Tag Archives: Alquran

Mencuri Nafas Saat Membaca Al-Quran

Keindahan suara seseorang memang sanggup menghipnotis pendengarnya, menjadikan histeris sekaligus iri dengan suaranya yang mendayu-dayu. Dalam islam sendiri, sejarah mencatat seorang Nabi yang kemerduan suaranya mampu menghentikan dunia dan seisinya berhenti untuk beraktifitas, sekadar  mendekat dan mendengarkan suara merdu beliau kala bermunajat kepada  Sang Khaliq. Nabi Daud As. Beliau inilah yang oleh orang-orang yang menginginkan suaranya merdu dijadikan sebagai wasilah atau perantara dengan mengirimkan doa.

Dalam kebanyakan momen sebuah acara yang bertajuk islami, lantunan kalam Ilahi hampir selalu menjadi rangkaian acara yang kedua setelah pembukaan. Dipilihlah qari yang kualitas suaranya mampu menghanyutkan pendengar.

Memperindah suara dalam membaca Kalamullah memang merupakan anjuran dari beliau Nabi Saw. dalam sebuah hadis ungkap beliau :

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Baguskanlah suara bacaan Al Qur’an kalian.” (HR. Abu Daud)

Membicarakan soal suara, jelas ada kaitannya dengan olah nafas, seorang yang mempunyai nafas panjang akan sangat terbantu dalam melantunkan ayat-ayat suci.  Dalam membaca ayat suci ini, kita dituntut untuk melakukan sekali nafas dan menghasilkan bacaan yang sempurna, sekali nafas langsung jadi.

Artinya dalam sekali nafas si pembaca mampu berhenti pada sebuah tanda berhenti, atau pada tengah ayat namun mengulangi pada kalimat sebelumnya yang masih ada kaitan maknanya, selain itu ia dari sisi pelafalan huruf per huruf yang dibacanya pun terucap secara  sempurna.

Setidaknya ada empat bab ilmu tajwid yang perlu diperhatikan oleh seorang qari dalam membaca, pertama Ibtida’; yakni memulai bacaan setelah berhenti ataupun baru memulai, disini kita harus bisa memilih kata yang tepat untuk memulai. Kedua Washal; yaitu menyambung dua bacaan yang dipisah oleh tanda-tanda baca. Ketiga Waqaf; berhenti dari bacaan untuk mengambil nafas dan memulai lagi. Keempat saktah; yakni berhenti sejenak tanpa bernafas, kemudian melanjutkan bacaannya.

Kenyataannya, seorang qari yang tampil dipublik, meskipun tidak semua, sering kita jumpai mencuri nafas disela-sela bacaannya, bahkan ada trik tertentu agar saat menarik nafas ditengah-tengah ayat tersebut tidak sampai kentara oleh pendengarnya.

kalau kita tinjau dari pengertian masing-masing dari empat poin diatas, model berhenti semacam ini jelas tidak ada yang masuk dalam kategorinya. Paling tidak sekedar mendekati pada dua poin terakhir. hanya saja pada poin Saktah, tidak lolos dari sisi mengambil nafasnya, sehingga hanya menyisakan poin Waqaf.

Soal waqaf, ada empat pembagian, pertama dikenal dengan istilah Waqaf Ikhtibari, yaitu waqaf pada suatu kalimah karena ingin menerangkan hukum kalimah itu dari sudut rosamnya (penulisannya) pada Mushaf, apakah kalimat tersebut terputus (maqthu’) atau bersambung (maushul), tetap (tsabit) atau dibuang (mahdzuf) dan lain-lainnya.

Kedua Waqaf Idhtirari, yaitu waqaf yang dilakukan karena terpaksa, seperti sesak nafas, tidak mampu, lupa, kehabisan nafas dan semisalnya. Artinya boleh berhenti untuk mengambil nafas dikarenakan alasan diatas walaupun itu berhenti pada tengah kalimat, dengan catatan harus mengulangi pada awal kalimat.

ketiga Waqaf Intidhori , yaitu waqaf pada suatu kalimah dengan tujuan meng-athaf-kan (menyambung) dengan bacaan (qiraah) lain, hal ini dilakukan saat seseorang membaca al-Qur’an dengan menggabungkan beberapa riwayat bacaan (qiraah) al-Qur’an.

