Tag Archives: Santri

Santri Pengawal NKRI

Penulis: Muhammad Habibullah Mahmud
Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebuah bangsa dimana berbagai macam suku, ras, budaya, dan agama berkumpul secara majemuk. Bhineka Tunggal Ika tertanam di dalam jiwa disetiap penduduknya, sehingga rukun dalam berbangsa dan bernegara. Tanpa ada kecemburuan sosial, penindihan hukum dan penindasan hak-hak yang dilandasi perbedaan.

Menurut sejarah, KH. Hasyim Asy’ari melalui pesantren dan Jamiyah Nahdlatul Ulama, melalui resolusi jihad yang beliau utarakan, bahwa “wajib bagi setiap warga Indonesia untuk menjaga NKRI”, menjadi salah seorang tokoh pemantik berkobarnya jiwa santri untuk selalu menjadi garda terdepan dalam mengawal NKRI, juga dari jargon beliau:

حب الوطن من الايمان

“Cinta tanah air merupakan sebagian dari iman”
Mengapa demikian? Apakah beliau tidak mempersoalkan sistem bangsa Indonesia? Ternyata tidak, karena tatanan bangsa Indonesia sudah sesuai dengan norma-norma ajaran Islam. Maka tidaklah mengherankan jika beliau mengeluarkan fatwa ”membela tanah air Indonesia hukumnya wajib.”

Keserasian

Mengenai keserasian tatanan bangsa Indonesia dengan syariat Islam terbukti dari beberapa aspek. Dari penyetaraan kasta sosial dalam bingkai NKRI tanpa memandang perbedaan promodial misalnya. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah membentuk bangsa di Madinah ketika hijrah, yang tatanannya sama dengan NKRI. Karena dari penduduk Madinah yang konotasinya terdiri dari berbagai macam suku, dan kepercayaan—mereka dapat disatukan melalui tekad dan keinginan yang kuat untuk membangun masa depan yang cerah dan hidup bersama dengan damai di bawah naungan bangsa Madinah. Sesuai butir isi Piagam Madinah yang mengikat perdamaian di antara mereka:

إنهم أمة واحدة من دون الناس

“Sesungguhnya mereka (penduduk Madinah) adalah satu umat, bukan komunitas yang lain.”

وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين. لليهود دينهم وللمسلمين دينهم. إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهله بيته

“Kaum Yahudi dari Bani Auf adalah satu umat dengan Mukminin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi orang-orang Muslim agama mereka (kebebasan ini juga berlaku bagi sekutu dan diri mereka sendiri(. Kecuali yang dzalim dan jahat, maka hal itu akan merusak diri dan keluarganya.”

Kesamaan tekad dan cita-cita masyarakat Madinah, membuat mereka bahu-membahu dalam mempertahankan tanah airnya dari serangan pihak luar:

وأن بينهم النصر من ذهب يثرب

“Mereka bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yastrib.” (Al-Hidayah wan Nihayah karya Imam Ibn Katsir)
Mengenai bentuk bangsa Indonesia yang berupa Repubik, juga tidak lepas dari norma-norma ajaran Islam. Republik berasal dari kata ‘re’ yang berarti kembali dan ‘publik’ bermakna kepentingan umum atau masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan fundamental pembentukan pemerintahan adalah untuk kepentingan umum. Filosofi ini merupakan analogi dari salah satu kaidah fikih:

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan pemerintah haruslah berorientasi kepada kemaslahatan publik.”

Estafet

Dengan demikian, sudah jelas bahwa rumusan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara-bangsa yang digagas oleh para pahlawan termasuk para ulama, merupakan manifestasi daripada ajaran Islam yang selayaknya harus diteruskan, dijaga, dan dipertahankan oleh generasi pengganti. Bukan malah mempersoalkan kedamaian dan pesaudaraan yang timbul karenanya. Bukankah kedamaian adalah kenikmatan yang sangat besar? Di mana kita dapat memenuhi apa yang kita butuhkan, beribadah, dan bersenda gurau dengan leluasa. Lihatlah negara-negara lain yang terus-menerus dilanda konflik berkepanjangan. Suara kicauan burung dan senda gurau, berganti dengan desingan tank dan peluru tembak. Tanah yang semula terhiasi rerumputan, tergantikan dengan simpahan darah. Dan seluruh penjuru negara menjadi sarang burung gagak kematian juga kehancuran.

