Tag Archives: Rasulullah

Ka’ab bin Zuhair: Penghina Rasulullah Saw. yang Termaafkan

Pernah suatu ketika, Rasulullah Saw. mendapatkan hinaan dan cacian yang merendahkannya dari seseorang yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Bahkan  Ka’ab bin Zuhair memprovokasi orang-orang di masa itu untuk melawan Rasulullah Saw. Ia tak membuka pintu sedikitpun, untuk paling tidak membuktikan apakah kalimat-kalimat yang ia ciptakan ada benarnya. Ia bersyair, sebagai orang yang belum tahu kebenaran Islam.

Kabar kemenangan Rasulullah Saw. sampai kemana-mana. Kakak Ka’ab bin Zuhair, Bujair bin Zuhair Ra. yang pada waktu itu telah memeluk Islam mengabari adiknya. Ia melayangkan sepucuk surat yang berisi “Rasulullah Saw. telah mengeksekusi beberapa orang yang dulu mencelanya dan menyakitinya. Dan para penyair Quraisy yang tersisa adalah Ibn Ziba’ra dan Hubairah bin  Abi Wahb. Mereka telah melarikan diri. Kalau dalam dirimu memang masih ada hajat (untuk hidup), maka pergilah temui Rasulullah Saw. Karena Rasul tak pernah membunuh seorangpun yang bertaubat mendatanginya. Kalau kau tak mau melakukan itu, maka carilah keselamatanmu dengan melarikan diri.”

Ka’ab bin Zuhair segera membalas surat itu. Ia membalasnya dengan untaian syair. Syair yang justru mengecam dan menyudutkan Rasulullah Saw. Syair ini sampai juga kepada Nabi. Bujair pun membalas syair Ka’ab. Lalu hati Ka’ab mulai ragu. Tak ada lagi niatan baginya untuk melarikan diri, karena lapangnya dunia sudah terasa sangat sempit. Ia tak merasa memiliki tempat sembunyi yang aman. Ia lalu memutuskan untuk pergi menemui Rasulullah Saw. di Madinah. Sebuah keputusan yang penting dan berani dalam hidupnya. Ia telah pasrah, apapun yang akan terjadi.

Ia menempuh perjalanan menuju Madinah, kota berperadaban yang baru saja menggeliat. Tiba di sana, ia beristirahat ditempat kenalannya yang berasal dari Juhainah. Orang itu menyediakan tempat istirahat sesaat. Tidak lama, karena pagi-pagi buta Ka’ab langsung berangkat menunaikan salat Subuh. Tak sabar ia jumpa Rasulullah Saw. Tak sabar pula ia menantikan apa yang selanjutnya terjadi. Tentu saja Ka’ab meminta temannya untuk menunjukkan dimana Rasulullah Saw. Karena selama ini ia belum pernah berjumpa beliau, ia hanya tahu dan mendengar dari orang-orang. Ketika salat Subuh telah usai, Ka’ab minta ditunjukkan dimana Rasul duduk.

 “Itu dia Rasulullah Saw., berdirilah dan mintalah jaminan keamanan padanya.” kata kawan Ka’ab.

Maka bergegaslah Ka’ab bin Zuhair menjumpai Rasulullah Saw. Ia mendekat dan duduk di dekat beliau. Tangan Ka’ab diletakkan di tangan Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Rasulullah Saw. belum mengenal siapa orang di depannya. Orang asing yang tiba-tiba duduk di depan Nabi itu. Tanpa basa-basi, Ka’ab langsung mengutarakan maksudnya. Ia tidak langsung mengatakan dan mengakui bahwa ialah Ka’ab bin Zuhair. Tentu saja atas perlakuan dan sikapnya selama ini terhadap Nabi. Orang-orang di sekitar Nabi juga tak ada yang berkata apapun. Mereka hanya tahu syair-syair Ka’ab, namun belum pernah melihat rupa penyairnya.

Wahai Rasulallah, Ka’ab bin Zuhair sudah datang dan minta jaminan keamanan kepadamu. Ia bertaubat dan masuk agama islam. Maka adakah engkau mau menerimanya jika aku datang padamu membawa serta dia?” kata Ka’ab dengan nada politisnya.