Terakhir Waqaf Ikhtiyari,yaitu waqof yang dilakukan bukan-karena sebab-sebab yang telah disebutkan diatas, yakni waqaf yang dilakukan pada kata yang dipilih, disengaja
dan direncanakan, bukan karena ada sebab-sebab lain.

Dalam prakteknya, waqaf yang dilakukan oleh qari ternyata tidak sesuai dengan kriteria waqaf yang ada empat tadi, qari mengambil nafas karena darurat, sampai disini praktek yang ia lakukan sesuai dengan pengertian Waqaf Idlthirari, namun catatan yang berupa harus mengulangi pada awal kalimat tidak dilakukannya, setelah mengambil nafas ia melanjutkan bacaannya tanpa mengulangi.

Sedangkan membaca al-Quran sesuai dengan apa yang ada dalam Ilmu Tajwid hukumnya wajib, sehingga hukum sebaliknya akan disematkan ketika menyalahi aturan ilmu ini, seperti apa yang tertera dalam kitab Hidayatul Mustafid Hal 05

التجويد لا خلاف فى انه فرض كفاية و العمل به فرض عين على كل مسلم و مسلمة من المكلفين

“Ulama sepakat bahwa (belajar) Tajwid adalah fardlu kifayah hukumnya, dan menerapkannya (dalam bacaan) itu fardlu ain bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.”

Seyogyanya, meski anjuran melantunkan ayat suci dengan suara yang terindah, namun jangan sampai hal ini menjadikan blunder seseorang, sehingga ia melupakan kaidah membaca al-Quran dengan baik dan benar. Artinya, irama dalam bacaanlah yang seharusnya mengikuti runtutan ayat, bukan ayat tersebut yang kita paksakan agar sesuai dengan irama yang kita lantunkan. [ABNA]

Bolehkah Wanita Haid Membaca al-Qur’an?

Datang bulan atau menstruasi (haid) merupakan sebuah keistimewaan khusus yang hanya dimiliki oleh kaum wanita. Tentu dalam konteks ini, Islam tidak lepas tangan untuk mengatur segala hukum syariat yang berhubungan dengannya. Salah satu bentuk tatanan syariat tersebut adalah keharaman wanita haid untuk membaca al-Qur’an. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw pernah bersabda:

لَا يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ…. حَدِيثُ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ

Tidak diperbolehkan bagi orang yang junub dan orang yang haid untuk membaca sesuatu dari al-Qur’an”, (HR. Tirmidzi dan lainnya).

Namun, keumuman hadis tersebut tidak serta merta memukul rata semua keadaan bahwa wanita haid haram untuk membaca al-Qur’an. Berbagai perselisihan pendapat ulama madzhab fiqih juga menjelaskan beberapa keadaan yang melegalkan mereka tetap diperbolehkan membaca al-Qur’an.

Dalam madzhab Syafi’iyah, pembahasan hukum wanita haid membaca al-Qur’an terdapat beberapa permasalah yang perlu dipahami, yaitu:

  1. 1. Apabila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya, maka hukumnya haram.
  2. 2. Apabila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya dan disertai dengan niat yang lain, maka juga dihukumi haram.
  3. 3. Apabila membaca al-Qur’an diniati selain untuk membaca al-Qur’an seperti untuk menjaga hafalan, membaca zikir, kisah-kisah, hukum-hukum dalam al-Qur’an, mauidzah (petuah), maka hukumnya diperbolehkan.
  4. 4. Apabila membaca al-Qur’an karena tidak ada kesengajaan untuk mengucapkannya, maka hukumnya diperbolehkan.
  5. 5. Apabila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak, yakni sekedar ingin membaca tanpa niat tertentu, maka hukumnya diperbolehkan.
  6. 6. Apabila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak atau juga diniati selain al-Qur’an, namun yang dibaca adalah susunan kalimat khas al-Qur’an atau satu surat panjang atau keseluruhan al-Qur’an, maka hukumnya diperselisihkan oleh para ulama (khilaf). Menurut imam an-Nawawi dan para ulama pendukungnya, dalam kasus ini masih diperbolehkan. Sedangkan imam az-Zarkasyi dan ulama lainnya masih tetap memegang hukum keharamannya.
  7. 7. Apabila membaca al-Qur’an diniatkan pada salah satunya (membaca al-Qur’an diniati secara mutlak atau niat selain al-Qur’an) tanpa dijelaskan yang mana yang ia maksud, maka hukumnya khilaf. Menurut qaul mu’tamad (pendapat yang dapat dijadikan pegangan) diharamkan, karena masih adanya kemungkinan niat pada bacaan al-Qur’annya.[1]

