Tag Archives: Ponpes Lirboyo

Majelis Dzikir wa Maulidurrosul & Haul Masyayikh Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Kamis malam Jumat (27/06) ribuan santri putra dan putri menghadiri acara Majelis Dzikir wa Maulidurrosul & Haul Masyayikh Lirboyo di Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

Acara yang dimulai setelah maghrib itu diawali dengan membaca manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani bersama hingga pukul sepuluh malam.

Silah (hubungan) kita dengan wali-wali Allah adalah dengan cara Manaqiban”, tutur KH. Melvin Zainul Asyiqin Imam dalam sambutan beliau. Dalam artian, semua hal yang ada di dunia ini selalu membutuhkan sebuah koneksi dengan orang-orang alim, terlebih dengan para Wali dan Nabi Allah Swt, Silah kita kepada nabi tidak lain adalah dengan membaca sholawat sebanyak-banyaknya.

Baca juga; Dawuh KH. M. Anwar Manshur : Perintah Rasulullah untuk para pelajar.

Beliau juga berpesan kepada para santri agar menguatkan kembali tekad belajar di pesantren, terutama untuk santri-santri yang baru masuk ke pesantren.

Manaqiban menjadi acara rutinan setiap tahunnya, yang diadakan oleh yayasan al-Mahrusiyah Lirboyo.

Acara itu ditutup dengan mauidzoh hasanah dan doa yang disampaikan oleh Al-Habib Syekh bin Mustofa Ba’abud hingga pukul sebelas malam.[]

Haul KH. Marzuqi Dahlan ke-43

LirboyoNet, Kediri – Suasana malam yang cerah menyelimuti nuansa khidmat haul KH. Marzuqi Dahlan kamis malam jumat kemarin (26/07). Bertempat di ndalem lama KH. A. Idris Marzuqi, acara ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan. Tamu-tamu yang datang termasuk para ulama dan kiai di sekitar kota Kediri, dzurriyah KH. Abdul Karim, masyarakat desa Lirboyo, dan pengurus Ponpes Lirboyo.

Acara tersebut merupakan haul beliau yang ke-43 tahun. Beliau wafat pada 18 Nopember tahun 1985 M, atau bertepatan dengan 14 Dzulqa’dah 1395 H. Selain memperingati haul KH. Marzuqi Dahlan, malam kemarin juga sekaligus menjadi peringatan haul Hj. Maryam binti KH. Abdul Karim yang merupakan istri beliau, dan segenap dzurriyah KH. Marzuqi Dahlan yang telah wafat.

Seperti umumnya peringatan haul, acara dibuka dengan pembacaan tawassul kepada nama-nama yang hendak dihauli. Dilanjutkan dengan membaca surat yasin, tahlil, dan ditutup doa.

Dalam sambutan atas nama keluarga, KH. Yasin Asymuni menuturkan kenagan beliau tentang sosok dan pribadi KH. Marzuqi Dahlan. Menurut beliau, sosok Mbah Juki, panggilan KH. Marzuqi Dahlan, adalah orang yang sangat khusyuk dalam menjalankan salat. Mbah Juki  amat meresapi setiap bacaan dan gerakan salat yang beliau lakukan. “Mbah Kiai Marzuqi, ingkang kulo ningali, menawi wahosan, niku estu-estu tadabbur. Estu-estu dipun resapi, dipun wahos, mboten cepet-cepet.” (Mbah Kiai Marzuki, yang saya lihat, terkait bacaan salat itu sangat-sangat tadabbur. Sangat-sangat diresapi. Dibaca, tidak cepat-cepat.) Kenang  Kiai Yasin.  “Insyaallah, ingkang sepuh-sepuh, taseh semerep, saget ngraosaken.” (Insyaallah, alumni-alumni senior yang mengetahui beliau, bisa merasakan.) Pungkas Kiai Yasin.

