Tag Archives: HAUL

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pon. Pes Salafiy Terpadu Ar-Risalah

LirboyoNet, Kediri- Sabtu (02/11) Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah.

Acara yang dimulai pukul 20:00 itu berjalan lancar dan penuh khidmat. Dimulai dengan acara pembacaan tahlil yang di pimpin langsung oleh Romo KH. M. Anwar Manshur. Dalam acara tersebut tampak hadir Rois Am PBNU KH. Miftachul Akhyar, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, KH. Ma’ruf Zainuddin, KH. Ahmad Muwafiq, serta Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Emil Elestianto Dardak, M.Sc.

“Perlu saya sampaikan Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo Kota Kediri, sampai malam hari ini masih di beri pertolongan oleh Allah Swt, untuk selalu konsisten dengan Visi dan Misinya yaitu, mendidik anak bangsa menjadi anak yang bermanfaat bagi Agama, Bangsa dan Negara. Sesuai dengan hadits Rasulullah yaitu khoirunnas anfa’uhum linnas sekaligus membentuk pribadi akhlak yang mulia sesuai dengan akhlak Rasulullah Saw.” Tutur Ibu Nyai Hj. Aina Ainaul Mardliyah Anwar, S.H.I. memberikan sambutan atas nama Pengasuh Ponpes Ar-Risalah.

Kemudian acara di lanjut dengan mauidzah hasanah yang dibawakan oleh Rois Am PBNU yaitu KH. Miftachul Akhyar dan KH. Ahmad  Muwafiq.

Selengkapnya: lihat dalam Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah ini diakhiri dengan bacaan doa yang dipimpin langsung oleh Romo KH. Abdulloh Kafaihi mahrus.()

Haul KH. Marzuqi Dahlan ke-43

LirboyoNet, Kediri – Suasana malam yang cerah menyelimuti nuansa khidmat haul KH. Marzuqi Dahlan kamis malam jumat kemarin (26/07). Bertempat di ndalem lama KH. A. Idris Marzuqi, acara ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan. Tamu-tamu yang datang termasuk para ulama dan kiai di sekitar kota Kediri, dzurriyah KH. Abdul Karim, masyarakat desa Lirboyo, dan pengurus Ponpes Lirboyo.

Acara tersebut merupakan haul beliau yang ke-43 tahun. Beliau wafat pada 18 Nopember tahun 1985 M, atau bertepatan dengan 14 Dzulqa’dah 1395 H. Selain memperingati haul KH. Marzuqi Dahlan, malam kemarin juga sekaligus menjadi peringatan haul Hj. Maryam binti KH. Abdul Karim yang merupakan istri beliau, dan segenap dzurriyah KH. Marzuqi Dahlan yang telah wafat.

Seperti umumnya peringatan haul, acara dibuka dengan pembacaan tawassul kepada nama-nama yang hendak dihauli. Dilanjutkan dengan membaca surat yasin, tahlil, dan ditutup doa.

Dalam sambutan atas nama keluarga, KH. Yasin Asymuni menuturkan kenagan beliau tentang sosok dan pribadi KH. Marzuqi Dahlan. Menurut beliau, sosok Mbah Juki, panggilan KH. Marzuqi Dahlan, adalah orang yang sangat khusyuk dalam menjalankan salat. Mbah Juki  amat meresapi setiap bacaan dan gerakan salat yang beliau lakukan. “Mbah Kiai Marzuqi, ingkang kulo ningali, menawi wahosan, niku estu-estu tadabbur. Estu-estu dipun resapi, dipun wahos, mboten cepet-cepet.” (Mbah Kiai Marzuki, yang saya lihat, terkait bacaan salat itu sangat-sangat tadabbur. Sangat-sangat diresapi. Dibaca, tidak cepat-cepat.) Kenang  Kiai Yasin.  “Insyaallah, ingkang sepuh-sepuh, taseh semerep, saget ngraosaken.” (Insyaallah, alumni-alumni senior yang mengetahui beliau, bisa merasakan.) Pungkas Kiai Yasin.

