Tag Archives: Santri

Nasihat Mualif Simtu ad-Duror

Nasihat Mualif Simtu ad-Duror | Pernah dalam sebuah ceramah beliau memberi nasehat-nasehat wasiat bagi seorang penuntut ilmu. Di antaranya dalam wasiat tersebut:

“Ketauhilah, aku senang kepada kalian karena kalian mau membawa buku. Ku do’akan kalian berumur panjang dan memperoleh futuh. Katauhilah, setiap orang yang mengajarkan ilmu yang dimilikinya, kelak (di hari qiamat) akan mendapat pertolongan Rasullullah Saw.”

Bahkan dalam kesempatan yang lain beliau pernah berkata: “Aku menempatkan para penuntut ilmu di atas kepalaku. Jika bertemu pelajar yang membawa kitabnya, ingin rasanya aku mencium kedua matanya. Bagaimana mungkin kita tidak mengagumi meraka, sedangkan Rasulullah Saw bersabda: “Agama ini pada awalnya asing dan kelak akan kembali asing. Sungguh beruntung orang-orang yang (dipandang) asing. Yakni orang-orang yang menghidupkan kembali sunnahku yang telah dimatikan oleh masyarakat.“

Betapa beliau sangat menjunjung dan memuji para penuntut ilmu. Hal ini dibuktikan oleh nasihat beliau pada hari ahad, 11 syawal 1322 H. dalam sebuah majelis di Anisah, Habib Ali mengundang dan menjamu para pelajar. Saat itu, Habib Ali berkata:

“Ketahuilah, hari ini aku mengundang kalian dengan tujuan agar kalian bangkit dengan penuh semangat untuk menuntut ilmu. Dan ketahuilah, aib bagi seorang pelajar adalah jika ia tidak membawa buku.

Giatlah belajar, semoga Allah memberkahi kalian. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu, dan perhatikanlah salat kalian.”

Sanjungan untuk Santri

Lalu beliau kembali menuturkan tentang kelebihan-kelebihan dari para santri. “Mereka menghafal berbagai matan (naskah). Mereka telah hafal kitab Zubad, Mulhah, Alfiyah, Jurmiyah, dan kitab lainnya di masa kecil mereka. Setelah dewasa, di antara mereka ada yang hafal kitab al Minhaj, al Irsyad, dan ada pula yang telah hafal al-Ubad. Sedangkan kalian (selain santri)? Satu kitab pun takada yang hafal, andai kata ada yang hafal, ia tidak akan faham dan tidak akan mengamalkan isinya.”

Beliau memang sangat menjunjung para santri hal itu tercermin dalam nasihat-nasihat beliau di antaranya: “Aku ingin setiap pelajar membawa alat tulisnya ketika mengikuti pelajaran, kemudian mencatat persoalan-persoalan yang telah dihafalnya. Ketahuilah, manfaat sebuah ilmu terletak pada pengalaman dan pencatatannya.”

 “Pelajarilah cara mematikan hawa nafsu, pelajarilah adab. Tuntunlah ilmu, baik dari orang dewasa maupun anak-anak. Jika yang mengajarakan ilmu jauh lebih muda, janganlah berkata: ‘Kami tidak mau belajar kepadanya, itu aib bagi kami.’ Ketahuilah Allah telah memberinya ilmu, meski ia masih kecil. Dengan belajar kepadanya, mengakui dan menghormatinya, Allah akan memuliakanmu sebagaimana Allah telah memuliakannya.”

“Jauhilah dengki dan iri hati. Ketahuilah, kedua sifat ini dapat mencabut keberkahan ilmu. Ambilah manfaat dari setiap orang yang dapat memberimu manfaat. Bahkan andaikan seorang yang pekerjaannya merabuk tanah dengan kotoran hewan hendak memberimu manfaat, maka ambilah manfaat darinya.”

“Pelajarilah pelajaran yang hendak kalian bacakan di hadapan guru kalian (sorogan), dengan demikian kalian akan memetik banyak manfaat. Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi membaca pelajarannya sebanyak 25 kali sebelum mengikuti pelajaran gurunya, dan beliau mengulang pelajarannya sebanyak 25 kali seusainya. Jika kalian, hanya membuka-buka kitab kalian ketika telah berada di depan guru kalian. Maka lihatlah Syeikh Fakhrurrazi, beliau mengulang pelajarannya sebanyak 1000 kali”.

