All posts by Niqo Maimun Mahera

Hikmah Taat pada Guru

Hikmah Taat pada Guru | Taat pada guru merupakan kewajiban bagi seorang murid. Dalam sebuah hikayat, Syaikh Kholil Bangkalan–yang termasuk guru besar pada zamannya–banyak sekali menerima tamu di kediaman beliau.

Di suatu malam, hujan turun deras sekali. Saat itu, orang tua dengan kondisi lumpuh, berjalan merayap di pelataran. Ia bertujuan ingin menemui Syaikh Kholil.

Kiai Kholil pun melihatnya, lalu berkata pada para santri, “Siapa yang menghendaki untuk menggendongnya?” Seorang santri lalu menjawab, “Aku bersedia.”

Baca juga: Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Ketika santri itu datang membawa orang tua tak dikenal tadi, Kiai Kholil menyambutnya dan memuliakan orang tua tersebut. Setelah sekian lama berbincang. Kiai Kholil lalu bertanya pada para santri, “Siapa yang menghendaki mengantar orang tua ini pulang?”, Seorang santri yang tadi menggendong orang tua kepada Kiai Kholil pun menyanggupinya kembali.

Ketika Santri tersebut berangkat, Kiai Kholil lantas berkata kepada para santri, “Bersaksilah, bahwa ilmuku telah dibawa oleh Santri tadi.”

Setelah kejadian itu, diketahui bahwa ternyata orang tua yang lumpuh tersebut adalah Nabi Khidir As. Lalu Santri yang membawa orang tua tersebut kembali, tidak lain adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang menjadi Rais Akbar Nahdlatul Ulama.

Hikmah Taat pada Guru

Tonton juga: Nasionalisme Religius | Ensiklopedia Buku Lirboyo

Tentang Menjauhi Larangan

Tentang Menjauhi Larangan

Perlu diketahui bahwa agama memiliki dua bagian. Pertama menjauhi larangan, selanjutnya menjalankan ketaatan. Menjauhi larangan adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan. Ketaatan bisa saja dilakukan oleh setiap orang, meskipun bersamaan dengan melakukan kemaksiatan. Di sini, menjauhi larangan tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh mereka yang jujur.

Jujur kepada diri sendiri bahwa ia tidak akan lagi mengulangi apa yang menjadi larangan dalam agamanya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw:

اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ اَلسُّوْءَ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ هَوَاهُ

“Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan, dan orang yang jihad adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya.”

Ketika Allah memberikan ujian pada anggota tubuh kita, itu merupakan nikmat dari-Nya, juga amanah yang harus dijaga. Jika ujian dari Allah dibalas dengan kemaksiatan, maka sama halnya kita sebagai hamba tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh-Nya.

Memelihara anggota tubuh

Karena anggota tubuh adalah hal yang kita pelihara. Dan setiap pemelihara akan ditanyakan perihal peliharaannya kelak.

Sudah dijelaskan pula bahwa kelak, anggota tubuh kita akan bersaksi tentang apa yang kita lakukan dengannya. Selaras dengan ayat dalam surah An-Nur ayat 24, yang menjelaskan akan hal tersebut:

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nur : 24)

Dan pada ayat:

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin : 65)

baca juga: Larangan Memaki Agama Lain
baca juga: Larangan Memberontak Pemerintah

Dengan demikian, menjaga seluruh anggota badan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, terutama tujuh anggota badan. Antara lain; mata, telinga, lisan, perut, kemaluan, tangan, dan kaki. Karena neraka memiliki tujuh pintu, dan setiap pintu diperuntukkan bagi mereka yang bermaksiat pada Allah, dengan masing-masing tujuh anggota tersebut.

Semoga kita semua bisa menjaga semua anggota badan, dari segala sesuatu yang buruk.

Tonton juga: Sudahkah Anda Ngadep Dampar Hari ini?

Adab Mengenakan Pakaian

Adab Mengenakan Pakaian

Islam telah mengatur berbagai detail permasalahan dalam kehidupan, Walaupun hal tersebut hanya mencakup pada hal-hal yang remeh. Keadaan ini bisa ditilik seperti menggunakan pakaian. Ternyata, menggunakan pakian juga memiliki adabnya tersendiri.

Biasakan ketika akan mengenakan pakaian niatkanlah untuk menjalankan perintah Allah, yakni menutup aurat. Takutlah jika niatmu mengenakan pakaian agar dipandang oleh makhluk lain.

Mengenakan pakaian yang bagus jika diniatkan untuk menghormati guru, atau menghimbau orang lain agar semangat beribadah, bukan untuk menunjukkan dunia yang telah ia peroleh. Maka, hal tersebut menjadi hal yang baik, dan merujuk pada amal akhirat.

