Tag Archives: nahwu

Nasehat Hidup dalam Ilmu Nahwu

Nahwu adalah istilah bagi ilmu gramatika arab. Tema yang dibahas dalam ilmu tersebut ialah bagaimana menentukan posisi suatu kata dalam susunan kalimat, apakah ia subjek, objek, atau yang lain. Biasanya, dalam Nahwu, posisi ini ditentukan oleh perubahan di akhir tiap kata bahasa arab, bisa harakat, atau perbedaan huruf. Dalam  dunia pesantren, ilmu nahwu adalah sajian pokok seluruh santri agar bisa membaca serta memahami teks teks berbahasa arab, terutama kitab kuning para ulama salaf.

Selain sebagai penentu kata dalam susunan kalimat di atas, siapa sangka kalau teori ilmu nahwu juga kerap menjadi filosofi kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika, seseorang mendatangi syaikhona Kholil Bangkalan. Ia bertanya sesuatu yang remeh sebenarnya, “Kiai, lebih utama manakah, antara makan langsung dengan menggunakan tangan atau dengan perantara sendok?” Bukannya menjawab secara langsung, beliau tiba-tiba mendendangkan satu bait nadzom alfiyyah ibnu malik, “wa fi ikhtiyari la yaji`ul mufashil idza ta`ata an yaji`al muttasil, (Selagi bisa mendatangkan dhomir muttasil (dhomir yang tersambung), tidaklah perlu mendatangkan dhomir munfasil (dhomir yang terputus))”. Dengan bait tersebut, Syaikhona Kholil memberi isyarat bahwa selagi masih bisa menggunakan tangan secara langsung, mengapa juga memakai perantara sendok?

Ada banyak sekali teori ilmu nahwu lainnya yang bisa kita jadikan pelajaran kehidupan, jika saj kita merenunginya lebih jauh. Seperti pembahasan i`rab, atau perubahan akhir kalimat, yang jumlahnya empat, yaitu rofa`, nashob, khofd, jazm.

Rafa` yang dalam segi bahasa bermakna luhur, memiliki tanda utama berupa dhommah, yang secara bahasa berarti kumpul atau bersatu. Artinya, kita akan mencapai derajat luhur apabila bersatu, tidak terpecah-belah.

Kemudian nashab yang bisa berarti upaya keras, yang mempunyai tanda utama fathah yang bermakna terbuka. Ini berarti bahwa jalan keluar dari persoalan-persoalan yang kita hadapi akan terbuka jika kita mau berupaya dengan keras.

Selanjutnya khafd yang secara bahasa bermakna rendah, dengan tanda utama kasroh yang artinya pepecahan. Dari khafd ini, kita dapat ambil pelajaran bahwa perpecahan dapat menjadikan seseorang rendah derajatnya.

Yang terakhir adalah jazm. Ia bisa diartikan tetap atau konsisiten. Tanda utamanya adalah sukun, yang berarti tenang. Kita ambil pelajaran bahwa konsisiten akan menimbulkan ketenangan.

Demikian beberapa contoh pengamalan teori ilmu nahwu untuk kehidupan sehari hari. Tertarik belajar Nahwu? Mondok yuk!

 

 

 

 

Menyelami Khazanah Kitab Ibnu Aqil

Umat Islam mengakui, bahasa Arab adalah bahasa yang sangat luar biasa. Karena bahasa Arab sangat kompleks dan sulit digantikan dengan bahasa lain. Inilah salah satu keistimewaan bahasa yang dipakai oleh Al-Qur’an tersebut. Semuanya tidak terlepas dari proses nubuwwah nabi Muhammad Saw yang lahir di tanah Arab. Sehinnga sumber rujukan umat Islam setelah Al-Qur’an (baca:Hadis) juga menggunakan bahasa Arab. Para ulama penulis kitab klasik (mushonnifin) pun hampir keseluruhan menulis kitab-kitabnya menggunakan bahasa Arab pula.

Dari sini, kita bisa memberi kesimpulan bahwa hampir keseluruhan sumber untuk memahami agama menggunakan bahasa dari jazirah paling barat di benua Asia tersebut. Dengan demikian, bagi siapapun yang ingin memahami agama secara komprehensif harus mengerti dan menguasai tata bahasa maupun gramatika Arab. Syaikh Syarafuddin Yahya Al-Imrity mengatakan dalam kitabnya:

وَالنَّحْوُ اَوْلَى اَوَّلًا اَنْ يُعْلَمَ *** اِذِالْكَلَامُ دُوْنَهُ لَنْ يُفْهَمَ

Ilmu nahwu itu lebih utama dipelajari terlebih dahulu. Karena tanpa ilmu nahwu, kalam yang berbahasa Arab tidak mungkin diahami”.