Adapun di dalam madzhab Malikiyah, wanita haid diperbolehkan membaca al-Qur’an secara mutlak, yaitu ketika membacanya dalam kondisi darah haid sedang keluar, baik disertai hukum junub ataupun tidak. Hukum ini juga berlaku meskipun wanita haid tersebut khawatir akan lupa atas al-Qur’an atau tidak.

Adapun ketika darah haidnya berhenti, maka ia tidak diperbolehkan membaca al-Qur’an sebelum mandi hadas. Kecuali bila khawatir lupa, atau kecuali dengan menengok pada pendapat lemah (qaul dha’if) yang memperbolehkan selama haidnya tidak disertai junub.[2]

Walhasil, berbagai pendapat yang mengemuka di antara para ulama sangatlah beragam. Keberagaman ini murni dihasilkan dari kapasitas dan kemampuan ijtihad yang mereka lakukan. Pada gilirannya, semuanya akan tetap bermanfaat, terutama dalam menjawab berbagai permasalahan haid yang semakin kompleks sesuai perkembangan zaman.

[]waAllahu a’lam.

_____________

Referensi:

[1] Hasyiyah Bujairomi ‘ala al-Khotib, I/358.

[2] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XVIII/322, Maktabah Syamilah.

Utamakanlah Ilmu

(وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)  (النجم: ٣-٤

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”

Hampir seribu lima ratus tahun silam, Nabi Muhammad SAW wafat. Namun, hingga kini kita masih tetap bisa membaca dan “mendengarkan” sabda-sabda beliau. Beliau seolah masih hadir membimbing kita, menuntun, bahkan telah sejak lama membaca apa yang akan terjadi pada kita; umat beliau satu millenium lebih selepas beliau diutus.

Nabi mampu melihat masa depan, sebagai mana beliau mampu dengan indah bercerita tentang kisah-kisah umat-umat terdahulu. Tentang kejadian-kejadian kecil dalam kehidupan Bani Israil, misalkan. Sebagaimana yang dapat kita temukan dalam beragam kitab-kitab hadis, jika kita telaah. Kisah-kisah tersebut beliau ceritakan, menjadi pelajaran, juga renungan bagi para sahabat beliau.

Beliau juga membaca tentang hari esok. Beliau menjanjikan kerajaan besar Persia dan Romawi seutuhnya akan menjadi milik umat muslim. Sebuah berita yang terkesan mustahil, sebab saat itu umat islam barulah membentuk suatu komunitas kecil. Komunitas yang bahkan tak begitu diperhitungkan keberadaannya. Kekuatan masih lemah, tak memiliki tanah, apalagi armada militer. Ditambah lagi, saat itu dakwah masih terhalang kelompok kafir Quraisy sebagai musuh utama.

Tatkala Kisra, Persia masih menjadi kerajaan adidaya yang hanya mampu disaingi bangsa Romawi, sabda beliau terdengar seperti “candaan”. Kala itu beliau mengutarakan kepada Suraqah bin Malik, “Wahai Suraqah, bagaimana jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”. Dan ucapan itu tidaklah luput. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, sahabat Umar RA diangkat menjadi khalifah. Saat itu pasukan muslim berhasil meruntuhkan kekuasaan kerajaan Kisra, Persia. Tentara muslim menuai keberhasilan telak. Mereka mampu memboyong banyak sekali harta rampasan perang. Termasuk diantaranya adalah mahkota dan gelang kebesaran kerajaan Kisra. Oleh sahabat Umar RA, gelang itu dipakaikan sesaat kepada Suraqah bin Malik, sebagai pembuktian atas sabda Nabi Muhammad SAW. Pembuktian bahwa Nabi tidak pernah berdusta.

