atau yang merakyat? Tetapi, adakah pemimpin yang adil dan bijaksana dizaman ini?

Bahwasannya, periodisasi pemimpin umat islam terbagi menjadi 4 masa. Masa yang pertama adalah masa Khulafa al-Rasyidin. Masa kedua yaitu Mulkan ‘Addlan yang artinya raja yang menggigit, para pemimpin atau khalifah pada masa ini masih menjadikan hukum islam (al-Quran dan Hadis) sebagai dasar pemerintah mereka.

Tetapi kebersamaan mereka terhadap hukum islam ini sebatas menggigit, bukan memegang dengan kokoh. Masa ini terjadi pada masa Daulah Bani Ummayyah dan berakhir pada masa Daulah Turki Utsmani.

Lalu masa yang ketiga yaitu Mulkan jabriyah yang artinya raja yang memaksa atau diktator. Pada masa ini benar-benar telah melepaskan islam dalam sistem pemerintahannya, atau mencampur adukkan antara hukum islam dengan hukum positif buatan manusia.

Jika kediktatoran negeri-negeri non muslim terjadi karena memang ideologi mereka bukan islam, maka lain lagi dengan negeri-negeri mulsim. Di negeri-negeri muslim mereka masih mengaku muslim, nama-nama mereka muslim, namun hakikat yang berjalan pada sistem pemerintahan mereka adalah jahiliyah. Kalaupun ada sebagian hukum islam yang diterapkan, maka itu hanya pada bagian ritual saja –undang-undang perdata- itupun dengan praktek yang kurang sesuai.

Periode ini ditandai dengan munculnya ideologi komunis dan marxisme di Rusia dan China atau ideologi fasis di Jerman. Sebutlah Stalin, Lenin, Karl Marx dan Adolf Hitler, julukan dictator telah melekat pada nama mereka dalam sudut-sudut buku sejarah dunia.

Di Indonesia bapak presiden Soeharto adalah nama yang sering dikait-kaitkan dengan kediktatoran pada masa ini. Selama 32 tahun memimpin tak tergantikan. Seakan ia adalah pemilik mutlak sebuah kekuasaan.

Sedangkan masa yang keempat yaitu Khilafah Ala Minhaj an-Nubuwwah, artinya kepemimpinan yang lurus, hal ini terjadi pada zaman kemunculan Nabi Isa As. Dan Imam Mahdi.

Keempat periodisasi ini adalah sabda Nabi Saw. Kepada satu-satunya Sahabat pemegang rahasia Rasulullah, Hudzaifah Bin Yaman.

Sekarang kita aplikasikan hadis tersebut dengan realita kehidupan sesungguhnya, yang menandakan bahwa kita berada pada masa periodisasi yang ke-3, Malkan Jabariyaah. Jika kita bandingkan sistem pemerintahan yang terjadi kini dengan yang telah dijelaskan diatas, maka terdapat banyak sekali persamaan.

Pemerintah yang telah dijejali dengan hukum-hukum buatan manusia dan praktek-praktek kehidupan berpolitik yang berliku tak karuan. Contoh yang dapat kita amati langsung adalah saat proses kampanye. Visi-Misi Paslon diteriakkan, janji-janji politik diumbar, benar-benar diumbar. Sebab janji adalah pesona. Diatas kertas atau dipinggir-pinggir jalan janji tidak punya pengaruh apa-apa. Tak ada sanksi hukum yang berarti. Yang terpenting adalah meraih kekuasaan negeri.

Toh dari seratus macam janji yang akan terpenuhi dan terasa oleh rakyat negeri hanya beberapa puluh persen saja. Padahal janji adalah ikatan yang hanya bisa dilepaskan dengan menepatinya. Dan janji adalah hutang yang harus dibayar dengan memenuhinya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh para ulama dan umara pada zaman ini, zaman yang telah disabdakan Nabi Saw. Akan terjadi. Ulama dan umara adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Mereka berdua harus selalu bergandengan menuju satu tujuan yakni kemaslahatan.

