Tag Archives: keutamaan

Keutamaan dan Anjuran Puasa Bulan Dzulqa’dah

Bulan Syawwal telah berlalu, kini sudah memasuki bulan Dzulqa’dah. Bulan ini termasuk dari beberapa bulan yang sangat dimuliakan Allah swt. Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah swt. telah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama-sama orang yang bertakwa.” (Q.S. At-Taubah [9]: 36)

Dalam  Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan  empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empa di antaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari bulan itu jatuh secara berurutan, yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga syahrul mudhar) terletak di antara dua jumadil (jumadil ula dan jumadil tsani) dan sya’ban.”[1]

Bulan Dzulqa’dah merupakan bulan yang mana Rasulullah saw melaksanakan semua ibadah umroh di dalamnya. Sebagaimana dalam kitab Shahih Al-Bukhari dijelaskan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنْ جِعْرَانَةَ حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah saw. melakukan umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang mengiringi haji beliau. (yaitu) Umrah dari Hudaibiyah atau di tahun perjanjian Hudaibiyah di bulan Dzulqa’dah, Umrah di tahun berikutnya di bulan Dzulqa’dah, Umrah dari Ji’ranah, dimana beliau membagi harta rampasan perang Hunain di bulan Dzulqa’dah, dan umrah ketika beliau haji.”[2]

Anjuran Puasa Sunah

Sebagai bulan yang mulia, syariat menganjurkan untuk lebih memperbanyak ibadah dan amal kebaikan di dalamnya, salah satunya dengan melakukan puasa sunah. Bahkan puasa sunah di bulan ini memiliki nilai lebih dibandingkan berpuasa sunah di bulan yang lain. Sebagaimana ungkapan imam As-Syarwani:

أَفْضَلُ الشُّهُوْرِ لِلصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ وَأَفْضَلُهَا الْمُحَرَّمُ،  ثُمَّ رَجَبَ ثُمَّ الْحِجَّةُ ثُمَّ الْقَعْدَةُ

“Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadan adalah Al-Asyhur al-Ḥurum. Dan, yang paling utama dari keempatnya adalah bulan Muharam, Rajab, Dzulhijah, kemudian Dzulqa’dah.[3]

Anjuran berpuasa di bulan Qzulqa’dah diperuntukkan bagi setiap umat Muslim yang tidak keberatan dan dipastikan tidak ada hal-hal yang membahayakan kesehatan. Sehingga bagi orang sakit dan yang memiliki uzur lain tidak dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah bulan Dzulqa’dah.

Meskipun tidak ada ketentuan dan tata cara khusus dalam pelaksanaanya, berpuasa di bulan yang mulai merupakan kesempatan emas dalam menambahkan ghirah (semangat) ibadah dan mengumpulkan pundi-pundi amal kebaikan.

[]WaAllahu a’lam


[1] Tafsir Ibnu Katsir, vol. IV hal. 127, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Shahih Al-Bukhari, hadis nomor 1780, vol. III hal. 3.

[3] Hawasyi As-Syarwani, vol. III hal. 461.

Al Fatihah Untuk Saudara-Saudara Kita dan Para Relawan

Al Fatihah kita kirimkan untuk saudara-saudara kita yang tengah mengalami ujian, dengan harapan segera bisa melaluinya dengan sabar dan penuh kepasrahan kepada Allah swt. karena secara naluriah pun kita tentunya pasti merasa iba jika melihat saudara yang tengah mengalami kesusahan, lebih-lebih hal ini sangat dianjurkan di dalam Islam.  Maka tidak ada salahnya bila kita yang jauh, yang mungkin belum bisa membantu dengan materi untuk membacakan al Fatihah sebagai doa untuk kekuatan dan kebaikan bagi mereka. Sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada Rasululah saw bersabda:

قَالَ: أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ، أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ

