Tag Archives: KH. A. Idris Marzuqi

Haul KH. Marzuqi Dahlan

LirboyoNet, Kediri – Cuaca sejuk dan udara dingin menyelimuti suasana khidmat haul KH. Marzuqi Dahlan kamis malam jumat kemarin (10/08). Bertempat di ndalem timur KH. A. Idris Marzuqi, acara ini dihadiri ratusan tamu undangan. Tamu-tamu yang datang termasuk ulama dan kiai di sekitar kota Kediri, dzurriyah KH. Abdul Karim, masyarakat desa Lirboyo, dan pengurus pondok.

Ini merupakan haul beliau yang ke-42 tahun. Beliau wafat pada 18 Nopember tahun 1985 M, atau bertepatan dengan 14 Dzulqa’dah 1395 H. Selain memperingati haul KH. Marzuqi Dahlan, malam kemarin juga sekaligus menjadi peringatan haul Hj. Maryam binti KH. Abdul Karim yang merupakan istri beliau, dan segenap dzurriyah KH. Marzuqi Dahlan yang telah wafat.

Seperti umumnya peringatan haul, acara dibuka dengan pembacaan wasilah dan tawassul kepada nama-nama yang hendak di hauli. Dilanjutkan dengan bacaan surat yasin, tahlil, dam ditutup doa.

Seperti kita ketahui, KH. Marzuqi Dahlan merupakan penerus Ponpes Lirboyo sepeninggal KH. Abdul Karim. Beliau merupakan putra dari KH. Dahlan Jampes, dan masih terikat hubungan saudara dengan Syaikh Ihsan, penulis kitab Sirajut Thalibin. Salah satu petuah beliau yang masih dikenang hingga hari ini adalah amanat untuk terus menyebarkan ilmu, bagaimanapun dan apapun kondisinya. “Nek ting griyo, senajano iku opo wae, kitab cilik, kitab gede, senajan onten santrine nopo mboten, senajano mung loro, tetep sampean ngaji mawon, ojo lali ngaji.” (kalau di rumah, meski bagaimanapun, kitab yang kecil, kitab yang besar, meskipun ada santrinya atau tidak, tetaplah kamu mengaji, jangan lupa mengaji.)

Semoga berkah dari beliau dapat kita rasakan terus sampai kapanpun.

Sederhananya Kiai Juki

KH. Marzuqi Dahlan, salah satu dari Tiga Tokoh Pondok Pesantren Lirboyo, dikenal dengan pribadi yang sederhana. Beliau tidak pernah menghendaki perkara yang aneh-aneh. Dalam kehidupannya sehari-hari, beliau memiliki aktivitas yang istiqamah beliau lakukan. Diantaranya adalah berziarah ke maqbarah para auliya’ dan orang-orang shalih.

Setiap Kamis sore setelah shalat Ashar, beliau selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Kiai Sholeh Banjarmelati (mertua KH. Abdul Karim) dan sekitarnya. Selepas Isya’, beliau melanjukan perjalanan ke area maqbarah Pondok Pesantren Jampes dan sekitarnya. Hingga kemudian rihlah ziarah beliau ini berakhir di kompleks maqbarah Setono Landean, makam Mbah Mursyad.

Di makam Mbah Mursyad inilah beliau sering mendapat petunjuk. Suatu ketika, beliau berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji. Di makam Mbah Mursyad inilah beliau kemudian mendapat petunjuk: yang harus beliau lakukan adalah menyelesaikan gothakan (bangunan kamar) santri. Setelah gothakan selesai, barulah beliau boleh berangkat haji. Maka kemudian beliau pun lekas membangun gedung al-Ikhwan. Beliau peruntukkan bangunan bawah untuk asrama santri. Sementara bangunan atas digunakan sebagai kelas madrasah.

Tradisi berziarah Kiai Juki, begitu beliau dikenal akrab, diteruskan oleh putra beliau, KH. A. Idris Marzuqi. Terutama berziarah di makam Mbah Mursyad. KH. A. Idris Marzuqi bahkan kemudian mengajak santri yang telah sampai pada jenjang akhir sekolah madrasah untuk beristighotsah dan berdzikir di setiap Kamis malam Jumat.

 

Sumber: HM Ibrohim Ahmad Hafidz, dengan perubahan seperlunya.