Imam Ghazali berkata “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaga atau pengawal. Apa-apa yang tidak ada pondasinya maka akan roboh. Apa-apa yang tidak ada penjaganya maka akan lenyap.”

Diantara keduanya tidak boleh ada rasa benci, apalagi iri akan kekuasaan yang dimiliki masing-masing pihak. Para umara harus memuliakan para ulama, karena ulama adalah guru mereka. Ulama yang masyhur maupun tidak, semua sama.

Mereka adalah pewaris ajaran yang dibawa nabi. Mereka mulia bukan karena kemasyhuran ataupun kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulia karena ilmulah yang memuliakan mereka. Tidak ada ulama yang mengajarkan kesesatan. Sehingga umara tidak perlu repot-repot membuat daftar para ulama yang boleh didengar tausyiahnya oleh rakyat.

Karena ulama mengajarkan ajaran agama yang mengajarkan toleransi. Kesantunan, keramahan, membenci pengrusakan dan menganjurkan persatuan. Hal-hal inilah yang didengungkan para ulama kepada umara. Dengan retorika dakwah yang mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul dan mendidik bukan menghardik.

Jangan sampai ada rasa iri antar keduanya, karena hal tersebut akan menjadi virus yang jika masuk pada penguasa maka akan membuat kebijakannya menjadi belati bermata dua. Jika masuk dalam kalbu ulama akan membuat infeksi ilmunya. Dan niat akhirat yang lillah akan menjadi niat dunia yang linnas.Dengki itu juga akan mengundang saudaranya, kecongkaan, kejahatan serta dusta, fitnah dan bahkan perang saudara.

Adapun para ulama adalah penasehat para penguasa zaman ini. Karena umara hanyalah menduduki dan menjalankan pemerintahan yang sudah ada. Adapun kebijakan-kebijakan baru yang terjadi adalah tergantung kecerdasan, kecerdikan dan kearifan penguasa tersebut.

Kecintaan rakyat pada pemimpinnya tergantung sikap dan tutur katanya. Kepedulian ulama kepada pengusa tergantung pada akhlak dan keadilannya. Ulama sudah tentu umara, tapi umara belum tentu ulama. Karena ulama adalah pemimpin umat. Sedangkan umara adalah pemimpin rakyat.

Jika ada ulama yang menginginkan kedudukan sebagai umara maka ia berada dijembatan penentuan. Jika ia tetap bisa berakhlak dan beramal sebagaimana biasanya maka kemuliaan akan tetap tampak pada dirinya. Namun jika ia tersibukkan dengan kesibukan dunia dan mengurangi amaliah akhiratnya, maka seiring terperdayanya ia pada dunia tersebut, seiring itu pula kemuliaan akan luntur dari wajahnya.

Maka jika ulama menginginkan kemaslahatan negaranya, ia harus pandai-pandai menyetir umaranya, karena ulama adalah sebaik-baiknya penasehat umara. Mari berkaca pada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, selama kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, Khalifah Ali menjabat sebagai penasehat utama khalifah.

Maka secara tidak langsung, kesuksesan yang diraih oleh tiga khalifah sebelumnya adalah juga karena Khalifah Ali. Jadi dibalik kemaslahatan sebuah negara adalah karena nasehat para ulamanya. Dibalik kesuksesan seorang umara adalah karena kecintaan pada ulamanya.

Sejak Daulah Turki Utsmani gulung tikar dan masa periodisasi Mulkan Jabriyah menebarkan layangnya, sejak itulah propaganda yang mengadudomba islam dan pemerintah. pada tahun 1936 M Cristian Snouck Hurgronje mencetuskan politik devide et impera. Ia mencegah kelompok-kelompok kecil menjadi kelompok-kelompok yang lebih besar dan kuat. ia juga memecah belah kelompok-kelompok besar menjadi kelompok kecil.

