Tag Archives: Haji

Mengenal Ciri-ciri Haji Mabrur

Sebagai penyempurna rukun Islam, semua orang yang telah melaksanakan ibadah haji juga menginginkan hajinya menjadi haji yang mabrur. Sebuah predikat yang menjadi hak prerogatif Allah untuk hambanya yang telah menunaikan ibadah haji. Dalam beberapa hadisnya, Rasulullah Saw. pernah menjelaskan keutamaan-keutamaan haji mabrur. Seperti hadis populer yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari:

وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur selain surga”. (HR. al-Bukhari)[1]

Pakar hadis kenamaan, Ibnu Hajar al-‘Asqolani, mengartikan haji mabrur sebagai bentuk ibadah haji yang diterima atau haji yang tidak tercampur dengan perbuatan dosa.[2] Sehingga tak heran Rasulullah Saw. menjelaskan apabila Allah Swt. membalas ibadah haji yang  mabrur dengan surga.

Namun pada kenyataannya, tidak semua orang yang pernah berhaji memiliki predikat haji mabrur. Karena ada beberapa ketentuan dan ciri-ciri khusus yang dimilikinya. Adapun ciri-ciri haji mabrur adalah terbentuknya akhlak yang terpuji dan meningkatnya rasa takwa bagi seseorang yang telah menunaikan haji. Sebagaimana penjelasan imam al-Khawash yang dikutib al-Habib Abdurrahman al-Masyhur dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

 قَالَ الْخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللهُ مِنْ عَلَامَاتِ قَبُوْلِ حَجِّ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ خُلِعَ عَلَيْهِ خِلْعَةَ الرِّضَا عَنْهُ أَنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الْحَجِّ وَهُوَ مُتَخَلِّقٌ بِالْأَخْلَاقِ الْمُحَمَّدِيَّةِ لَا يَكَادُ يَقَعُ فِيْ ذَنْبٍ وَلَا يَرَى نَفْسَهُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللهِ وَلَا يُزَاحِمُ عَلَى شَيْئٍ مِنْ أُمُوْرِ الدُّنْيَا حَتَى يَمُوْتَ

Imam al-Khawash berkata, di antara tanda-tanda seseorang yang ibadah hajinya diterima ialah bahwa dirinya telah membuka pintu ridho, sehingga ia kembali (dari haji) dengan memiliki perilaku terpuji, tidak mudah melakukan dosa, tidak menganggap dirinya lebih baik atas makhluk Allah yang lain, dan tidak berlomba-lomba dalam urusan dunia sampai ia meninggal dunia”.[3]

Dengan demikian, tak diragukan lagi bahwa predikat haji mabrur bukanlah hal yang remeh. Tak heran semua orang yang telah menunaikan ibadah haji berlomba-lomba memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, baik yang berkaitan dengan amal ibadah maupun etika sosial kemasyarakatan. Karena pada dasarnya, haji mabrur tidak hanya memberikan kebaikan untuk orang yang mendapatkannya. Akan tetapi juga memberi dampak kebaikan untuk masyarakat di sekitarnya. []waAllahu a’lam


[1] Al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, vol. 3 hal. 2

[2] Ibnu Hajar al-‘Asqalani,Fath al-Bari, vol. 1 hal. 87, Maktabah Syamilah

[3] Abdurrahman al-Masyhur,Buhyah al-Mustarsyidin, hal. 187 cet. Darul Fikr

Kisah Pertemuan Khalifah Harun ar-Rosyid dan Para Wali Agung dalam Perjalanan Haji

Dikisahkan, Khalifah Harun ar-Rosyid, seorang Khalifah dinasti Abbasiyyah yang terkenal adil dan bijaksana sedang berada dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Perjalanan haji sang Khalifah bertepatan dengan tahun 188 Hijriah dan merupakan haji terakhir bagi sang Khalifah dalam hidupnya.

Dalam menyusuri ganasnya padang pasir, bertemulah sang Khalifah Harus ar-Rosyid dengan seorang wali besar bernama Imam Fudhoil bin Iyadh.