Rasulullah Saw. bukanlah pribadi yang pendendam. Beliau juga bukan pribadi yang suka mengungkit-ungkit kesalahan seseorang. Beliau selalu membuka lapang pintu maaf, dan menerima siapapun yang sadar dan bertaubat. “Tentu saja”, kata Rasulullah Saw.

Mendengar jawaban tersebut seperti mendapat angin segar. Tanpa ragu lagi Ka’ab mengaku, “Aku wahai Rasul! Ka’ab bin Zuhair”.

Spontan saja, salah seorang sahabat Anshor melompat hendak menikam Ka’ab. “Biarkanlah aku dan musuh Allah ini, aku penggal lehernya.”

Namun Rasulullah Saw. menjawabnya dengan bijak. Beliau tidaklah membiarkan seorang pun melukai orang yang sudah masuk Islam. “Biarkan dia, karena dia telah datang bertaubat. Tak melakukan lagi apa yang dilakukannya dulu.

Kemudian ia menyenandungkan kasidah yang begitu popular dan melegenda, Banat Su’ad.

______________________________

Disarikan dari: Sirah Ibn Hisyam, vol. II. Hal 510. Maktabah Darul Kutub ‘Ilmiyyah.

Rahasia di Balik Makam Umar Ra. yang Bersandingan dengan Makam Rasulullah Saw.

Tatkala ajal akan menjemputnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ra. menyuruh anaknya, Abdullah, untuk menemui istri Rasulullah Saw., sayyidah ‘Aisyah.

Pergilah kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra. dan katakanlah bahwa Umar menyampaikan salam untukmu. Jangan kamu mengatakan Amirul Mukminin karena sekarang saya bukan Amirul Mukminin. Katakan Umar bin Khattab meminta izin untuk dikubur bersama kedua sahabatnya (Rasulullah Saw. Dan Abu Bakar as-Shiddiq Ra.) tepat di samping makam beliau Saw.”

Setelah Abdullah menemui ‘Aisyah Ra. dan menyampaikan maksud dari sang ayah, ternyata diketahui bahwa ‘Aisyah Ra. juga memiliki keinginan serupa.

Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan memprioritaskan Umar untuk menempatinya.” terang ‘Aisyah Ra.

Abdullah pun pulang dan menyampaikan izin ‘Aisyah yang menjadi kabar gembira kepada Umar.

Mendengar kabar tersebut, kebahagian terpancar dari wajah Umar bin Khattab Ra. Ia berkata “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu.”

_________________________________

Dikutip dari kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha hlm. 250-251 karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Malaki al-Hasani.  

Nabi Tidak Mengenali Umatnya?

Seorang shaleh shalat. Di tengah tasyahud, ia lupa membaca shalawat kepada nabi. Dalam mimpinya ia bertemu Nabi.

“Kenapa engkau lupa membaca shalawat padaku?”

“aku terlalu sibuk dengan memuja Allah dan menghamba padanya. Karena itulah aku lupa.”

“apakah kau tak pernah mendengar sabdaku? Semua amal dihentikan. Doa ditangguhkan. Hingga dibacakan shalawat padaku.”

 “Bahkan, ketika seorang hamba datang di hari kiamat dengan membawa amal baik seluruh manusia, akan percuma. Seluruhnya tidak diterima dan ditolak jika tak ada shalawat padaku.”

Seorang zuhud bermimpi melihat rasulullah. Ia menghadap. Rasulullah enggan melihatnya.

“wahai Rasulullah, marahkah engkau?”

“tidak.”

“Tidakkah engkau mengenalku?”

“tidak.”

“ibadahku terus menerus. aku sang zahid.”

“tidak. Aku tak mengenalmu.”

“Wahai Rasulullah. Aku mendengar orang-orang alim pernah berujar: Bahwa Nabi sangat mengenal seluruh umatnya, sedekat orangtua pada anaknya.”

“benar. Sungguh tiap nabi bahkan lebih mengenal mereka daripada orangtuanya.”

