Tag Archives: Santri

Menikahkan Anak yang Sedang Mondok

Assalamualaikum wr. wb.

Bapak admin yang saya hormati, saya senang dengan adanya rubrik tanya jawab ini, sangat membantu soal kejelasan hukum islam yang kami belum tahu. Langsung saja, saya mempunyai teman yang masih mondok _sama dengan saya_ dia tenang dan semangat di pondok, tiba-tiba ada kabar dari rumah bahwa dia telah dinikahkan oleh orang tuanya dengan laki-laki tetangga desanya. Diapun kaget. Yang agak bikin dia lega, suaminya tersebut juga seorang santri alumni pesantren. yang saya ingin tanyakan apa boleh bagi wali menikahkan tanpa minta izin atau memberitahukan kepada anak? bahkan mempelai perempuannya tidak hadir saat akad. Sekian terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Balqis Aroha, Malang.

______________

Waalaikumsalam wr. wb.

Terimakasih telah berkenan mampir di kanal media sosial kami, semoga bisa membawa manfaat. Amin. pada dasarnya, seorang gadis itu boleh menentukan kriteria lelaki idamannya, ia tidak harus terkungkung dalam tradisi atau adat istiadat, hanya saja menjaga keduanya sangat dianjurkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. apalagi jika kaitannya dengan ketaatan kepada kedua orang tua.

Orang tua, sebagai wali mempunyai hak untuk menikahkan anaknya, ia boleh memaksa putrinya untuk menikah, jika sang putri belum pernah menikah sebelumnya, agama melegalkannya, meski tanpa meminta izin atau memberitahukan terlebih dahulu kepada putrinya. Yang menjadi syarat adalah mengawinkan putrinya dengan laki-laki yang sekufu. dengan mencarikan pasangan yang tidak timpang, jika demikian maka harus meminta izin dahulu.

Mengenai ketidakhadiran mempelai perempuan saat akad, tidaklah menjadi masalah, akad tetap dikatakan sah. Namun jika putrinya sudah pernah menikah sebelumnya (janda) maka dibutuhkan izin darinya, meski toh nanti saat akad nikah berlangsung ia tidak ada ditempat.

Orang tua teman anda telah tepat memilihkan calon suami, keduanya sama-sama dari kalangan pesantren. semua orang tua jelas amat memperhatikan kebutuhan dan kebaikan anak, agar hidupnya bisa bahagia dunia lebih-lebih akhirat. kiranya Sekian dari kami. [NA]

____________

Fathul Mu’ien, Dar ibn ‘Ashashah Hal 353

Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr Hal 203

Belajar Adab dari Nadzam Alfiyah

كَإِنَّ زَيْدَاً عَالِمٌ بِأَنِّي

كُفءٌ وَلكِنَّ ابْنَهُ ذُو ضِغْنِ

“Sesungguhnya Zaid adalah sosok yang alim, sepadan denganku (Ibnu Malik), akan tetapi anaknya adalah sosok yang pendendam”

Penggalan bait syair ini ada di nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Orang pesantren pasti tahu/paham/hafal (walau mungkin sudah lupa, hehe). Sedikit gambaran, Alfiyah Ibnu Malik adalah karya monumental dari abad ke-13, yang menjelaskan gramatika Arab. Penulisnyapun bukan orang Arab, tapi daerah Jaén, Spanyol. Ia adalah Ibnu Malik (w. 22 Februari 1274 M).

Penggalan syair di atas sebenarnya memberikan contoh efek/dampak إنّ pada pola suatu susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ (subjek) dan khabar (predikat). Namun seperti yang sering disampaikan oleh guru-guru saya, bahwa setiap contoh yang diuraikan di dalam Alfiyah memiliki nilai dan pesan moral yang kuat—entah itu cocokologi, atau semacamnya. Akan tetapi acapkali setiap contoh yang ditulis oleh Ibnu Malik memang memiliki pesan moral yang kuat, seperti penggalan contoh berikut

وَقِسْ وَكَاسْتِفْهَامٍ النَّفْيُ وَقَدْ

يَجُوْزُ نَحْوُ فَائِزٌ أولُو الرَّشَدْ

Yang bercetak tebal: “…sungguh beruntung mereka yang mendapat petunjuk.”