“Ketika masih menuntut ilmu di Mekkah, setiap malam aku bersama kakakku Husein dan Alwi as-Seggaf mempelajari 12 kitab syarah mulai dari al-Minhaj. Lalu menghafalkan semuanya. Suatu ketika, di akhir malam, ayahku keluar dari kamarnya dan mendapati kami sedang belajar. Beliau berkata: ‘Wahai anak-anakku, kalian masih belajar? Semoga Allah memberkati kalian’.”

“Ketahuilah, menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, manfaatkanlah masa muda kalian, masa lapang kalian dan tenaga kalian. Perhatikanlah bagaimana orang-orang tua menghadapi kesulitan ketika menghafal.”

Demikian sedikit nasihat dan wasiat beliau. Semoga kita termasuk orang yang diberkati oleh Allah karena mengenal, mengenang kekasih Allah ini. Menjadi umat baginda Nabi Muhammad Saw. yang dicintai dan disayang karena keberkahan dari para guru kita, para Ulama’, para Habaib-habaib, terutama Habib Ali al-Habsyi. []
Nasihat Mualif Simtu ad-Duror

Penulis: Sayyid Abdurrohman as-Seggaf

baca juga: KUPAS TUNTAS PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW
baca juga: MENGENAL MUALIF MAULID SIMTU AD-DUROR
tonton juga: Rahasia Sukses Dunia & Akhirat | KH. Abdullah Kafabihi Mahrus

Vaksinisasi Dosis Kedua di Pondok Lirboyo

Vaksinisasi dosis kedua di Pondok Pesantren Lirboyo dilakukan pada hari Sabtu 25 September 2021. Pemberian dosis ini merupakan tindak lanjut dari pemberian dosis vaksin pertama yang dilaksanakan pada tanggal 25-26 Agustus 2021. Bertempat di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, pukul 08.00 WIs. – 12.00 WIs.

Jenis vaksin yang diberikan pada kesempatan ini adalah Sinovac, dengan vaksinator dilakukan oleh Puskesmas Perawatan Ngletih (PKM).

Pemberian dua dosis vaksin Covid-19 ini tidak lain sebagai ikhtiar memperoleh kekebalan tubuh yang maksimal, juga sebagai kunci utama untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Para peserta vaksinisasi mematuhi protokol kesehatan, yaitu memakai maker dengan baik dan benar (menutupi hidung dan mulut) dan menjaga jarak fisik 1-2 meter dengan para peserta vaksinisasi yang lain.

Acara vaksinisasi ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan suatu apapun. []

baca juga: Gubernur Tinjau Vaksinasi Lirboyo
tonton juga: Istighatsah Menghadapi Musibah

Vaksinisasi Dosis Kedua di Pondok Lirboyo

Dari Mitos Menuju Logos

Dari Mitos Menuju Logos | Tidaklah asing bagi telinga kita mendengar kata mitos dan logos (logika) dua kata yang sangat berbeda, dan saling bertolak belakang makna yang terkandung.

Istilah mitos yang sering kita ketahui diambil dari kata mite/myth yang berasal dari perbendaharaan kata Yunabi kuno, yakni muthos, yang berarti “ucapan” atau lebih dimengerti sebagai cerita rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita atau mempercayainya.

Dalam hal ini, (berkaitan dengan filsafat) dalam sejarahnya berawal dari kisah berubahnya orientasi kehidupan dari mitos menuju logos, yakni pola fikir yang terkutat pada narasi yang tidak rasional menuju pola fikir yang berlandaskan ilmu pengetahuan yang logis (dapat diterima akal). Dari sinilah peran ilmu pengetahuan tumbuh dengan sangat pesat.

Sebagai contohnya, dalam mitos. Pelangi digambarkan sebagai dewa atau sesosok naga cantik yang sedang turun ke bumi guna mencari air untuk diminum. Sedangkan dalam Logos Anaxagoras berpendapat bahwa pelangi adalah pantulan dari matahari yang ditangkap oleh awan.