Yakni mereka yang bershalawat pada nabinya, sesuai kadar shalawatnya.

Durrotun Nasihin, 172-173.

Ketika Rasulullah Saw. Membenarkan Nasionalisme

Jiwa nasionalisme yang dimiliki Rasulullah Saw. terurai jelas dalam salah satu hadis yang menjelaskan tentang kecintaannya kepada kota Madinah:

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Ketika Rasulullah Saw pulang dari bepergian dan melihat dinding kota madinah, beliau mempercepat laju ontanya. Dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau menggerak-gerakkan karena cintanya kepada Madinah.” (HR. al-Bukhari)[1]

Substansi kandungan hadis tersebut dikemukakan oleh pakar hadis kenamaan, al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolani dalam kitabnya yang berjudul Fath Al-Bari. Ia menegaskan bahwa dalam hadis tersebut terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya.[2] Bahkan di beberapa hadis, Rasulullah Saw selalu menjunjung tinggi bangsa Arab dan menunjukkan kecintaannya.

Dalam penerapannya, semangat nasionalisme mampu menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan semangat itu sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstremisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini. Sahabat Umar bin Khattab Ra pernah menuturkan:

لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوْءِ فَبِحُبِّ الْأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبُلْدَانِ

Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.[3]

Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw, sudah saatnya rakyat Indonesia terus mengokohkan semangat nasionalisme atas bangsa Indonesia dengan modal empat pilar bangsa, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

[]WaAllahu a’lam


[1] Shahih al-Bukhari, vol. III hlm. 23.

[2] Fath al-Bari, vol. III hlm. 705.

[3] Tafsir Ruh al-Bayan, vol. VI hlm. 320, CD. Maktabah Syamilah

Mengapa Terjadi Peristiwa Isra Mikraj?

Isra Mikraj terjadi di tengah-tengah kehidupan carut-marut bangsa Arab. Saat itu, aktivitas dakwah islam sangat sulit dan tidak kondusif. Jumlah umat Islam tak kunjung bertambah, meskipun segala daya dan upaya terus dikerahkan semaksimal mungkin. Alih-alih merespons dakwah dan mengikrarkan keislaman, orang-orang kafir justru memberi tekanan berupa intimidasi, persaingan, bahkan ancaman pembunuhan kepada umat muslim.

Di sisi lain, mereka juga menuntut Rasulullah saw. menunjukkan bukti-bukti secara kasatmata akan kebenaran risalah yang dibawanya. Jika Rasulullah saw. tidak mampu menunjukkan bukti-bukti tersebut secara kasat mata, maka mereka akan menuduh dan mengklaim beliau sebagai pembohong, tukang tenung, tukang sihir, bahkan sebagai manusia tidak waras.

Dari sinilah awal mula peristiwa agung Isra Mikraj terjadi. Sebagaimana setiap kejadian besar dalam sejarah, para pakar berbeda pendapat dalam menentukan latar belakang penyebab terjadinya, tak terkecuali dalam Isra Mikraj sendiri. Setidaknya, ada tiga pendapat populer dalam menguak penyebab tersebut, yaitu:

Perdebatan Langit dan Bumi

Kisah yang sudah sangat pupuleer ini bermula ketika terjadi perdebatan antara langit dan bumi, siapakah yang paling mulia di antara keduanya. Setelah beradu argumen yang cukup panjang, akhirnya langit tidak kuasa melanjutkan perdebatan setelah bumi berkata bahwa pemimpin para Rasul, penutup para Nabi, kekasih Tuhan alam semesta, makhluk paling mulia di jagad raya bertempat di bumi dan menjalankan syariat di sana.

Langit pun mengadu kepada Allah perihal tersebut. Akhirnya demi mengabulkan permintaan langit, dan Allah mengangkat Rasulullah saw ke langit dalam peristiwa Isra Mikraj.[1]

Tahun Kesedihan

Kala itu, Rasulullah saw. ditinggal oleh pamannya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah. Sepeninggal kedua orang istimewa ini, kehidupan Rasullah saw. kerap dilanda kesedihan dan dihujani berbagai duka yang amat perih. Akan tetapi, yang paling membuat Nabi bersedih adalah tertutupnya pintu-puntu dakwah untuk menyebarkan Islam.

