All posts by Niqo Maimun Mahera

Imam An-Nawawi: Sang Idola Fuqoha Masa Kini

Imam An-Nawawi yang memiliki nama lengkap Abu Zakaria Muhyiddin Yahya Bin Syaraf Bin Murri Bin Hasan Bin Husein Bin Muhammad Bin Jum’ah Bin Hizzam Al Khizami An Nawawi.

Julukan Muhyiddin dikarenakan beliau dalam dakwahnya menjernihkan/memperjuangkan madzhab Syafi’i. Maka tak heran sebagian besar karya beliau yang masyhur di bidang fiqh metodologi Imam Syafi’i. Sedangkan nisbat An-Nawawi sendiri adalah nisbat nama desa asalnya yang bernama Nawa. Beliau lahir pada pertengahan bulan Muharram 631 H. atau 1233 M. sejak lahir tinggal di desa Nawa  dengan didikan ayahnya. Masa kecilnya suka membaca al-Qur’an, berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Pendalaman ilmu al-Qur’an menjadi pijakan selanjutnya hingga beliau berumur 19 tahun, selama itu dihabiskan dalam keilmuannya untuk al-Qur’an. Suatu saat pada usia 7 tahun, ketika beliau tidur dipangkuan ayahnya, Imam An-Nawawi tiba-tiba bangun dari tidurnya.

Kemudian, melihat cahaya berada disekitarnya memenuhi ruangan, sedangkan yang bisa melihat hanya beliau saja dan pada malam itu tepat pada tanggal 27 Ramadhan bertepatan dengan Lailatul Qadr. Hal ini membuat heran baginya ketika diungkapkan pada sang ayah. Sedangkan ayah beliau tidak tahu apa-apa dikarenakan tidak melihat apa yang dilihat oleh sang anak. Mungkin, berkah mendapat Lailatul Qodr, menjadikan kecerdasan dalam mencari ilmu.

Ketika berusia 19 tahun, Imam An-Nawawi baru mondok. Tempat mondoknya pun tidak jauh dari desa kelahirannya. Tepatnya di Ar-Ruwahiyyah selama 2 tahun, kemudian pergi haji bersama ayahnya dan setelah itu berpindah-pindah tempat dalam mencari ilmu.

Guru-guru Imam an-Nawawi

Diantara guru-guru Imam An-Nawawi yaitu Syech Jamaluddin bin Abdul Kahfi bin Abdul Malik Ar-Roba’i, Syech Abi Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Muhadzab, Syech Ridho bin Burhan Zain Kholid Abdul Aziz Al Hamawi, Syech Syihauddin Abu Syamah, Syech Jamaluddin Abdullah bin Malik Al- Andalusi.

Dari segi banyaknya guru beliau, kepergian dalam mencari ilmunya tidak sampai keluar negara dikarenakan cukup dengan pendalamannya dan cinta dengan negaranya. Sampai-sampai ketika Imam Ibnu Malik singgah di Damaskus, kesempatan tersebut langsung ditanggapinya, seketika beliau mencarinya untuk belajar Ilmu dalam fan yang dimiliki Imam Ibnu Malik.

Kepergian Imam An-Nawawi dalam mencari ilmu pun seperti santri salaf ketika mondok di Pesantren, yaitu dengan diiringi tirakat. Diantaranya adalah beliau tidak pernah tidur, kalau pun tidur waktunya sangat sedikit. Waktu beliau hanya untuk mempeng dalam belajar berbagai kitab. Dalam makan beliau hanya makan remukan roti dan tidak pernah makan cemilan khas Damaskus yang akibatnya mudah mengantuk. Maka dari itu, oleh beliau makanan tersebut dihindari.

Gaya hidup Imam An-Nawawi

Dalam segi pakaian sangat sederhana sekali, dalam artian apa yang dibutuhkan hanya sebagai pakaian syar’an wa adatan. Adab Beliau kepada guru-gurunya selalu takzim dan husnudzan dengan apa yang diperintahkan gurunya, diikuti tanpa berprasangka yang lain. Sikap beliau kepada gurunya yang menjadikanya murid kesayangan. Dari sisi toriqoh mencari ilmu, yang dipandang bukan seberapa jauh perginya, tetepi seberapa kedalaman ilmu yang didapat.