Kendati demikian, sudah bukan saatnya mempersoalkan eksistensi negara. Maka tidaklah mengherankan jika Allah Swt. menyandingkan bunuh diri dengan pergi dari tanah air. Dalam firmannya:

ولو أن كتبنا عليهم أن اقتلوا أنفسكم أو اخرجوا من دياركم ما فعلوه إلا قليل منهم

“Dan sekalipun kami perintahkan kepada mereka “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa: 66)

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menafsiri ayat tersebut bahwa Allah Swt. menjadikan terusir dari tanah air, setara dengan bunuh diri. Maka siapapun tidak akan membiarkan sebutir tanah bangsanya direbut pihak lain (Tafsir al-Wasith). Diceritakan juga bahwa Nabi Muhammad Saw. ketika tiba di Madinah setelah berpergian, beliau menggerak-gerakkan untanya karena sangat bahagianya. Dalam menafsiri hadis tersebut, Imam an-Nawawi memaparkan perihal penanaman jiwa nasionalisme merupakan sebuah anjuran syara’ (Fath al-Bari).

Peran Santri

Lantas sebagai santri, kita sudah selayaknya memberikan sumbangsih kepada bangsa untuk selalu mengawal terjaganya NKRI. Seperti halnya yang telah dicontohkan oleh pembesar-pembesar kita yang senantiasa memberikan komitmennya untuk bangsa dalam merawat bingkai NKRI. Mengenai hal ini, bisa dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan bidang dan kemampuan kita. Yang terpenting ihwal tersebut tidak sampai menimbulkan perpecahan dan kegaduhan.

Kita harus mengingatkan pada diri kita bahwa perdamaian di Indonesia merupakan harga hidup sekaligus sampai mati yang harus ditunaikan. Sayyidina Umar berkata:

لولا حب الوطن لخرب بلد السوء فبحب الأمطان عمرت البلدان

“Andai tanpa adanya cinta tanah air, niscaya akan tersungkur negeri yang terpuruk. Maka, dengan melalui cinta tanah airlah negara akan makmur.”

Mencari ilmu pengetahuan sebagaimana kiprah santri umumnya, juga merupakan sebagian bentuk sumbangsih santri untuk negeri. Karena jika seseorang tidak memiliki ilmu, ia tidak akan pernah ada harganya. Orang bodoh jelas tidak bisa membedakan mana yang bermanfaat dan yang merugikan terhadap bangsa. Maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa langkah pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga bangsa adalah menuntut ilmu.

Kontribusi

Selain adanya tuntutan untuk fokus mengembangkan potensi diri, kita juga harus mulai berkontribusi dalam ruang dakwah yang bebas ini. Saat ini adalah era di mana dunia virtual lebih berpengaruh dari pada dunia nyata. Banyak sekali berita, tulisan, dan informasi yang implikasinya negatif. Sehingga berpotensi merongrong keharmonisan yang telah terajut rapi sekian lama. Diakui atau tidak, media dakwah yang seharusnya kita jadikan sebagai lahan dakwah, menyebarkan pesan-pesan perdamaian, kini lebih didominasi oleh ujaran-ujaran kebencian, dan pemikiran yang menepis jiwa nasionalisme. Bagaimana tidak? Karena bangsa kita adalah bangsa yang makmur sehingga banyak pihak luar yang menginginkan runtuhnya persatuan kita. Seperti kata pepatah “di mana ada gula, pasti di situ ada semut.” Kita sebagai santri harus bisa tampil menjadi oase penyejuk jiwa di tengah gurun hiruk pikuk ini.

Bekal

Ketika menimba ilmu di pesantren, kita sebenarnya memiliki bekal yang cukup untuk membumikan perdamaian dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Karena kita terlahir dari kultur dinamis, tidak kaku. Jika apa yang telah kita ketahui di pesantren tidak kita kembangkan dengan menyebar luaskannya, lalu untuk apa kita mencari sesuatu yang belum kita tahu? Bukannya pesan positif yang kita sampaikan kemungkinan akan bisa menggugah hati yang keruh? Tentu bisa saja, Nabi bersabda:

بلغوا عني ولو آية

“Sampaikan (ilmu) dariku walau satu ayat.”
Analoginya, jika kita telah menyampaikan pesan perdamaian semampu kita, berarti kita telah mengamalkan perintah Nabi. Karena kedamaian dalam berbangsa dan bernegara merupakan tuntunan syariat Islam.
Dalam menjaga dan mengawal keharmonisan NKRI, kita harus bisa mengerahkan jiwa dan raga secara totalitas:

من جد وجد

“Barang siapa bersungguh-sungguh, dia akan menemukan hasil kesungguhannya.”
Juga selalu mengedepankan kepentingan bangsa dari pada kepentingan kita sendiri. Karena berhasil tidaknya suatu keinginan individual kita, tergantung keadaan bangsa. Sebagaimana penggambaran di atas. Artinya kemajuan atau kemunduran bangsa, merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena martabat kita sebagai pewaris bangsa.

