All posts by Niqo Maimun Mahera

Niat dalam mencari ilmu

Sudah menjadi keharusan bagi seorang pelajar dalam niat mencari ilmu, untuk ikhlas mengharap ridho dari Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan diri dan orang lain, menghidupkan agama, serta melestarikan Islam. Karena Islam akan terus lestari jika pemeluknya memiliki pengetahuan.

Pentingnya Ilmu

Zuhud (tidak bergantung pada duniawi) dan takwa, tidak akan sah tanpa disertai dengan pengetahuan. Syaikh Burhanuddin menukil perkataan ulama berikut; “Orang yang tekun, beribadah tetapi bodoh, bahayanya lebih besar daripada orang alim tapi durhaka. Keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan umat, yaitu bagi orang yang menjadikan mereka sebagai panutan dalam urusan agama.”

Dalam mencari ilmu, juga harus didasari niat untuk mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan. Jangan pernah terbesit niat supaya dihormati masyarakat, untuk mendapatkan harta dunia, atau agar mendapatkan kehormatan di hadapan pejabat atau yang lainnya.
Barang siapa dapat merasakan lezatnya ilmu dan nikmat mengamalkannya, maka dia tidak begitu tertarik dengan harta benda, terlebih milik orang lain.

Syeikh Imam Hammad bin Ibrahim bin Ismail As-shafar al-Anshari membacakan syairnya kepada Abu Hanifah;

من طلب العلم للمعاد – فاز بفضل من الرشاد
فيا لخسران طالبه – لنيل فضل من العباد

Artinya: “Siapa yang mencari ilmu untuk akhirat, tentu ia akan memperoleh anugerah kebenaran. Dan kerugian bagi orang yang menuntut ilmu hanya karena mencari kedudukan di masyarakat.”

Boleh menuntut ilmu dengan niat dan upaya mendapat kedudukan di masyarakat kalau kedudukan tersebut digunakan untuk amar makruf nahi munkar, dan untuk melaksanakan kebenaran, serta untuk menegakkan agama Allah. Bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri, juga bukan karena keinginan hawa nafsu.

Hal itu perlu direnungkan oleh para pelajar, supaya ilmu yang mereka cari dengan susah payah tidak sia-sia. Oleh karena itu dalam mencari ilmu jangan punya niat untuk mencari dunia yang hina dan fana itu. Seperti kata sebuah syair: “Dunia ini lebih sedikit dari yang sedikit, orang yang terpesona padanya adalah orang yang paling hina. Dunia dan isinya adalah sihir yang dapat menulikan dan membutakan. Mereka kebingungan tanpa petunjuk.”

Sumber: Ta’lim Muta’alim

Baca juga:
KEWAJIBAN MENGHORMATI ILMU DAN GURU

Simak juga:
Anugerah yang Luar Biasa itu adalah 

# Niat dalam Mencari Ilmu

Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru

Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru |
Seseorang tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya, tanpa mau menghormati ilmu dan guru. Karena ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang telah sukses, ketika mereka menuntut ilmu itu sangat menghormati ilmu dan gurunya. Dan orang-orang yang tidak berhasil dalam menuntut ilmu, penyebabnya karena mereka tidak mau menghormati atau memuliakan ilmu dan gurunya.

Ada yang mengatakan bahwa menghormati itu lebih baik daripada mentaati. Karena ada bukti dari sebuah persoalan, bahwa manusia tidak dianggap kufur karena bermaksiat. Tapi akan menjadi kufur ketika tidak menghormati atau memuliakan perintah Allah.

Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata,

اَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِيْ حَرْفًا وَاحِدًا اِنْ شَآءَ بَاعَ وَاِنْ شَآءَ اَعْتَقَ وَاِنْ شآء اِسْتَرَقَّ

“Aku adalah sahaya (budak) bagi orang yang mengajariku, walaupun hanya satu huruf, jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya.”

Ada pula sebuah syair yang berbunyi,

رَأيْتُ اَحَقَّ الحَقِّ حَقَّ المُعلِّمِ × وَاَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

لَقَدْ حَقَّ اَنْ يُهْدَى اِلَيْهِ كَرَامَةً × لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ اَلْفُ دِرْهَمِ

“Tidak ada hak yang lebih besar kecuali haknya guru. Ini wajib dipelihara oleh setiap orang Islam. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar, walau hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham sebagai tanda hormat padanya.”

Sebab guru yang mengajarmu satu huruf yang kamu butuhkan dalam agama, “Dia ibarat ayahmu dalam agama.”