“Wahai Khalifah yang terlihat indah wajahnya, engkau nanti akan dimintai tanggung jawab atas umat Islam, takut lah engkau akan hari dimana diceritakan dalam al-Quran

إذ تبرأ الذين اتبعوا من الذين اتبعوا ورأوا العذاب وتقطعت بهم الأسباب

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.”

Maka seketika itu juga, Khalifah Harun ar Rosyid menangis dengan sendunya. Terlihat basah janggut putihnya. Begitu juga dengan Sang Sufi Imam Fudhoil bin Iyadh pun ikut hanyut dalam isak tangis. Setelah beberapa waktu, keduanya pun memutuskan untuk berpisah.

“Seandainya aku diberi kesempatan untuk meraih doa yang mustajabah, niscaya akan kupersembahkan seluruh doaku untuk Khalifah Harun ar-Rosyid”

“Karena dengan baiknya sang Khalifah niscaya akan baik seluruh keadaan rakyat, begitu juga ketika sang Khalifah dan rakyat terjaga kebaikannya niscaya akan tentramlah seluruh hamba Allah dan amanlah negara ini,” ujar Imam Fudhoil bin Iyadh dalam akhir perjumpaannya dengan sang Khalifah.

Setelah melaksanakan rangkaian ibadah haji. Sampailah waktunya bagi sang Khalifah untuk kembali larut dalam kesibukannya melayani rakyat di ibukota Baghdad. Dalam perjalanan pulangnya dari tanah suci, lewatlah rombongan besar sang Khalifah di Kota Kuffah.

Dikisahkan, di kota tersebut terdapat seorang wali agung yang terkenal aneh (jadzab) bernama Bahlul al-Majnun. Kemudian, bertemulah sang Khalifah dengan Sang Sufi Bahlul al-Majnun.

“Wahai Sufi berilah aku nasihat,” pinta sang Khalifah, Sang Sufi pun menyenandungkan sebuah syair yang sangat menyentuh

هب أن قد ملكت الأرض طرأ

ودان لك العبد فكان ماذا

أليس غدا مصيرك جوف قبر

ويحثو عليك التراب هذا ثم هذا

“Bangun lah, bukankah Engkau telah merajai segenap penjuru bumi,”

“Telah merunduk kepadamu hamba Allah, mengapa hal itu terjadi?”

“Bukankah esok hari, liang lahat adalah tempatmu kembali,”

“Dan akan mengubur jasadmu, debu-debu yang berterbangan ini.”

“Sungguh benar engkau wahai Bahlul, adakah petuah lain untukku?,” ujar sang Khalifah dengan penuh takdzim.

“Wahai pemimpin umat, ingatlah barang siapa yang diberikan Allah harta dan keindahan, kemudian ia menjaga keindahannya dan mengawasi kemana dan darimana hartanya datang, niscaya Allah tuliskan ia dalam catatan orang-orang yang beruntung”.

Khalifah Harun ar Rasyid merasa beruntung diberi nasihat oleh Bahlul, Sang Sufi.

“Terima kasih banyak, sungguh kami ingin melunasi hutangmu dengan hadiah yang kami bawa,” ujar sang Khalifah.

“Tak usah engkau lakukan wahai Amirul Mukminin, kembalikan setiap hak kepada pemiliknya, lunasilah hutang kewajiban dirimu atas apa yang Allah berikan kepadamu,” seru sang Sufi.

“Kami sangat ingin memberikanmu sebagian dari harta yang kami miliki agar engkau merasa senang dengan hadiah tersebut,” rayu sang Khalifah.

“Jangan lakukan hal itu wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Swt. memberikanmu banyak nikmat dan tak lupa Allah juga memberikan hal yang sama kepadaku, aku telah bersyukur diberikan nikmat hidup oleh Allah, berpalinglah tak ada kebutuhan sedikit pun bagi diriku atas hadiah darimu,” ujar sang Sufi.

“Baiklah, terimalah hadiah seratus dinar dari kami,” bujuk sang Khalifah.

“Kembalikan lah harta tersebut kepada setiap orang yang berhak mendapatkannya, apa yang bisa ku lakukan dengan uang sebesar itu ? Berpaling lah sungguh kau telah meremehkan Dzat yang selalu memberikan ku nikmat” jawab sang Sufi.