Semoga berkah dari KH. Marzuqi Dahlan dapat kita rasakan terus sampai kapanpun. Alfatihah……[]

Kisah Dua Karung Beras Ditukar Daun Mengkudu

“Tirakate Mbah Abdul Karim luar biasa. Kulo, kiai Kafabih (KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus) niku mboten wonten nopo-nopone. Mboten saget tirakat kados Mbah Abdul Karim,” kenang KH. M. Anwar Manshur dalam peringatan Haul KH. Abdul Karim, Kamis (15/06).

Salah satu yang beliau kisahkan, adalah bagaimana simbah Abdul Karim menyambung hidup semasa mesantren di Bangkalan. Setelah nderep (mengumpulkan beras) dari berbagai tempat, beliau berhasil mengumpulkan dua karung beras. Beliau sudah ditunggu temannya di satu tempat sebelum berangkat ke pesantren.

Kebetulan, ketika beliau sampai di pesantren, Kiai Kholil keluar rumah dan melihat seorang santrinya membawa karung penuh beras. “Peneran, iki pitikku luwe.” Beras dua karung hasil upaya keras beliau ditebar seketika itu. Entah, tebaran beras itu ludes bersih dalam beberapa saat saja. “Iku berasmu tak ijoli godong bentis (mengkudu),” perintah Kiai Kholil. Simbah Abdul Karim hanya diam. Di hari-hari kemudian perut beliau hanya berisikan daun mengkudu. “Mboten kados santri-santri sakniki. Mangane enak-enak,” sambung Kiai Anwar.

Di sela-sela kisah ini, beliau berpesan kepada hadirin, “Masio gak 50 persen, sepuluh-sepuluh persen ibadahe Mbah Abdul Karim ayo dicontoh. Dilakoni. (Meski tidak bisa 50 persen, paling tidak sepuluh persen ibadah Mbah Abdul Karim mari kita contoh, kita lakukan).”

Untuk simbah KH. Abdul Karim, Al-Fatihah.

Ramainya Festival Seribu Nadzam

LirboyoNet, Kediri – KH. Abdul Karim pernah dawuh, “mahare wong belajar alfiyah iku kudu apal.” Dengan berpedoman pada maqolah ini, para santri pun berlomba-lomba dalam menghafal bait-bait nadzam pelajaran mereka. Di pekan-pekan ini, ada beberapa kegiatan menarik dari para santri, yang berkaitan dengan hafalan nadzam.

1002 Bait Alfiyah

Pertama, diadakannya festival seribu nadzam alfiyah. Pesertanya khusus para siswa kelas dua tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM). Berlangsung sejak Jumat malam Sabtu (24/02) kemarin, tercatat tidak kurang dari 400-an siswa yang mendaftar. Jumlah itu kurang lebih separuh dari jumlah keseluruhan siswa dua tsanawiyah, yakni sekitar 790-an. Sebagian dari mereka telah khatam menghafal 1.002 bait nadzam Alfiyah sebelum mereka naik tingkatan ke Tsanawiyah. Sebagian lagi baru mempersiapkan diri untuk ikut festival di detik-detik akhir menjelang pelaksanaan festival. “Saya bersyukur dapat ikut meramaikan festival ini. Padahal, sebelumnya saya ragu. Lah wong satu minggu sebelum hari H, nadzam saya masih kurang 100 bait lagi,” tukas Sholehudin, santri asal Pekalongan.

Dalam rangkaian pelaksanaannya, mereka harus melewati tiga tahap ujian. Pertama, mereka harus menyetorkan tiga ratus nadzam pertama kepada satu penguji. Setelah dirasa lancar, mereka kemudian beralih ke penguji ke dua. Di sini, mereka harus mampu membacakan tiga ratus nadzam selanjutnya dengan baik. Dan di tahap ketiga, mereka wajib menyetorkan empat ratus nadzam terakhir dari nadzam yang digubah oleh as-Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusy ini.

Tidak berhenti di situ. Bagi yang berminat, mereka dapat melanjutkan ujian ke tahap VIP, atau hafalan nadzam beserta murad (penjelasan singkat) dari nadzam itu. Tentunya, tahap ini lebih sulit karena mereka tidak hanya mempersiap nadzam saja, tetapi juga perlu mempelajari kembali makna-makna yang telah didapat, sehingga teks-teks Alfiyah bisa mereka pahami dengan benar. Dengan memahami teks Alfiyah, mereka telah mendapatkan bekal sangat penting dalam memahami kosakata arab, yakni ilmu nahwu dan ilmu sharaf.