Imam Asy-Syairazy berkata, “Guru-guruku berkata, ‘Barang siapa yang ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fikih. Dan memberi sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi orang alim, maka cucunya yang akan menjadi orang alim.”

Termasuk menghormati guru ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izinnya. Juga tidak banyak bicara di hadapan guru. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang lelah atau bosan. Harus menjaga waktu. Jangan mengetuk pintunya, tapi sebaliknya, menunggu sampai beliau keluar.

Dengan demikian, seorang pelajar harusnya mencari kerelaan hati (ridho) guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan ia marah, mematuhi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, karena tidak boleh taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah. Juga termasuk menghormati guru adalah menghormati putra-putranya, dan orang-orang yang ada hubungan kerabat dengannya.

Disarikan dari kitab Ta’lim Muta’alim

Baca juga:
CARA MEMILIH ILMU, GURU, DAN TEMAN

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru
Kewajiban Menghormati Ilmu dan Guru

Cara Memilih Ilmu, Guru, dan Teman

Dalam mencari ilmu, seseorang seharusnya memilih ilmu pengetahuan yang paling baik atau paling cocok dengan dirinya. Pertama-tama yang perlu dipelajari oleh seseorang adalah ilmu yang paling baik, dan yang diperlukannya dalam urusan agama pada saat itu. Kemudian baru ilmu-ilmu yang diperlukannya pada masa yang akan datang.

Ilmu tauhid harus didahulukan, supaya santri mengetahui sifat-sifat Allah berdasarkan dalil yang otentik. Karena imannya orang yang taklid (hanya mengikuti saja) tanpa mengetahui dalilnya, sekalipun sah, tetapi ia berdosa karena meninggalkan istidlal (mencari dalil petunjuk).

Seseorang yang mencari ilmu, harus mempelajari ilmunya para ulama salaf (baca: ilmu agama). Para ulama berkata, tetaplah kalian pada ilmunya para nabi (ilmu agama). Dan  apabila umat Muhammad sudah suka berbantah-bantahan di antara mereka, itulah tanda akan datangnya hari kiamat. Tanda bahwa ilmu fiqih semakin menghilang. Demikian menurut hadis Nabi.

Adapun cara memilih guru atau kiai carilah yang alim, yang bersifat wara’, dan yang lebih tua. Sebagaimana Abu Hanifah memilih Syekh Hammad bin Abi Sulaiman, karena beliau (Hammad) mempunyai kriteria atau sifat-sifat tersebut. Maka Abu Hanifah mengaji ilmu kepadanya.

Abu Hanifah berkata,

قال ابو حنيفة رحمه لله تعالى وَجَدْتُهُ شَيْخًا وَقُوْرًا حَلِيْمًا صَبُوْرًا وقال ثَبَتُّ عِنْدَ حَمَّاد بنِ سُلَيْمَان فَنَبَتُّ

“Beliau adalah seorang guru berakhlak mulia, penyantun, dan penyabar. Aku bertahan mengaji kepadanya hingga aku seperti sekarang itu.”

Abu Hanifah berkata pula, “Aku pernah mendengar seorang ahli hikmah dari negeri Samarkan berkata, ‘Ada salah seorang penuntut ilmu bermusyawarah denganku ketika hendak pergi ke Bukhara untuk menuntut ilmu,’.”

Mencari ilmu adalah perbuatan yang luhur, dan perkara yang sulit, maka bermusyawarah atau minta nasihat kepada orang alim, merupakan hal yang penting dan suatu keharusan.

Demikianlah hendaknya setiap pelajar seharusnya bermusyawarah dengan orang alim, ketika akan pergi menuntut ilmu atau dalam segala urusan. Karena Allah Ta’ala menyuruh Nabi Muhammad SAW supaya bermusyawarah dalam segala urusan, padahal tiada seorang pun yang lebih pandai dari Beliau. Dalam segala urusan, beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabat, bahkan dalam urusan rumah tangga pun, beliau selalu bermusyawarah dengan istrinya. Sayidina Ali berkata, “Tak akan binasa orang yang mau berunding.”

Ketahuilah pula, bahwa kesabaran dan ketabahan atau ketekunan adalah pokok dari segala urusan. Tapi jarang sekali orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, dalam sebuah syair disebutkan:

لِكُلٍّ اِلَى شَأْوِالْعُلَى حَرَكَاتُ * وَلَكِنْ عَزِيْزٌ فِيْ الرِّجَالِ ثَبَاتُ

“Setiap orang pasti mempunyai hasrat memperoleh kedudukan atau martabat yang mulia, namun jarang sekali orang yang mempunyai sifat sabar, tabah, tekun, dan ulet.”