Berbeda halnya pendapat Xonophan yang mengatakan bahwa pelangi merupakan awan itu sendiri. Dua pendapat yang terakhir jelas bukan sebagai mitos, melainkan buah dari pemikiran. Pendapat ini dapat diteliti dan diperdebatkan yang mungkin apabila dibaca dengan teori-teori ilmiah, hal ini terasa “Artifisial”. Sedangkan Pelangi sebagai mitos, hanya diterima secara mentah sebagai perwujudan dewa. Dan dari sinilah kita tahu bahwa ilmu pengetahuan tumbuh dan berperan.

Namun, meskipun pola fikir mitos yang seperti terurai di atas, tidaklah dianggap relevan lagi pada zaman sekarang. Alih-alih sudah lenyap dari kehidupan manusia, ternyata belum. Mungkin harus kita akui, dalam kehidupan sehari-hari manusia seolah tidak dapat dipisahkan dari mitos yang ada di sekitar kita. Hanya saja bentuk dan modus keberadaanya berbeda-beda. Di masa kini, mitos bisa berupa cara pandang dan pola fikir yang “dibakukan” dan “disakralkan” sehingga penjelasan dan sudut pandang tertentu sebagai “pasti benar” dan “tidak boleh diubah”.

Dan akhirnya, dengan semangat berhijrah dari pola fikir mitos menuju logos, menjadikan kita lebih giat lagi dalam belajar dan mencari wawasan keilmuan lainnya. Kita sebagai santri dapat berperan dalam menjawab dan mengatasi problematika masyarakat yang kadang-kadang masih berkutat pada pola fikir mitos. Seperti dalam budaya jawa “Nak dino alangan (hari wafanya orang tua yang berdasarkan weton/pasaran, seperti: Rebo Wage) ora oleh lungo-lungo. Kudu ning omah, nek lungo-lungo bakale keno apes. Kita sebagai santri yang notabenya memiliki wawasan syariat yang lebih dalam. Sudah sepantasnya dapat bersikap dan menjawab mengenai persoalan ini.

Dan tentunya untuk menumbuhkan sikap berfikir yang ilmiah ini, bila tidak mau menggunakan istilah logos hendaknya kita mencoba ihwal yang ditawarkan oleh Louis P. Pojman dalam bukunya Philosophy ThePersuit Of Wisdom. Yakni: ikuti rasa takjub dan ingin tahu dalam dirimu, ragukan segala sesuatu yang tidak didukung oleh bukti yang kuat, cintailah kebenaran, analisislah problem dengan cara mengklarifikasi dan melacak hubungan antar klasifikasi, kumpulkan dan susun argumen yang kuat, upayakan sesederhana mungkin dalam menjelaskan, hidupkan kebenaran yang sudah kamu temukan.

Sebagai ikhtitam, teruslah berjalan dengan semangat mencari sebuah ilmudan berevolusilah dengan ide-ide dan pandangan yang selama ini kita yakini sebagai “pasti benar”. Beranikah kita menerima tantangan ini?[]

baca juga: Mimpi Melihat Allah Mungkinkah?

tonton juga: Sejarah dan Fadilah Tahlil | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Penulis: Yu Romi

Sumber: Faiz Fahruddin. Sebelum filsafat. Sleman:FA Press, 2014

Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial

Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial
Penulis: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari*

“Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari Agama dan keduanya saling menguatkan.”
KH. Hasyim Asy’ari

Hari ini, Indonesia tiba di sebuah persimpangan jalan. Hal itu terjadi seiring dengan meruncingnya berbagai problematika kebangsaan di negara kita ini. Sejak dari pasca berdirinya NKRI, bahkan terus berlanjut hingga kini seakan tak kunjung usai mempersoalkan beberapa rumusan kebangsaan. Term nasionalisme salah satunya, sering dibenturkan dengan agama sehingga terjadi tarik ulur antara kebangsaan dan keagamaan. Dua pilar yang seharusnya saling menguatkan itu di perselisihkan seolah bertentangan. Akibatnya, terus menerus memunculkan banyak keresahan. Mulai dari merebaknya aksi terorisme, sikap intoleran terhadap non-muslim, diskriminasi terhadap etnis minoritas dan segudang problematika lainnya. Meski paham nasionalisme sudah terpatri dalam benak setiap santri. Namun, saat ini kita perlu untuk meneguhkan kembali spirit nasionalisme yang kian memudar di generasi milenial.