Ia mengatakan; pecah kekuatan ulama dengan para bangsawan penguasa. Biarkan islam berkembang asalkan hanya pada ritual ibadahnya saja, namun segera berangus jika ada kekuatan islam politik. Sebab itu ancaman riil bagi pemerintahan.

Karena merutnya islam tidak bisa dikalahkan dengan serangan ofensif. Untuk menghancurkannya, pecah belah mereka dengan masalah kekuasaan, kesukuan, kelompok dan sekte. Serang kelompok-kelompok fanatik dengan budaya dan media maya.

Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal masa kepemimpinan zaman ini, hukum-hukum islam sedikit demi sedikit tergerus dari sistem pemerintahan. Lalu bagaimana sikap para ulama mengenai hukum pemerintahan pada masa ini.

Menurut Imam Taqiyuddin yang mengutip pendapat Imam Al-Ghazali ; keberadaan syarat-syarat secara utuh dan komprehensif adalah sulit bagi umat islam zaman sekarang. Karena sudah tidak ada mujtahid yang independen.

Dengan demikian rakyat harus merealisasikan dan mematuhi semua keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan penguasa meski penguasa tersebut bodoh atau fasik. Ini agar kepentingan dan kemaslahatan umat terpenuhi.

Senada dengan pendapat diatas. Sayyid abdurrahman bin Husein bin Umar Ba’alawy berpendapat, setiap tempat yang pernah dihuni oleh umat islam dengan nyaman dan aman, disatu masa dimana hukum-hukum dan keadilan dapat ditegakkan meski pemerintahannya fasik tetaplah harus patuh demi terjaganya kemaslahatan.

Jika para ulama melawan atau menentangnya, hal ini dapat menyulut timbulnya islam radikal atau bahkan terorisme. Dan ini akan menambah permasalahan bagi pemerintah. Karena terbentuknya kelompok-kelompok ini bersifat memberontak yang mengatasnamakan agama islam.

Para ulama dan umara haruslah saling bahu-membahu membentuk sebuah kepercayaan demi kemaslahatan. Sebab jika tidak ada kepercayaan maka yang akan terjadi adalah perpecahan dan kehancuran.

Seperti terbentuknya daulah Islam Iraq atau yang lebih kita kenal dengan Islamic State of Iran and Syiria oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Kelompok islam radikal ini melawan dan menjatuhkan rezim Bashar Asad dan Hafidh Asad di Suriah.

Ini hanya pandangan kecil yang kita lihat. Jika lebih lebar, sebenarnya ISIS adalah bentuk kerjasama antara Inggris, Amerika dan Israel. Untuk membentuk organisasi teroris. Kekuatan dunia bertemu dan mengadu seluruh kekuatan islam untuk dikubur di bumi Syam.

Beberapa pemimpin Timur Tengah yang jatuh akibat terbentuknya Islam radikal ini yaitu Rezim Ben Aly di Tunisia, rezim Husni Mubarak di Mesir, rezim Muammar Khadafi di Libya, rezim Ali Abdullah Salim di Yaman rezim Irak dan juga Afganistan.

Dan yang perlu digaris bawahi, bahwa semua kejadian ini setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika. Nama Osama bin Laden dan al-Qaeda ramai dibicarakan. Nama islampun dipertaruhkan. Semua kelompok islam tidak pernah mengakui melahirkannya.Tapi mata dunia menuding pada islam, dan ulama-ulama pesantren dituduh sebagai pelopor para teroris dunia.

Inilah mungkin yang akan terjadi jika ulama dan umara dalam satu negara tidak berjalan bersama. Banyaknya propaganda yang mengadu domba menjadi bayang-bayang perpecahan islam dan pemerintahan.

Karena pada kenyataannya kini banyak yang ingin benegara didalam negara. Berdemokrasi didalam demokrasi. Mereka menganggap bahwa politik pemerintahan adalah politik kotor yang dijalankan untuk membodohi rakyat melalui kekuasaan yang dimiliki penguasa.