Pasca meninggalnya kedua orang ini pula, dimana pun beliau menyerukan Islam, di situ pasti terdapat penolakan. Semua orang kini berani memusuhi Rasulullah saw. secara terang-terangan.[2]

Dengan menganalisis Tahun Kesedihan inilah banyak yang mewacanakan kesimpulan bahwa Allah swt. meng-Isra-kan Rasulullah saw.untuk menghibur, menyenangkan, serta menggembirakan hati bleiau agar duka yang bersemayam dalam hati segera sirna. Kesimpulan semacam ini banyak diwacanakan ulama-ulama kontemporer, seperti Syekh Tantawi Ahmad Umar, Dr. Mustafa Ahmad Rifa’i, dan yang lainnya.

Namun rumusan dari sebgian ulama kontemporer tersebut perlu ditelaah kembali. Isra Mikraj ternyata tak memiliki relevansi dengan Tahun Kesedihan. Memang, dengan perspektif psikologis, cukup dimaklumi atas alasan tersebut. Namun yang perlu digarisbawahi di sini—sebagaimana dalam menyikapi kisah perdebatan langit dan bumi—Tahun Kesedihan sewajarnya tak lebih dari sekedar unsur yang menyertai peristiwa Isra Mikraj, bukan sebagai esensi paling utama.[3]

Memperlihatkan Kekuasaan Allah

Esensi paling utama dalam perjalanan Isra Mikraj ialah apa yang telah ditegaskan sendiri oleh Allah swt. satu ayat pembuka dalam al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra’ [17]: 1)

Ayat ini menjadi bidikan paling fundamental dan yang paling berperan. Melalui perjalanan Isra Mikraj, Allah memberi kesempatan kepada Rasulullah saw. untuk menyaksikan dan merasakan sendiri pengalaman-pengalaman yang maha luar biasa, yaitu melampaui teori-teori umum yang berlaku di bumi dan langit; melihat ayat-ayat kebesaran Allah, menjelajahi tujuh lapis langit dan luasnya jagad raya, menyaksikan sendiri Baitul Makmur, Sidratul Muntaha, surga, neraka, al-Kursy, Mustawa, permadani agung (Rafraf), al-‘Arsy, dan yang lainnya.[4]

Lebih lanjut, Fakhruddin Ar-Razi—seorang pakar tafsir terkemuka—memberikan kesimpulan, “Firman Allah swt. ‘Agar kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat kekuasaan Kami,’ menunjukkan bahwa fungsional dari perjalanan Isra Mikraj secara khusus adalah kembali kepada Nabi Muhammad saw.”[5]

Pernyataan Ar-Razi di atas menyiratkan adanya nilai edikatif. Yaitu memberikan pelajaran bahwa bumi tempat manusia dan para musuh beliau hidup ini sangatlah kecil, apalah arti sebuah bumi beserta isinya dibandingkan dengan mahaluasnya jagat raya? Apalah arti kekuasaan musuh dan kekuatan musuh beliau dibandingkan kekuatan dan kekuasaan Sang Maha Pencipta yang telah memperjalankan dirinya menjelajahi angkasa tinggi jagad raya?

Lebih dari itu, Isra’ Mikraj bukan hanya sekedar untuk meninggikan iman atau lebih memacu dakwah Nabi. Lebih jauh lagi, Isra Mikraj  adalah manifestasi konkret kebesaran cinta Allah kepada Nabi Muhammad saw.[6] []waAllahu a’lam


[1] Dzurroh An-Nashihin, hal. 117, cet. Toha Putra Semarang

[2] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah, hal. 97.

[3] Rihlah Semesta Bersama Jibril, hal. 177, cet. Lirboyo Press.

[4] As-Sirah An-Nabawiyah ‘Ard Waqai’ wa Tahil Ahdats, vol. I hal. 334.

[5] Tafsir Mafatih Al-Ghaib, vol. X hal. 122.

[6] Tafsir Ruh, vol. V hal. 102, CD. Maktabah Syamilah