Akar historis nasionalisme di Indonesia

Paham nation state modern yang lahir melalui perjanjian Westphalia pada tahun 1648 merupakan fondasi sistem politik modern pasca terjadinya perang agama yang berlarut-larut dengan korban mengerikan yang terjadi dalam sejarah Eropa. Pada intinya, paham nation state atau nasionalisme yang sekarang berkembang dan diterapkan di dunia pada umumnya merupakan cerminan dari filsafat individualisme, liberalisme yang bersifat kapitalistik yang netral terhadap agama.

Ini sangat kontras perbedaannya dengan nasionalisme yang berkembang di Indonesia, karena memiliki akar kesejarahan sendiri dan memiliki latar belakang keagamaan tersendiri pula. KH. Wahab Chasbullah adalah ulama Indonesia yang pertama kali memaknai nation state atau nasionalisme berdasarkan nilai Islam dan budaya Indonesia, sehingga  pada akhirnya memudahkan penerimaan konsep pancasila sebagaimana yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Indonesia resmi sebagai sebuah bangsa, lahir sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Sebuah ikrar persatuan luhur pemuda-pemudi Indonesia yang bertekad untuk satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan eskalasi tekad bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, sehingga kemerdekaan berhasil diperoleh 17 tahun kemudian, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ikatan kebangsaan yang diikrarkan bangsa Indonesia, tidak semata-mata dibangun atas dasar kesamaan perangai, melainkan lebih pada kesadaran geo-politik, cita-cita, dan nilai-nilai luhur yang hidup mengakar dalam kepribadian bangsa Indonesia. Prinsip seperti inilah, yang selanjutnya melahirkan wajah bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah bangsa majemuk yang terdiri dari pluralitas suku, bahasa, agama, adat-istiadat, namun memiliki kehendak, cita-cita, dan komitmen untuk hidup mencapai tujuan bersama dalam satu bangsa, Indonesia merdeka. Negara bangsa yang berlaku di Indonesia selain mengandung nilai-nilai Islam juga mengacu pada nilai-nilai sejarah Nusantara, sehingga agama dengan negara hanya bisa dibedakan, tetapi sama sekali tidak bisa dipisahkan, apalagi dipertentangkan. Di situ terdapat hubungan simbiosis mutualistis antara agama dan negara. Konsekuensinya negara tidak bisa mengabaikan budaya Nusantara yang beraneka ragam, karena pada hakikatnya negara adalah rumah bagi para penghuninya yang tidak membedakan agama, suku, dan asal-usulnya.

Nasionalisme dalam perspektif Islam

 Nasionalisme memiliki akar kata “nasional” atau “nation” yang berarti “kebangsaan”. Ernest Renan mengartikan bangsa sebagai satu kelompok masyarakat yang memiliki kemauan atau kehendak untuk bersatu. Sementara Otto Bauer mendefinisikan bangsa sebagai rasa persatuan yang lahir karena persamaan nasib. Definisi nasionalisme inilah yang dikutip oleh Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul Negara Paripurna. Banyak kelompok yang tidak setuju dengan ide nasionalisme. Mereka menentang, bahkan menyebutnya sebagai anak kandung sistem demokrasi barat yang cenderung anti agama (sekuler) dan tidak diajarkan dalam Islam. Sementara itu, kelompok lain menilai, kendati dalam Islam ide nasionalisme tidak memiliki ketentuan secara dalil normatif, tidak lantas membuat ide nasionalisme diklaim sebagai ideologi yang keliru dan keluar dari ajaran agama. Meski nasionalisme bangsa barat cenderung mengandung nilai-nilai yang negatif bila diaktualisasikan di negara kita, tetapi yang menjadi prinsip dasar di dalamnya adalah membangun dan merekatkan persatuan-kesatuan (nation-unity) yang selaras dengan prinsip dasar pancasila.

Oleh sebab itu, sistem yang berangkat dan berasal dari peradaban bangsa barat, tidak boleh buru-buru dipandang dan direspon secara negatif. Akan tetapi, harus disikapi secara jernih dengan pandangan positif. Sebagaimana adagium yang sering disampaikan oleh Rais ‘Am PBNU Almaghfurlah KH. A. Sahal Mahfudz:

خُذْ مَا صَفَى وَاتْرُكْ مَا كَدَرَ

“Ambillah perkara yang jernih, dan tinggalkanlah yang keruh.”