Kunci Perdamaian

Sebenarnya santri adalah kunci perdamaian, persatuan, keharmonisan dan kesuksesan bangsa Indonesia. Karena santrilah yang lebih mengetahui letak di mana ridho Allah Swt. Sehingga Allah menjadikan bangsa Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang makmur dan mendapat ampunan Allah). Allah Swt. bersabda:

هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكّر أولوا الألباب

“Tidaklah sama orang-orang yang mengetahui dangan orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Namun, kita masih tertinggal jauh dan belum bisa hadir secara maksimal sebagai penyeimbang. Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus meneguhkan lebih giat kembali peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI.[]

Baca juga:
NASIONALISME RELIGUS MANHAJ KEBANGSAAN ULAMA’ NUSANTARA

Subscribe juga:
Channle Pondok Pesantren Lirboyo

# SANTRI PENGAWAL NKRI
# SANTRI PENGAWAL NKRI

Bulan Gus Dur | Meneladani Gus Dur sebagai Santri

Beliau menjadi sosok yang enigmatik, penuh kejutan, kontroversial, namun banyak orang menaruh kepercayaan dan harapan padanya. Gagasannya yang genial melampaui zaman, menjadikan banyak orang yang melihat tindakan dan kelugasan sikapnya (seolah dipaksa untuk) berhati-hati untuk memahami “labirin pandangannya” agar tidak gagal paham ataupun bersikap. Bahkan tidak jarang mereka semua dibuat ketar-ketir dan gemas atas pernyataan dan tindakannya.

Pergaulannya tak terbatas pada lapisan kebudayaan ataupun isme tertentu. Beliau merupakan seorang yang lugas dan apa adanya. Maka tak heran, beliau dekat dengan siapa saja, bahkan orang-orang yang memusuhinya. Namun perjalanan hidupnya tak pernah mulus, Beliau seolah selalu hidup dalam petualangan yang penuh badai dan onak berduri untuk menabur ajaran yang telah dibawa oleh junjungannya, kanjeng nabi Muhammad SAW; Islam cinta, untuk menyemai kehidupan damai yang adil dan beradab. Semua kalangan merasa kehilangan pada waktu kepergiaannya, para pecinta dan pencacinya memberikan doa terbaik untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ialah Almaghfurlahu, KH Abdurrahman Wahid, atau yang lebih masyhur dengan panggilan Gus Dur. Sebagai putra kyai besar sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama, perkembangan gus Dur tidak hanya terbatas pada lingkungungan pesantren saja.

Potret Masa Kecil

Pada akhir tahun 1944, ketika kyai Wahid Hasyim diutus oleh Hadratus syaikh Hasyim Asyari untuk mengurusi Shumubu, sebuah departemen keagamaan yang dibentuk oleh Jepang di Indonesia pada saat itu. Dan kyai Wahid Hasyim mengajak Gus Dur yang pada waktu itu baru berusia empat tahun. Sebagai seorang tokoh nasional yang berlatar belakang dan lingkungan pesantren tradisional, kyai Wahid Hasyim mempunyai lingkup persahabatan yang sangat luas. Rumah beliau selalu dipenuhi tamu-tamu dari berbagai golongan, termasuk orang-orang Eropa. Pergaulan seperti itu memungkinkan Gus Dur tumbuh menjadi seorang yang berwawasan luas dan sangat menghargai perbedaan, seorang kosmopolitan.

Adapun kegemaran membaca yang dimiliki oleh Gus Dur, seperti yang diungkap oleh Greg Barton dalam biografi Gus Dur yang ditulisnya, merupakan didikan dari ibu nyai Solicahah Wahid, ibunya Gus Dur. Koleksi buku dan surat kabar yang banyak di kediaman beliau, mendorong Gus Dur menjadi seorang yang gemar membaca buku. Gus Dur remaja jarang pergi keluar tanpa membawa buku. Bila ada sesuatu yang tak dapat Beliau temukan di perpustakaan di kediamannya, beliau mencarinya di toko-toko yang menjual buku-buku bekas di Jakarta. Kegemaran tersebut dilakukan hingga akhir hayat beliau.