Keseharian Imam An-Nawawi dalam segala aspek memang ditempuh dengan jalan yang tidak seperti santri pada umumnya. Hasil yang didapat pun berpengaruh dengan apa yang dijalani beliau. Tidak hanya dari segi tirakat dan thoriqohnya saja melainkan giat dalam belajarnya juga. Dalam sehari semalam beliau paling tidak menghabiskan 12 pelajaran untuk dipelajari.

Dari 12 pelajaran, yang sering dipelajari adalah ilmu hadis dengan kitabnya Hadits fii Jam’i baina Shohihain dan Shohih Muslim, kemudian ilmu fiqihnya ada kitab Al- Washith dan Kitab Al-Muhadzab, dilanjut ilmu Lughot, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Balaghoh, Ilmu Mantiq, Ilmu Shorof, Ilmu Sejarah, Ilmu Ushuluddin, Qoidah Fiqih, Ilmu Tafsir, dan ilmu Kedokteran (Al-Qonun). Dibalik semua fan tadi, Imam An-Nawawi dalam ilmu Kedokteran terlalu sibuk hingga menyababkan terbengkalai dengan fan Ilmu yang lain.

Pada akhirnya kitab Al-Qonun tersebut dijual ke orang lain dengan tujuan agar tidak melanjutkan ilmu tersebut. Selama kurang lebih 20 tahun beliau tidak berhenti dalam belajar. Alhasil selama itu pula beliau hafal diluar kepala. Dalam waktu empat setengah bulan sudah hafal kitab At-Tanbih dan dilanjutkan dalam kurun satu setengah tahun, kurang lebih seperempat jilid kitab Muhadzab sudah dilahap.

Menjadi seorang pemimpin

Setelah Imam An-Nawawi merampungkan belajarnya, beliau diamanahi oleh gurunya Syech Syihabuddin Abu Syamah untuk menggantikan dalam memimpin lembaga pendidikan Darul Hadis. Tidak hanya itu, setiap harinya beliau punya target dalam menulis karangan sebanyak 8 halaman.

Dengan ini, selama beliau mulai mengamalkan ilmunya hingga akhir hayatnya, kurang lebih ada 100 karya yang hasil dan menjadi rujukan ulama-ulama setelahnya hingga zaman sekarang.

Dari 100 karangan tadi, ada beberapa kitab yang masyhur yaitu Ar-Roudhoh ringkasan dari Syarah Al-Kabir, Al-Minhaj fii Syarah Shohih Muslim, Syarah Muhadzab hanya sampai pertengahan bab riba yang dikemudian hari dilanjutkan oleh ulama setelahnya, Minhaj at-Tholibin, Tahdzibul Asma’ wal Lughot, Riyadus Sholihiin, Al-Adzkar, Arbain An-Nawawim At-Tibyan, dan lain-lain.

Dalam mengamalkan ilmu, Iama An-Nawawi tidak hanya lewat karyanya saja. Terbukti murid-murid-murid beliau yang masyhur diantaranya Al-Hafidz Al-Kabir Yusuf bin Abdul Malik Al-Halb Ad-Damsyuqi dan Imam ibnu At-Thur.

Imam An-Nawawi kurang komunikasi terhadap pemerintahan di masanya. Sedangkan yang lebih berkecimpung dalam urusan pemerintahan adalah Imam Al-Mawardi. Hal ini dapat kita perhatikan, bahwa manhaj pemikiran beliau tidak sampai rana pemerintah hanya dalam bidang agama saja.

Wafatnnya Imam An-Nawawi

Kehidupan Imam An-Nawawi yang melalangbuana dalam bidang keagamaan, ternyata tidak menjadikan usia beliau bertahan lama. Pada hari sabtu tanggal 20 Rajab 676 Hijriyyah atau 1277 Masehi, beliau sakit dalam pembaringannya.

Menyebabkan mulai berhenti dalam berdakwah hingga selang 4 hari pada rabu 24 Rajab beliau wafat diusia 45 tahun meninggalkan murid-muridnya dan puluhan karya untuk diwariskan pada ulama setelahnya.