Pakar fikih terkemuka asal Suriah, Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam disertasi doktoralnya Atsar al-Harbi Fi al-Islam mengonfirmasi:

وَهَذِهِ الْأُصُوْلُ الضَرُوْرِيَّةُ لِلْمُوَاطَنَةُ تَبْتَعِدُ عَنْ وُجُوْدِ تَصَادُمٍ أَوْ تَعَارُضٍ بَيْنَ الْمَفْهُوْمِ الْغَرْبِيِّ لِلْمَوْطِنِ وَالْمَفْهُوْمِ الْإِسْلاَمِيْ لَهُ.

“Ide dasar nasionalisme yang dipahami paham barat dan Islam tidaklah bertentangan.”

Dalam bahasa Arab sendiri, nasionalisme dikenal dengan istilah “muwatanah” kata ini berasal dari akar kata “watan” yang berarti tanah air. Sementara, istilah tanah air menurut al-Jurjani dalam at-Ta’rifat-nya diartikan sebagai “al-Watan al-Asali” yang berarti tempat seseorang lahir dan tinggal. Menurut pandangan syari’at, rasa cinta tanah air dan nasionalisme telah dituntaskan oleh Rasulullah Saw.:

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ المَدِيْنَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِهَا. (رواه البخاري)

“Ketika Rasulullah Saw. pulang dari bepergian dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju untanya, dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah.” (HR. Al-Bukhori)

Dalam hadis itu, terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani. Cinta tanah air merupakan prinsip dasar nasionalisme yang paling fundamental. Sebab, mustahil seseorang akan menjaga dan merawat negaranya tanpa didasari kecintaan terhadap tanah airnya. Cinta tanah air adalah fitrah dan naluri manusia. Tidak mengenal agama, suku, dan golongan.

Maka, bila ada pertanyaan mengapa masih banyak kerusuhan, kasus radikalisme, terorisme dan intoleran yang terkesan anti cinta tanah air? Jawabannya, tidak lain adalah karena dua faktor: Pertama, kurangnya pengetahuan tentang anjuran cinta tanah air. Kedua, karena pemahaman cinta tanah airnya yang keliru. Ungkapan demikian senada dengan asumsi yang diutarakan Syaikh Dr. Ali Jum’ah Muhammad, ulama senior al-Azhar asy-Syarif dan mantan Mufti Besar Mesir:

حُبُّ الْأَوْطَانْ فِيْ الْحَقِيْقَةِ هِيَ الْقَضِيَّةُ الْمُؤْلِمَةُ لِلْإِرْهَابِ، لِأَنَّ الْإِرْهَابَ لاَ يُحِبُّ الْأَوْطَانَ وَيُحِبُّ أَنْ يُحَرِّبَ الأَوْطَانَ.

“Cinta tanah air adalah perihal yang sangat menyakitkan bagi para teroris, karena mereka sangat membenci tanah air, dan gemar memeranginya.“

Walhasil, nasionalisme tidak perlu dipertentangkan dengan Islam, karena nasionalisme bukanlah sebuah istilah baru yang belum pernah disinggung sama sekali dalam Islam,  bahkan sebenarnya justru dapat menjadi media pengejawentahan ajaran-ajaran Islam. Sehingga, semangat cinta tanah air itu secara tidak langsung dapat menjadi bagian dari keyakinan setiap Muslim.

Implementasi Cinta Tanah Air di Era Milenial

Syaikh Muhammad Ibn Alan Ash-Shidiqi dalam karya-nya Dalil al-Falihin Li Thuruq Riyadh as-Shalihin menerangkan:

قَالَ بَعْضُهُمْ : هَذَا هُوَ الْمُرَادُ مِنْ حَدِيْثِ «حُبُّ الْوَطَنُ مِنَ الْإِيْمَانِ» أَيْ : فَيَنْبَغِيْ لِكَامِلِ الْإِيْمَانْ أَنْ يُعَمَّرَ وَطَنُهُ بِالْعَمَلِ الصَالِحِ وَالْإِحْسَانِ.

“Sebagian ulama mengatakan: ‘Ini yang dimaksud dengan hadis cinta tanah air adalah sebagian dari iman’ maksudnya, seyogyanya bagi orang yang sempurna imannya untuk memakmurkan tanah airnya dengan amal shalih dan kebajikan.”

