Tag Archives: seminar

Negara Dalam Prespektif Agama

LirboyoNet, Kediri—Konsepsi Islam tentang negara sejak lama telah menjadi wacana dan bahan kajian, namun kajian tersebut hanya oleh kalangan terbatas. Sedangkan informasi dan penyebaran dari hasil kajian itupun terbatas pula, belum sampai menjangkau kalangan masyarakat Islam secara luas. Sementara itu banyak diajukan pemikiran mengenai Negara Islam, yang kemudian berimplikasi bahwa pihak-pihak yang tidak sependapat dan kurang menyetujui pemikiran itu dianggap meninggalkan Islam.

Dalam agenda tahunan M3HM PondokPesantren Lirboyo (13/12/2018) mengadakan seminar dengan mengangkat tema “Negara dalam prespektif agama” yang ditutori langsung oleh ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Sabillurosyad Malang KH.Marzuqi Mustamar.

Sejak ba’da jama’ah isya ribuan santri memadati gedung aula muktamar, meski cuaca malam itu agak sedikit gerimis, dan itu bukan menjadi penghalang bagi para santri untuk mengikuti acara yang sangat manfaat itu. Seperti biasa, acara diawali dengan lantunan sholawat nabi oleh grup rebana pondok pesantren Lirboyo. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu yang akhir-akhir ini wajib dilantunkan disetiap acara-acara formal yakni lagu nasional Indonesia Raya dan yaa lal wathon.

Dalam  acara tersebut beliau menyampaikan “yang menjadi poin penting dalam pembahasan kita kali ini adalah bahwa berislam harus beraswaja, karena hanya aswaja bisa amanah dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. Beraswaja harus berNU, karena hanya organisasi Nahdlatul Ulama yang konsekuen dan konsisten dalam mengamalkan, mengajarkan dan melestarikan ajaran Islam ahlu Sunnah wal jama’ah. berNU harus BerNKRI, karena hanya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bisa menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi berlakunya ajaran Islam ahlu Sunnah wal jama’ah”. “dari pembahasan ini berarti bisa ditarik kesimpulan bahwa menjaga keutuhan NKRI sejatinya adalah menjaga ajaran Islam ahlu Sunnah wal jama’ah” tutur KH. Marzuqi Mustamar.

Bedah Buku Fiqih Kebangsaan Meriahkan Hari Santri di Lampung Selatan

Lampung Selatan, NU Online-Jumat, 19 Oktober 2018 21:00
Sejumlah acara memeriahkan hari santri tahun ini. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lampung Selatan, Lampung mengadakan bedah buku Fiqih Kebangsaan; Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan. Buku tersebut karya para aktivis bahtsul masail Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Bedah buku dilaksanakan di rumah dinas Bupati Lampung Selatan, Jumat (19/10). Acara dihadiri ratusan peserta dari PCNU Lampung Selatan, sejumlah badan otonom seperti Ansor, Muslimat, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), hingga delegasi dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).
Pemateri kegiatan ini adalah Ustadz M Hamim Khudori yang juga tim penulis buku.
Dalam paparannya, ustadz muda kelahiran Malang tersebut mengemukakan bahwa konsep negara di Indonesia sudah final. “Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI adalah harga mati. Hanya tugas kita adalah meneruskan perjuangan para pendahulu dalam mengisi ruang juang khususnya di dalam Nahdlatul ulama,” katanya.
Di hadapan Ketua PCNU Lampung Selatan, KH Mahfudz at-Tijani, Ustadz Hamim mengingatkan jangan sampai dengan kekuatan iman dan Islam, justru membahayakan orang lain. “Seperti orang berbadan besar, shalat berdiri haram hukumnya jika tidak mampu, terlebih di sampingnya ada anak kecil kalau ia jatuh bisa melukai atau bahkan membunuhnya,” ungkap di hadapan peserta.
Demikian pula tidak ada negara yang lebih mudah dan lebih nyaman atau setidaknya sama dalam menjalankan ibadah dan belajar ilmu agama melebihi Indonesia. “Kita berhenti ibadah dan belajar karena kemalasan saja, tidak pernah ada larangan dari pihak manapun,” tegasnya.
“Pemerintah Indonesia dengan Presiden Joko Widodo adalah pemerintah yang sah yang harus dihormati dan ikuti,” jelasnya.
Pada kesempatan itu hadir pula Wakil Rais PWNU Lampung, KH Sholeh Bajuri yang didampingi Ketua PCNU Lampung Selatan dan sejumlah kiai seperti KH Navis Ghufron, Agus Shonhaji Bukhori dan lainnya.
Tampak bergabung alumni Pondok Pesantren Lirboyo se-Kabupaten Lampung Selatan. Dalam sambutan mewakili PCNU Lampung Selatan, KH Mahfudh At-Tijani berharap bedah buku membuka wawasan dan pemahaman kepada fiqih kebangsaan. “Dan semoga akan diteruskan pada seminar berikutnya di tempat lain agar keilmuan NU semakin hidup,” tandasnya.
Kegiatan dimoderatori aktivis Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Bahtsul Masail NU Lampung, Kiai Mustamar Imam Mujri. Dan sukses bedah buku juga atas kerja sama sejumlah elemen lembaga dan Banom NU. (Ibnu Nawawi)