1005 Bait Uqudul Juman

Festival ini dikhususkan bagi para siswa yang telah menginjakkan kaki di tahap akhir sekolah, yakni kelas tiga aliyah MHM. Dari total 460-an siswa, tidak kurang dari 180 siswa yang mengikuti festival ini. Bertempat di gedung Al-Ikhlas II, mereka dibagi menjadi dua gelombang pelaksanaan. Pertama, hari Ahad malam Senin diperuntukkan bagi siswa bagian C dan D. Di hari berikutnya, giliran siswa bagian A dan B untuk menyetorkan bait nadzam milik as-Syaikh Abdurrahman Jalaludin as-Suyuthi ini.

Tidak semua siswa sukses dalam festival ini. Salah satunya Farhan, siswa asal Mojokerto. “Saat saya setor ke teman-teman, saya rasa (nadzam saya) sudah lancar. Tapi saat berada di depan penguji, hafalan saya kacau.” Meskipun ia gagal dalam tahap ini, ia masih memiliki harapan lagi. Karena, akan ada ujian her bagi mereka yang dirasa kurang memenuhi syarat untuk dianggap lulus dalam menghafal keseluruhan 1005 bait nadzam ini.

Perlu diketahui, nadzam Uqudul Juman memuat pelajaran balaghah, atau seni sastra bahasa arab. Ada tiga unsur penting yang dipelajari dalam nadzam ini: ilmu ma’ani (keselarasan makna), ilmu bayan (keselarasan penjelas), dan ilmu badi’ (keindahan ungkapan). Tiga unsur inilah yang dipelajari para santri sejak kelas satu hingga tiga Aliyah.

Bagi semua siswa, hafalan nadzam sebenarnya bukan hanya sebatas untuk dihargai dalam festival saja. Lebih dari itu, hafalan adalah sebuah sistem yang dibangun oleh MHM untuk mempermudah pemahaman pelajaran bagi para siswa. Terbukti, di semua tingkatan lain, juga diberlakukan sistem hafalan ini. Tidak hanya nadzam, tetapi juga keterangan-keterangan penting dan beberapa catatan terkait pelajaran, harus mereka hafalkan setiap hari. Dengan begitu, mereka akan menguasai dua sistem pembelajaran paling efektif yang telah dirumuskan oleh ulama terdahulu, yakni hafal dan faham dalam materi pelajaran.][

HIMASAL Kediri Istighotsah Bersama Demi Keutuhan Negara

LirboyoNet, Kediri – Ahad pagi (26/02) kemarin, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) cabang Kediri mengadakan kegiatan istighosah bersama. Mereka laksanakan istighosah itu di Masjid Al-Hasan Mojoroto, yang masih berada di dalam lingkungan Ponpes Lirboyo.

Pelaksanaan istighosah ini berkaitan dengan himbauan dari masyayikh untuk bersama-sama mendoakan bangsa dan Negara, yang bertujuan untuk menunjukkan partisipasi dalam menjaga keutuhan Negara (baca: Instruksi Menggelar Istighotsah).

Hadir dalam acara itu, KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Ponpes Lirboyo, dan segenap dzuriyah. Selain itu, istighosah ini juga dihadiri oleh jajaran aparatur polisi kota Kediri. Juga tak ketinggalan pengurus PCNU Kota Kediri. Sementara, ratusan alumni kota dan kabupaten Kediri memenuhi bagian dalam masjid dan sebagian halaman. Mereka mulai berdatangan sejak pukul 07.00 WIB.

Adapun rangkaian acara istighosah ini selesai menjelang dhuhur, sekitar pukul 11.00 WIB. Banyak harapan dari para peserta dengan adanya kegiatan ini. Salah satunya, kehidupan bermasyarakat semakin harmonis dengan lebih eratnya persatuan antar masyarakat Indonesia, baik sipil maupun aparatur negara.