 Menurutnya, untuk mengaplikasikan wujud cinta tanah air adalah dengan cara meramaikan atau mengisi negeri ini dengan amal shalih dan kebaikan. Kemudian seiring berkembang pesatnya teknologi informasi, hadir dan berkembangnya ideologi trans-nasional yang cenderung konservatif, radikal, gemar mengkafirkan, dan mengusung agenda penegakan khilafah, menjadi bahaya laten yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Inilah, yang menjadi tanggungjawab dan tantangan generasi bangsa saat ini yaitu menjaga segala ancaman yang merongrong keutuhan NKRI.

Selain itu, komunitas santri juga harus menjadi penggerak (muharrik) dalam pengembangan pengetahuan dan terlibat aktif dalam perdamaian dunia. Sudah tidak zaman lagi, para santri asyik dengan komunitasnya sendiri. Santri-santri milenial harus terlibat aktif dalam pelbagai perkembangan lintas dimensi. Kreatifitas santri milenial tidak hanya dibatasi oleh bilik-bilik pesantren, mereka seharusnya tidak hanya percaya diri dengan kemampuan personal dalam pelbagai pengetahuan, science dan antar bahasa. Namun, santri milenial juga memiliki keunggulan dalam basis moral. Nilai-nilai moralitas inilah yang menjadi daya penunjang bagi santri milenial, di samping kemampuan analisa teks-teks keislaman klasik yang dipelajarinya selama di pesantren.

Kini, saatnya santri-santri milenial berperan sebagai muharrik untuk menebarkan nilai tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan I’tidal (adil) dalam realitas kehidupan, baik di dunia nyata maupun media sosial sebagai bentuk pengabdian nilai-nilai pesantren yang terkoneksi dengan semangat kebangsaan. Guna mengupayakan Indonesia menjadi Baldatun Thayibbatun Wa Robbun Ghofur. Semoga! [AZ]

Baca juga: Cakrawala Santri Indonesia
Simak juga: LAUNCHING VIRTUAL BUKU FIKIH KEBANGSAAN 3

Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial
Meneguhkan Nasionalisme Santri di Era Milenial

Referensi

Muhammad Ibn Alan Ash-Shidiqi, Dalil al-Falihin Li Thuruq Riyadh as-Shalihin  (Beirut: Dar al-Ma’rifah), vol. 1, h. 37.
Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Ma’rifah), vol. 3, h. 621.
Wahbah bin Mustafa az-Zuhaili, Atsar al-Harbi Fi al-Islam (Beirut: Dar al-Fikr al-Mua’shir), h. 437.
Yudi Latif, Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), h. 375.

*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Semester. V asal Purwakarta, Jawa Barat.

Santri Pengawal NKRI

Penulis: Muhammad Habibullah Mahmud
Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebuah bangsa dimana berbagai macam suku, ras, budaya, dan agama berkumpul secara majemuk. Bhineka Tunggal Ika tertanam di dalam jiwa disetiap penduduknya, sehingga rukun dalam berbangsa dan bernegara. Tanpa ada kecemburuan sosial, penindihan hukum dan penindasan hak-hak yang dilandasi perbedaan.

Menurut sejarah, KH. Hasyim Asy’ari melalui pesantren dan Jamiyah Nahdlatul Ulama, melalui resolusi jihad yang beliau utarakan, bahwa “wajib bagi setiap warga Indonesia untuk menjaga NKRI”, menjadi salah seorang tokoh pemantik berkobarnya jiwa santri untuk selalu menjadi garda terdepan dalam mengawal NKRI, juga dari jargon beliau:

حب الوطن من الايمان

“Cinta tanah air merupakan sebagian dari iman”
Mengapa demikian? Apakah beliau tidak mempersoalkan sistem bangsa Indonesia? Ternyata tidak, karena tatanan bangsa Indonesia sudah sesuai dengan norma-norma ajaran Islam. Maka tidaklah mengherankan jika beliau mengeluarkan fatwa ”membela tanah air Indonesia hukumnya wajib.”