Padahal pada kenyataannya zaman yang demikian telah ternas dalam hadis jauh sebelumnya. Maka, kini kemaslahatan suatu negara tergantung pada keharmonisan ulama dan umaranya. Berjalan beriringan melangkah bersama menapaki masa didetik-detik akhir masa dunia.

Dimana kepercayaan sangatlah dibutuhkan disaat banyak mata-mata mendelik tajam mencari celah kesalahan, untuk kemudian menjadikannya modal melakukan sebuah perlawanan hingga berujung pada sebuah kata perpecahan. Sehingga kata kemaslahatan hanya akan menjadi harapan yang tak pernah ada dalam genggaman.

 

_______________________

Oleh : Yulia Makarti

Asal : Sulawesi Tenggara

Kamar : Ar-Rayyan, P3TQ

Kelas : Umdah (Ula II)

 

Sebagai Juara Kedua Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

 

Basis Metamorfosa Umara di Negeri Surga

Umara sebagai media (mu’awin) amar ma’ruf yang bersifat kolektif ini, telah menjadi jalan koordinasi (instrumen) dari pimpinan tertinggi dimuka bumi pertiwi serta merupakan opsi besar yang berpengaruh
kepada kehidupan rakyat berbangsa.

Kedatangan Islam sebagai pementah ajaran bangsa Jahiliyyah telah membedakan dua kelompok ini dengan mengakomodir terhadap urusan yang tidak hanya duniawi saja, melainkan juga hal agama (religius).

Berpuluh-puluh tahun silam, pemerjuang kemerdekaan Negara telah memeras otak demi mengkodifikasi Dasar Negara yang memiliki korelasi antara negara berbangsa dengan tanpa berseberangan dengan faham hukum formal agama Islam (syariat).

Hal ini merupakan keniscayaan yang terjadi disebabkan nenek moyang (grand founder) Indonesia mayoritas muslim. Meski demikian, nenek moyang (grand founder) pemerjuang kemerdekaan Negara tidak memaksakan bumi pertiwi untuk dijadikan Negara Islam (khilafah).

Acap kali beberapa kelompok Fundamental paksa-memaksa serta memiliki statemen untuk menjadikan Indonesia bak Negara Timur Tengah (khilafah). Mereka merasa berhak ikut andil menghakimi kericuhan publik.

Padahal pernyataan verbal secara rektorik yang terdapat didalam Dasar Negara (Pancasila / UUD 1945) sudah mencerminkan bukti-bukti Islamic Oriental di negeri ini. Namun mereka tetap acuh tak
acuh , buta membuta dan melihat sebelah mata kepada kenyataan demikian.

Presiden RI ke 4 beliau K.H. Abdurrahman Wahid pernah menyatakan “Indonesia tidak akan banyak kericauan apabila tidak dijadikan sebagai negara khilafah” dinilai keliru oleh mereka.

Anggapnya, Indonesia adalah Negara berprinsip Islamic Liberal yakni bangsa prospektif kepada faham yang tidak bersumber kepada induk yang disepakati oleh madzhab – madzhab dalam agama serta bertujuan membongkar ajaran yang telah disepakati oleh ulama.

Tidak, justru Dasar-dasar Negara selaras dengan nilai keagamaan. Bahkan , public figure Indonesia selalu menitikberatkan segala urusan siyasahnya agar tetap dalam eksistensi literatur kuno. Sebagaimana yang terlansir:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

“Memperhatikan sistem lama yang masih relevan dan mengadopsi ha-hal yang layak dijadikan pijakan dengan tetap meneladani masa lalu yang mengantarkan pendahulu ke gerbang kesuksesan”.

Sebab standarisasi hukum pemerintahan negara tidak akan bersilang paham denagn syariat. Seperti yang disebutkan di dalam salah satu literatur kuno :

قلنا أن ما يخالف الشرع من قنون او لائحة او قرار باطل بطلانا مطلق

segala hal yang menyalahi syariat baik berupa suatu dasar, prospektur (kinerja), maupun ketetapan , maka hal demikian itu batil secara mutlak.”