Jejak Masa Remaja

Pada masa remajanya, beliau dikirim oleh ibundanya ke Jogjakarta. Di kota ini, beliau dititipkan di rumah salah satu teman ayah beliau. Seorang Muhammadiyah tulen, kyai Junaidi. Selain mengikuti sekolah formal dan belajar kepada kyai Junaidi, setiap tiga kali dalam seminggu, Gus Dur mengaji kepada KH. Ali Ma’shum, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Setelah menamatkan pendidikan formalnya, Gus Dur mulai mengikuti pendidikan pesantren secara penuh. Beliau nyantri di Pesantren API Tegalrejo di Magelang. Di sini, beliau mengaji kepada kyai Chudori. Di Tegalrejo, mampu menyelesaikan pelajarannya dalam waktu yang sangat singkat, hanya dua tahun. Kebanyakan santri-santri lain memerlukan waktu empat tahun untuk menyelesaikan pelajaran yang ada.

Kemampuan untuk menyelesaikan pendidikan dengan waktu yang cepat itu bukan semata-mata merupakan previlese yang Beliau dapat dari keluarganya di Jombang, tapi karena—selain kecerdasan dan daya hafalnya yang kuat, merupakan buah ketekunan dan kegemarannya membaca. Hal ini Beliau buktikan setiap di luar kelas, di sela-sela menulis pelajar sekaligus menghafal pelajaran tersebut, sebagai pengusir rasa lelah ataupun bosan, beliau mengalihkan bacaannya kepada buku-buku barat.

Usaha Dzohir Batin

Selain kegiatan mengaji dan belajar, di pesantren Tegalrejo ini, Gus Dur membiasakan diri melakukan tirakat, riydloh, semacam laku untuk mengekang hawa nafsu dan hasrat materil melalui cara berpuasa dan ngrowot. Sebab, walaupun semenjak kecil Gus Dur terbiasa dengan buku-buku barat atau bacaan berbahasa non Arab, Gus Dur tetap mempunyai ketertarikan pada sisi sufistik dunia pesantren, selain laku tirakat, beliau juga rutin berziarah ke makam-makam auliya’illah.

Terbentuknya sisi intelektual seorang Gus Dur bukan saja Beliau dapat dari kegemaran membaca dan tirakatnya saja. Tetapi juga melalui pendiskusian yang Beliau lakukan bersama teman-temannya. Sewaktu di pesantren, selain diskusi ringan di luar kelas bersama-sama teman beliau, diskusi juga Beliau lakukan dalam bentuk sorogan kitab.

Sorogan merupakan sebuah metode khas pesantren di mana seorang santri membaca sebuah kitab di hadapan gurunya. Di situ, sang guru memberi pertanyaan-pertanyaan seputar gramatika dan pemahaman. Dan melalui tanya jawab itulah terjadi sebuah tahqiq pemahaman.

Kepribadian

Kegemaran Gus Dur dalam membaca, berdiskusi, dan tirakat melalui hidup sederhana juga Beliau lakukan ketika belajar di Kairo dan Baghdad. Dan melalui semua itu, terbentuklah sosok Gus Dur yang serius namun santai. Menjadi seorang yang sangat sederhana dan apa adanya. Namun sifat yang tenang, santai, dan kesederhanaannya itulah yang membuat semua orang menaruh hormat dan mengakui kebesarannya, bahkan termasuk orang-orang yang berseberangan dengan beliau.

Bulan ini haul Gus Dur diadakan. Bukan untuk mengenang dari di mana beliau meninggalkan para pecintanya. Bahkan bukan hanya untuk mengenang semasa beliau hidup. Tetapi untuk diteladani. Untuk terus menjaga sanad sikap seorang santri. Lahu Alfu Al-Fatihah. []