Tiga belas abad silam Ibnu Malik sudah menyatakan hal yang visioner. Bahkan jauh sebelum itu, bahwa moral, akhlak, adab, ilmu, bukanlah sesuatu yang diwariskan. Bisa jadi ada seorang yang mewarisi pengetahuan, disiplin keilmuan, terlebih agama Islam, akan tetapi tak sedikit dari mereka hanya tahu—bukan paham, sehingga kosong. Mereka menggunakan dalil ini, dalil itu, namun minim akhlak dan etika.

Hal ini diperparah dengan gelar ulama ataupun ustaz yang disematkan kepada mereka. Mereka hafal ayat dan hadis tapi propaganda kebencian, dengki, dan fitnah acapkali mewarnai kata-kata mereka di mimbar konvesional hingga media sosial. Lebih buruk lagi, hal ini diamini ribuan pengikut mereka yang terjebak dalam kefanatikan buta.

Bisa jadi mereka yang bergelar ustaz, ulama, mewarisi darah biru leluhur mereka. Namun hanya mewarisi itu saja. Sehingga oleh Ibnu Malik disindir di nadzam yang tertulis di awal tulisan ini, “ayahnya sepadan denganku, tapi apakah anaknya demikian?”

Terdapat pepatah jawa mengenai hal ini, Kakudung welulang macan (berkalung kulit macan)”. Ia memang terlahir dari macan, tetapi perangai dan sikapnya tak lebih dari sekedar keledai. Terlahir dari siapapun adalah takdir, tapi untuk menjadi baik, tak perlu ditanya keturunan siapa. Hal itu justru hanya anugerah saja.

Nurul Mustofa, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2012.

Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi dan Perdamaian Global

LirboyoNet, Jakarta- Minggu siang (29/09) diskusi panel bertajuk “Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi dan Perdamaian Global” menjadi salah satu rangkaian acara Muktamar Pemikiran Santri Nasional (MPSN) 2019 Kementerian Agama RI.

Beberapa tokoh dan aktivis menjadi pembicara dalam acara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assiddiqiyyah Jakarta ini, seperti Prof. Nadhirsyah Hosen, Ph.D (Rois Syuriah PCI NU Australia-Selandia Baru), Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA (Pengurus Pusat Muhammadiyah), Tengku Faizasyah (Kementrian Luar Negeri RI), Prof. Dr. Oman Fathurrahman (Staf Ahli Menteri Agama), Dr. Ahmad Zayadi (Dirjen PD Pontren Kemenag RI), dan Gus Candra Malik (Budayawan Pesantren).

Semua pemateri memberikan wawasan dan wacananya mengenai konsep perdamaian pesantren, dengan pembawaan yang khas, diselingi gojlokan ala santri., Prof. Nadhirsyah Hosen, Ph.D mengajak kembali pada tradisi turats pesantren.

“Saat ini ada lagi yang mengartikan kembali pada Alquran dan Hadis diartikan sebagai kembali pada terjemahan Alquran dan Hadis. Inilah yang harus kita lawan dengan tetap berpegang teguh dengan tradisi pesantren sejak dulu.” tegas Gus Nadhir. []

Ngaji Ihya Ulumuddin Bersama Syekh Yasir Syria & Habib Sholeh Al-Jufri Solo

LirboyoNet, Kediri—Disela-sela kesibukan menjelang liburan akhir tahun, selasa (16/4), Lanjah Bahtsul Masa’il Pondok Pesantren Lirboyo menggelar kegiatan Dauroh Ilmiah kitab ihya ulumuddin bab amar ma’ruf nahi munkar bersama para mahasantri Ma’had Aly Lirboyo, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula LBM ini khusus dihadiri oleh 100 mahasantri terpilih.

Pada kesempatan ini, panitia mengundang Direktur Zawiyah Ghozaliyah Syria Syekh Muhammad Yasir Al-Qudmani hadir sebagai narasumber dan didampingi dengan Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Jufri Solo sebagai penerjemah sekaligus moderator. Dalam acara itu juga turut dihadiri dewan rois LBM P2L, Agus H Muhammad Sa’id Ridlwan, Agus M. Aminulloh, Agus Arif Ridhwan Akbar.

“sebagai dasar dalam kaitannya dengan bab ‘amar ma’ruf nahi munkar’, dulu sewaktu saya hendak belajar di Yaman, saya diberi pesan sama almarhum KH. Ahmad Idris Marzuqi “aku titip, nanti kalo kamu sudah pulang dari Yaman, tolong jangan ‘ngarabne’ Indonesia (mengarabkkan Indonesia, Red) ini kiblatnya biar walisongo”. Artinya kalau kita bicara amar ma’ruf nahi munkar secara prinsipil seluruhnya sudah ada dalam kitab-kitab kuning. Tetapi kalu kita mau mendakwahkan, harus menyesuaikan daerah masing-masing”. Tutur Agus H Muhammad Sa’id Ridlwan dalam sambutannya.