“Jibril berkata: Sampaikan kabar gembira atas dua cahaya yang dianugerahkan kepadamu, yang tidak diberikan kepada nabi sebelum kamu, yaitu surat al-Fatihah dan ayat-ayat akhir surat al-Baqarah. Engkau tidak membaca satu huruf darinya, kecuali akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Dianjurkan Takziah, Walau pun Korbannya Nonmuslim

Didalam Islam kita dianjurkan untuk melakukan takziahterhadap saudara-saudara kita yang tengah mengalami cobaan. Jangan tanya apa agamanya, karena kita pun diperbolehkan bertakziah kepada saudara-saudara kita yang nonmuslim dan bahkan sunnah jika ada harapan ia memeluk Islam. Hal ini sebagaimana penjabaran Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya:

قوله و للمسلم تعزية كافر إلخ..) أي جوازا لا ندبا ما لم يرجى إسلامه و إلا فندبا)

“(Bagi muslim boleh takziah kepada orang kafir) hukum kebolehannya itu jika tidak diharapkan keislamannya. Namun jika ada harapan ia akan masuk Islam, maka sunnah hukumnya”

dan ada baiknya kita resapi apa yang dinasihatkan oleh Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al Asfihani dalam kitabnya, Hilyatul Awliya’:

لاتنظرو إلى إلى ذنوب الناس كأنكم أربابا ولكنكم أنظرو في ذنوبكم كأنكم عبيد, والناس رجلان معافي و مبتلى فارحموا أهل البلاء في بليتهم واحمدوا الله على العافية

“Jangan memandang dosa-dosa orang lain seakan engkau adalah tuhan, lihatlah dosa-dosamu sendiri seakan engkau seorang hamba. Manusia ada yang diberi kesehatan dan ada yang diberi cobaan, tunjukkanlah kasih sayang kepada mereka yang sedang terkena cobaan dan bersyukurlah kepada Allah atas kesehatan”

Akhiran, semoga saudara-saudara kita di Banten dan Lampung yang tengah mengalami ujian semoga senantiasa diberi kesabaran dan ketabahan yang penuh hingga bisa melewatinya dengan lapang dada. Dan doa kebaikan senantiasa mengalir untuk para relawan-relawan yang bergerak di sana.(IM)

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta*

Lahum al fatihah..

*Puisi ‘Nisan’ karya Chairil Anwar

Nasihat Sahabat Abdullah bin ‘Amr

Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash ra. Pernah menuturkan, bahwa sesiapa yang dalam dirinya terkumpul lima amalan ini, maka niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pertama, ia senantiasa mengisi waktu-waktunya dengan berzikir: لا اله الا الله محمد رسول الله.

Berdzikir merupakan salah satu diantara ibadah yang ringan untuk dilakukan. Bukan saja karena hanya dengan lisan atau hati belaka, melainkan karena dengan mudah kita bisa merangkapnya bersama berbagai kegiatan lainnya semisal: menyapu, berkendara, memasak, atau pun pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sehari-hari kita lakukan.

Rasulullah saw. bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ عز وجل عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ وَ لَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ ُكلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Artinya: “Perbanyaklah berdzikir kepada Allah yang maha luhur lagi agung dalam berbagai keadaan. Karena tidak ada perbuatan yang lebih dicintai Allah dan lebih menyelamatkan seorang hamba dari keburukan dunia dan akhirat melebihi berdzikir kepada Allah” (HR. Ibnu Sorsori).

Kedua, tatkala mendapat cobaan ia berkata: لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم  إن لله وإن إليه راجعون

Yang artinya adalah, segala sesuatu sungguh dari dan kembali pada Allah semata dan tidak ada daya upaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah yang maha Luhur lagi Agung.

Dengan mengucapkan ini, disaat kesulitan melanda kita, setidaknya kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak pernah lepas dari garis yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga akan semakin menambah rasa kepasrahan kita kepada Allah swt. dan terhindar dari rasa putus asa.