Tatkala ibukota Bizantium, Konstantinopel ditaklukkan oleh bangsa Turki, itu bukanlah sebuah kebetulan. Jauh sebelum itu, Nabi pernah menjanjikan kota itu akan menjadi milik orang islam. Kelak, sabda Nabi, dibawah panji-panji pemimpin terbaik, dan bendera-bendera tentara muslim terbaik, kota itu akan takluk.

Kita masih dapat membaca beragam nasihat dalam hadis-hadis beliau. Sepintas memang terlihat beliau tujukan untuk para sahabat pada hari itu. Akan tetapi, nasihat-nasihat dan pesan-pesan itu hakikatnya “abadi” dan ditujukan kepada siapapun. Bahkan kepada umat beliau yang hidup terpaut hingga beberapa abad. Dari bahasa yang kentara, beliau telah membaca banyak hal dan perubahan besar yang akan terjadi pada umat beliau. Secara tidak langsung, bahasa yang beliau gunakan memang adalah untuk kita. Kita yang hidup hari ini. Di zaman ini. Sahabat ‘Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan suatu hadis,

وقال صلى الله عليه وسلم إنكم أصبحتم في زمن كثير فقهاؤه قليل قراؤه وخطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه العمل فيه خير من العلم وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه العلم فيه خير من العمل

Nabi SAW bersabda; kalian semua (para sahabatku) berada di zaman yang banyak para ahli fikihnya (ulama), sedikit ahli membaca Alquran, dan orang yang pandai bicara. Sedikit para peminta-minta, banyak para pemberi. Amal pada masa ini lebih baik daripada ilmu.dan kelak akan datang, masa dimana sedikit ahli fikihnya, banyak orang yang pandai bicara, sedikit yang memberi, dan banyak yang meminta. Ilmu akan lebih utama daripada amal.

Meskipun hadis ini tidak sampai berstatus shahih, namun masih bisa kita pakai sebagai bahan renungan. Pada zaman nabi diisi oleh orang-orang yang masih “berfikir sederhana”. Meskipun tak banyak orang yang pandai bicara dihadapan umum, dan jarang sahabat yang mau berfatwa, tak lantas berbanding lurus dengan kenyataan bahwa sedikit orang yang mengerti agama. Dulu, masa Nabi Muhammad SAW tetap disebut sebagai masa yang terbaik. Karena pada waktu itu, mudah kita temukan ahli ilmu yang sejati.

Mengapa Kita Lebih Mendahulukan Ilmu

Salah satu yang ditekankan dalam hadis diatas, adalah pesan tersirat untuk senantiasa memperbanyak mencari ilmu. Syahdan, Imam Ahmad bin Hanbal, pernah mengaji bersama murid-muridnya. Tiba ditengah-tengah, terdengar suara azan. Dengan khidmat, beliau bersama murid-muridnya mendengarkan azan tersebut hingga selesai. Selesai azan berkumandang, para murid bergegas berbenah meninggalkan majlis ilmu, demi mendapat fadhilah salat di awal waktu. Bukannya mengizinkan, justru Imam Ahmad melarang. Mengaji lebih didahulukan, kata beliau. Bukannya amaliyah salat yang buru-buru dikejar, tapi sudah sejak lebih seribu tahun silam, mereka mendahulukan tholabul ‘ilmi.

Memang jika kita menelisik, tsamroh, buah dari ilmu adalah amaliyah. Tujuan utama orang belajar, salah satunya adalah agar dapat memiliki amaliah yang didasari ‘ilmiyah. Maka seharusnya yang lebih kita dahulukan adalah beramal. Karena apalah artinya suatu ilmu, jikalau tak pernah tersentuh untuk dilakukan.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, mudah sekali menemukan ahli ilmu. Hadis tersebut menjadi buktinya. Para sahabat dapat langsung menimba ilmu dari sumbernya, ada masalah apapun langsung dapat dimintakan fatwa kepada Nabi. Dalam bimbingan langsung Nabi tersebut, muncullah generasi-generasi emas, sebut saja sebagai contoh, sahabat Abdullah Ibn Mas’ud, sang perawi hadis diatas. Tak banyak tindakan penyimpangan, dan tak banyak perilaku yang keluar dari ajaran islam. Pantaslah kiranya, masa tersebut disebut sebagai era keemasan. Sesuai sabda Nabi,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (متفق عليه