Dan beliau berpesan kepada para peserta “bahwa Indonesia ini sudah menjadi barometer dunia dalam kesuksesan dakwahnya, yaitu mampu mendamaikan berbagai unsur yang ada di masyarakat. Dan ini menjadi percontohan dunia”. Imbuh beliau.

“kitab Ihya Ulumuddin ini adalah kitab yang berhubungan dengan suluk, tetapi bukan hanya sekedar berbicara tentang haal dan bathil yang sangat tersembunyi antara hamba dengan Allah. Tetapi juga didalamnya membahas tentang ilmu-ilmu”. Tutur Syekh Yasir dalam pembukaan pengajiannya.

Diakhir kesempatan beliau berkunjung ke Lirboyo. Malamnya syekh Yasir bersama Habib Sholeh menyempatkan sowan dikediaman KH. M Anwar Manshur dan dilanjutkan dengan memberikan ceramah kepada para santri di serambi masjid setelah jama’ah isya.

Himasal Magelang Berbaiat Memajukan NU

LirboyoNet, Magelang– Sebanyak 57 anggota Himasal (Himpunan Santri dan Alumni Pondok Pesantren Lirboyo) daerah Magelang, telah dibaiat sebagai Kader Penggerak Nahdlatul Ulama yang bekerja sama dengan PCNU Kab. Magelang, Senin (25/03) malam.

Mereka telah dididik selama dua hari oleh Instruktur Nasional dengan disiplin ketat dan penempaan komitmen yang tinggi untuk berkhidmah ‘manut kiai’ menghidupkan dan menggerakkan Jamiyyah Nahdlatul Ulama.

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo mencatatkan sejarah, dalam hal ini, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal Magelang), yang menjadi pertama di Indonesia, Sebagai alumni pondok pesantren yang menggelar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) angkatan pertama.

KH. Ahmad Izzudin, mewakili sambutan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kab. Magelang, dilanjut penyematan baiat peserta kader oleh Rois Syuriah NU Jawa Tengah KH. Ubaidillah Shodaqoh.

Dalam upacara Baiat, Beliau Rois Syuriah menjelaskan, PKPNU bagi alumni telah menjadi keputusan yang wajib,  “Peran alumni Lirboyo sangat dinanti oleh masyarakat, terutama dalam melestarikan amaliyah nahdliyin, Panjenengan sedoyo (kalian semua) adalah kiai di kampung masing-masing, dengan mengikuti pendidikan kader semoga meningkatkan ghirah panjenengan dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama, karena alumni pesantren satu-satunya benteng yang sangat diharapkan ” Dawuh beliau.

Mbah Ubaid, panggilan akrab KH Ubaidillah Shodaqoh juga menegaskan, hal itu merupakan instrumen untuk membangun komitmen santri, alumni dalam berjuang di NU.

Istiqomah berjuang nderek (Ikut) kiai melayani umat melalui Jamiyyah Nahdlatul Ulama.” tambahnya.

Sementara itu Kiai Mukhlison sebagai inspektur upacara baiat kader menjelaskan, langkah besar telah diambil oleh Himasal Magelang dalam menjaga Islam Aswaja dan kesatuan NKRI melalui wadah Nahdlatul Ulama.

“PKPNU segmen alumni pesantren ini menjadi yang pertama kalinya di indonesia, Apa yang telah dilakukan oleh Himasal Magelang dengan mengikuti pendidikan kader penggerak NU merupakan keputusan besar, cerdas dan strategis. Masa depan NU akan lebih baik, karena kekuatan penopang utama telah terkonsolidasi,” Katanya saat pembukaan.

Ia berharap sejumlah alumni pondok pesantren yang berada di lingkungan NU yang lain dapat mencontoh terhadap langkah Himasal Magelang ini. “Bila alumni pondok pesantren di lingkungan NU mengambil langkah yang sama seperti Alumni Lirboyo ini, kita yakin masa kejayaan NU akan terwujud di abad ke-2 dari kelahiran Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” dawuh Kiai Mukhlison meyakinkan.