Jarak antara sakit dengan wafatnya yang tidak lama membuat beliau tidak sampai merasakan. Tetapi, menurut para ulama bahwa sakit itu bukanlah penderitaan melainkan sebuah kenikmatan tersendiri bisa merasakannya. Dengan ini, perjalanan hidup beliau tidaklah lama tetapi memberikan amal yang melebihi dari masa hidupnya.

Sumber: Al-Minhaj us-Sawi, Mukadimah Riyadussholihin.

Baca juga: SYARAT AKAD NIKAH MENGGUNAKAN BAHASA SELAIN ARAB

Etika Menjadi Seorang Imam

Seorang imam hendaknya meringankan salat. Anas bin Malik r.a. berkata, “Aku tidak melakukan salat di belakang seorang pun yang lebih ringan dan lebih sempurna salatnya daripada salat Rasulullah Saw.”

Seorang imam hendaknya tidak takbir sebelum muazin membacakan iqamah dan sebelum shaf salat lurus sempurna. Ia harus meninggikan suara ketika bertakbir, sementara makmum tidak meninggikan suara kecuali sebatas yang bisa ia dengar sendiri.

Imam harus berniat menjadi imam agar memperoleh keutamaan. Jika imam tak berniat, salat para jama’ah tetap sah apabila mereka telah berniat mengikutinya. Mereka juga memperoleh pahala bermakmum.

Imam tidak boleh menyaringkan bacaan iftitah dan ta’awudz sebagaimana dalam salat sendirian. Tapi ia menyaringkan bacaan al-Fatihah dan surat sesudahnya dalam salat-salat subuh, serta dalam dua raka’at pertama maghrib dan isya.

Imam dan makmum dalam salat jahr

Dalam salat jahr (yang dibaca secara keras), makmum menyaringkan ucapan ‘amin’ bersama imam, bukan sesudah imam. Lalu, imam diam sejenak setelah membaca surat al-Fatihah.

Disaat itulah makmum membaca surat al-Fatihah agar sesudahnya ia bisa mendengarkan bacaan imam. Pada salat jahr, makmum tidak membaca surat kecuali jika ia tidak mendengar suara imam.

Hendaknya seorang imam tidak membaca tasbih dalam rukuk dan sujud lebih dari tiga kali dan juga tidak memberikan tambahan dalam tasyahud awal setelah membaca salawat kepada Nabi.

Pada dua raka’at terakhir, imam cukup membaca surat al-Fatihah, tidak perlu menambahkan bacaan lagi. Juga ketika tasyahud akhir imam cukup membaca tasyahud dan shalawat kepada Rasulullah Saw.

Baca juga: KISAH IMAM SYAFI’I MENINGGALKAN QUNUT SUBUH KARENA MENGHORMATI IMAM ABU HANIFAH

Ketika salam, imam hendaknya berniat memberikan salam kepada semua jama’ah, sedangkan jama’ah atau makmum dengan salamnya berniat menjawab salam imam. Setelah itu imam berdiam sebentar dan menghadap kepada para jama’ah.

foto: pinterest

Jika yang ada di belakangnya ada beberapa perempuan, maka ia tidak usah menoleh sampai mereka bubar. Hendaknya makmum tidak berdiri sampai imam berdiri, lalu imam pergi, dan lebih baik perginya ke arah kanan.

Imam tidak boleh berdoa untuk dirinya sendiri dalam membaca qunut subuh tapi hendaknya ia mengucapkan ‘Allahumma ihdina‘ (Ya Allah, tunjukkan kami) dengan suara nyaring. Selebihnya makmum membaca sendiri sisa dari doa qunut tersebut, yakni dimulai dari Innaka la yaqdhi wa la yuqdha ‘alaika.

Makmum tidak boleh berdiri sendirian secara terpisah, Ia harus masuk ke dalam barisan (shaf) atau menarik orang lain untuk membuat barisan dengannya.