Baca juga:
GUS DUR DAN PERAN DRAMATIS KYAI IDRIS

Dawuh Masyayikh:
@Pondok Pesantren Lirboyo

# BULAN GUS DUR | MENELADANI GUS DUR SEBAGAI SANTRI
# BULAN GUS DUR | MENELADANI GUS DUR SEBAGAI SANTRI

Fanatik Kebangsaan, Basis Militansi Santri Membela Negeri

Telah mainstream di negeri ini bahwa sikap “fanatik” teridentifikasi sebagai tindakan yang tidak baik. Padahal sebagian besar warga Indonesia memiliki kecenderungan terhadap jargon “NKRI Harga Mati” atau “Ideologi Pancasila sudah Final”. Meskipun pada hakikat yang sebenarnya, hal sedemikian ini juga menunjukkan sebuah kefanatikan. Buya Hamka dalam salah satu bukunya menyebutkan:

“Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda adalah karena fanatik. Tengku Cik Ditiro melawan Belanda adalah karena fanatik, Pangeran Diponegoro melawan Belanda adalah karena fanatik. Semuanya adalah karena fanatik. Yang habis mati bertimbun mayat, menegakkan kemerdekaan adalah orang-orang fanatik. Kalau tak ada lagi orang-orang fanatik di negeri ini, maka segala sampah, segala kurap akan masuk kemari, tidak dapat ditahan-tahan”.

Pernyataan demikian hendak menegaskan bahwa Indonesia dapat merdeka dan berdaulat tidak lain lantaran perjuangan mati-matian para pejuangnya. Jika tanpa perjuangan fanatik para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan, mungkin negeri ini telah jatuh kembali pada genggaman penjajah. Sebab secara logistik, kekuatan penjajah berlipat-lipat lebih kuat daripada kekuatan para pejuang. Para pahlawan bangsa ini yakin seyakin-yakinnya bahwa bumi pertiwi harus merdeka, kemanusiaan harus dibela, penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.

Walhasil, sejarah telah mencatat perihal kunci keberhasilan para pejuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah keyakinan yang teramat kuat, serta tekad yang bulat bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik jika merdeka. Kemanusiaan pribumi akan lebih terjaga jika penjajah terusir dari negeri ini.

Di masa penjajahan yang begitu panjang, santri muncul sebagai sosok yang memiliki andil besar bagi keberhasilan Nusantara dalam menjaga budayanya. Walaupun telah ratusan tahun dijajah, dijarah oleh Belanda—budaya Nusantara tetap berhasil dipertahankan dan mayoritas penduduknya masih Islam. Berkat sikap kalangan pesantren yang non koperatif total terhadap semua budaya Belanda—jati diri dan tradisi Nusantara tetap terjaga. Baik dalam sistem pengetahuan, kepercayaan, hukum, dan politik juga tetap lestari.

Militansi Santri

Militansi santri dalam membela Indonesia, dapat diselidiki dari keberhasilannya membangun tradisi perlawanan terhadap berbagai pihak yang berniat menghancurkan Indonesia. Santri selalu hadir dalam berbagai perlawanan melawan penjajah. Perlawanan-perlawanan sporadis terhadap penjajahan tak pernah berhenti, yang berlangsung sepanjang 3 abad. Di tanah Jawa, jejak perlawanan besar terjadi pada tahun 1825-1830. Kolonial Belanda menyebutnya sebagai perang Jawa. Saat itu jejak perlawanan umat Islam terhadap hegemoni kolonial dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (seorang bangsawan Mataram yang berlatar belakang santri).

Dalam sejarah perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda di Indonesia, hampir tidak ada perlawanan yang tidak melibatkan pemimpin tarekat (tokoh pesantren). Dalam Koloniaal Archive yang mencatat kasus-kasus pemberontakan yang berlangsung antara tahun 1800-1900, terjadi tidak kurang dari 112 kali pemberontakan yang dipimpin tokoh pesantren tarekat.

Dalam membuktikan loyalitas untuk negeri, konsolidasi nasionalisme kaum santri menjadi tren utama pendidikan pesantren saat itu. Bahkan, sejumlah ulama menjadikan Mekkah sebagai kota transit pemantapan ideologi nasionalisme keIslaman santri. Di tanah suci, selain menuntut ilmu—jamaah haji asal Indonesia juga melakukan konsolidasi pengembangan jaringan perlawanan terhadap kolonialisme. Dengan harapan, jika tiba di tanah air, mereka dapat memimpin umat untuk secara perlahan dan pasti mengumandangkan anti kolonialisme.

