Tag Archives: Santri Pondok Lirboyo

KH. Muhammad Subadar: Empat Dunia KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly

Baik Kiai Marzuqi maupun Kiai Mahrus, keduanya sama-sama hebat dan ampuh, tetapi sedikit berlainan. Kalau saya simpulkan, dunia Kiai Marzuqi ada empat : mihrab atau pengimaman, kitab, tamu, dan keluarga. Beliau itu jarang sekali tinda’an kemana-mana. Seiap harinya tak lepas dari baca kitab  meskipun kitab yang dibaca telah khatam berkali-kali.

Kiai Marzuqi juga sangat menghormati kiai-kiai sepuh. Sepeti halnya ketika Kiai Wahab Hasbullah rawuh, beliau sedang mengajar lalu turun dan menjemput. Kalau ijazah yang saya dapat dari Kiai Marzuqi salah satunya Dalailul Khairat.

Sementara itu, Kiai Mahrus dunianya berbeda. Selain mihrab, kitab, tamu, dan keluarga. Beliau juga tinda’an kemana-mana. Ada undangan walimah di berbagai daerah datang, ke istana presiden juga pernah, dan masih banyak lagi tempat yang sudah beliau kunjungi. Namun, kitab yang beliau baca jarang sekali khatam()

Sumber: Himasal Lirboyo

Berlibur ke Lirboyo

Belajar bisa ditempuh dengan cara apa saja, waktu kapan saja. Lihat saja apa yang kami lakukan. Kami berasal dari Pondok Pesantren Roudlotul Muta’abbidin, Lamongan Jawa Timur. Di akhir tahun 2016 ini (31/12), kami memilih menghabiskan waktu liburan untuk menikmati gerimis Lirboyo.

Kami yang terdiri dari puluhan santri putri turun satu per satu dari bus, tepat di depan gerbang Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM). Seragam yang kami pakai, tas yang kami jinjing, serasa menunjukkan keinginan kami yang besar untuk mengetahui rahasia belajar santri Lirboyo.

Kami tak mau membuang-buang kesempatan. Tanpa istirahat, dengan hanya disela helaan nafas, kami berkumpul di Aula P3HM untuk membuka kegiatan kunjungan kami ini. Pengurus pondok yang hadir siang itu, memberikan kami beberapa keterangan ringan terkait P3HM. Tentu saja agar kami, 36 santri dadakan ini merasa lebih dekat dengan Lirboyo.

Tak berselang lama, dengan ditemani dua pembimbing, kami segera mengikuti salah satu jadwal harian santri P3HM di siang hari. Yakni, pengajian kitab tafsir Jalalain setelah jamaah salat dhuhur. Kitab ini dibacakan langsung oleh sang pengasuh yang kami kagumi, KH. M. Anwar Manshur.  Kami memang tidak membawa kitab tafsir. Namun hanya dengan mendengarkan bacaan beliau saja hati kami adem, sejuk, tentram. Kami yakin, itu adalah pancaran yang keluar dari kealiman dan ketawadhuan beliau. Kesempatan kami untuk bersuka dengan pengajian beliau siang itu tak lama, hanya sekitar setengah jam. Tapi, siapa mengelak kalau itu adalah salah satu momen paling berharga yang bisa didapatkan? Terutama bagi kami, santri-santri kecil ini?

Sore hari adalah waktu yang padat bagi santri Mubtadi-aat. Di waktu ini, kami dapat melihat bagaimana aktivitas berjalan di luar kegiatan belajar. Sejatinya, di waktu itu pula kami bisa merasakan atmosfir pesantren sebenarnya. Bagaimana mereka menjalani keseharian. Memenuhi keperluan insaniyah mereka. Tidak begitu berbeda dengan kami sebenarnya. Hanya, mungkin berkah kebersahajaan para pendiri dan pengasuh menjadikan pondok ini beraura sejuk dan menenangkan. Entah bagaimana pola kesejukan itu bekerja.

Kami sengaja menepikan lelah. Ini adalah kesempatan kami satu-satunya. Karena meski kunjungan dari pesantren kami ini berulang setiap tahun, masing-masing dari kami hanya mendapat satu kali kesempatan. Di tahun berikutnya, giliran adik kelas kami yang menimba ilmu di sini nantinya.

Dan the only chance ini kami tak ingin melewatkannya dengan berleha-leha. Bada isya, kami mengikuti jam wajib belajar. Kabarnya, sistem wajib belajar ini juga diberlakukan di pondok putra, yang berada di barat pondok putri ini. Menurut kawan-kawan baru, wajib belajar ini adalah ajang diskusi interaktif antar teman sekelas. Jika di sekolah diskusi berlangsung dengan guru, dan musyawarah dilangsungkan dengan beberapa sistem dan banyak peserta, di wajib belajar ini santri berdiskusi dengan lebih dalam lagi. Di samping karena sudah mendapat bekal di sekolah dan musyawarah, jumlah peserta yang lebih kecil membuat diskusi lebih intens, dan bahasan masalah dapat diperoleh lebih dalam.