Umat manusia terbaik adalah kurunku, lalukurun setelahnya, dan setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak banyak orang yang gemar meminta, karena sikap zuhud mereka. Banyak yang suka memberi karena berlomba-lomba mengejar kebaikan. Maka sudah sepantasnya pada masa itu, amaliyah lebih diutamakan, sebab ilmu sudah tersebar dimana-mana. Dan menuntut ilmu sebatas menjadi fardhu kifayah. Berbanding terbalik dengan saat ini, saat manusia berlomba-lomba menumpuk harta, dan menuntut ilmu sebagai wasilah mendapatkan kekayaan. Maka sedikit kita temukan, orang-orang yang benar-benar cakap dalam hal pemahaman agama. Qolîlun fuqohâuhu, sebagaimana sabda Nabi. Untuk membentengi diri, setidaknya kita harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Kita perlu takut, sebab beberapa sabda Nabi tentang tanda-tanda kiamat sudah mulai kita rasakan saat ini.

عن أنس ­ رضي الله عنه ­ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم، ويبث الجهل، وتشرب الخمر، ويظهر الزنى» رواه البخاري و مسلم

Dari sahabat Anas RA,Rasulullah SAW bersabda, sebagian tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya arak, dan nampaknya perilaku zina.” (HR. Muslim)


إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا . رواه البخاري

Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari seorang hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama. Sampai suatu saat tatkala tak tersisa lagi orang ‘alim, umat manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Lalu ketika mereka ditanyai, mereka menjawab dengan tanpa landasan ilmu. Maka tersesatlah umat manusia, dan menyesatkanlah mereka.” (HR. Bukhari)

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-3 Habis)

Baca dulu Bagian II

Dasar Pengambilan Ushul Fiqih

Istimdad (dasar pengambilan) ushul fiqih diambil dari beberapa produk keilmuan, diantaranya:

  1. Ilmu bahasa arab (gramatika Arab).

Hal ini dikarenakan sumber hukum yang terbesar adalah Alquran dan Hadis yang semuanya menggunkan bahasa sastra Arab. Dan keduanya sudah jelas tidak akan dipahami maknanya kecuali dengan penguasaan yang memadai dalam didang kelimuan ini.

  1. Ilmu Mustholah Hadits.

Yaitu dengan memahami berbagai karakteristik sebuah Hadis dari berbagi sudut pandang. Hal ini juga akan membantu ketika terjadi kontradiksi  antara beberapa dalil suatu hukum syariat.

  1. Ilmu kalam (logika).

Dalam memahami permasalahan dibutuhkan sebuah penalaran yang memadai dalam menghasilkan kesimpulan objek secar logis. Dengan begitu, peran ilmu kalam sangat urgen dalam konteks seperti ini.

  1. Beberapa hukum syariat.

Yaitu dari sisi mengetahui macam-macam hukum syariat. Karena yang dimaksud disini adalah memberikan keputusan ada dan tidaknya hukum tersebut. Selain itu, perangkat ilmu pendukung tak kalah pentingnya dalam proses pengkajian ilmu ushul fiqih, seperti asbabun nuzul, ulum at-tafsir dan lain-lain.

Perbedaan Ushul Fikih dan Qowaidul Fiqih

Tidak jarang anggapan bahwa ilmu ushul fiqih dan qowaidul fiqih adalah sinonim, mempunyai arti dan maksud yang sama. Padahal dua ilmu tersebut sangat berbeda dalam operasionalnya, walaupun ada persamaan dalam segi pedoman yang global (kully) yang dibawahnya mencakup beberapa bagian (juz’iy) persoalan yang dihukumi. Karena dalam ilmu qowaid al-fiqih hanya mengumpulkan masalah-masalah fiqih yang serupa pada kaidah global (qowaid kulliyyah) yang memuat beberapa permasalahan hukum syariat yang saling memiliki kemiripan.