Maka berpalinglah sang Khalifah Harun ar-Rasyid dan kini ia mendapatkan pelajaran dari seorang sufi seperti Bahlul al-Majnun yang mampu melepaskan jeratan dunia dari hatinya.

Sungguh cerita yang indah, dimana seorang pemimpin memuliakan dengan hormat seorang Ulama. Begitu juga, sungguh mulia seorang ulama yang begitu mencintai pemimpinnya bahkan mau memberikan nasehat tanpa imbalan sedikit pun.

Dikisahkan juga, Khalifah Harun adalah seorang Khalifah satu-satunya dari dinasti Abbasiyah yang pernah berjalan kaki dari kota Baghdad menuju kota Makkah untuk melakukan ibadah Haji.

Diceritakan pada suatu malam, Khalifah Harun ar-Rasyid bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad Saw.

“Wahai Harun, sungguh seluruh keputusan telah menjadi tanggung jawabmu, maka berhajilah dengan berjalan kaki kemudian berperanglah untuk menegakkan agama Allah, berilah kelapangan bagi penduduk Haramain (Makkah dan Madinah).”

Maka atas mimpi tersebut, esoknya Khalifah Harun ar-Rasyid berangkat Haji dengan berjalan kaki. Sang Khalifah mengunjungi satu persatu kota saat menuju kota Makkah. Sang Khalifah tidak singgah di sebuah kota dalam perjalanan hajinya kecuali seluruh penduduk kota akan mengagungkannya berkat keadilan sang Khalifah yang sangat terkenal.[]

______________

Refrensi :

Kitab an Nujum Zahirah

Kitab Tarikh Baghdad

Kitab Bidayah wan Nihayah

Penulis, M. Tholhah Al-Fayyad, mutakhorrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017.

Mengenal Syaikhuna KH. Maimoen Zubair

Abu Umamah r.a. meriwayatkan, bahwa ketika haji wada’ Rasulullah berdiri di atas unta berwarna kecoklatan lalu bersabda : “Wahai sekalian manusia, belajarlah sebelum ilmu itu dicabut dari bumi, ingatlah hilangnya ilmu adalah bersamaan dengan wafatnya ulama. Lalu ada seorang Baduwi bertanya, ya Rasul bagaimana bisa ilmu dicabut dari kita, sedangkan di antara kita terdapat mushaf yang tidak pernah berubah sedikitpun semenjak diturunkan kepada para nabi ? Ibnu Mas’ud berkata : umat ini akan selalu dalam kebaikan selama masih berpegang pada ajaran para sahabat, dan jika mereka berpegang kepada orang-orang bodoh, dan terpecah belah, maka akan binasa.

Indonesia kehilangan seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh Bangsa. KH maimun Zubair atau karib disapa Mbah moen yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama, Ulama kharismatik yang telah wafat di Makkah, saat ibadah haji.

Beliau, Maimoen bin Zubair bin Dahlan bin Warijo, dilahirkan di sebuah desa bernama Karangmangu, kecamatan Sarang, kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya pada Kamis Legi, 28 Sya’ban tahun 1348 H, bertepatan dengan bulan Oktober 1928. Tahun ketika pemuda-pemudi Indonesia bersumpah akan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Beliau diasuh di bawah bimbingan ayah dan kakeknya dari jalur ibu, yakni Kiai Ahmad bin Syuaib bin Abdul Razzaq.

Pada waktu kehamilan sang ibunda, kakeknya yang bernama Syuaib sowan (berkunjung) kepada KH. Faqih Maskumambang Gresik yang merupakan murid dari Syaikh Mahfudz at-Tarmasi. Beliau sowan untuk minta doa  dan bertabaruk agar kelak jabang bayi (cucunya) menjadi orang yang yang tafaqquh fid diin, ahli tafsir,serta ahli dalam ilmu-ilmu agama.