Disarikan dari kitab Ta’lim Muta’alim

Baca juga:
MENTIRAKATI KEMASLAHATAN UMAT

Follow juga:
@pondoklirboyo

Cara Memilih Ilmu Guru dan Teman
Cara Memilih Ilmu Guru dan Teman

Syarat penting mencari ilmu

Kita berada di pesantren diniati untuk menghadap kepada Allah.

Orang menghadap kepada Allah harus tahu diri, jangan sampai kita menghadap kepada Allah, diri kita masih berlumuran dosa. Coba saja kita menghadap kepada penguasa, bilamana kita punya salah pasti tidak berani menghadap ke penguasa, lalu bagaimana ketika kita menghadap kepada Allah, yang mana Allah adalah Raja di atas raja, Penguasa di atas penguasa.

Taubat

Maka dari itu, Imam abdul Wahab asy-Sya’roni, pernah berkata “Kalau orang mau menghadap Allah, yang harus dilakukan adalah bertaubat, beristighfar. ” Bilamana orang menghadap kepada Allah dan dia pantas menghadap kepada Allah karena dia bertaubat lalu diterima, maka doanya akan diijabah oleh Allah.

Bertaubat, selain merupakan perkara yang wajib, juga terdapat beberapa tingkatan. Ada taubat karena dosa besar, ada taubat karena meninggalkan sunnah.

Dikisahkan ada sahabat tidak melaksanakan sholat jamaah, beliau mengqodloinya dengan sholat dua puluh tujuh kali.

Orang belajar di pesantren, yang pertama kali dilakukan adalah bertaubat. Jika orang mengingat dia pernah melakukan dosa, lalu ia menangis, ia benar-benar bertaubat. Dan bukan dinamakan orang yang bertaubat, ketika ia mengingat dosanya malah merasakan nikmat, merasakan kebahagiaan karena melakukan dosa.

Hati yang Bersih

Syarat yang lain dalam mencari ilmu, adalah hati yang bersih. Karena ilmu adalah nur. Dan ilmu diberikan oleh Allah hanya untuk hati yang bersih dari penyakit-penyakit hati, seperti pelit, iri, dengki.

Perbedaan orang yang mempunyai penyakit dzahir (badan) dengan yang memiliki penyakit hati, adalah saat ia mati. Ketika manusia mati, semua penyakit badan tidak akan terasa sakit lagi. Berbeda dengan penyakit hati yang di dalam kubur nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

Akhlaqul Karimah

Syarat yang ketiga dalam mencari ilmu, adalah berakhlakul karimah, dengan gurunya takzim, jangan sampai meremehkan gurunya walaupun kalian lebih pandai. Jangan pernah menyakiti guru kalian.

Kalam sufi mengatakan, “Ridhonya Allah ada dalam ridhonya guru,” karena guru sama posisinya dengan orang tua kita ketika belajar. Artinya, jika seseorang mau selamat dunia dan akhirat, maka ia harus patuh dengan orang tuanya.

KH. Mahrus Aly pernah dawuh, “Pergi ke manapun, jauh atau dekat, izinlah kepada orang tua. ” karena dikhawatirkan menyakiti orang tua.

إيذاء الوالدين وهو عقوق الوالدين وعقوق الوالدين من الكبائر

“Menyakiti orang tua, berarti berani kepada orang tua. Dan berani kepada orang tua, termasuk dosa besar.”

Doanya orang tua itu mustajab, terutama doa ibu. Jangan sampai membohongi orang tua.

Jangan melakukan sesuatu yang tidak berguna. Karena termasuk orang yang Islamnya baik, adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Karena orang Islam segala perkaranya baik. Kalau kalian menerima kebaikan-kebaikan, supaya bersyukur. Kalau kalian menerima sesuatu yang tidak baik, supaya kalian bersabar.

Umumnya, seorang wali itu takut diberi kenikmatan oleh Allah. Karena takut itu adalah istidraj dari Allah. Justru Wali Allah itu senang dengan ujian, karena dengan kesabaran menghadapi ujian, akan berujung pahala yang besar dari Allah.

Orang mondok itu juga ujiannya banyak, kadang weselnya telat, kadang sakit, kadang tidak istiqomah.

Mondok itu sebenarnya bukan fasilitas yang diprioritaskan. Karena orang mondok itu riyadloh, tirakat. Jangan sampai orang mondok itu menuntut fasilitas, karena itu termasuk memerangi hawa nafsunya. Termasuk memerangi hawa nafsu adalah hidup disiplin.