Sholihah Dalam Dakwah

Lirboyonet, Kediri – Wanita adalah tiang dari segalanya. Dia bisa menjadi penegak di dalam rumah tangganya, bahkan dia bisa menjadi tiangnya negara. Begitu besar peran wanita sehingga dia bisa mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Seorang anak akan mewarisi watak, akhlak, aqidah, dan karakter dari wanita yang melahirkannya. Karena itu kebaikan akan muncul jika di dalam sebuah keluarga terdapat wanita yang baik dan solehah.

Imam Hafidz Ibrahim berkata, “Ibu adalah madrasah (pertama bagi anak), jika engkau telah menyiapkannya, maka engkau telah menyiapkan masyarakat yang berakhlak mulia.”

Oleh karena itu langkah awal bagi wanita adalah membekali dirinya dengan ilmu yang luas dan akhlak yang baik, agar suatu saat ia mendapatkan amanat mendidik anak, maka ia sudah mampu mendidiknya dengan baik.

Begitu pentingnya peran wanita terutama dikeluarganya menjadi salah satu pemicu bagi Santri Putri Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur-an Lirboyo (P3TQ) untuk mengadakan seminar yang bertajuk “Sholihah Dalam Dakwah” guna mendidik santri-santriwati untuk kelak bisa membantu berdakwah bersama keluarganya, yang terlaksana pada Jumat (5/01/18) lalu.

Diantara tempat yang paling baik untuk berdakwah bagi kaum wanita adalah rumah tangga. Keluarga kelompok kecil yang terbentuk dari suami, istri dan anak-anaknya. Pondasi dasar keluarga adalah suami dan istri, yakni pria dan wanita. Mereka berdua inilah yang menjadi benih terbentuknya keluarga yang baik, yang mengatur dan menjaga keluarga mulai dari awal sampai akhir.

Seminar yang dilaksankan Malam Jumat lalu dipimpin oleh KH. Munawwar Zuhri dari Tulung Agung. Acara yang dimulai pada pukul 21.00 Wis berjalan dengan khidmat. Para santriwati begitu antusias dengan pembahasan seminar tersebut. Mereka merasa bahwa menjadi solehah itu begitu penting bagi keturunannya. Acara yang ditutup pada pukul 23.00 Wis itu sebenarnya belum dapat memuaskan para santriwati dari rasa penasaran mereka, karena pembahasan yang sangat dibutuhkan oleh wanita-wanita.

Sebelumnya, pada pagi hari di P3TQ telah digelar acara Penutupan Bahtsul Masa-il yang merupakan agenda tiap tahunnya. dalam Penutupan Bahtsul Masa-il tersebut P3TQ juga mengundang Pondok Putri yang lain, seperti Pondok Sumber Sari dari Pare, Ar- Rifa’i Malang, Pondok Besuk Pasuruan dan Pondok Kecong Nganjuk. Pondok Putri Unit Lirboyo juga tidak ketinggalan untuk diundang.

Bahtsul Masa-il pada pagi itu disajikan dalam 2 jalsah. Jalsah awal di pagi hari dengan pembahasan Dilema Thalaq dan untuk jalsah kedua di siang harinya dengan pembahasan Dilema Saldo.

Untuk hasil keputusan Bhatsul Masa-il bisa dilihat di link berikut.

 

 

Peran Santri Dalam Menangkal Radikalisme Agama

Lirboyonet, Jakarta – Sukses sudah gelaran Seminar yang diprakaryai Istikmal Jabodetabek dalam Ngaji Toleransi yang bertajuk Peran Santri Dalam Menangkal Radikalisme Agama. Seminar yang diadakan di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (09/12/17) merupakan kerja sama dengan kementrian koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Lembaga Riset Prima Center Indonesia.

Seminar diadakan untuk merespons fenomena intoleransi yang terjadi di masyarakat, terutama yang tampak di media sosial. Dalam seminar kali ini alumni Al Mahrusiyah, Ustadz Nur Ahmad Satria menjadi pembicara bersama Franz Magnis-Suseno dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Marbawi dari Gugus Tugas Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Seminar diakhiri dengan Deklarasi Santri yang diserukan oleh ratusan alumni Al Mahrusiyah dengan tujuan untuk terus menjaga dan mengembangkan kehidupan sosial yang lebih toleran dan beradab, dan juga berbagai upaya untuk mengconter serangan media sosial diantaranya menyebarkan konten-konten positif tentang islam.