Haul Kedua KH. A. Idris Marzuki

LirboyoNet -Kediri. Tanggal 09 Juni dua tahun silam, guru kita Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. A. Idris Marzuki telah mendahului kita. Malam tadi (12/05) digelarlah haul yang kedua, memperingati dua tahun kepergian sang guru tercinta. Acara yang berlangsung khidmat di ndalem lama KH. A. Idris Marzuki, sebelah selatan masjid lawang songo Ponpes Lirboyo ini dihadiri oleh banyak tamu-tamu beberapa tokoh kiai. Seperti pengasuh Pondok Pesantren Ma’unahsari Bandar Kidul KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, KH. Nur Muhammad Iskandar SQ, KH. Munif dari Jampes, dan kiai-kiai lain. Berkenan hadir pula dalam acara semalam, wakil gubernur Jawa Timur, Dr. Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIs (Waktu Istiwa’), diawali dengan pembacaan nama-nama yang hendak dikirimi doa, dilanjutkan pembacaan surat yasin yang dipimpin oleh pengasuh Ponpes Ma’unah Sari, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, serta langsung disambung dengan tahlil yang dipimpin oleh KH. A. Habibullah Zaini, salah satu pengasuh Ponpes Lirboyo.

Dalam sambutan atas nama keluarga, KH. Abd. Kafabihi Mahrus mengajak kembali kita untuk mengenang sosok KH. A. Idris Marzuki, kita semua tentu sangat terpukul atas kepergian beliau. “Kata kiai-kiai, ketika kita ditinggal Kiai Idris, ketika ada acara kurang berwibawa. Tumpang. Wibawa beliau sangat besar.” Tutur beliau. Beliau pula menambahkan, sosok kepemimpinan KH. A. Idris Marzuki yang sangat tawadhu’. “Dalam memimpin Ponpes Lirboyo, beliau sangat mengalah.” Tidak hanya hadir sebagai sosok pemimpin yang dapat diteladani, beliau, KH. A. Idris Marzuki menurut KH. Abd. Kafabih Mahrus adalah pribadi yang pandai srawung dengan orang lain, dan bisa diterima dimanapun. “Beliau bergaul sangat supel. Dekat dengan ulama dan pejabat. Sulit kita tiru” kenang beliau.

Gus Ipul juga menambahkan, tentang perlunya acara semacam haul dan majlis-majlis seperti ini. Majlis seperti ini menurut Gus Ipil adalah majlis ukhuwwah, majlis persaudaraan. “Inilah, cara lia menjaga Indonesia, menjaga umat, menjaga masyarakat.” Komentar Gus Ipul. Selain dalam rangka haul, momen semacam ini juga merupakan saat yang tepat untuk “memperkuat ikatan” dengan guru, menurut Gus Ipul. “Hadir kita semua disini, untuk hadir untuk mengenang (Kyai Idris), meniru (Kyai Idris).Gus Ipul menyambung, “Kita hadir disini, secara tidak sadar, bentuk kita terus tersambung kepada guru kita.”

 

Semoga Lirboyo diberi manfaat dan barokah, serta santri-santrinya minasshôlihîn wasshôlihât.” -KH. Abd. Kafabihi Mahrus.

Siang Bersama Habib Syech

LirboyoNet, Kediri – Sebelum tampil malam hari nanti, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaff menyempatkan diri berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Tahfidzul Quran (P3TQ), salah satu pondok unit Lirboyo. Di pondok yang didirikan oleh almaghfurlah KH. Ahmad Idris Marzuqi ini, beliau disambut ratusan santri yang berkumpul di aula pondok.

Para santri putri sebenarnya berkumpul sejak pagi (09/04), karena ada rangkaian acara tertentu yang sudah dipersiapkan pengurus pondok.

Di tengah-tengah lantunan qashidah, tokoh yang dinanti akhirnya tiba. Dengan diiringi masyayikh ponpes Lirboyo, Habib Syech memasuki kediaman Ibu Nyai Hj. Khadijah (istri almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi) untuk sekedar bercengkerama dengan dzuriyah. Hanya sebentar, karena al-habib tidak ingin membuat para santri menunggu terlalu lama. Benar saja. Aula bergemuruh ketika sosok Habib mulai terlihat.

Acara kemudian diisi dengan nasehat-nasehat yang disampaikan beliau. “Guru kita telah mengajarkan kebaikan. Meskipun beliau sudah wafat, beliau tetap hadir saat kita melakukan kebaikan-kebaikan.”

Manusia seluruhnya akan merugi, ungkap beliau, mengutip surah Al-‘Ashr. “Pondok pesantren adalah tempat orang-orang yang beriman. Kita berkumpul di sini untuk melakukan kebaikan. Di tempat ini pula, disampaikan hal-hal yang baik, yang mengajak kepada kebenaran. Dan kalian telah rela dengan sabar menunggu di tempat ini. Empat hal inilah yang membuktikan bahwa kita tidaklah termasuk orang yang merugi.”

Tidak lengkap kiranya jika kehadiran Habib Syech bila tanpa bershalawat. Karenanya, beliau mengajak seluruh santri untuk menggemakan beberapa qashidah. Diantaranya adalah qashidah birrul walidain, yang sempat beliau lantunkan bersama almaghfurlah kiai Idris, dan selalu beliau lantunkan di manapun.

“Kuburipun guru saha tiyang sepah

Mugi dados taman surgo ingkang indah

Mugi tangi kubur mboten nampi susah

Dados tiyang ingkang pikantuk bebungah.”