Makmum tak boleh berdiri di depan iman, mendahului, atau bergerak secara bersamaan dengan gerakan imam. Tapi, Ia harus melakukannya sesudah imam. Ia tak boleh rukuk kecuali setelah imam sempurna dalam posisi rukuk. Begitu pun, ia tak boleh sujud selama dahi imam belum sampai di tanah.[]

(Sumber; Bidayatul Hidayah, Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghozali, Dar al-Minhaj, hal 147)

Etika yang perlu diperhatikan di Hari Jum’at

Perlu kita ketahui bahwa hari Jum’at merupakan hari raya bagi orang-orang beriman. Hari Jum’at merupakan hari mulia yang khusus diperuntukkan Allah bagi umat ini. Dalam hari Jum’at ada saat-saat penting yang apabila seorang mukmin meminta kebutuhannya pada Allah SWT, pasti Allah akan mengabulkan.

Oleh karena itu, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari raya tersebut, dilakukan sejak hari Kamis dengan cara membersihkan pakaian, banyak bertasbih, dan istighfar, pada Kamis petang (sore)-nya, karena keutamaan saat itu sama dengan keutamaan hari Jumat.

Berniatlah untuk puasa di hari Jum’at. Tetapi harus dengan hari Kamis atau hari Sabtu, tidak boleh dikerjakan pada hari Jum’at saja. Jika subuh telah tiba, mandilah dengan niat mandi Jum’at karena mandi pada hari Jum’at hukumnya sunah muakkad.

Kemudian berhiaslah dengan memakai pakaian putih karena itulah pakaian yang paling dicintai Allah Swt, lalu pakailah parfum paling wangi yang kamu miliki, dan bersihkan badanmu dengan potong rambut, menggunting kuku, bersiwak, dan yang lainnya, kemudian segeralah bergegas menuju masjid dan berjalanlah dengan perlahan dan tenang.

Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang pergi salat Jum’at di waktu pertama, maka seakan-akan ia telah berkurban unta. Siapa yang pergi pada waktu kedua, maka seakan-akan ia berkurban sapi betina. Siapa yang pergi di waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban kambing kibas. Siapa yang pergi di waktu ke empat, maka seakan-akan ia berkurban ayam. Siapa yang pergi di waktu kelima, maka seakan-akan ia berkurban telur. Jika imam sudah keluar atau naik mimbar, maka lembaran-lembaran itu pun dilipat dan pena-pena diangkat. Sementara para malaikat berkumpul di mimbar untuk mendengarkan zikir/peringatan.”

Disebutkan bahwa kedekatan manusia dalam pandangan Allah SWT, bergantung pada cepatnya mereka menuju salat Jum’at.

Hal-hal yang perlu diperhatikan di Hari Jum’at

Kemudian, apabila engkau berada di masjid, usahakan untuk berada di shaf yang pertama. Jika manusia sudah banyak berkerumun, jangan melewati pundak mereka, dan jangan pula lewat di hadapan mereka yang sedang salat. Duduklah dekat tembok agar mereka tidak lewat di depan kita. Sebelum itu lakukanlah salat tahiyyatul masjid.

Lebih baik lagi, kalau engkau salat sebanyak empat raka’at. Dalam setiap rakaat, setelah membaca surat al-Fatihah, kita membaca surat al-Ikhlas sebanyak lima puluh kali. 

Disebutkan dalam satu riwayat bahwa siapa yang melakukan amalan tersebut, ia tidak akan meninggal dunia sampai melihat tempat duduknya di surga atau hal itu diperlihatkan padanya.

Perbanyaklah membaca shalawat atas Rasulullah Saw. khususnya pada hari tersebut. Manakala imam atau khatib sudah naik mimbar, berhentilah dari salat dan berbicara. Sibukkan diri dengan menjawab panggilan azan, mendengarkan khutbah dan ceramah. Tidak boleh sama sekali berbicara ketika khatib sedang berkhutbah.

Dalam riwayat disebutkan, “Siapa yang berkata kepada temannya, “Diamlah” saat imam berkhotbah maka ia telah berbuat sia-sia. Dan siapa yang berbuat sia-sia, maka ia tak mendapat keutamaan Jum’at.” Hal itu, karena perintah diam itu sendiri berbentuk ucapan. Sebaiknya larangan diberikan dalam bentuk isyarat, bukan dengan kata-kata.