Salah satu bukti bahwa siyasah bangsa ini tak ayal dari wacana agama, dengan digambarkan bahwa sebagai umat berbangsa Indonesia yang kehidupannya diatas rata-rata diharuskan untuk menginfakkan sebagian hartanya kepada orang-orang menengan kebawah dengan tanpa menuntut paham aliran transgender sebagaimana isu sentral liberalisme.

Sebenarnya norma ini telah tersirat di dalam pancasila yakni sila ke-5 yang berupa Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menilik dan memahami bahwa pondasi bangsa berprinsip teguh kepada ajaran agama, Ulama adalah bayangan serta suksesi besar secara implisit dalam keberhasilan kesejahteraan negeri.

Sebab, siapa lagi yang tahu-menahu tentang maksud amanat nenek moyang (grand founder) sebagai salafuna as-sholih dimasa lampau melainkan ulama?

Sedangkan umara adalah suksesi besar secara eksplisit dimuka negara (dalam hal materi). Bagaimana tidak? Kiprahnya sebagai prasarana untuk mewujudkan kehidupan yang baik serta etos kerja masyarakat yang baik pula.

Seperti memberikan kemudahan berupa alat-alat yang menunjang kemajuan pertanian, perdagangan, pertukangan, dan juga memberikan lapangan kerja yang baik. dengan demikian, maka antara nilai hukum formal agama islam serta dasar negara memiliki korelasi (ta’aluq) yang begitu erat.

Dan agar asupan moral serta material bisa diserap dengan seimbang, maka ulama dan umara perlu menjalin interaksi mutualisme dengan menggalang persatuan demi menciptakan negeri yang damai dan sejahtera.

Bukankah Allah lebih mencintai persatuån yang memprioritaskan hal baik? Seperti yang

dijelaskan dalam kitab tafsir al-Fakhru al-Razi juz 3 hal 386:

أن الله تعالى يحب الموافقة و الألفة بين المؤمنين وقد ذكر والمنة بها عليهم حيث قال : ” واذكروا نعمة الله عليكم ” (ال عمران103) الى قوله “إخوانا” (ال عمران103) ولو توجه كل واحد فى صلاته الى ناحية أخرى لكل ذلك يوهم اختلافا ظاهرا فعين الله لهم جهة معلومة وامرهم جميعا بالتوجه نحوها ليحصل لهم الموافقة بسبب ذلك وفيه اشارة الى ان الله تعالى يحب الموا فقة بين عباده فى اعمال الخير

_______________________________________

REFERENSI:

Al-Imamah AL-‘Udhma                Hal.151

AL-Majmu’                                       Hal. 360

Juz 8Al-Fiqh Al-Islami                   Hal 337 Juz 1

Al-Tasyrii’ Wa Al-Janaiy              Hal.337 Juz 1

Al-Fakhru Al-Rozi                           Hal.386 Juz 3

_________________________

Oleh : Umi Fajar fauziah

Asal : Blitar

Kamar : Blok M, P3HM

Kelas : 1 Tsanawiyyah

 

Sebagai Juara Pertama Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putri

 

MENTIRAKATI KEMASLAHATAN UMAT

Yang paling hebat dari Indonesia adalah para “paku-paku” yang mampu menyatukan, menguatkan dan menyelaraskan berbagai lapisan manusia yang beragam jenisnya itu diatas pulau-pulau yang di pisahkan lautan yang seolah tak berujung ini. “paku-paku” itulah yang menjadi barometer baik atau buruknya suatu bangsa (ulama & umara).

Membaca ulama umara dalam sejarah

Dengan kecakapan Ulama kita mulai dari ulama mushalla, ulama sosial media sampai majlis ulama yang ditetapkan negara yang multitalen dalam membaca makna dan menentukan fatwa-fatwa, mengakulturasikan agama dengan budaya, bahkan mampu membaca fenomena dari perkembangan zaman milenial ini secara faktual dan actual.