Catatan sejarah ini seakan menjadi latar belakang dari apa yang pernah disampaikan oleh salah satu ulama Nusantara generasi saat ini, Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Yahya: “Fanatik kebangsaan itu melebihi nuklir. Nuklir itu bisa meledakan mana saja, tapi tidak akan bisa melenturkan keIndonesiaan”.
Pernyataan ini, menarik untuk direnungkan secara adil oleh setiap bangsa Indonesia. Sebab, bukanlah hal yang bijak jika sikap “fanatik” mutlak dianggap sebagai hal yang salah. Untuk membuka cakrawala berfikir, Ibnu Khaldun menawarkan buah pemikiran seperti berikut: “Negara dan pemerintahan tidak akan mewujud tegak tanpa pertolongan jamaah dan sikap fanatik para pembelanya. Sikap fanatik adalah faktor kunci tercapainya dominasi sebuah negara dalam menaklukkan berbagai ancaman musuh. Sebab, lantaran fanatiklah seseorang akan rela mengorbankan nyawa sekalipun”.

Ashabiyyah yang Dilarang

Memang benar dalam perspektif ajaran Islam terdapat larangan ashabiyyah (fanatik). Namun larangan tersebut tidak lantas difahami ashabiyyah harus dibuang secara keseluruhan. Akan tetapi menurut Ibnu khaldun, fanatisme harus diarahkan pada porsi yang tepat dalam menegakkan kebenaran dengan sekuat tenaga. Bahkan dalam hadits shahih disebutkan:

ما بعث الله نبياً إلا في منعة من قومه

“Allah tidak mengutus Nabi kecuali Ia berada dalam naungan pembelaan fanatik kaumnya”.

Tidak hanya Ibnu Khaldun, Imam al-Mawardi pun turut memaparkan pemikirannya tentang ashabiyyah. Menurut beliau, ashabiyyah adalah “kesetiaan tinggi terhadap sebuah bangsa dalam menghadapi bangsa lain”. Sikap tersebut dilarang oleh syariat jika mendorong sebuah bangsa terhadap pembelaan yang membabi buta, tanpa memilah—apakah dalam posisi benar atau salah. Namun jika ashabiyyah tersebut menjadi semangat membela kebenaran, maka statusnya tidak lagi dilarang bahkan menjadi sebuah anjuran (mustahab). Semua itu berdasar pada firman Allah Swt:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan. dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan kedzaliman”.

Dengan demikian, santri bisa dianggap berhasil memahami fanatisme kebangsaan dalam arti dan porsi yang tepat, juga dalam implementasi yang diukur oleh neraca maslahat dan mafsadah. Fanatisme kebangsaan santri—bukan dalam arti semangat merendahkan bangsa lain. Justru fanatik kebangsaan dalam perspektif santri adalah kukuhnya pendirian menolak siapapun yang hendak menghancurkan Indonesia, sekalipun mengatas-namakan Islam. Jika para santri millenial berhasil mempertahankan prinsip ini, maka santri akan senantiasa berada di garda terdepan untuk membela NKRI.[]

penulis: Firdaus Asrori Ma’shum

Artikel Terkait:
CAKRAWALA SANTRI INDONESIA

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Fanatik Kebangsaan # Fanatik Kebangsaan

Menikahkan Anak yang Sedang Mondok

Assalamualaikum wr. wb.

Bapak admin yang saya hormati, saya senang dengan adanya rubrik tanya jawab ini, sangat membantu soal kejelasan hukum islam yang kami belum tahu. Langsung saja, saya mempunyai teman yang masih mondok _sama dengan saya_ dia tenang dan semangat di pondok, tiba-tiba ada kabar dari rumah bahwa dia telah dinikahkan oleh orang tuanya dengan laki-laki tetangga desanya. Diapun kaget. Yang agak bikin dia lega, suaminya tersebut juga seorang santri alumni pesantren. yang saya ingin tanyakan apa boleh bagi wali menikahkan tanpa minta izin atau memberitahukan kepada anak? bahkan mempelai perempuannya tidak hadir saat akad. Sekian terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Balqis Aroha, Malang.

______________

Waalaikumsalam wr. wb.

Terimakasih telah berkenan mampir di kanal media sosial kami, semoga bisa membawa manfaat. Amin. pada dasarnya, seorang gadis itu boleh menentukan kriteria lelaki idamannya, ia tidak harus terkungkung dalam tradisi atau adat istiadat, hanya saja menjaga keduanya sangat dianjurkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. apalagi jika kaitannya dengan ketaatan kepada kedua orang tua.