Lalu ikutilah perbuatan imam seperti telah disebutkan sebelumnya. Apabila telah selesai, sebelum berbicara bacalah surat al-Fatihah, surat al-Ikhlas, surat al-Falaq dan surat an-Naas, masing-masing tujuh kali. Itu akan melindungimu dari Jum’at ke Jum’at, juga akan menjaga kita dari setan.

Hal-hal yang perlu dilakukan di Hari Jum’at

Seyogyanya setelah itu, membaca:

“Allahumma yaa ghaniyy yaa hamiid yaa Mubdii yaa mu’iid yaa rahiimi yaa waduud aghninii bihalalika ‘an haramika bi fadhlika ‘an ma’shiyatika wabifadhlika ‘amman siwaak.”

Artinya: “Ya Allah wahai Zat Yang Mahakaya, Maha Terpuji, Maha Memulai, Maha Mengembalikan, Maha Penyayang, dan Maha Pemberi. Berilah kecukupan padaku dengan yang halal bukan yang haram; dengan taat, bukan maksiat; dan dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu.”

Setelah itu, lakukanlah salat dua raka’at. Atau enam raka’at yang dilakukan per-dua raka’at salam. Semua itu terdapat dalam riwayat yang berasal dari Rasulullah Saw. dalam kondisi yang berbeda-beda.

Kemudian menetap di masjid sampai waktu maghrib atau ashar. Hendaknya selalu memperhatikan waktu yang mulia. Sebab, waktu mulia tersebut terdapat sepanjang hari itu, tetapi tidak ditentukan secara pasti. 

Mudah-mudahan kita memperolehnya ketika sedang berada dalam kondisi yang khusyuk dan tunduk pada Allah Swt. selama di masjid, jangan mendekati majelis yang berisikan cerita dan kisah. Tapi, hendaknya menghampiri majelis yang berisi ilmu yang bermanfaat. Majelis itulah yang bisa membuat kita lebih takut pada Allah dan membuat kita mengurangi cinta pada dunia.

Jika suatu ilmu tidak mampu mengajakmu untuk mengesampingkan dunia untuk akhirat, maka lebih baik tidak usah mengetahui ilmu tersebut. Berlindunglah pada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Memperbanyak berdo’a ketika matahari terbit, tergelincir, dan terbenam, ketika khatib naik mimbar, dan ketika orang-orang berdiri untuk menunaikan salat, karena kemungkinan besar itulah waktu-waktu yang mulia.

Akhiran, berusaha untuk bersedekah sesuai kemampuan kita pada hari tersebut, walaupun sedikit. Dengan demikian, kita telah mengumpulkan antara salat, puasa, sedekah, membaca al-Quran, zikir, dan iktikaf.

Jadikan hari Jum’at sebagai hari yang khusus untuk akhirat; barangkali hari tersebut menjadi penebus dosa bagi hari-hari lainnya dalam seminggu ke depan.

(Sumber; Bidayatul Hidayah, Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghozali, Dar al-Minhaj, hal 156)

Selalu Belajar dan Waspada dari Fitnah Iblis

Syeikh Abu al-Faraj mengatakan, setiap manusia dalam penciptaannya, disisipkan pula hawa nafsu dan syahwat. Tujuannya supaya ia bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Anak adam juga diberikan amarah supaya bisa menghindari sesuatu yang ia benci. Dan memberikan akal, supaya memiliki etika. Bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Diciptakannnya setan, sebagai penghasutnya, agar manusia berlebihan dalam beberapa hal. Sebuah kewajiban bagi orang yang memiliki akal sehat selalu waspada, selalu berhati-hati akan godaan-godaan setan.

Selalu menyadari bahwa setan sudah menobatkan dirinya sebagai musuh , sejak zaman nabi adam diciptakan. Seumur hidupnya, setan akan selalu berjuang untuk merusak keadaan manusia.

Baca juga: KEUTAMAAN IBADAH DI MALAM HARI

Allah SWT sudah memerintahkan untuk berhati-hati dalam al-Quran disebutkan;

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَر

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An-Nur:21)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا۟ ٱلشَّيْطَٰنَ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yasin:60)

Berhati-hati dari Fitnah Iblis dan Rencana Jahatnya.