Tidaklah sulit membumikan berbagai syariat agama Rahmatan lil ‘alamin ini di Indonesia, terlepas dari beragam “jenis” ulama di Indonesia yang tak jarang meramaikan TV, kadang membuat naik pitam, kadang jenaka membuat tawa tak ada hentinya, dan selalu bisa menyejukan hati-, kebhinekaan mereka dapat dinikmati hadirnya oleh berbagai “jenis” umat di negeri ini.

Tak berhenti disana, ulama kita pun sering mendahului para akademisi produk pendidikan barat, terlebih dalam melakukan pendekatan dan menentukan sikap yang tepat untuk menghadapi keadaan umat yang serba hirup-pikuk ini, seperti bentuk penjajahan karakter melalui moderenisasi social media, dekadensi moral & spiritual melalui gaya hidup hedonis yang individualis dan materialis, pun ancaman perpecahan kebhinekaan melalui penyebaran hoax, fitnah, fanatik golongan dan hal-hal primitif lainnya.

Jika barometer suksenya ulama adalah berhasil memerankan social control, katalisator, dan mobilisator maka berhaklah beliau-beliau mendapat nilai Shahih, dan kesuksesan itu tidak terlepas dari peran besar pemerintah dalam pemberdayaan ulama kita.

Dalam sejarah Bangsa Indonesia, tepatnya pada awal Oktober 1945, tak lama setelah perjuangan seluruh bangsa indonesia menemukan muaranya saat kemerdekaan diproklamasikan, seluruh ulama Indonesia mengadakan Musyawarah Akbar di Surabaya untuk menentukan sikap atas kemerdekaan Indonesia.

pertemuan yang dipimpin KH.Hasyim Asy’ari ini menghasilkan dua butir Fatwa : 1)kemerdekaan Indonesia wajib dipertahankan, 2) Pemerintahan Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintaan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan meskipun meminta pengorbanan harta dan jiwa.

Fatwa ini menancapkan energi persatuan Ulama dan Umara dengan sangat dahsyat kepada tiap-tiap jantung umat, agar kita semua bersatu, dan jangan ada pemerintahan lain atau negara lain di tanah ini. Sekaligus memandatkan urusan pemerintaan (Umara) kepada kepala negara saat itu (Ir.Soekarno) beserta seluruh jajarannya.

Jika kita membaca fakta sejarah akan kita temukan di Negara yang menjadi “lumbung ulama” seperti Afganistan, Mesir, Irak, Iran, Yaman, Suriah dan kebanyakan negara timur lainya, banyak pemerintahan yang kontra terhadap ulama (jika sungkan menyebut ulama nasionalis kalah oleh pemerintah yang bukan ulama atau karena ulama yang tidak nasionalis) sehingga banyak terjadi perpecahan, perang antar-golongan, dan senjangnya kesejahteraan umat yang tidak terselesaikan.

Seperti yang dialami Imam Ibnu Hambal dan Imam Syafi’i di akhir abad 7M oleh khalifah Al-Mu’tashim, Al-Makmun, dan Al-Wasith yang memberi hukuman penjara, pengusiran, rajam sampai pembunuhan terhadap ulama yang enggan mengakui al-Quran itu Hadist. Atau pada abad 19 M kemarin ada Muammar Kadafi, Sadam Husain sampai Mustafa Kamal Atatturk Yang mengesampingkan islam, melarang perempuan bercadar dan menggemakan adzan melalui spiker, menutup halaqah tarekat sampai membubarkan madrasah dan majlis ta’lim.

Fakta itu sangat autentik (sharih) menjadi dalil bahwa sinergi ulama dan umara dalam membina umat adalah keniscayaan yang wajib hukumnya jika menginginkan tatanan Negara yang Maslahat.

