Tag Archives: KH. Ilham Nadzir

KH. Ilham Nadzir: Ngaji pada KH. Marzuqi Dahlan Seperti Minum Madu Murni

Kesederhanaan KH. Marzuqi Dahlan yang saya tahu tidak pernah berdandan (gak tahu macak, blas). Aktifitas keseharian beliau mengaji ke daerah Jampes dengan hanya bersepeda ontel (sepeda kuno tempo dulu). Bannya masih berupa ban ungkul (ban sepedanya terbuat dari karet utuh), sadel sepedanya yang  jengat dengan hanya diberi lilitan tali. Beliau juga suka berziarah ke makam-makam ulama dengan hanya menaiki bendi (dokar). Saya ngaji kitab Ihya itu pertama kali selama empat tahun, yang kedua selama enam tahun.

Jadi Mbah Marzuqi sangat memperhatikan urusan ngaji. Kiprah beliau berkenaan dengan membaca kitab untuk pertama kalinya sekitar tahun 1956 (sekitar dua tahun sepeninggal Mbah Kiai Abdul Karim). Padahal, Mbah Kiai Marzuqi itu kalau hafalan nahwu uangel poll. Jadi, “ka ‘abdi, ‘abdi, ‘abda, ‘abda, ‘abdiya, bolak-balik, diulang-ulang begitu. Dalam hati saya berkata, “Sa’jane iso pora to kiai iki (sebenarnya kiai ini bisa apa nggak sih).” Namun, yang membuat saya takjub, selanjutnya beliau sangat lancar dalam membaca kitabnya. Dadi, moco kitab tafsir druendel, ihya druundel, moco kitab-kitab liyane yo druendel (jadi baca tafsir begitu lancar, kitab ihya lancar, kitab-kitab lain juga lancar).’’ Sampai-sampai, saya merasa saat ngaji kepada beliau itu seperti minum madu murni. Begitu nikmat mendengarnya. Jadi, nggak usah diartikan sudah paham saya. Saat beliau membacakan kitabnya dengan sendirinya saya itu langsung paham.()

Sumber: Himasal Lirboyo

KH. Ilham Nadzir: Rahasia Lirboyo Banyak Santrinya

Sejak berdirinya pada era 1910 M, menurut saya Lirboyo merupakan pondok pesantren yang banyak diminati para petualang ilmu. Hal ini, tidak lain kira-kira lantaran doanya Mbah Kiai Abdul Karim. Sebab menurut cerita dari Kiai Manshur, perjuangan Mbah Kiai Abdul Karim sewaktu mondok di Bangkalan itu penuh dengan ujian hidup.

Semasa belajar ilmu di Bangkalan dilalui dengan melakukan berbagai riyadlah. Hal tersebut telah terbukti, untuk bisa makan tempe goreng saja, Mbah Kiai Abdul Karim harus menahan keinginannya selama tiga tahun lamanya. Di sela-sela waktunya yang penuh dengan perjuangan menimba ilmu itu, beliau juga menghafal Alfiyah sambil menanti baju yang sedang dijemurnya kering. Beliau itu hanya memiliki satu baju, jika sedang menjemur baju satu-satunya tersebut, biasanya beliau berendam di dalam air sambil menghafalkannadzam Alfiyah Ibnu Malik.

Mbah Kiai Abdul Karim itu merupakan sosok ulama yang mempunyai keikhlasan luar biasa. Sehingga wajar jika dikemudian hari perjuangan hidupnya yang penuh dengan penderitaan itu membuahkan hasil yang bisa dirasakan oleh anak cucunya hingga sekarang.()

Sumber: Pesantren Lirboyo