Tujuan Ilmu Ushul Fiqih

Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Ushul al-Fiqhi al-Islami, beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu ushul fiqih adalah sebagai berikut:

  1. Dengan kaidah-kaidah ushul fiqih, seseorang dapat mengetahui dalil-dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam merumuskan berbagai produk hukum syariat.

Bagaimana para mujtahid dapat menghasilkan begitu banyak rumusan hukum dari Alquan, hadis, ijma, dan qiyas. Karena semua itu tidak akan pernah lepas dari pengetahuan terhadap bangunan dalil-dalil itu sendiri. Baik yang berbentuk ‘am, khos , mujmal, mutlaq, muqoyyad, mubayyan, dhohir, muawwal, hakikat, majaz dan lain-lain.[13]

  1. Menghasilkan kemampuan untuk menggali hukum dari dalilnya. Namun untuk hal ini hanya otoritas sesesorang yang telah mencapai derajat mujtahid. Adapun bagi para muqollid (pengikut mujtahid), ilmu ushul fiqih sebagai sarana untuk mengetahui dan memahami dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam menggali hukum syariat. Karena dengan mengetahui hal tersebut, seseorang akan lebih memantapkan keyakinannya pada rumusan hukum yang dicetuskan para mujtahid. Secara otomatis, keyakinan dan kemantapan tersebut akan membangkitkan semangatnya untuk mengamalkan syariat agama Islam.
  2. Membantu peran mujtahid dalam mengambil hukum dari sumber-sumbernya. Sudah maklum adanya, nash-nash Alquran dan Hadis sudah final dan tidak akan ada lagi penambahan. Sementara itu, problematika umat semakin kompleks dan beragam. Sesuai dengan maqolah:

وما يتناهى لا يحيط بأحكام غير المتناهي إلا بطريق الإجتهاد

“Sesuatu yang terbatas tidak dapat mencakup hukum-hukum perkara yang tidak ada batasnya kecuali dengan jalan ijtihad”.

  1. Ushul fiqih sebagai mediator untuk mengetahui hukum syariat beserta dalil-dalilnya. Dan mengajak seorang mukallaf untuk memahami dan mengamalkan perintah agama. Senada dengan ini, para ulama ushul fiqih berkata:

فائدة أصول الفقه معرفة أحكام الله تعالى وهي سبب الفوز بالسعادة الدينية والدنيوية

“Faedah ushul fiqih adalah mengetahui hukum-hukum Allah SWT, yang menjadi sebab keberuntungan agama (akhirat) dan keberuntungan dunia”.[14]

waAllahu a’lam bis shawab.

Penulis: Nasikhun Amin,

______________________
[1]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 25. Dar Al-Fikr.

[2]An-nafahat, hal 13, Santri Salaf press.

[3]al-Taqrir wa al-Tahbir,juz 1 hal 17.tt.

[4]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 29. Dar Al-Fikr.

[5]Ibid, hal 25.

[6]Syarh Jam’u al-Jawami’, juz 1 hal. 34. Tt.

[7]Ghoyah al-Wushul, hal 9, Mabadi’ sejahtera.

[8]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 33. Dar Al-Fikr.

[9] Materi seminar kuliah ushul Fiqih LBM P2L.

[10]Syarh Kawakib as-Sathi’, juz 1 hal 10. Tt.

[11]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 35. Dar Al-Fikr.

[12]Ghoyah al-Wushul, hal  11, Mabadi’ sejahtera.

[13]An-nafahat, hal 3. Santri salaf press.

[14]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 40. Dar Al-Fikr.

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-2)

Baca dulu Bagian I

Pengertian Ushul Fiqih

Para ulama ushul (ushuliyyin) memetakan definisi  ushul fiqih dengan 2 sudut pandang, yaitu dari segi etimologi dan terminologi, serta ushul fiqih sebagai cabang ilmu keislaman. [1]

  1. Ushul fiqih dari segi etimologi dan terminologi.

Penguraian makna ushul fiqih dalam hal ini merupakan konteks definitif dari segi etimologi (lughot) dan terminologi (istilah). Dan sudah diketahui bahwa kata ushul fiqih tersebut tersusun atas dua lafadz dengan menggunakan tarkib idhofy (susunan penyandaran) yang masih membutuhkan penguraian makna masing-masing lafadznya.

