Tag Archives: Kota Kediri

Syaikh Wasil Kediri: Muslim Pertama di Indonesia (2-habis)

Baca dulu Bagian I

Prof. Dr. Habib Mustopo, guru besar Universitas Negeri Malang yang melakukan penelitian dengan basis data historis dan arkeologis menyimpulkan bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil yang dikebumikan di makam Setana Gedong adalah ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri. Jika nama al-Wasil tercantum pada inskripsi Setana Gedong, nama Syamsuddin dicatat dalam historiografi Jawa yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Di dalam historiografi Jawa tersebut, tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil disebutkan sebagai ulama besar asal Negeri Ngerum/Rum (Persia), yang datang ke Kediri untuk berdakwah dan atas permintaan Raja Kediri Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya membahas kitab Musyarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).

Naskah Serat Jangka Jaya yang muncul pada abad ke-17 yang diyakini masyarakat Jawa sebagai karya Sri Mapanji Jayabaya dalam meramal masa depan Nusantara, dihubungkan dengan keberadaan tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil yang berasal dari Rum (Persia) ini. Catatan Historigrafi Jawa yang menyebut bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil berasal dari Rum (Persia), sedikitnya dibenarkan oleh inskripsi yang menunjuk pada kata al-Abarkuhi yang berhubungan dengan kota kecil Abarkuh di Iran (Persia).

Menurut Habib Mustopo, tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil inilah yang kiranya telah berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di daerah pedalaman Kediri pada abad ke-12. Itu sebabnya, sangat wajar jika setelah meninggal, Syaikh Syamsuddin sangat dihormati masyarakat Islam di pedalaman.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, makam Syaikh Syamsuddin semula berada di tempat terbuka. Untuk menghormati jasa-jasanya, dibangunlah makamnya oleh seorang Bupati Suryo Adilogo (menurut sumber historiografi adalah mertua Sunan Drajat putra Sunan Ampel) hidup di abad ke-16, maka masuk akal jika bangunan makam Syaikh Syamsuddin secara arkeologis berasal dari abad ke-16, meski makam itu sendiri sudah ada di kompleks pekuburan Setana Gedong sejak abad ke-12 Masehi.

Lepas dari sulitnya merekonstruksi sejarah Syaikh Syamsuddin al-Wasil dari kajian arkeologis, catatan-catatan historiografi dan cerita tutur masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa almarhum yang dikebumikan di kompleks makam Setana Gedong adalah seorang tokoh sufi yang sakti asal negeri Rum (Persia), yang diyakini menjadi guru rohani Sri Mapanji Jayabaya Raja Kediri. Lantaran itu, situs makam kuno yang terletak di dekat reruntuhan Candi Kuno di kompleks Pemakaman Setana Gedong Kota Kediri itu, sampai kini masih dijadikan pusat ziarah dan dikeramatkan oleh masyarakat.][

 

Sumber: Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, Depok: Pustaka IIMaN, 2016.

 

Penulis, A. Farid, Siswa kelas 2 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Pemimpin Umum Majalah Dinding Hidayah.

Lirboyo Mengirim Delegasi di MQK Kota Kediri

LirboyoNet, Kediri- Pemahaman atas warisan literatur salaf (kitab kuning) merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam pelestarian khazanah keilmuan Islam. Hal tersebut sangat disadari oleh Kementrian Agama Kota Kediri dengan menggelar seleksi Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) sebagai wujud nyata dalam menumbuhkan gairah keilmuan santri dalam bidang kecakapan dalam memahami kitab kuning.

Ajang perhelatan Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) untuk tingkat Kota Kediri resmi digelar pada rabu kemarin (05/04) bertempat di Pondok Pesantren Salafiyyah, kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri.

Kegiatan  tersebut diikuti sebanyak 233 peserta yang berasal dari santri berbagai pesantren yang tersebar di Kota kediri. Dari angka tersebut, mereka digolongkan ke dalam 3 tingkatan (Marhalah) yakni Marhalah Ula, Marhalah Wustho, dan Marhalah ‘Ulya. Adapun materi yang dilombakan disesuaikan dengan masing-masing tingkatan yang mencakup fan Tafsir, Hadits, Balaghoh, Nahwu, Fiqih, Ushul Fiqih, Tarikh, Akhlaq, dan lain-lain.

