Tag Archives: kuno

Hitungan Weton Jodoh Masyarakat Jawa

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang saya hormati, bagaimana hukumnya mempercayai hitungan Weton dalam tradisi Jawa utnuk memilih jodoh? Terimaksih atas pencerahannya.

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

(Kholis, Boyolali-Jawa Tengah)

_________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Masyarakat Jawa kuno memiliki tradisi dan budaya perhitungan Pasaran. Perhitungan ini selanjutnya dapat dijadikan rujukan dalam berbagai hal, salah satunya dalam hal pernikahan. Dalam memilih jodoh, sering kali masyarakat (khususnya Jawa) menggunakan hitungan Weton (Neptu dan Pasaran kelahiran) masing-masing. Perhitungan semacam ini juga sering digunakan untuk menentukan tanggal dalam menyelenggarakan akad nikah maupun resepsinya.

Dalam menyikapi hal demikian, terdapat keterangan dalam kumpulan fatwa imam Ibnu Ziyad:

إِذَا سَأَلَ رَجُلٌ آخَرَ: هَلْ لَيْلَةُ كَذَا أَوْ يَوْمُ كَذَا يَصْلُحُ لِلْعَقْدِ أَوِ النُّقْلَةِ؟ فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى جَوَابٍ، لِأَنَّ الشَّارِعَ نَهَى عَنِ اعْتِقَادِ ذَلِكَ وَزَجَرُ عَنْهُ زَجْراً بَلِيْغاً، فَلَا عِبْرَةَ بِمَنْ يَفْعَلُهُ، وَذَكَرَ ابْنُ الْفَرْكَاحِ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْمُنَجِّمُ يَقُولُ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ إِلَّا اللهَ، وَلَكِنْ أَجْرَى اللهُ الْعَادَةَ بِأَنَّهُ يَقَعُ كَذَا عِنْدَ كَذَا، وَالْمُؤَثِّرُ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَهَذَا عِنْدِيْ لَا بَأْسَ بِهِ

Ketika ada seorang bertanya: Apakah malam ini atau hari ini bagus untuk menyelenggarakan akad atau pindahan? Maka pertanyaan demikian tidak perlu dijawab. Karena syariat melarang secara tegas untuk mempercayai hal demikian. Dan Ibnu Al-Farkah mengutip dari Imam Syafi’i, bahwa apabila ahli nujum (ilmu perbintangan/ilmu hitung kuno) berkata dan ia percaya bahwa semuanya tidak akan terjadi tanpa takdir Allah dan Allah menjalankan semuanya sesuai adat yang biasa terlaku bahwa akan terjadi sesuatu bila dilakukan ketika waktu tertentu, maka hal tersebut tidak masalah.”[1]

Singkatnya, selama masih mempercayai bahwa semua hal tidak pernah terlepas dari ketentuan dan takdir Allah SWT, maka tidak masalah serta tidak mengganggu terhadap akidah kepercayaan. []waAllahu a’lam


[1] Ghoyah At-Talkhis Al-Murad, hal. 268, cet. Darul Fikr

Di Antara Dua Kesibukan

Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Said (julukan Hasan al-Basri), di balik tiang itu ada seorang pria yang selalu duduk menyendiri dan enggan bergabung dengan yang lainnya.”

Wahai hamba Allah, aku melihatmu suka menyendiri, apa yang menghalangimu untuk bergaul dengan yang lain?” tanya Hasan al-Basri seraya menghampiri orang tersebut.

Ada satu hal yang membuatku tak sempat bergaul dengan masyarakat”.

Apakah perkara yang juga membuatmu tak sempat mendatangi Hasan al-Basri dan duduk bersamanya?

Iya, aku memang memiliki satu urusan yang membuatku tak sempat bergaul dengan masyarakat dan juga tak sempat mendatangi Hasan al-Basri.”

Apa itu?

Setiap hari aku berada di antara dua hal, nikmat dan dosa. Maka kuputuskan untuk menyibukkan diri dengan dengan mensyukuri nikmat dan memohon ampun atas dosa yang telah aku lakukan.” Jawabnya.

Wahai Hamba Allah, sungguh engkau lebih alim dari Hasan al-Basri, pertahankanlah keadaanmu yang demikian ini.” pungkas Hasan al-Basri.

 

_______________

Disarikan dari kitab Raudlatur Rayyan Fii Hikayah as-Shalihin, hal. 183, cet. Maktabah At-Tauqifiyah.