Tag Archives: kisah islami

Ada Cinta sebelum Surga

Ada seseorang yang ketika amalnya ditimbang pada Yaumul Mizan, amal baiknya kalah dengan amal buruknya. Maka selayaknya hukum diputuskan, ia diarahkan menuju tempat yang seharusnya: neraka. Lelaki ini bingung. Linglung. Tentu saja ia tak mau masuk neraka. Ia kemudian berkeliling, berputar-putar. Mencari siapa saja yang bisa menolongnya.

Ia datangi ibundanya. Ia merayu. Memohon untuk diberikan secuil saja pahalanya agar amalnya tidak lagi berat sebelah kiri. “Wahai Ibu. Berikanlah daku sejumput saja dari pahala kasih sayangmu saat merawatku.” Sang anak berharap kasih sayang ibundanya. Tentu saja seorang ibu tetaplah ibu, di manapun ia berada. Ia tetap mengasihi anaknya. Namun di hari akhir, tidak ada yang pantas dikasihi kecuali diri sendiri. Setiap orang akan mengkhawatirkan dirinya, dan tak peduli pada apa yang terjadi pada manusia sekitarnya.

“Maaf anakku. Ibumu sendiri tak tahu adakah pahalanya cukup pantas untuk melenggang ke surga.”

Sang anak kecewa. Tetapi ia tak putus asa. Ia datangi saudaranya.

“Wahai saudaraku. Sudikah kiranya engkau memberiku secuil pahalamu untukku?”

Tentu saja jawabannya tidak. Pun ketika ia mendatangi saudaranya yang lain. Saudara yang jauh. Saudara yang lebih jauh. Kawan sejawatnya. Siapapun yang ia anggap mampu menolongnya. Nihil. Tak ada satupun dari mereka yang mau memberikannya pertolongan.

Kali ini ia benar-benar putus asa. Tidak satupun orang yang mau merelakan pahalanya untuk sekadar membantu timbangannya berat ke kanan. Saat di dasar lembah keputusasaan itulah ada suara-suara memanggilnya. Ia sangat mengenal suara itu. Suara kawannya semasa di dunia.

“Hei. Hei.” Sang kawan itu berlari melihatnya akan ditenggelamkan ke neraka. “Aku rela.” “Aku relakan seluruh kebaikanku demi keselamatan salah satu diantara kita.” “Itu lebih baik daripada kita berdua masuk ke neraka.”

Ia, yang sempat putus asa itu, akhirnya diperintahkan untuk masuk surga. Ia pun bergegas menuju surga. Tetapi kemudian terdengar sebuah seruan, “Tidaklah ada seorang yang melupakan kawannya masuk neraka, sementara ia melenggang sendirian ke surga.” Seketika ia bersujud. Melenyapkan ego dirinya di hadapan suara itu.

Dan yang terjadi kemudian adalah keduanya, lelaki pertama dan kawan baiknya itu, mendapat syafaat dari Allah. Allah sendiri yang memerintahkan mereka berdua masuk ke dalam surga.

Kisah ini disarikan dari hadits Rasulullah saw di dalam kitab Durrah an-Nashihin. Halaman 222.

Kisah Pelacur Yang Ikut Mobil Kiai

Pernah suatu ketika saat satu mobil dengan KH. Ali Yahya Lasem (Alm.) beliau menceritakan bahwa suatu hari saat hendak mengisi pengajian di Jepara ada seorang wanita yang mendekatinya saat mobil berhenti di lampu merah. Karena wajah beliau yang rupawan dan kebetulan saat itu sedang tidak memakai kopiah dan sorbannya, wanita itu menyangka bahwa beliau adalah seorang turis.

“Malam, om” sapa wanita itu dari balik jendela mobil.

“Malam” jawab beliau

“Ikut dong, om. Boleh ya..”

“Boleh, boleh. Silahkan masuk”

Wanita itu pun masuk dalam perjalanan Kiai Ali.