Orang tua, sebagai wali mempunyai hak untuk menikahkan anaknya, ia boleh memaksa putrinya untuk menikah, jika sang putri belum pernah menikah sebelumnya, agama melegalkannya, meski tanpa meminta izin atau memberitahukan terlebih dahulu kepada putrinya. Yang menjadi syarat adalah mengawinkan putrinya dengan laki-laki yang sekufu. dengan mencarikan pasangan yang tidak timpang, jika demikian maka harus meminta izin dahulu.

Mengenai ketidakhadiran mempelai perempuan saat akad, tidaklah menjadi masalah, akad tetap dikatakan sah. Namun jika putrinya sudah pernah menikah sebelumnya (janda) maka dibutuhkan izin darinya, meski toh nanti saat akad nikah berlangsung ia tidak ada ditempat.

Orang tua teman anda telah tepat memilihkan calon suami, keduanya sama-sama dari kalangan pesantren. semua orang tua jelas amat memperhatikan kebutuhan dan kebaikan anak, agar hidupnya bisa bahagia dunia lebih-lebih akhirat. kiranya Sekian dari kami. [NA]

____________

Fathul Mu’ien, Dar ibn ‘Ashashah Hal 353

Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr Hal 203

Belajar Adab dari Nadzam Alfiyah

كَإِنَّ زَيْدَاً عَالِمٌ بِأَنِّي

كُفءٌ وَلكِنَّ ابْنَهُ ذُو ضِغْنِ

“Sesungguhnya Zaid adalah sosok yang alim, sepadan denganku (Ibnu Malik), akan tetapi anaknya adalah sosok yang pendendam”

Penggalan bait syair ini ada di nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Orang pesantren pasti tahu/paham/hafal (walau mungkin sudah lupa, hehe). Sedikit gambaran, Alfiyah Ibnu Malik adalah karya monumental dari abad ke-13, yang menjelaskan gramatika Arab. Penulisnyapun bukan orang Arab, tapi daerah Jaén, Spanyol. Ia adalah Ibnu Malik (w. 22 Februari 1274 M).

Penggalan syair di atas sebenarnya memberikan contoh efek/dampak إنّ pada pola suatu susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ (subjek) dan khabar (predikat). Namun seperti yang sering disampaikan oleh guru-guru saya, bahwa setiap contoh yang diuraikan di dalam Alfiyah memiliki nilai dan pesan moral yang kuat—entah itu cocokologi, atau semacamnya. Akan tetapi acapkali setiap contoh yang ditulis oleh Ibnu Malik memang memiliki pesan moral yang kuat, seperti penggalan contoh berikut

وَقِسْ وَكَاسْتِفْهَامٍ النَّفْيُ وَقَدْ

يَجُوْزُ نَحْوُ فَائِزٌ أولُو الرَّشَدْ

Yang bercetak tebal: “…sungguh beruntung mereka yang mendapat petunjuk.”

Tiga belas abad silam Ibnu Malik sudah menyatakan hal yang visioner. Bahkan jauh sebelum itu, bahwa moral, akhlak, adab, ilmu, bukanlah sesuatu yang diwariskan. Bisa jadi ada seorang yang mewarisi pengetahuan, disiplin keilmuan, terlebih agama Islam, akan tetapi tak sedikit dari mereka hanya tahu—bukan paham, sehingga kosong. Mereka menggunakan dalil ini, dalil itu, namun minim akhlak dan etika.

Hal ini diperparah dengan gelar ulama ataupun ustaz yang disematkan kepada mereka. Mereka hafal ayat dan hadis tapi propaganda kebencian, dengki, dan fitnah acapkali mewarnai kata-kata mereka di mimbar konvesional hingga media sosial. Lebih buruk lagi, hal ini diamini ribuan pengikut mereka yang terjebak dalam kefanatikan buta.

Bisa jadi mereka yang bergelar ustaz, ulama, mewarisi darah biru leluhur mereka. Namun hanya mewarisi itu saja. Sehingga oleh Ibnu Malik disindir di nadzam yang tertulis di awal tulisan ini, “ayahnya sepadan denganku, tapi apakah anaknya demikian?”

Terdapat pepatah jawa mengenai hal ini, Kakudung welulang macan (berkalung kulit macan)”. Ia memang terlahir dari macan, tetapi perangai dan sikapnya tak lebih dari sekedar keledai. Terlahir dari siapapun adalah takdir, tapi untuk menjadi baik, tak perlu ditanya keturunan siapa. Hal itu justru hanya anugerah saja.

Nurul Mustofa, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2012.