Setelah itu, beliau pamit untuk bersilaturrahim ke habib yang lain di Kediri. Sebelumnya, beliau terlebih dahulu hadir di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat asuhan KH. M. anwar Manshur untuk acara serupa.][

Kebahagiaan Hakiki

Oleh: KH. Ahmad Idris Marzuqi

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَبَاسِطِ الْأَرْزَاق. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَالرَّسُوْلِ الْعَظِيْمِ الْمَبْعُوْثِ لِإِتْمَامِ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ التَّلَاق. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن.

Pembaca yang Budiman…

Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan harta, pangkat, jabatan dan segala macam kemewahan duniawi. Tapi sesungguhnya kebahagiaan itu terletak pada ketentraman hati seseorang. Banyak orang kaya dengan harta melimpah, tetapi kekayaannya tidak menjadikan hatinya tenang. Bahkan sebaliknya, kekayaan yang ia kumpulkan menyebabkan dirinya bersusah payah untuk mengejar kekurangan. Karena ia beranggapan bahwa harta benda yang ia miliki masih saja kurang. Allah SWT berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر 

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Demikianlah kebiasaan manusia dalam mengejar harta, memiliki satu ingin dua, mempunyai dua ingin bertambah menjadi tiga dan seterusnya. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berusaha dan juga berdo’a agar hati kita selalu diberi ketenangan. Sebab hanyalah di hati yang tenang, kebahagiaan hakiki itu berada. Sebagaimana ungkapan para ahli hikmah:

الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”

Pembaca yang arif…

Islam tidak melarang seseorang memiliki banyak harta. Yang tidak boleh adalah ketika manusia diperbudak oleh harta. Sehingga tidak mustahil, demi mengejar kekayaan, dia mau melakukan apa saja, menerjang larangan-larangan Allah. Maka dari sini manusia pun menjadi budak harta karena tujuan hidupnya hanya sepenuhnya demi harta. Ibarat kehausan di tengah samudera. Menjadi serakah, tak pernah merasa cukup. Rasulullah SAW menjelaskan:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا، وَلَوْ كَانَ لَهُ ثَانِيًا لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Seandainya anak Adam telah memiliki harta sebanyak satu lembah, pasti ia akan mencari lagi untuk memiliki dua lembah, dan bila telah memiliki dua (lembah), pasti ia akan mencari lagi untuk memiliki tiga lembah, dan tidak ada yang dapat memuaskan (keinginan) perutnya kecuali tanah.”

Dengan kata lain, ia tidak akan pernah merasa puas kalau belum mati dan diapit bumi yang berisikan debu.

Pembaca yang bijak…

Hadis tersebut memperingatkan kita agar jangan sampai terlena oleh gemerlap/ kemewahan dunia yang disebutkan dalam Alquran sebagai kesenangan yang menyesatkan (mata’ul ghurur). Kita tidak usah terpancing oleh kenyataan hidup sehari-hari. Tidak sedikit orang ingin cepat kaya, tapi tidak mengindahkan tuntunan agama. Akibatnya orang sering mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Padahal hidup ini sebenarnya bagaikan perputaran sebuah roda, hari ini kaya, bisa saja besok miskin. Ada saat datang, ada saat pergi. Ada yang lahir, ada yang mati. Hari ini pegang jabatan, besok mungkin dibebastugaskan. Siapa tahu? Allah berfirman:

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ … الآية 

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…,” (QS. Ali Imran: 140)

Pembaca yang setia…

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa kunci kebahagiaan adalah ketenteraman hati. Salah satu dari beberapa hal yang menenteramkan hati yaitu qona’ah. Qona’ah artinya ridla, menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya. Selalu menyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Orang yang bersifat qona’ah memiliki pendirian bahwa apa yang ada pada dirinya merupakan yang paling baik dan itu adalah anugerah Allah.

Qona’ah bukan berarti bermalas-malasan, tidak mau ikhtiar, apalagi putus asa. Tetapi sebaliknya, harus tetap ikhtiar. Dan apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dia tetap ridla menerima hasil tersebut, tetap bersyukur dan lapang dada dengan apa yang telah diberikan kepadanya. Sikap demikian inilah yang disebut qona’ah, yang dapat mendatangkan ketenteraman hidup. Rasulullah bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللّٰهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, dan diberikan rizki yang cukup, dan ia merasa cukup dengan apa-apa yang diberikan Allah kepadanya.”

Qona’ah merupakan sifat seorang muslim sebagai pengendali agar tidak terjerumus dalam keputus-asaan dan tidak serakah, karena keduanya sangat dilarang agama. Sebab pada hakikatnya kekayaan itu terletak pada hati seseorang, bukan pada harta yang dimilikinya. Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، لَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”

Wallahu a’lam bis shawab.

 

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

________

*disarikan dari Majalah MISYKAT