Semoga berkah dari KH. Marzuqi Dahlan dapat kita rasakan terus sampai kapanpun. Alfatihah……[]

Haul KH. Mahrus Aly ke-33

LirboyoNet, kamis 5 Juli 2018 M/ 22 Syawal 1439 H. bersamaan dengan diaktifkannya kembali seluruh kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Seluruh santri Pondok Pesantren Lirboyo bersama-sama ikut memperingati haul KH. Mahrus Aly yang ke-33, dalam acara tersebut juga memperingati haul Nyai Hj Zainab yang ke-33, Nyai Hj Ummi Kultsum Mahrus ke-22, KH. Imam Yahya Mahrus ke-6, KH. Harun Musthofa Mahrus ke-15, dan KH. Rifa’i Romli ke-23.

Acara haul tersebut bertempat di kediaman. KH Abdulloh Kafabihi Mahrus. Dalam kesempatan tersebut juga dihadiri seluruh Dzuriyah KH. Abdul Karim, alumni-alumni Lirboyo se-karesidenan Kediri. Acara yang dimulai ba’da isya diawali dengan lantunan Sholawat oleh grup rebana Pondok Pesantren unit HMC.

Dalam kesempatan ini, beliau KH. An’in Falahuddin Mahrus atas nama keluarga sedikit menceritakan biografi beliau KH. Mahrus Aly, seperti yang sudah kita ketahui bahwa nama waktu kecil KH. Mahrus Aly adalah “Rusdi” Beliau lahir di dusun Gedongan desa Ender kabupaten Cirebon sekitar tahun 1906.

“Beliau ketika kecil disamping mengaji kepada orang tuanya, beliau juga mengaji kepada kakak kandungnya yang bernama KH. Ahmad Afifi, beliaulah yang tlaten mulang  KH. Mahrus. Beliau lah yang memotivasi KH. Mahrus Aly  untuk belajar dengan keras, sehingga beliau KH. Mahrus Aly merasakan sekali jasa besar dari kakak beliau yang bernama KH. Ahmad Afifi.”

Beliau KH. Mahrus Aly disamping terkenal dengan kealimannya, beliau juga terkenal dengan ke’tawadlu’annya (moral keislaman yang tinggi). KH. An’in Falahuddin Mahrus, juga menceritakan ketika ada muktamar NU 1979 di Semarang, ketika itu beliau didukung oleh KH. Saifuddin Zuhri dan beberapa kyai untuk menjadi Ro’is ‘Am. Dan beliau menjawab “selama masih ada KH. Bisri Sansuri, maka beliau ‘mbonten kerso’, karena KH. Bisri sansuri adalah jimatnya NU”.

Diakhir sambutannya KH. An’im Falahuddin Mahrus minta do’a supaya semua dzuriyah KH. Mahrus Aly bisa meneruskan perjuangan beliau, terutama dalam perjuangan ‘nasrul ‘ilmi’ dan khidmah kepada ulama. Amin. (al Fatihah…)

Haflah, Negara Berharap Santri Terus Bersumbangsih

LirboyoNet, Kediri—Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien yang dilaksanakan Selasa malam Rabu, (24/04) kemarin, berlangsung semarak.

Hujan deras sempat mengguyur Lirboyo sore harinya. Namun, acara yang dimulai pukul 18.30 WIB itu tidak kehilangan hadirinnya. Ribuan alumni dan masyarakat umum tetap tumpah ruah di Aula Al-Muktamar, tempat di mana acara dilaksanakan.

Diawali dengan istighotsah, rangkaian acara berlanjut dengan sambutan KH. An’im Falahuddin Mahrus atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo. “Kami dzuriyah Pondok Lirboyo mengucap terima kasih kepada para wali murid yang telah memberikan kepercayaan untuk mendidik putra-putri panjenengan.” Lebih jauh, beliau berharap, apa yang dipelajari santri kini benar-benar bisa membentuk kepribadian santri yang berakhlakul karimah dan menjadi manusia yang baik. “Semoga apa yang diberikan para dzuriyah mampu menjadi sumbangsih yang berarti bagi bangsa dan negara,” tutup beliau.

Undangan pemerintah provinsi diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Gubernur, Abdul Hamid. Ia mengungkapkan, pesantren sekarang telah menjadi faktor utama pembangunan provinsi. “Pembangunan sektor pendidikan sedang giat-giatnya oleh pemerintah provinsi. Terutama di pesantren. Ada kerjasama yang dibangun oleh pemerintah, yang menghubungkan pesantren dengan pihak industri.” Bagi pemerintah, ini adalah momen berharga bagi pesantren untuk ikut andil menyejahterakan bangsa. “Ini saatnya pesantren ikut menjadi pendorong aktivitas ekonomi daerah, disamping menjadi pelopor dan pusat lembaga keagamaan,” ungkapnya.