Sudah menjadi keharusan bagi setiap insan, untuk selalu berhati-hati. Selalu memikirkan dirinya agar tidak masuk dalam perangkap setan. Seyogyanya, setiap manusia belajar terhadap sikap setan ketika adam baru diciptakan. Dimana saat itu, iblis sangat membanggakan derajatnya, menyombongkan dirinya, dan merasa lebih baik dari Adam yang baru diciptakan oleh Allah. Sampai iblis mengucapkan;

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Artinya; “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. al-A’raf:12).

Iblis menyikapi penciptaan adam tidak dari sudut pandang hikmah, lalu memutuskan untuk mengambil sikap sombong dan angkuh di hadapan Allah. Sampai iblis mengatakan ‘Saya lebih baik daripadanya.’ Kemudian ia tidak mau bersujud, berimbas pada turunnya derajat iblis dan yang pantas didapatkannya adalah laknat dan siksa.

Semoga kita semua selalu dijaga oleh Allah SWT dari perangkap setan.

Konten menarik lainnya bisa dilihat di instagram @pondoklirboyo

Keutamaan ibadah di malam hari

Diceritakan seseorang lelaki yang mencari seorang pembantu laki-laki. Saat ia akan mempekerjakannya, pembantu itu berkata, “Majikanku. Aku menginginkan tiga permintaan sebelum engkau mempekerjakanku.” Ucapnya. Tiga syarat tersebut adalah, sang majikan tidak boleh melarangnya untuk melaksanakan sholat saat masuk waktunya. Kedua, sang majikan mempekerjakan dirinya di siang hari, dan tidak mempekerjakannya di malam hari. Ketiga, ia meminta agar majikannya memberikannya tempat, yang tidak boleh dimasuki orang selain dirinya.

Sang majikan pun menyuruh pembantunya untuk memilih sendiri tempat yang diinginkannya itu. Setelah berkeliling, pembantu tersebut memilih sebuah gubuk yang sudah bobrok.

Sang majikan pun terheran, “Kenapa kamu memilih gubuk yang bobrok?” kata sang majikan. Pembantunya itu hanya mengatakan bahwa, “Majikanku, jika engkau tahu. Gubuk itu akan menjadi gedung dan taman bersama Allah.” Ucapnya. Akhirnya si pembantu tinggal di gubuk tersebut di malam hari.

Sampai di suatu malam, sang majikan berkumpul dengan teman-temannya untuk minum dan bergurau. Setelah semua temannya pergi, ia beranjak untuk melihat gubuk pembantunya.

Saat itu, dilihatnya sebuah pelita yang menggantung dari langit. Tampak dengan jelas pembantunya sedang bersujud, bermunajat pada Tuhannya seraya berdoa, “Tuhanku, aku diwajibkan untuk melayani majikanku di siang hari, dan melayani-Mu hanya bisa di malam hari, tidak bisa kulakukan sepanjang waktu. Semoga aku diampuni.” Ucapnnya.

Sang majikan tidak beranjak pergi dari tempatnya, melihat pembantunya beribadah hingga fajar tiba. Pelita itu pun sirna, berbaur dengan langit. Sang majikan pun menyampaikan apa yang ia lihat pada istrinya, saat malam kembali datang, kedua majikan itu bergegas mendatangi gubuk pembantunya.

Kedua majikan melihat kembali, apa yang terjadi kemarin malam. Sama persis, pelita di atas kamar dan pembantunya sedang bermunajat. Saat itu pula kedua majikan itu mendoakan pembantunya.

Doa yang mustajab

Lalu keesokan harinya, kedua majikannya mengatakan padanya, “Kamu bebas, karena Allah. Karena melayani kami, kamu jadi kesulitan untuk beribadah.” Majikannya pun mengatakan apa yang mereka lihat di malam hari padanya.

Sontak, saat si pembantu mendengar apa yang disampaikan majikannya, ia mengangkat tangannya lalu berdoa, “Tuhan, aku meminta pada-Mu agar tidak membuka apa yang tertutup dariku, dan tidak menampakkan apa yang aku lakukan. Ketika semua itu terbuka, kembalikan saja aku pada-Mu.” Pembantu itu pun ambruk dan meninggal dunia, semoga Allah mengasihinya.

(Disarikan dari kitab an-Nawadir karya Syeikh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qaliyubii, hal. 2)