 

kontributor : majalah el.mahrusiy

KH. Ma’ruf Amin: Ekonomi Syari’ah Telah Diakui Secara Nasional

LirboyoNet, Kediri- Kebutuhan akan bank, akhir-akhir ini menjadi sangat vital. Orang tidak akan bisa mudah lepas dari bank. Padahal, seperti yang kita tahu, dalam proses administrasi dan transaksinya, bank bukanlah tempat yang yang “seratus persen halal”. Praktik riba dan transaksi-transaksi lain yang tidak sesuai dengan hukum fikih akan banyak kita jumpai. Seolah-olah sudah mengakar kuat anggapan bahwa “tidak mungkin rasanya bank dapat tetap berdiri tanpa adanya bunga”.

Namun semua itu terbukti tidak benar sekarang. Harapan akan adanya bank yang syar’i perlahan-lahan menjadi kenyataan, dengan hadirnya inovasi iB (Islamic Bank), atau Bank Islami. Keterangan-keterangan yang ada dalam nash-nash fikih mulai disesuaikan dan diterapkan dalam dunia perbankan. Sistim riba dihapus, dan sistim tabungan para nasabah yang tidak sesuai syari’at diperbarui kembali.

Ahad kemarin (19/02), ditengah kepadatan dan jadwal aktifitas, KH. Ma’ruf Amin yang sekaligus menjabat Rais ‘Am Suriah PBNU, menyempatkan mengisi sambutan atas nama ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam acara sosialisasi dan pengenalan Bank Syari’ah yang diadakan di lingkungan Ponpes Lirboyo. Dalam Workshop bertajuk “Halaqah Perbankan Syari’ah Untuk Kalangan Pondok Pesantren, Ulama, dan Kiai” ini, beliau menyampaikan tentang sekelumit sejarah perjuangan ulama dalam men”syariahkan” aturan perbankan. Hingga akhirnya hasil jerih payah mereka bisa berhasil dan kita nikmati seperti sekarang.

KH. Ma’ruf Amin dalam sambutannya menyampaikan tentang pentingnya ada undang-undang yang khusus terkait ekonomi syari’ah. “Dalam masalah perbankan, jasa keuangan, mutlak harus ada undang-undang. Karena itu menyangkut masalah keuangan, keamanan, dan kehati-hatian atau prudensialitas. Sehingga kita tidak mungkin bisa menerapkan sistim mu’amalah mâliyah tanpa adanya undang-undang.

Wujud nyata tentang ekonomi islami kini memang bisa diwujudkan dan dirasakan. Setelah para ulama mengingatkan urgensitasnya melalui beberapa tahapan rekomendasi dan pertimbangan. Tentu poin yang paling mendasar, karena telah jamak diketahui bahwa transaksi piutang memakai bunga memang diharamkan. “Melalui rekomendasi perbankan yang tidak memakai sistim bunga. Karena bunga itu, (hukumnya-Red) seperti tadi (haram-Red).” Terang Kiai Ma’ruf. Pada awalnya sistem Bank Syari’ah memang merupakan sebuah alternatif. Dan lama kelamaan berkat perjuangan ulama dan berbagai pihak, sistim Bank Syari’ah akhirnya menjadi sebuah solusi dan keberadaannya mendapatkan pengakuan dari banyak pihak. Bahkan akhirnya sekarang telah terbentuk Komite Nasional Keuangan Syari’ah (KNKS) yang langsung diketuai oleh presiden Republik Indonesia. Sebagai catatan, KNKS merupakan satu-satunya komite nasional yang langsung dipimpin oleh kepala negara. Artinya, sistem keuangan syari’ah telah mendapatkan pengakuan secara nasional. “Satu hal yang kita syukuri, sistem keuangan syari’ah di Indonesia dapat berjalan tanpa gaduh. dan sekarang telah menjadi sistem nasional.” Ungkap KH. Ma’ruf Amin.

Hanya saja, kendala yang dihadapi adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi bank syari’ah. Meskipun Indonesia memiliki populasi penduduk muslim terbesar, namun pertumbuhannya hanya mencapai 5,3% saja. Jauh tertinggal dari bank-bank kovensional.

Terakhir, harapan beliau akan Bank Syari’ah atau sektor-sektor syar’i lain selain lini ekonomi, adalah sempurnanya tathbiq (penerapan) fikih dalam kehidupan di seluruh lapisan masyarakat. Sebab melalui perjuangan ulama, hukum-hukum fikih bisa saja diterapkan menjadi sebuah undang-undang jika memang itu dibutuhkan. “Kita menginginkan agama (baca:fikih) harus jadi undang-undang, untuk melindungi umat islam dalam melaksanakan ajaran agama. Kalau (fikihRed) perlu diadakan (dijadikan-Red) undang-undang.” Pungkas beliau.[]

(Baca juga: Workshop Halaqah Perbankan Syariat di pondok Pesantren Lirboyo)