Menurut Abdul Aziz, kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementrian Agama Kota Kediri, diharapkan dengan adanya acara yang menjadi agenda dalam menyongsong Musabaqah Qiroatil Kutub Nasional (MQKN) yang akan digelar di Rembang, Jawa Tengah beberapa waktu mendatang tersebut menjadi pemacu kesemangatan santri dalam meningkatan pemahaman keagamaan terutama dalam bidang penguasaan kitab kuning, “Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) yang diselenggarakan Kemenag kota Kediri ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan gairah keilmuan, agar generasi muda lebih semangat lagi dalam mengaji” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Pondok Pesantren Lirboyo mengirimkan sekitar 190 delegasi yang berasal dari utusan Pondok Induk dan seluruh Pondok Unit, baik putra maupun putri di bawah naungan Ponpes Lirboyo. Semuanya akan mengisi seluruh lini perlombaan yang diadakan.

Dan apapun hasilnya nanti, dengan didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekedar juara.][

 

 

 

 

 

 

Dari Kediri Menuju Saudi

LirboyoNet, Kediri – Setelah selesai membangun kembali bangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim menyeru di atas tempat yang tinggi, sebuah simbol bagi panggilan  kepada seluruh umat manusia dari segala zaman untuk datang dan menghamba di kota yang dahulu sempat bernama “Bakkah” itu.

Di Aula Al Muktamar, suara itu terdengar bergema. Selasa (16/08) kemarin, ratusan jamaah haji berkumpul untuk memenuhi seruan Nabi Ibrahim itu. Empat bus dan beberapa kendaraan lain disiapkan untuk memberangkatkan mereka menuju Surabaya, tempat pemberhentian sebelum berangkat ke Saudi Arabia.

Para jamaah, juga keluarga yang mengantar mereka, mulai berdatangan sejak siang hari. Bermacam ekspresi para jamaah ketika mereka menurunkan koper haji. Mereka usap kepala anak-anak dan cucu dan membisikkan sesuatu. Maklum saja, itu adalah pertemuan terakhir dengan keluarga sebelum nanti kembali dari ibadah haji.

Menjelang maghrib, jamaah sudah lengkap di daftar panitia. Segera saja, rombongan yang sudah menaiki bus masing-masing diberangkatkan. Simbolisasi pemberangkatan itu dilakukan oleh pengasuh Ponpes Lirboyo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar.

Sebelumnya, walikota muda itu berpesan kepada para jamaah, “Jangan berlebihan di sana. Banyak-banyak ibadah dan berdoa bagi kemashlahatan kita. Jangan sibuk belanja. Barang-barang di sana sama saja (dengan di sini),”. Selayaknya bepergian ke tempat yang jauh, dan ibadah yang butuh tekad teguh, rombongan menengadahkan harapan dan berdoa, dengan dipimpin oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, yang beberapa anggota keluarga beliau juga ikut rombongan haji tahun ini.][

Istighotsah 1 Muharram 1434 H

LirboyoNet, Kediri – Sore itu, bertepatan dengan pergantian tahun Hijriyah yang ke 1434, sepanjang jalan menuju Masjid Agung sangat sesak dengan kendaran yang berlalu lalang memadati ruas jalan Bandar Kidul. Terutama pada jalur menuju jantung kota Kediri. Para Polisi Lalu Lintas, BANSER dan SATPOL PP, tampak sibuk mengatur lalu lintas agar kemacetan bisa dihindarkan.

Meski cuaca panas karena tak kunjung hujan, namun hal tersebut tak menyurutkan animo para santri Pondok Pesantren Lirboyo dan masyarakat muslim Kediri untuk mengikuti agenda tahunan yang di gelar di Masjid Agung Kota Kediri. Mereka berbondong-bondong guna mengikuti doa akhir tahun dan awal tahun baru orang islam.

Dengan didominasi baju warna putih dan berbekal sajadah para santri beramai-ramai berjalan kaki menuju Masjid kebanggaan Kota Kediri. Hanya saja, agar lebih tertib para santri harus melewati jalan yang sudah ditentukan oleh pondok. Tampak para keamanan Pondok berjaga-jaga di beberapa titik-titik tertentu yang mengarahkan santri ke tujuan utama.