Pada akhirnya, kondisi tubuhlah yang berbicara. Kebetulan, pengurus memberi tahu kami bahwa sudah tidak ada kegiatan selepas pukul sembilan malam, saat wajib belajar berakhir. Kami harus istirahat, karena di pagi hari, setelah subuh, kami mendapat ilmu baru dari kawan-kawan Mubtadi-aat: menggunakan mukenah yang sah dan sesuai kutubus salaf.

Sepertinya sederhana, tinggal mengerubungi tubuh dengan kain putih panjang. Ternyata, ada yang belum disadari bahwa terdapat hal-hal kecil yang bisa mempengaruhi keabsahan salat kami. Misalnya, memakai mukena potongan. Yang terlihat, memang sudah cukup untuk menutup seluruh aurat. Namun ketika kita gunakan untuk salat, takbir misalnya, aurat kita, baik sebagian maupun seluruh bagian lengan kita akan terlihat dari bawah. Sementara, syariat menuntut untuk tertutupnya aurat dari penglihatan dari seluruh arah, atas-bawah, depan-belakang, kanan-kiri.

Dan ilmu-ilmu kami semakin bertambah ketika setelahnya kami dipersilahkan untuk ikut sekolah pagi. Di sini kami melihat dialog yang sangat cair antara guru dengan para siswa. Candaan sering digulirkan, tanpa mengurangi fokus pembahasan pelajaran.

Bagi kami, suguhan ilmu di pesantren ini melimpah ruah. Di ruang kelas, di aula, di serambi-serambi kecil kamar, ilmu –ilmu itu tersebar. Pada akhirnya, kami hanya bisa ber-tamanni, ilmu-ilmu itu dapat kami tangkup dan terkumpul di gelas kecil kami. Harapan yang lucu dan aneh, mengingat kami mengenyamnya hanya sehari semalam. Bahkan, untuk menyimpan nasehat beliau, Romo Yai Anwar, gelas kami masih terlalu kecil. Dari beberapa tetes yang tertangkup itu, satu yang paling kami ingat, “kalian mondok itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat. Biarpun yang membiayai orangtua kalian, yang membutuhkan peran kalian adalah masyarakat.”

Terima kasih Lirboyo. Sungguh liburan yang menyenangkan.

Masa Orientasi Santri Baru

LirboyoNet, Kediri – Kemarin siang, Senin (28/09) seluruh siswa kelas IV Ibtida’iyyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) berkumpul di Aula Al-Muktamar Lirboyo. Aula ini merupakan ruangan terbesar yang dimiliki Pesantren Lirboyo yang berdiri megah di bagian barat pesantren. Selain untuk rutinitas para santri, gedung ini juga disewakan kepada umum (dengan catatan acara yang digelar harus memenuhi syarat dan ketentuan). Meski lokasi gedung terbilang jauh dari asrama para santri, siang itu mereka rela berduyun-duyun ke barat demi melaksanakan agenda ta’arruf bersama para dewan mustahiq (wali kelas).

Jumlah siswa kelas IV Ibtida’iyyah sendiri tahun ini mencapai angka 1.610 siswa, terbanyak dibanding siswa kelas lain. Jumlah sebanyak itu terbagi atas delapan bagian (A-H), yang menempati total 24 lokal kelas.

Acara yang bisa dikatakan sebagai masa orientasi sekolah tersebut, sebenarnya diikuti pula oleh beberapa siswa yang berangkat dari kelas di bawahnya, entah kelas III Ibtida’iyyah maupun Tingkat Idadiyah (Kelas Persiapan). Dalam acara tersebut, mereka dikasih kejelasan tentang sistem pembelajaran di Ponpes Lirboyo. Meskipun toh acara semacam ini sudah digelar pada Syawal kemarin, pihak MHM merasa perlu menggelarnya kembali karena banyak juga para santri yang datang setelah acara ta’aruf pada bulan syawal digelar.

Siang itu mereka yang masih dalam taraf mencoba beradaptasi dengan lingkungan pendidikan baru, dikenalkan dan diberi pengarahan bahwa Pondok Pesantren Lirboyo sangat menekankan pendidikan yang berdasar pada akhlaqul karimah, etika yang baik. Karena para masyayikh memandang bahwa kemampuan beretika yang paripurnalah bekal terbaik untuk berkehidupan nan harmonis di masyarakat kelak.

Apalagi, prilaku sosial bangsa Indonesia saat ini berada pada level yang mengkhawatirkan. Keresahan para tokoh bangsa atas fenomena kemerosotan moral ini bertebaran di berbagai media. “Akhlak adalah modal utama yang harus ditularkan oleh santri-santri Lirboyo pada masyarakat sekitarnya. Kita sabarkan hati kita untuk tetap berjihad dalam menyempurnakan akhlak, yang sudah dikawal oleh Rasulullah SAW, sejak dahulu,” tegas Saiful Mujab, salah seorang pengajar siswa kelas IV Ibtida’iyyah kepada para siswa.][