Ketiga, tatkala ia diberi nikmat ia berucap: الحمد لله ربّ العالمين sebagai tanda syukurnya,

Dengan mengucap hamdalah kita sekaligus menginsyafi bahwa segala nikmat adalah anugerah dari dan milik Allah Ta’ala, sehingga diharapakan kita semakin menjauhi kesombongan dan kelalaian oleh sebab nikmat tadi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim: 7)

Keempat, tatkala memulai sesuatu senantiasa mengucapkan: بسم الله الرحمن الرحيم

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh baginda Nabi saw.:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر

Artinya: “Setiap perkara yang memiliki nilai baik namun tidak diawali dengan bismillah, maka akan kurang (kemanfaatannya)

Demikian hal ringan ini semoga bisa kita biasakan agar hal-hal yang kita lakukan menuai manfaat yang maksimal.

Kelima, tatkala ia melakukan sebuah dosa, ia berucap:  أستغفر الله العظيم وأتوب اليه

Nabi saw bersabda:

أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ  أَلا إِنَّ دَاءَكُمُ الذُّنُوبُ  وَدَوَاؤُكُمُ الاسْتِغْفَارُ

 Artinya: “Tidakkah kalian mau aku tunjukkan penyakit kalian sekalian beserta obatnya? Ketahuilah sungguh penyakit itu adalah dosa sdang obatnya adalah beristighfar” (HR. ad-Dailami)

Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, hendaknya kita selalu mengiringinya dengan istigfar kepada Allah swt. Bahkan baginda nabi yang terjaga dari dosa pun setiap harinya tidak kurang seratus kali bertaubat atau beristighfar kepada Allah swt.

 

Alangkah indah jika kita sekalian dapat dengan istiqomah mengamalkan sekaligus meresapi lima hal ringan yang dituturkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr tadi. Semoga.(IM)

Disarikan dar kitab Nasoihul Ibad, Imam Ahmad bin Hajar al-Asqolani, bab al-khumasi.

Khutbah Jum’at: Keutamaan Shalat Berjamaah

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أَلْحَمْدُ للهِ فَرَضَ عَلَى عِبَادِهِ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ بِأُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ وَأَمَرَهُمْ بِالْجَمَاعَةِ لِحِكَمٍ وَ أَسْرَارٍ جَلِيْلَةٍ وَجَعَلَ هَذِهِ الصَّلَاةَ مُكَفِّرَاتٍ لِمَا بَيْنَهُنَّ مِنْ صَغَائِرِ الذَّنْبِ وَالْخَطِيْئَةِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَالْبَرَرَة

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَعَظِّمْ وَتَرَحَّمْ وَ تَحَنَّنْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

أَمَّا بَعْدٌ: فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَادَ التَّقْوَى فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah..

Marilah senantiasa kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. yakni dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan menjauhi segala larangannya. Kita laksanakan taqwa sebagai bentuk nyata penghambaan kita kepada Allah swt. yang merajai alam semesta.

Disamping itu kita juga harus mengikuti perilaku Rasulullah saw. manusia sempurna yang menjadi rahmat bagi seru sekalian alam. Diantara kesunnahan yang ditekankan oleh beliau adalah shalat berjamaah. Hukum pelaksanaan jamaah dalam shalat lima waktu adalah sunnah muakkad, yakni merupakan perilaku Rasulullah yang sangat dianjurkan untuk diikuti oleh umatnya. Bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa hukum melaksanakan shalat berjamaah adalah fardlu kifayah, artinya di setiap kampung atau desa wajib diadakan shalat berjamaah sebagai syiar Islam. jika tidak, maka seluruh penduduk kampung tersebut memperoleh dosa.