Seperti yang telah direncanakan, penceramah dalam acara besar malam itu hadir tanpa kendala. KH. Said Aqil Siroj, yang terbang langsung dari Jakarta, segera bersimpuh di depan KH. M. Anwar Manshur begitu turun dari mobil pengantarnya. Beliau mengambil tempat duduk di belakang para pengasuh. Bagi para santri, ini adalah bukti luapan penghormatan dan rasa takdzim kepada orang-orang mulia.

Dalam ceramahnya, panjang lebar beliau paparkan bagaimana seharusnya santri kini berperan. “Kitab Fathul Muin itu sudah luar biasa. Itu sudah sangat cukup sebagai bekal menghadapi tantangan masyarakat nantinya.”

Beliau memuji apa yang dipelajari santri di Lirboyo sudah lebih dari cukup untuk menjawab perihal-perihal yang terjadi di masyarakat. Dari permasalahan ibadah, ekonomi, hingga politik praktis. Hanya saja, santri masih kurang begitu pandai mengemas kemampuan mereka sehingga bisa dikonsumsi khalayak banyak.

Menurut beliau, santri zaman sekarang harus bisa membumikan ajaran yang ia terima di pesantren. Masyakarat kini menuntut santri untuk berbahasa yang bisa dipahami mereka. Dengan begitu, Islam akan lebih mudah diajarkan dan benar-benar menjadi jalan terbaik yang  harus mereka pilih untuk mengarungi kehidupan dunia.][

Awal Mula Haflah Akhirussanah

Sejak tahun-tahun awal Pondok Pesantren Lirboyo lahir, KH. Abdul Karim tidak pernah memiliki keinginan yang macam-macam. Hari-hari beliau hanya diisi dengan mengaji. Saking penuhnya hari beliau dengan mengaji, para santri sendiri bahkan kuwalahan mengikuti kegiatan beliau. Sejak jamaah salat subuh ditunaikan, kitab kuning hampir tak pernah lepas dari pegangan tangan beliau. KH. M. Anwar Manshur menceritakan, KH. Abdul Karim baru selesai mengaji selepas tengah malam. Itupun tidak segera pulang ke rumah, melainkan tetap di masjid untuk menunaikan shalat dan wirid.

Kalau beliau terus memegang kitab, lalu bagaimana dengan kehidupan santri dan pesantrennya? Bukankah mereka juga butuh diurus sandang, pangan dan papannya?

Dalam keperluan pesantren, simbah nyai Dlomroh lah yang mengatur semuanya. Beliau memang telah sejak mula menyiapkan diri untuk membantu KH. Abdul Karim, suaminya, dalam segala hal, termasuk merawat dan menjaga kondisi pesantren Lirboyo.

Seiring waktu berjalan, santri terus berdatangan. Hingga pada akhirnya, beliau dibantu oleh keluarga dan santri-santri lain. mereka inilah yang kemudian menjadi pengajar dan pengurus di Pondok Pesantren Lirboyo.

Kehidupan santri sekaligus pengajaran yang diberikan di Pondok Pesantren Lirboyo terus berjalan dengan baik. Suatu ketika, simbah Nyai Dlomroh merasa perlu untuk mengungkapkan rasa syukur atasnya. Maka di akhir tahun itu, beliau mengundang seluruh pengajar dan pengurus untuk menghadiri tasyakuran.

Untuk acara tasyakuran itu, beliau, simbah nyai, menyembelih seekor sapi. Beliau, dengan dibantu oleh keluarga besar beliau, mengurus segala hal-hal yang berkaitan dengan acara, baik itu memasak, menyiapkan hidangan, dan lain sebagainya.

Acara dilaksanakan dengan sederhana. Tak ada perayaan yang wah. Tetapi, acara sederhana itu kini menjadi budaya dan tradisi, yang terus dilestarikan oleh dzuriyah, cucu dan cicit beliau. Acara tasyakuran inilah yang kemudian kini dikenal dengan Haflah Akhirussanah.][

 

Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo & Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien akan dilaksanakan pada Selasa malam Rabu, 09 Sya’ban 1439 H./24 April 2018 M, di Aula al-Muktamar. Insya Allah akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. sebagai penceramah.