Sebuah peran, tantangan dan pantangan Dalam (Qs.Al-Nisa ayat 59) perintah untuk mentaati Ulil Amr (selama tidak memerintah maksiat dan perkara yang diharamkan syariat) berada setelah perintah mentaati Allah dan RasulNya.  Dalam Tafsirnya, Ibnu Abbas menafsiri Ulil amr dengan Ulama, Al-Thabari menafsiri Ulil Amr dengan para Ahli Fiqih dan Ulama ahli agama. dalam kitab Fathul Qodir, Ulil Amr adalah setiap orang yang menguasai suatu wilayah yang berlaku hukum syariat didalamnya maka termasuk pula Presiden, Gubernur, Walikota, Pak Rt dan Pak Rw.Dalam Tafsir Ibnu Mundzir, Ulil Amr diartikan sebagai Umara, dari sini tidak perlu ada perdebatan lagi siapakah Ulil Amr itu (mereka adalah ulama dan umara).

Dua hal positif dari pemisahan itu adalah; 1) dalam memproduksi fatwa para ulama tidak terkontaminasi oleh politik pemerintah. 2) posisi ulama tidak tergantung nasib lembaga pemerintahan, artinya saat pemerintahan jatuh maka posisi ulama tidak ikut jatuh.

Dalam praktiknya umara pun jangan berhenti hanya sebagai fasilitator dalam memenuhi semua kebutuhan perangkat ulama dalam membumikan “rahmatan lil ‘alamin“, begitupun ulama tak boleh berhenti hanya sebagai katalisator dan mobilisator yang bergantung pada fasilitas umara. Andai demikian, mungkin saja umara memfasilitasi ulama hanya pada musim-musim pemilihan (kalau tidak sekedar mencari Citra), bisa juga ulama ogah-ogahan mendidik umat yang macam-macam “jenisnya” ini, bahkan saling nebeng hanya agar ulama menjadi tenar dan umara dipandang benar.

Maka dalam sinergi ini dibutuhkan adanya kedewasaan, kesadaran dan kerja sama yang benar-benar diikhtiari oleh ulama dan umara.  Dan dalam perjalananya hubungan ulama dan umara janganlah sekedar shahib (relasi), apalagi musuh (‘adduw) namun haruslah sampai menjadi habib (senang ketika yang satu senang, susah ketika yang satu susah, merasuk kecintaanya sampai kepada setiap bagian yang ada pada yang lain -kecuali keburukannya- dan rela memberikan yang dimilikinya untuk yang lain). sehingga dapat saling menguatkan saat yang satu mulai melemah, saling menjaga saat yang lain diserang dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran untuk mencapai tujuan utama yaitu kemaslahatan yang universal (bagi seluruh rakyat indonesia) dan unlimited (kemaslahatan sampai di akhirat sana).

Yang sering terlupa dalam mentirakati kemaslahatan umat Setelah merdeka, mentirakati kemaslahatan umat lebih tepat dimaknai “menjaga”. Namun dalam konsep ‘sinergi ulama dan umara’ yang keren ini, ada komponen yang sering terlupa -jika tidak ingin menyebut sengaja melupakan diri sendiri sebab kebanyakan mengingat dan memikirkan aib-aib yang lain- yaitu Umat itu sendiri.

Bukankah allah tidak akan merubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubah dirinya? maka sinergi bukan hanya kewajiban ulama dan umara namun juga kewajiban umat, khususnya yang tidak merasakan beratnya (fitnah) menjadi umara dan sulitnya (sabar) menjadi ulama.

Sebagai umat, marilah menjalankan kewajiban umat, taat kepada Ulil Amri-nya, mendukung dan mengambil bagian dari berbagai pembangunan bangsa.

Mulai dari memperbaiki diri sendiri saja, seperti belajar dengan sungguh-sungguh, bukankan itu sama dengan meringankan beban satu orang dari tanggungan mereka untuk mencerdaskan bangsa, tanpa meletihkan pikiran pada bagaimana cara terbaik mengadu domba, atau mengabiskan kuota untuk menyebar hoax dan sensasi semata, yang pada akhirnya hanya menambah pusing ulama dan umara.