(Disampaikan dalam halal bi halal pondok pesantren lirboyo 2021)

Baca juga:
Nasehat KH. M. Anwar Manshur pada Awal Tahun Ajaran Baru

Simak juga:
Tiga Golongan Terbaik | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Imam An-Nawawi: Sang Idola Fuqoha Masa Kini

Imam An-Nawawi yang memiliki nama lengkap Abu Zakaria Muhyiddin Yahya Bin Syaraf Bin Murri Bin Hasan Bin Husein Bin Muhammad Bin Jum’ah Bin Hizzam Al Khizami An Nawawi.

Julukan Muhyiddin dikarenakan beliau dalam dakwahnya menjernihkan/memperjuangkan madzhab Syafi’i. Maka tak heran sebagian besar karya beliau yang masyhur di bidang fiqh metodologi Imam Syafi’i. Sedangkan nisbat An-Nawawi sendiri adalah nisbat nama desa asalnya yang bernama Nawa. Beliau lahir pada pertengahan bulan Muharram 631 H. atau 1233 M. sejak lahir tinggal di desa Nawa  dengan didikan ayahnya. Masa kecilnya suka membaca al-Qur’an, berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Pendalaman ilmu al-Qur’an menjadi pijakan selanjutnya hingga beliau berumur 19 tahun, selama itu dihabiskan dalam keilmuannya untuk al-Qur’an. Suatu saat pada usia 7 tahun, ketika beliau tidur dipangkuan ayahnya, Imam An-Nawawi tiba-tiba bangun dari tidurnya.

Kemudian, melihat cahaya berada disekitarnya memenuhi ruangan, sedangkan yang bisa melihat hanya beliau saja dan pada malam itu tepat pada tanggal 27 Ramadhan bertepatan dengan Lailatul Qadr. Hal ini membuat heran baginya ketika diungkapkan pada sang ayah. Sedangkan ayah beliau tidak tahu apa-apa dikarenakan tidak melihat apa yang dilihat oleh sang anak. Mungkin, berkah mendapat Lailatul Qodr, menjadikan kecerdasan dalam mencari ilmu.

Ketika berusia 19 tahun, Imam An-Nawawi baru mondok. Tempat mondoknya pun tidak jauh dari desa kelahirannya. Tepatnya di Ar-Ruwahiyyah selama 2 tahun, kemudian pergi haji bersama ayahnya dan setelah itu berpindah-pindah tempat dalam mencari ilmu.

Guru-guru Imam an-Nawawi

Diantara guru-guru Imam An-Nawawi yaitu Syech Jamaluddin bin Abdul Kahfi bin Abdul Malik Ar-Roba’i, Syech Abi Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Muhadzab, Syech Ridho bin Burhan Zain Kholid Abdul Aziz Al Hamawi, Syech Syihauddin Abu Syamah, Syech Jamaluddin Abdullah bin Malik Al- Andalusi.

Dari segi banyaknya guru beliau, kepergian dalam mencari ilmunya tidak sampai keluar negara dikarenakan cukup dengan pendalamannya dan cinta dengan negaranya. Sampai-sampai ketika Imam Ibnu Malik singgah di Damaskus, kesempatan tersebut langsung ditanggapinya, seketika beliau mencarinya untuk belajar Ilmu dalam fan yang dimiliki Imam Ibnu Malik.

Kepergian Imam An-Nawawi dalam mencari ilmu pun seperti santri salaf ketika mondok di Pesantren, yaitu dengan diiringi tirakat. Diantaranya adalah beliau tidak pernah tidur, kalau pun tidur waktunya sangat sedikit. Waktu beliau hanya untuk mempeng dalam belajar berbagai kitab. Dalam makan beliau hanya makan remukan roti dan tidak pernah makan cemilan khas Damaskus yang akibatnya mudah mengantuk. Maka dari itu, oleh beliau makanan tersebut dihindari.

Gaya hidup Imam An-Nawawi

Dalam segi pakaian sangat sederhana sekali, dalam artian apa yang dibutuhkan hanya sebagai pakaian syar’an wa adatan. Adab Beliau kepada guru-gurunya selalu takzim dan husnudzan dengan apa yang diperintahkan gurunya, diikuti tanpa berprasangka yang lain. Sikap beliau kepada gurunya yang menjadikanya murid kesayangan. Dari sisi toriqoh mencari ilmu, yang dipandang bukan seberapa jauh perginya, tetepi seberapa kedalaman ilmu yang didapat.