Pada awal masa kemerdekaan, beliau menimba ilmu di Pesantren Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan, juga KH. Mahrus Aly. Di Kediri, beliau juga menimba ilmu kepada Kiai Ma’ruf Kedunglo yang masyhur sebagai kiai yang ahli riyadhah. Ketika mondok di Lirboyo, beliau juga bertirakat seperti menyedikitkan makan dan tidur, serta sangat bersungguh-sungguh belajar. Beliau mendapat ijazah dzikir dari Kiai Ma’ruf Kedunglo serta berkhidmah kepada Mbah Manab selama mondok. Kurang lebih lima tahun beliau menimba ilmu di Lirboyo.

Menginjak usia 21 tahun, beliau mengembara ke Mekah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni Kiai ahmad bin Syuaib. Tak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya. Diantaranya kepada al-muhaddits Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath. Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani.

Sekembalinya dari Tanah suci, beliau masih tetap ngangsu kaweruh. Beliau meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada para ulama besar Tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya ialah Kiai Zubair (ayah beliau), KH Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem (mertua beliau), KH. Ma’shum Lasem, KH. Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta, KH. Bisri Musthofa Rembang, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas Djamil Buntet Cirebon, Kiai Ihsan Jampes Kediri, KH Abdul Fadhol dan KH. Abul Khair Senori, KH. Bisri Syansuri, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Malang, Habib Ali bin Ahmad Alattas Pekalongan, KH.. Thahir Rahili Jakarta, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Chudlari Tegalrejo, juga KHR. Asnawi Kudus.

Beliau menikah pertama kali dengan Ny. Fahmiyah binti Kiai Baidlawi Lasem, dikaruniai tujuh anak, empat di antaranya wafat saat masih kecil. tiga lainnya ialah Abdullah Ubab, Muhammad Najih, dan Shabihah. Sepeningggal istri pertama, beliau menikah lagi untuk kedua kalinya dengan Ny. Masthi’ah binti Kiai Idris Cepu Blora, dianugrahi enam putra dan satu putri, yakni Majid Kamil, Abdul Ghafur, Abdur Rauf, Muhammad Wafi, Yasin, Idrar, dan Radhiyyah.

Pada tahun 1964M/1386H, beliau mendirikan mushalla untuk mengajar masyarakat desa Sarang. Selanjutnya pada tahun 1388H/1964M beliau membangun kamar di samping mushala untuk orang yang menghendaki mondok. Pada 1970, berduyun-duyun santri dari berbagai daerah menghendaki belajar, sehingga berdirilah pondok pesantren yang berlkasi disisi kediaman beliau, yang kini dikenal dengan nama Al-Anwar.

Kegiatan sehari-hari beliau ialah mengajar santri dengan membacakan kitab-kitab seperti Fathul wahab, Syarah Mahally ‘alal Minhaj, Jam’ul Jawami’, Ihya Ulumudin, dan masih banyak yang lainnya. Khusus pada bulan Ramadhan, beliau mengaji kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwattha Imam Malik, Riyadhis Shalihin, atau Al-Adzkarun Nawawi. Untuk hari Ahad, beliau Mengajar masyarakat Sarang dan sekitarnya kitab Tafsir Jalalain yang dihadiri tujuh ribuan orang.()

*Disarikan dari Buku Oase jiwa 2 (Rangkuman Pengajian Syaikhuna KH. Maimoen Zubair)

Ciri-Ciri Haji Mabrur

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika masa-masa kedatangan jamaah haji, sering terdengar di telinga kita sebuah istilah yang disebut dengan haji mabrur. Sebenarnya apakah haji mabrur itu dan seperti apa ciri-cirinya? terimakasih.

Wassalamu’laikum Wr. Wb.

(Hadi– Grobogan, Jawa Tengah)

_________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Semua orang yang telah melaksanakan ibadah haji menginginkan hajinya menjadi haji yang mabrur. Sebuah predikat yang menjadi hak prerogatif Allah untuk hambanya yang telah menunaikan ibadah haji. Dalam beberapa hadisnya, Rasulullah saw. pernah mengatakan keutamaan haji mabrur yang dimaksud:

وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur selain surga”. (HR. al-Bukhari)[1]

Salah satu pakar hadis, Ibnu Hajar al-‘Asqolani, mengartikan haji mabrur sebagai haji yang diterima atau haji yang tidak tercampur dengan perbuatan dosa.[2] Di antara ciri-ciri haji mabrur adalah memiliki akhlak yang terpuji dan meningkatnya rasa takwa setelah pulang haji. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