Jamaah jum’at yang di rahmati Allah…

Shalat berjamaah memiliki manfaat yang sangat besar, baik dalam kaitannya dengan ibadah shalat yang dilakukan, maupun dalam hal hubungan sosial kemasyarakatan. Salah satu keistimewaan shalat berjamaah yang sangat besar adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. :

صَلَاةُ  الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya: “Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendiri dengan selisih 27 derajat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Shalat yang dilakukan dengan cara berjamaah juga lebih mudah untuk dapat diterima disisi Allah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab I’anatuthalibin, dengan berjamaah kekurangan salah seorang peserta dapat disempurnakan dengan yang lain, sehimgga seluruhnya dinilai menjadi shalat yang sempurna. Ibarat menjual buah jeruk, jika dijual satu persatu, tentu pembeli hanya akan memilih jeruk yang benar-benar bagus dan segar saja. Namun jika buah jeruk itu dijual dengan cara borongan maka jeruk yang kurang baguspun akan turut terbeli, demikian pula shalat kita.

Mengenai hal ini Rasulullah saw. dalam sabda beliau mengibaratkan, bahwa harimau hanya akan memangsa kambing yang jauh dari kawanannya, setan akan mudah merasuki orang yang terpisah dari jamaahnya. Rasulullah saw. bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِيْ قَرْيَةٍ أَوْ بَدْوٍ لَاتُقَامُ فِيْهِمُ الْجَمَاعَةُ إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Artinya: “Tidaklah disuatu desa atau sahara, yang tidak didirikan shalat berjamaah di antara mereka kecuali mereka akan dikuasai dan dikalahkan oleh setan. Maka dirikanlah shalat jamaah, karena sesungguhnya harimau akan memangsa kambing yang jauh dari kawanannya.”

Jamaah jum’at yang dirahmati Allah..

Dari sisi lain, dapat kita lihat bagaiman shalat berjamaah mengajarkan persamaan derajat antar sesama. Yang miskin bisa berdampingan dengan yang kaya, yang besar bisa berdampingan dengan yang kecil, yang tua bisa berdampingan dengan yang muda dalam satu barisan shalat. Ini merupakan suatu gambaran nyata bahwa di mata Allah, semua manusia itu sama, derajat maupun pangkat yang mereka peroleh di diunia ini tidak ada artinya di sisi Allah. Hanya ketaqwaan yang membuat manusia bisa mulia dan dekat di sisi Allah. Allah swt, berfiriman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “sesungguhnya orang yang paling taqwa diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13)

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Kisah Hikmah: Pengampunan di Bulan Rajab

Ada salah satu hadis dari Rasulullah SAW. Beliau pernah bercerita dalam sabdanya:

Sesungguhnya di balik gunung Qaf terdapat sebidang tanah putih. Debu tanahnya hampir menyerupai perak. Luas tanah itu seperti luas dunia tujuh kali, di tempat itu penuh sesak dengan para malaikat. Sehingga andai kata sebuah jarum dijatuhkan ke bawah, niscaya akan terjatuh di atas salah satu dari mereka.

Setiap tangan mereka memegang sebuah bendera. Bendera itu bertuliskan kata:

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Tiada Tuhan Kecuali Allah. Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Di setiap malam jum’at di bulan Rajab, mereka berkumpul di sekeliling gunung itu untuk merendahkan diri kepada Allah, dan memohon keselamatan untuk umat Nabi Muhammad SAW.

Dengan diiringi tangisan dan penuh harapan, mereka berdoa ,“Wahai Tuhan kami, kasihanilah umat Nabi Muhammad SAW. Janganlah Engkau siksa mereka”.

Setelah itu, Allah SWT berfirman, “Wahai para Malaikatku, apa yang kalian kehendaki?

Kami menginginkan Engkau mengampuni dosa umat Nabi Muhammad SAW.” Jawab para malaikat.

Mendengar jawaban itu, Allah SWT berfirman, “Aku telah mengampuni mereka.”

 

 

_______________________

Disarikan dari hikayat ke tujuh puluh, kitab An-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hlm. 63, cet. Al-Haromain