Keseharian Imam An-Nawawi dalam segala aspek memang ditempuh dengan jalan yang tidak seperti santri pada umumnya. Hasil yang didapat pun berpengaruh dengan apa yang dijalani beliau. Tidak hanya dari segi tirakat dan thoriqohnya saja melainkan giat dalam belajarnya juga. Dalam sehari semalam beliau paling tidak menghabiskan 12 pelajaran untuk dipelajari.

Dari 12 pelajaran, yang sering dipelajari adalah ilmu hadis dengan kitabnya Hadits fii Jam’i baina Shohihain dan Shohih Muslim, kemudian ilmu fiqihnya ada kitab Al- Washith dan Kitab Al-Muhadzab, dilanjut ilmu Lughot, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Balaghoh, Ilmu Mantiq, Ilmu Shorof, Ilmu Sejarah, Ilmu Ushuluddin, Qoidah Fiqih, Ilmu Tafsir, dan ilmu Kedokteran (Al-Qonun). Dibalik semua fan tadi, Imam An-Nawawi dalam ilmu Kedokteran terlalu sibuk hingga menyababkan terbengkalai dengan fan Ilmu yang lain.

Pada akhirnya kitab Al-Qonun tersebut dijual ke orang lain dengan tujuan agar tidak melanjutkan ilmu tersebut. Selama kurang lebih 20 tahun beliau tidak berhenti dalam belajar. Alhasil selama itu pula beliau hafal diluar kepala. Dalam waktu empat setengah bulan sudah hafal kitab At-Tanbih dan dilanjutkan dalam kurun satu setengah tahun, kurang lebih seperempat jilid kitab Muhadzab sudah dilahap.

Menjadi seorang pemimpin

Setelah Imam An-Nawawi merampungkan belajarnya, beliau diamanahi oleh gurunya Syech Syihabuddin Abu Syamah untuk menggantikan dalam memimpin lembaga pendidikan Darul Hadis. Tidak hanya itu, setiap harinya beliau punya target dalam menulis karangan sebanyak 8 halaman.

Dengan ini, selama beliau mulai mengamalkan ilmunya hingga akhir hayatnya, kurang lebih ada 100 karya yang hasil dan menjadi rujukan ulama-ulama setelahnya hingga zaman sekarang.

Dari 100 karangan tadi, ada beberapa kitab yang masyhur yaitu Ar-Roudhoh ringkasan dari Syarah Al-Kabir, Al-Minhaj fii Syarah Shohih Muslim, Syarah Muhadzab hanya sampai pertengahan bab riba yang dikemudian hari dilanjutkan oleh ulama setelahnya, Minhaj at-Tholibin, Tahdzibul Asma’ wal Lughot, Riyadus Sholihiin, Al-Adzkar, Arbain An-Nawawim At-Tibyan, dan lain-lain.

Dalam mengamalkan ilmu, Iama An-Nawawi tidak hanya lewat karyanya saja. Terbukti murid-murid-murid beliau yang masyhur diantaranya Al-Hafidz Al-Kabir Yusuf bin Abdul Malik Al-Halb Ad-Damsyuqi dan Imam ibnu At-Thur.

Imam An-Nawawi kurang komunikasi terhadap pemerintahan di masanya. Sedangkan yang lebih berkecimpung dalam urusan pemerintahan adalah Imam Al-Mawardi. Hal ini dapat kita perhatikan, bahwa manhaj pemikiran beliau tidak sampai rana pemerintah hanya dalam bidang agama saja.

Wafatnnya Imam An-Nawawi

Kehidupan Imam An-Nawawi yang melalangbuana dalam bidang keagamaan, ternyata tidak menjadikan usia beliau bertahan lama. Pada hari sabtu tanggal 20 Rajab 676 Hijriyyah atau 1277 Masehi, beliau sakit dalam pembaringannya.

Menyebabkan mulai berhenti dalam berdakwah hingga selang 4 hari pada rabu 24 Rajab beliau wafat diusia 45 tahun meninggalkan murid-muridnya dan puluhan karya untuk diwariskan pada ulama setelahnya.

Jarak antara sakit dengan wafatnya yang tidak lama membuat beliau tidak sampai merasakan. Tetapi, menurut para ulama bahwa sakit itu bukanlah penderitaan melainkan sebuah kenikmatan tersendiri bisa merasakannya. Dengan ini, perjalanan hidup beliau tidaklah lama tetapi memberikan amal yang melebihi dari masa hidupnya.

Sumber: Al-Minhaj us-Sawi, Mukadimah Riyadussholihin.

Baca juga: SYARAT AKAD NIKAH MENGGUNAKAN BAHASA SELAIN ARAB