Keserasian

Mengenai keserasian tatanan bangsa Indonesia dengan syariat Islam terbukti dari beberapa aspek. Dari penyetaraan kasta sosial dalam bingkai NKRI tanpa memandang perbedaan promodial misalnya. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah membentuk bangsa di Madinah ketika hijrah, yang tatanannya sama dengan NKRI. Karena dari penduduk Madinah yang konotasinya terdiri dari berbagai macam suku, dan kepercayaan—mereka dapat disatukan melalui tekad dan keinginan yang kuat untuk membangun masa depan yang cerah dan hidup bersama dengan damai di bawah naungan bangsa Madinah. Sesuai butir isi Piagam Madinah yang mengikat perdamaian di antara mereka:

إنهم أمة واحدة من دون الناس

“Sesungguhnya mereka (penduduk Madinah) adalah satu umat, bukan komunitas yang lain.”

وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين. لليهود دينهم وللمسلمين دينهم. إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهله بيته

“Kaum Yahudi dari Bani Auf adalah satu umat dengan Mukminin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi orang-orang Muslim agama mereka (kebebasan ini juga berlaku bagi sekutu dan diri mereka sendiri(. Kecuali yang dzalim dan jahat, maka hal itu akan merusak diri dan keluarganya.”

Kesamaan tekad dan cita-cita masyarakat Madinah, membuat mereka bahu-membahu dalam mempertahankan tanah airnya dari serangan pihak luar:

وأن بينهم النصر من ذهب يثرب

“Mereka bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yastrib.” (Al-Hidayah wan Nihayah karya Imam Ibn Katsir)
Mengenai bentuk bangsa Indonesia yang berupa Repubik, juga tidak lepas dari norma-norma ajaran Islam. Republik berasal dari kata ‘re’ yang berarti kembali dan ‘publik’ bermakna kepentingan umum atau masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan fundamental pembentukan pemerintahan adalah untuk kepentingan umum. Filosofi ini merupakan analogi dari salah satu kaidah fikih:

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan pemerintah haruslah berorientasi kepada kemaslahatan publik.”

Estafet

Dengan demikian, sudah jelas bahwa rumusan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara-bangsa yang digagas oleh para pahlawan termasuk para ulama, merupakan manifestasi daripada ajaran Islam yang selayaknya harus diteruskan, dijaga, dan dipertahankan oleh generasi pengganti. Bukan malah mempersoalkan kedamaian dan pesaudaraan yang timbul karenanya. Bukankah kedamaian adalah kenikmatan yang sangat besar? Di mana kita dapat memenuhi apa yang kita butuhkan, beribadah, dan bersenda gurau dengan leluasa. Lihatlah negara-negara lain yang terus-menerus dilanda konflik berkepanjangan. Suara kicauan burung dan senda gurau, berganti dengan desingan tank dan peluru tembak. Tanah yang semula terhiasi rerumputan, tergantikan dengan simpahan darah. Dan seluruh penjuru negara menjadi sarang burung gagak kematian juga kehancuran.

Kendati demikian, sudah bukan saatnya mempersoalkan eksistensi negara. Maka tidaklah mengherankan jika Allah Swt. menyandingkan bunuh diri dengan pergi dari tanah air. Dalam firmannya:

ولو أن كتبنا عليهم أن اقتلوا أنفسكم أو اخرجوا من دياركم ما فعلوه إلا قليل منهم

“Dan sekalipun kami perintahkan kepada mereka “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa: 66)

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menafsiri ayat tersebut bahwa Allah Swt. menjadikan terusir dari tanah air, setara dengan bunuh diri. Maka siapapun tidak akan membiarkan sebutir tanah bangsanya direbut pihak lain (Tafsir al-Wasith). Diceritakan juga bahwa Nabi Muhammad Saw. ketika tiba di Madinah setelah berpergian, beliau menggerak-gerakkan untanya karena sangat bahagianya. Dalam menafsiri hadis tersebut, Imam an-Nawawi memaparkan perihal penanaman jiwa nasionalisme merupakan sebuah anjuran syara’ (Fath al-Bari).

Peran Santri

Lantas sebagai santri, kita sudah selayaknya memberikan sumbangsih kepada bangsa untuk selalu mengawal terjaganya NKRI. Seperti halnya yang telah dicontohkan oleh pembesar-pembesar kita yang senantiasa memberikan komitmennya untuk bangsa dalam merawat bingkai NKRI. Mengenai hal ini, bisa dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan bidang dan kemampuan kita. Yang terpenting ihwal tersebut tidak sampai menimbulkan perpecahan dan kegaduhan.