“Om mau kemana? Butuh aku nggak? Aku temenin ya, om. Sampe pagi”

Sambal memakai kembali kopiah dan sorbannya, Kiai Ali menjawab,

“Ini, mau ngaji di Jepara”

Menyadari bahwa lelaki yang di hadapannya adalh seorang kiai, wanita itu pun gugup alang bukan kepalang.

“Maaf pak kiai, saya benar-benar tidak tahu.”

“Oh, ndak apa-apa, mbak. Sekali-kali, kan ikut pengajian.” Jawab Kiai Ali dengan santainya.

“Tidak usah kiai, saya turun di sini aja”

Ndak bisa, tadi kan kamu bilang mau ikut.” Bujuk Kiai Ali.

Wanita itu bertambah gugup dan bingung.

“Tapi, Kiai. Saya tidak pakai jilbab”

“Nanti saya pinjamkan jamaah”

Beruntung pada saat itu si wanita mengenakan pakaian yang agak sopan.

“Tapi saya malu, kiai.”

Sampean jadi kayak gini aja ndak malu, masa ikut pengajian malah malu.”

“Saya takut, kiai.”

“Sudah tenang saja” tutur Kiai Ali

Setelah sampai di tempat, Kiai Ali langsung mengutarakan pada salah seorang jamaah

“Maaf, bu. Bisa pinjam jilbab. Ini bu nyai saya lupa pake jilbab”

Dengan sedikita kebingungan ibu itu menjawab,

“Iya bisa, Kiai. Saya ambilkan.”

Setelah memakainya, wanita itu turun dari mobil. Dan betapa terkaget-kagetnya ia karena ibu-ibu jamaah langsung mengerumuninya untuk bergantian mencium tangannya.

Mendapat penghormatan seperti itu seketika wajah wanita itu langsung pucat, lisannya kelu diam sejuta bahasa dan tubuhnya pun serasa kayu. Ia begitu merasa terhormat dipersilahkan masuk lalu dijamu dan dilayani dengan sebaik-baiknya layaknya benar-benar isteri sang Kiai.

Setelah pengajian selesai, jamuan makan dihidangkan (tempat hanya terpisah kiri dan kanan dengan tempat kyai, jadi masih tetep terlihat). Dan sebelum acara makan-makan dimulai, di tempat jamuan wanita tadi, para ibu-ibu jamaah memohon barokah doa dari wanita tadi. Allahu Akbar..!! Bagaikan disambar petir saat ia dimintai barokah doa. Beruntung masih hafal ROBBANA ATINA..

Seperti saat baru datang, wanita tadi kembali di kerumuni ibu-ibu untuk bergantian cium tangan. Dan saat menuju mobil pun diantar oleh para jamaah.

Di dalam mobil, wanita itu menangis sejadi-jadinya, layaknya orang yang baru saja terkena musibah besar.

Setelah tangisnya agak reda, Kiai Ali mulai mengajaknya bicara,

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana cara orang-orang tadi memperlakukanmu, menghormatimu, mengerumunimu, mengantarkanmu dan mereka juga rela menunggu hanya untuk dapat menciumi tanganmu, bahkan meminta barokah doa darimu. Padahal tidak tahu siapa sebenarnya dirimu? Yaitu manusia yang tak ubahnya seperti sayuran-sayuran yang dijual dipasar.”

Tangis wanita itu semakin mendalam, air matanya semakin deras mengali. Namun Kiai tetap melanjutkan nasihatnya.

“Ketika kamu menjual sayuran kangkung, bayam dan terong, kamu masih memiliki martabatmu. tetapi ketika kamu menjual dirimu sendiri, kamu sudah tidak lagi memiliki harga dihadapan Allah. Hari ini kamu mendapatkan pelajaran yang mungkin terbesar dalam hidupmu, maka segeralah bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum kamu bertaubat.”

Dari tangisnya yang belum reda, sambil terisak-isak wanita itu bertutur kepada Kiai Ali,

“Terimakasih Kiai atas pelajarannya. Dan lewat dari kejadian ini, mulai saat ini saya bertaubat dan akan berhenti dari pekerjaan laknat ini. sekali lagi saya sangat berterimakasih, Kiai.”