Sebagian ulama mengatakan; seharusnya seorang yang alim dan pencari ilmu di zaman sekarang ini, mengenakan pakaian yang bagus, agar ilmu dianggap hal yang mulia. Seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah kepada santri-santrinya:

عَظِمُوا عَمَائِمَكُمْ وَوَسِعُوا أَكْمَامِكُمْ لِئَلَّا يَسْتَخِفَّ النَّاسُ بِالعِلْمِ وَاهْلِهِ

Agungkanlah imamahmu, dan longgarkanlah lengan bajumu, supaya orang-orang tidak meremehkan ilmu dan pemiliknya.

Adab Mengenakan Pakaian

Baca juga: DAWUH KH. ABDUL KHOLIQ RIDLWAN: WAKTU SEPERTI PAKAIAN
Simak juga: Keteladanan KH. Imam Yahya Mahrus | KH. An’im Falahuddin Mahrus

Kepedulian Islam dalam Kekeluargaan

Kepedulian Islam dalam Kekeluargaan

Kepedulian Islam dalam masalah kekeluargaan, sudah dijamin dengan adanya beberapa hukum dalam kekeluargaan. Dalam syariat pun sudah terperinci akan hal tersebut. Banyak sekali dalam surat Al-Quran atau hadis Rasulullah Saw; yang membahas perihal waris, wasiat, nikah, talak, dan lain sebagainya.

Juga telah disebutkan beberapa sebab-sebab yang menimbulkan perpecahan dalam kasih sayang.

Pertama, Talak

Dalam Islam, talak merupakan sesuatu yang sangat-sangat merugikan dalam sebuah hubungan. Perpisahan antara dua pasangan pun terjadi karena hal ini. Talak juga akan mengakibatkan anak-anak mereka tersia-siakan. Menjadikan kasih sayang berbalik menjadi kebencian. Ini adalah sebab talak tidak direkomendasikan dalam Islam.

Kedua, durhaka pada kedua orang tua

Sesungguhnya syariat melarang dan memberikan peringatan akan hal tersebut. Menganjurkan setiap muslim agar selalu berbuat baik kepada keduanya, sudah jelas tertera dalam Al-Quran dan hadis. Hak kedua orang tua berhubungan langsung dengan hak Allah, seperti firman Allah dalam surah Al-Isra’ ayat 23-24 :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Rasulullah pun telah bersabda:

ثلاثة لا ينظر الله اليهم يوم القيامة العاق لوالديه ومدمن الخمر والمنان.

“Tiga orang yang Allah tidak akan melihatnya di Hari Kiamat; Orang yang durhaka pada orang tua, pecandu khamr (minuman keras atau sejenisnya), dan orang yang mengharapkan apa yang ia berikan.”

Tidak ada yang meragukan bahwa durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa yang sangat besar.

Ketiga, memutus silaturahim.

Islam juga melarang hal ini, karena ada firman Allah dalam Surah Muhammad ayat 22 :

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ اِنۡ تَوَلَّيۡتُمۡ اَنۡ تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَتُقَطِّعُوۡۤا اَرۡحَامَكُمۡ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?

Terakhir adalah zina. Hal ini adalah yang paling merusak kekeluargaan. Rusaknya moral sebuah bangsa, ditengarai dengan bebasnya pergaulan. Tidak ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Berapa banyak orang yang harus kehilangan masa depannya yang emas akibat perzinaan.

Semoga kita semua dijaga oleh Allah dari segala sesuatu yang merusak kekeluargaan dengan cara Islam.

Baca juga: SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN
Simak juga: KENAPA HARUS MEMONDOKKAN ANAK? || KH. ABDULLAH KAFABIH

Adab Terbangun dari Tidur

Adab Terbangun dari Tidur

Ketika terbangun dari tidur, berusahalah untuk bangun sebelum keluarnya fajar. Hal yang pertama dilakukan ketika bangun adalah zikir kepada Allah dalam hati maupun lisan. Maka, ucapkanlah:

ِاَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ اَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَاِلَيْهِ النُّشُوْر

Karena Rasulullah SAW, bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ، فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

Setan berada di tengkuk (sebelah belakang leher) kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan dan syaitan mengikatkannya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya lalu (dikatakan) kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.

Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudhu’ maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas beraktifitas“.

Dengan demikian, membaca doa setelah bangun dari tidur selain menjadi kesunahan bagi setiap muslim, juga menjauhkan dari godaan-godaan setan di sepanjang harinya.

Adab Terbangun dari Tidur

Baca juga: Membangunkan Orang yang Belum Salat
Lihat: Muharam, Momentum Bermuhasabah
Baca juga: Amalan Bulan Mulia Muharram
Jangan lupa buka juga: Hukum Tidur di Masjid
Baca juga: Kiai yang Tak Pernah Tidur
Tonton juga: Istighasah Menghadapi Musibah