Pada dasarnya, “ushul al-fiqh” merupakan kalimat yang terdiri dari dua suku kata. “ushul” dan “al-fiqh”. Lafadz “ushul”adalah bentuk jamak dari mufrad (bentuk tunggal) lafadz “ashl”. Secara bahasa, “ashl” adalah sesuatu yang menjadi dasar dari sesuatu yang lain. Sebagaimana akar ialah “ashl” dari sebuah pohoh yang diatasnya terdapat batang, daun, ranting dan buah. Ushul fiqih juga demikian, ia merupakan “ashl’’  atau dasar pondasi fiqih, diatas kaidah dan teori ushul fiqih tersebutlah terbangun begitu banyak rumusan hukum fiqih.[2] Menurut sebagian pendapat, yang dimaksud lafadz “ashl” dalam pembahasan ini adalah bermakna dalil. Mengikuti pendapat ini,  ushul fiqih memiliki makna kumpulan dalil-dalil fiqih seperti Alquran, hadis, ijma, qiyas dan lain-lain.[3]

Pengertian “al-Fiqh”, secara etimologi memiliki arti al-fahm (pemahaman). Adapun fiqih secara terminologi memiliki beberapa makna, salah satunya adalah sebagai berikut:

اَلْعِلْمُ بالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبِ مِنْ أدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

“Pengetahuan tentang hukum syariat yang bersifat pengamalan yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci“.[4]

Dalam redaksi tersebut, penggunaan lafadz  “al-‘ilmu” dalam definisi fiqih bukan menggunakan makna aslinya yang semestinya digunakan untuk perkara-perkara yang dipastikan kebenarannya seperti dalam ilmu teologi (tauhid). Karena dalam konteks fiqih, prasangka atau asumsi (dzon) sudah dianggap cukup.[5]

  1. Ushul fiqih sebagai cabang ilmu keislaman.

Para ulama ushul (ushuliyyin) dari golongan Syafi’iyyah masih terjadi perbedaan pendapat dalam memaknai ushul fiqih dipandang dari sudut salah satu nama cabang ilmu syariat. Secara terminologi sebagai berikut:

دَلاَئِلُ الْفِقْهِ الإِجْمَالِيَّةِ وَبِطُرُقِ اِسْتِفَادَتِهَا وَمُسْتَفِيْدِهَا

“Dalil-dalil fiqih yang bersifat global, dan metode penggunaan dalil tersebut, serta karakteristik seseorang yang menggunakan dalil tersebut”.

Adapun pendapat lain mendefinisikan ushul fiqih dengan menggunakan redaksi: “Pengetahuan mengenai dalil-dalil fiqih yang bersifat global, metode penggunaan dalil tersebut, dan karakteristik  orang yang menggunakannya”.[6]

Yang dimaksud dalil ijmaly (global) adalah kaidah umum sebuah dalil yang masih belum berkaitan dengan hukum tertentu. Karena dalam konteks ini, yang disorot hanya keadaan dalil secara umum, misalkan: ijma’ (konsensus) ulama merupakan hujjah dalam hukum Islam.[7]

Metode penggunaan dalil yang dimaksud adalah sebuah metode penyelesaian yang dilakukan oleh seorang mujtahid  yang menggali hukum apabila terjadi kontradiksi diantara dalil-dalil yang bersifat tafsily (terperinci). Seperti mendahulukan dalil yang khash (khusus) daripada dalil yang bersifat ‘am (umum).

Adapun  karakteristik seseorang yang menggunakan dalil ijmali (global) tersebut adalah seseorang yang telah mencapai kriteria sebagai seorang mujtahid. Namun menurut pendapat yang lain, yang dimaksud lafadz “mustafidiha” dalam redaksi tersebut adalah seseorang yang mencari hukum Allah SWT, sehingga dapat memasukkan mujtahid maupun muqollid (orang yang bertaqlid). Karena seorang mujtahid mengambil hukum dari dalil dan seorang muqollid mengambil hukum dari seorang mujtahid.