Pukul 17.00 WIB Masjid Agung kota Kediri mulai dipadati oleh masyarakat dan santri. Puncaknya saat acara istighotsah dimulai. Saking banyaknya pengunjung dan Masjid tak mampu membendung, para pengunjung rela mengikuti acara itu di ruas jalan raya, bahkan sampai taman alun-alun dan halaman dhoho plaza.

Acara itu di hadiri oleh beberapa Kyai terkemuka dan Pemkot Kota Kediri diantaranya; pengasuh Pon Pes Lirboyo KH. Anwar Manshur, KH. Ilham Nadlir, KH. Anwar Iskandar, KH. A. Mahin Toha, KH. An’im Falahuddin Mahrus dan Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, SE.

Pertama kali yang mengisi sambutan dalam acara itu adalah Wakil Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, SE. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa istighosah semacam ini merupakan ungkapan rasa syukur kita terhadap Yang Maha Kuasa. Dan seharusnya acara semacam ini bisa menjadi pengingat kita akan adanya peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah menuju Kota Madinah. Sehingga akhirnya kita mampu merefleksikan dan mengaktualisasikan dalam tindakan kita sehari-hari agar hari ini bisa menjadi lebih baik dari hai kemarin. Beliau juga mengutip sebuah hadits yang berbunyi; “Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, barangsiapa hari ini sama saja dengan hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi”.

Disusul kemudian sambutan atas nama pengurus cabang NU Kota Kediri oleh KH. Anwar Iskandar, Pengasuh Pon. Pes  Assaidiyyah Jamsaren Kediri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam sambutannya beliau mengingatkan segenap Kaum Nahdliyyin, betapa sulitnya perjuangan NU di masa kini dalam mempertahankan ajaran Ahlussunah Waljama’ah yang berbasis tawazun, tasamuh, dan tawasut . Hal ini dikarenakan adanya kecaman dan tantangan dari sisi kiri maupun kanan. Terutama oleh Islam radikal yang tak henti melecehkan kita dan menuduh kita telah berbuat bid’ah dholalah dan neraka. Mereka juga beranggapan bahwa para Wali Songo adalah sumber perbuatan syirik (baca: ziarah).

Beliau menambahkan, di sisi lain kita juga berhadapan dengan Islam Liberal yang membebaskan segala macam termasuk diantaranya praktek poliandri (wanita boleh bersuami lebih dari satu).Tak sampai disitu, menurut beliau saat ini kaum gay dan lesbi telah berusaha memperjuangkan pernikahan antar jenis. Terus lagi, kaum PKI yang keberadaanya dulu pernah dilarang oleh pemerintah kini sudah mulai bermunculan kembali.

Beliau mengimbau bahwa inilah saatnya bagi kita untuk meneladani Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW. Karena, berkat hijrah pula Islam yang sebelumnya adalah kaum minoritas, dikerdilkan dan termarjinalkan oleh masyarakat Makkah akhirnya dapat berkembang subur di Madinah dan terus tumbuh sampai sekarang ini. Oleh karena itu kita tak boleh berpangku tangan dan bertopang dagu dalam menghadapi tantangan yang semacam itu agar ajaran Ahlussunah Waljama’ah dapat dipertahankan.

Sebelum mengakhiri sambutannya beliau mewanti-wanti agar tak lengah oleh fasilitas dunia yang bisa membuat diri kita melupakan ajaran agama Islam.

Setelah KH. Anwar Iskandar selesai memberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan do’a akhir tahun sekaligus sholat maghrib berjama’ah yang diimami langsung oleh KH. Anwar Manshur.

Selanjutnya pembacaan do’a awal tahun yang di pimpin oleh KH. Ilham Nadzir di teruskan dengan sholat isya berjam’ah yang juga di imami oleh KH. Anwar Manshur.

Pukul 19.30 Wis acara Istighotsah dan Do’a bersama yang diadakan oleh Pengurus NU bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kediri itu pun usai. Kembang api dinyalakan sebagai penutup acara diiringi dengan penampilan rebana ala habsyi yang memang diundang untuk memeriahkan acara itu.[]