Alhamdulillah. Berkah tindakan bijaksana seorang kyai, bisa menyentuh hati seorang pelacur hingga bertaubat.

-Dishare dar Fb: Hamim Hr, dosen Mahasantri Mahad Aly Lirboyo semester VIII.

Abu Tholhah Menjamu Tamu Rasulullah Saw.

Imam al-Bukhari dan Muslim serta para pakar Hadis yang lain meiwayatkan sebuah hadis yang mengisahkan bahwa suatu hari ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah Saw lalu berkata,

“Wahai Rasulullah, aku dlama keadaan payah.”

Lalu Rasulullah mengirimkan utusan pada isteri beliau untuk menanyakan adakah makanan untuk menjamu tamu. Ternyata tidak tersisa sedikit pun makanan pada siteri beliau.

Lalu beliau menawarkan kepada para sahabatnya,

“Adakah seseorang seseorang yang bersedia menjamu tamuku pada malam hari ini?”

Seorang sahabat dari kaum Anshor yang bernama Abu Tholhah menjawab,

“Saya Rasulullah”

Lalu ia pun membawa tamu tersebut menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah, diam-diam ia menyampaikan kepada isterinya,

“Muliakan tamu Rasulullah, keluarkan makanan-makanan kita,”

Lalu isterinya menimpali,

“Demi Allah, sisa makanan kita hanya tinggal untuk anak-anak saja.”

Mendengar demikian Abu Tholhah menjelaskan kepada isterinya,

“Baiklah, nanti saat anak-anak kita ingin makan malam, ajaklah mereka tidur. Untuk malam ini, padamkanlah lampunya, kita akan menahan lapar demi tamu Rasulullah.” Saat hari sudah gelap, dan penerang sudah dimatikan yang terdengar hanya dentingan sendok yang menyentuh piring dari Abu Thalhah, isteri dan tamunya. Namun dalam gelap malam itu, sebenarnya hanya sang tamu yang menyantap makanan. Tuan rumah sengaja memadamkan lampu agar sang tamu bisa lega menyantap makanan tanpa sungkan karena melihat tuan rumah yang ternyata tidak punya makanan selain itu.

Makan Siang Rasulullah

Dalam suatu perjalanan, Rasulullah saw. beserta para sahabatnya berhenti di suatu tempat untuk beristirahat dan makan siang. Beliau memerintahkan para sahabat untuk menyembelih seekor kambing dan mempersiapkannya.

Mendengar itu, seorang sahabat berkata, “Biar aku yang menyembelihnya”

Yang lain menimpali, “Aku yang mengulitinya.”

Seorang sahabat lagi berkata, “Aku yang memasaknya”

Melihat hal tersebut, Rasulullah pun berkata, “Aku yang akan mencarikan kayu bakar dan menyalakan apinya untuk kalian”

Mendengar perkataan Rasulullah demikian, tentu saja para sahabat tidak rela sang junjungannya sampai ikut repot mempersiapkan makanan.

“Tidak usahlah baginda merepotkan diri seperti itu, biar kami saja yang mencari kayu dan mempersiapkan apinya.

Demi mendengar permintaan para sahabatnya itu, Rasulullah menjawab,

“Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin melebih-lebihkan diriku diantara kalian dan terlalu bergantung kepada orang lain. Karena, sungguh, Allah tidak mencintai kepada hambanya yang gemar melebih-lebihkan diri dan suka bergantung kepada orang lain.”*

Padahal beliau sudah mulia sejak sebelum dunia diciptakan, namun itulah diantara atom percikan Khuluqin ‘Adzim yang Allah swt firmankan dalam kitab-Nya,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

 “Sungguh engkau benar-benar berbudi pekerti luhur.”

*Diterjemahkan dari kitab Muhammad al-Insan al-Kamil, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani hal. 171.