 قَالَ الْخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللهُ مِنْ عَلَامَاتِ قَبُوْلِ حَجِّ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ خُلِعَ عَلَيْهِ خِلْعَةَ الرِّضَا عَنْهُ أَنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الْحَجِّ وَهُوَ مُتَخَلِّقٌ بِالْأَخْلَاقِ الْمُحَمَّدِيَّةِ لَا يَكَادُ يَقَعُ فِيْ ذَنْبٍ وَلَا يَرَى نَفْسَهُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللهِ وَلَا يُزَاحِمُ عَلَى شَيْئٍ مِنْ أُمُوْرِ الدُّنْيَا حَتَى يَمُوْتَ

Imam al-Khawash berkata: di antara tanda-tanda seseorang yang ibadah hajinya diterima ialah bahwa dirinya telah membuka pintu ridho, sehingga ia kembali (dari haji) dengan memiliki perilaku terpuji, tidak mudah melakukan dosa, tidak menganggap dirinya lebih baik atas makhluk Allah yang lain, dan tidak berlomba-lomba dalam urusan dunia sampai ia meninggal dunia”.[3]

Dengan demikian, predikat haji mabrur tidak hanya memberikan kebaikan untuk orang yang mendapatkannya. Akan tetapi juga memberi dampak kebaikan untuk masyarakat di sekitarnya. []waAllahu a’lam

 

________________

[1] Shahih al-Bukhari, vol. 3 hal. 2

[2] Fath al-Bari, vol. 1 hal. 87, Maktabah Syamilah

[3] Buhyah al-Mustarsyidin, hal. 187 cet. Darul Fikr

Tasyakuran Haji di Nusantara

Siapapun mengakui, memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci merupakan sebuah kenikmatan agung. Perasaan hati yang bahagia dan bersyukur secara otomatis akan dirasakan setiap umat Islam yang mendapatkan ‘panggilan’ tersebut.

Di Indonesia, umumnya para jamaah haji yang telah pulang dari ‘perjalanan suci’ itu mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa. Sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di bandara dan asrama haji, segenap keluarga telah setia menunggu untuk menyambut kedatangannya.

Sebenarnya, tradisi yang serupa sudah pernah dicontohkan oleh para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw. dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah. (HR. Muslim)[1]

Rangkaian penyambutan haji terus berlanjut hingga ke kampung halamannya. Para saudara, kerabat, dan tetangga telah menunggu kedatangannya di tengah-tengah mereka. Biasanya, masyarakat Indonesia menyebutnya dengan istilah ziarah haji, sebuah tradisi untuk mengunjungi para tamu Allah yang telah pulang ke kampung halamannya.

Kearifan lokal umat Islam di Nusantara ini sama persis dengan tradisi yang disebut dengan istilah an-Naqi’ah dalam kajian fikih. Secara pengertian, an-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis Rasulullah Saw,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi.” (HR. Bukhari)[2]

Rangkaian tradisi yang lebih penting dari semua itu adalah mendapatkan berkah doa dari mereka yang baru pulai menunaikan ibadah haji. Karena sebenarnya, doa tersebut lah yang menjadi tujuan utama dari dari para peziarah haji. Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ …رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni.” (HR. Ahmad)[3]

Hadis tersebut juga memberi pemahaman bahwa seseorang yang usai menunaikan ibadah haji dianjurkan untuk mendoakan orang lain meskipun orang tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang yang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Tujuannya adalah agar ia termasuk dalam doa yang pernah diucapkan oleh nabi Muhammad saw. Sebagaimana dalam sebuah redaksi hadis,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji.” (HR. Muslim)[4]

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang usai menunaikan ibadah haji. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keutamaan doa dari mereka terus menerus hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal.[5] []waAllahu a’lam

 

_________________________

[1] Shahih Muslim, IV/185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, IV/400, CD. Maktabah Syamilah.

[3] Dalil Al-Falihin, III/237.

[4] Faidh Al-Qodir, II/101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, II/554, CD. Maktabah Syamilah.