Jangan mengurusi urusan yang lain atau (kalau di pegang oleh yang bukan ahlinya) tunggulah kehancurannya! maka mari sambut setiap silaturrahim umara ke ulama-pun sebaliknya- dengan pandangan positif (husnul dzan) tanpa berujar “halaah politiik!” Semoga saja dari sana terjalin sinergi dan menghasilkan (tajdiidul ghirroh likhidmatil ummah) semangat yang ter-refresh untuk kembali mentirakati kemaslahatan ummat. Untuk kemaslahahtan kita.

 

 

 

______________________________________________

Oleh : M.Kurnia Mardhika

Asal : Bandung

Kamar : HY06   PonPes Haji Ya’kub

Kelas : 1 Tsn bagian A

 

Sebagai Juara Pertama Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

 

Allah Pamerkan Umat Muhammad kepada Nabi Musa

Diriwayatkan dari Akhbar Ra. Beliau berkata; “aku membaca sepotong keterangan yang diwahyukan kepada Nabi Musa As.”wahai Musa, ada dua rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat subuh, seorang yang salat pada dua rakaat ini Aku akan mengampuni seluruh dosa yang ia lakukan disiang maupun malah hari, menjadi tanggunganku” firman Allah Swt. Kepada Musa As.

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat duhur. Pada rakaat pertama aku memberi mereka ampunan. Dirakaat kedua aku memberi mereka timbangan amal baik yang paling berat.

“Dirakaat ketiga aku memasrahkan para malaikat yang akan bertasbih dan memohon ampunan bagi mereka. dirakaat keempat aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka, bidadari memandangi mereka dari atas”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya, yakni salat ashar, tiada satupun malaikat yang ada dimuka bumi dan penjuru langit kecuali memintakan ampun bagi mereka, dan orang yang dimintakan ampun oleh malaikat, aku takkan pernah menyiksanya.”

“Musa, tiga rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya kala mentari terbenam, aku akan membukakan pintu-pintu langit bagi mereka , mereka tidak meminta apapun tentang kebutuhannya kecuali akan aku kabulkan.”

“Musa, empat rakaat yang dijalankan oleh Muhammad dan umatnya saat mega merah hilang, yang mana salat ini lebih baik bagi mereka daripada dunia dan seisinya, mereka keluar dari salatnya dengan keadaan bersih dari dosa layaknya dimana ibunya melahirkannya”

“Musa, Muhammad dan umatnya berwudu seperti yang telah aku perintahkan, aku memberi mereka surga pada setiap tetes dari wudunya, surga yang luasnya laksanya luas jagat raya ini.”

“Musa, Muhammad dan umatnya berpuasa sebulan penuh disetiap tahunnya dibulan ramadan, setiap sehari puasa aku akan memberi mereka satu kota megah di surga, aku juga memberi mereka pahala setiap ibadah sunah yang mereka lakukan dibulan itu dengan pahalanya ibadah fardu. Aku juga menjadikan satu malam dibulan itu malam lailatul qadar, siapa yang meminta ampuna waktu itu penuh penyesalan dan membenarkan dengan hatinya, apabila ia mati dimalam itu atau dibulan itu, aku akan memberinya pahala seorang syahid dengan kelipatan tiga puluh”

“Musa, pada umat Muhammad ada sekelompok orang yang mendirikan sebuah kemuliaan, mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selai allah, maka balasan bagi mereka dengan sebab itu adalah balasan yang sama yang diberikan kepada para nabi, rahmatku atas mereka adalah sebuah kepastian, murkaku kepada mereka adalah sebuah ketiadaan, tiada pernah aku menghalangi pintu taubat pada seorangpun dari mereka selagi mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain allah” [ABNA]

 

______________

dikutip dari kitab at-Tanbih al-ghafiliin