Menurut ulama madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah, ushul fiqih bermakna kaidah-kaidah yang mengantarkan metode penggalian hukum dari dalil yang terperinci.[8]

Metode Ushul Fiqih

Secara umum, teori pembahasan dalam ilmu ushul fiqih terbagi menjadi tiga metode:

  1. Metode Mutakallimin.

Yakni metode yang dipakai oleh golongan Asya’iroh, Maturidiyyah, dan Mu’tazilah. Jalan pikiran mereka adalah dengan melalui hujjah logika dengan mentahqiq beberapa kaidah tanpa terkait dengan imam madzhab. Mereka memperkokoh kaidah-kaidahnya dengan beberapa dalil tanpa harus melihat apakah sesuai dengan madzhabnya ataukah tidak.

  1. Metode Hanafiyyah.

Yakni dengan cara menjelaskan kaidah-kaidah ushuliyyah. Metode ini dilakukan dengan cara mengutip furu’ fiqhiyyah dari imam madzhabnya dan kemudian dicari kaidah ushuliyyahnya. Dengan demikian, rumusan hukum metode ini selalu sama persis dengan para imam madzhabnya.

  1. Metode Mutaakhirin.

Yakni sebuah metode yang menggabungkan metode mutakallimin dan metode hanafiyyah.[9]

Ruang Lingkup Kajian Ushul Fikih

Berbicara ruang lingkup dan objek kajian usul fiqih sama halnya dengan mengakaji  kembali silang pendapat para ulama dalam mendefinisikan ushul fiqih itu sendiri. Menurut ulama yang mendefinisikan ushul fiqih sebagai  “dalil-dalil fiqih yang bersifat global, dan metode penggunaan dalil tersebut, serta karakteristik seseorang yang menggunakan dalil tersebut”, pokok pembahasan ushul fiqh adalah dzatiyyah/bentuk dalil-dalil ijmali (global), teori pengambilan dalil tafshili (terperinci), dan persyaratan orang yang menggali dalil tersebut.

Menurut ulama yang mendefinisikan ushul fiqih sebagai “pengetahuan mengenai dalil-dalil fiqih yang bersifat global, metode penggunaan dalil tersebut, dan karakteristik  orang yang menggunakannya”, pokok pembahasan ushul fiqih adalah pengetahuan mengenai dalil-dalil ijmali (global),  teori pengambilan dalil tafshili (terperinci), dan persyaratan orang yang menggali dalil tersebut.[10] Apabila ditarik benang merah, perbedaan diantara dua pendapat ini hanya dalam mengartikan apakah ushul fiqih itu sebuah dzat (bentuk) atau sifat.

Namun, salah satu pendapat mengatakan, secara garis besar maudlu’ (pokok pembahasan) dalam ushul fiqih diartikan dengan redaksi berikut:

الشيئ الذي يبحث في ذلك العلم عن أحواله العارضة لذاته

“Suatu permasalahan yang dibahas di dalam ilmu tersebut yang mencakup perkara-perkara yang baru datang terhadap bentuk sesuatu tersebut”[11]. Sehingga, pokok pembahasan dalam ushul fiqih sangatlah luas, seperti: eksistensi Alquran sebagai hujjah, bentuk shighot amr (perintah) mutlak menunjukkan wajib, lafadz nahi (larangan) berkonsekuensi hukum haram, dan sebagainya.

Yang menjadi objek utama dalam pembahasan ushul fiqih ialah ادلة شرعية (dalil-dalil syar’it) yang merupakan sumber hukum dalam ajaran Islam. Selain membicarakan pengertian dan kedudukannya, juga menyinggung berbagai ketentuan dalam merumuskan hukum dengan menggunakan dalil-dalil tersebut.[12] Ilmu ushul fiqih menjadi barometer terhadap rumusan hukum fiqih, apakah hukum tersebut sudah sesuai dengan dalilnya apakah tidak. Karena ilmu ini menjadi jalan tengah  yang menjembatani sebuah dalil dengan rumusan hukum yang dihasilkan.

Bersambung ke Bagian III (Habis)