Kita harus mengingatkan pada diri kita bahwa perdamaian di Indonesia merupakan harga hidup sekaligus sampai mati yang harus ditunaikan. Sayyidina Umar berkata:

لولا حب الوطن لخرب بلد السوء فبحب الأمطان عمرت البلدان

“Andai tanpa adanya cinta tanah air, niscaya akan tersungkur negeri yang terpuruk. Maka, dengan melalui cinta tanah airlah negara akan makmur.”

Mencari ilmu pengetahuan sebagaimana kiprah santri umumnya, juga merupakan sebagian bentuk sumbangsih santri untuk negeri. Karena jika seseorang tidak memiliki ilmu, ia tidak akan pernah ada harganya. Orang bodoh jelas tidak bisa membedakan mana yang bermanfaat dan yang merugikan terhadap bangsa. Maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa langkah pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga bangsa adalah menuntut ilmu.

Kontribusi

Selain adanya tuntutan untuk fokus mengembangkan potensi diri, kita juga harus mulai berkontribusi dalam ruang dakwah yang bebas ini. Saat ini adalah era di mana dunia virtual lebih berpengaruh dari pada dunia nyata. Banyak sekali berita, tulisan, dan informasi yang implikasinya negatif. Sehingga berpotensi merongrong keharmonisan yang telah terajut rapi sekian lama. Diakui atau tidak, media dakwah yang seharusnya kita jadikan sebagai lahan dakwah, menyebarkan pesan-pesan perdamaian, kini lebih didominasi oleh ujaran-ujaran kebencian, dan pemikiran yang menepis jiwa nasionalisme. Bagaimana tidak? Karena bangsa kita adalah bangsa yang makmur sehingga banyak pihak luar yang menginginkan runtuhnya persatuan kita. Seperti kata pepatah “di mana ada gula, pasti di situ ada semut.” Kita sebagai santri harus bisa tampil menjadi oase penyejuk jiwa di tengah gurun hiruk pikuk ini.

Bekal

Ketika menimba ilmu di pesantren, kita sebenarnya memiliki bekal yang cukup untuk membumikan perdamaian dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Karena kita terlahir dari kultur dinamis, tidak kaku. Jika apa yang telah kita ketahui di pesantren tidak kita kembangkan dengan menyebar luaskannya, lalu untuk apa kita mencari sesuatu yang belum kita tahu? Bukannya pesan positif yang kita sampaikan kemungkinan akan bisa menggugah hati yang keruh? Tentu bisa saja, Nabi bersabda:

بلغوا عني ولو آية

“Sampaikan (ilmu) dariku walau satu ayat.”
Analoginya, jika kita telah menyampaikan pesan perdamaian semampu kita, berarti kita telah mengamalkan perintah Nabi. Karena kedamaian dalam berbangsa dan bernegara merupakan tuntunan syariat Islam.
Dalam menjaga dan mengawal keharmonisan NKRI, kita harus bisa mengerahkan jiwa dan raga secara totalitas:

من جد وجد

“Barang siapa bersungguh-sungguh, dia akan menemukan hasil kesungguhannya.”
Juga selalu mengedepankan kepentingan bangsa dari pada kepentingan kita sendiri. Karena berhasil tidaknya suatu keinginan individual kita, tergantung keadaan bangsa. Sebagaimana penggambaran di atas. Artinya kemajuan atau kemunduran bangsa, merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena martabat kita sebagai pewaris bangsa.

Kunci Perdamaian

Sebenarnya santri adalah kunci perdamaian, persatuan, keharmonisan dan kesuksesan bangsa Indonesia. Karena santrilah yang lebih mengetahui letak di mana ridho Allah Swt. Sehingga Allah menjadikan bangsa Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang makmur dan mendapat ampunan Allah). Allah Swt. bersabda:

هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكّر أولوا الألباب

“Tidaklah sama orang-orang yang mengetahui dangan orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Namun, kita masih tertinggal jauh dan belum bisa hadir secara maksimal sebagai penyeimbang. Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus meneguhkan lebih giat kembali peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI.[]

Baca juga:
NASIONALISME RELIGUS MANHAJ KEBANGSAAN ULAMA’ NUSANTARA

Subscribe juga:
Channle Pondok Pesantren Lirboyo

# SANTRI PENGAWAL NKRI
# SANTRI PENGAWAL NKRI