Kitab Alfiyyah Ibnu Malik yang merupakan kitab kombinasi Nahwu dan Shorrof ini termasuk kurikulum Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo yang diajarkan mulai kelas I Tsanawiyyah hingga kelas II Tsanawiyyah. Kitab ini merupakan adikarya yang luhur dan monumental syech Jamaluddin Muhammd bin Abdulloh bin Malik yang berisi tentang kaidah-kaidah bahasa arab yang bermuara seputar ilmu nahwu dan horrof yang banyak dikaji di dunia pesantren dan fakultas-fakultas perguruan tinggi Islam. Bahkan kitab ini dijadikan landasan pengajaran literatur bahasa arab di universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

Kitab yang memili nama asli Al-Khulashoh ini terdiri dari 1002 bait nadzom yang menggunakan bahar Rojaz (salah satu Wazan dari ragam bentuk syair Arab). Bukan rahasia lagi jika dalam memahami kalam nadzom yang global ini membutuhkan kejelian dan ketelitian dalam menempatkan posisi kata dan susunan tarkibnya yang tekadang acak dan sulit ditebak. Hal itu ditujukan supaya menghasilkan murod dan pemahaman yang benar dan sesuai dengan yang dikehendaki penulisnya.

Menyadari akan hal ini, banyak ulama besar yang berlomba-lomba menulis syarah (penjelasan) kitab Alfiyyah Ibnu Malik, antara lain Ibnu Hisyam, Muhammad Badruddin, Al-Murody, Al-Ainy, Ibnu Aqil, As-Suyuty, Al-Asymuni dan Al-Azary. Dari sekian banyak kitab syarah Alfiyyah, syarah Ibnu Aqil lah yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren dan paling banyak dibaca oleh kaum santri di Indonesia.

Kitab setebal 203 halaman ini terbagi dalam 82 bab yang membahas secara runtut ilmu Nahwu dan dilanjutkan dengan pembahasan ilmu Shorrof, dengan diawali bab Kalam dan diakhiri bab Idhghom. Kitab syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna bagi para pemula yang ingin mempelajari kitab Alfiyyah Ibnu Malik. Kitab karangan syaikh Abdulloh Bahauddin bin Abdulloh bin Abdurrohim bin Abdulloh bin Aqil Al-Hasyimy ini banyak mendapat pujian dan apresiasi dari ulama-ulama ahli Lughot (bahasa) dan ulama-ulama ahli Hadis.

Mengapa bisa demikian?, karena bahasa yang digunakan beliau mampu menjelaskan maksud dari inti pembahasan nadzom dan mampu  menguraikan bait-bait Alfiyyah Ibnu Malik secara metodologis. Sehingga terungkaplah apa yang dimaksud oleh kitab matan Ibnu Malik pada umumnya. Sebagai contoh, kami uraikan dalam syarah Ibnu Aqil halaman 13:

لَمَّا فَرَغَ مِنَ الْكَلَامِ عَلَى مَا يُعْرَبُ مِنَ الْأَسْمَاءِ بِالنِّيَابَةِ شَرَعَ فِيْ ذِكْرِمَايُعْرَبُ مِنَ الْأَفْعَالِ بِالنِّيَابَةِ وَذَلِكَ الْأَمْثِلَةُ الْخَمْسَةُ….الخ

     “Setelah Mushonif selesai membahas isim-isim yang dii’robi dengan menggunakan i’rob niyabah (penggantian), beliau melanjutkan mengenai pembahasan fi’il-fi’il yang dii’robi dengan menggunakan I’rob niyabah (penggantian).  Hal ini m,nggunakan 5 contoh… dan seterusnya”.

Dari bahasa di atas sudah jelas bahwa penulis syarah Ibnu Aqil memberi isyarat bagi para pembaca untuk mengingat pembahasan sebelumnya. Dan cara tersebut sangat efektif untuk membantu para pemula untuk menambah pengetahuan, pemahaman, serta keterkaitan antara pembahasan yang satu dengan pembahasan yang lainnya dalam rentetan nadzom Alfiyyah Ibnu Malik. Selain itu, pemilihan bahasa yang digunakan begitu lugas dan mudah dicerna semua tingkatan, baik pemuala ataupun yang sudah mahir. Diakui ataupun tidak, masih belum banyak mengutip dan memasukkan pelbagai khilaf dan silang pendapat madzhab ulama-ulama Nahwu, seperti madzhab Bashroh, madzhab Kuffah, dan semacamnya.

Perjalanan kitab syarah Ibnu Aqil ini tidak berhenti sampai disitu. Terhadap syarah, ini banyak ulama menulis kitab Hasyiyah (komentar), antara lain Hasyiyah Athiyyah Al-Ajhury, Hasyiyah Al-Khudhory, dan Hasyiyah As-Syuja’iy. Kitab-kitab tersebutlah yang mengomentari dan menjelaskan lebih mendetail lagi terhadap apa yang telah dipaparkan dalam kitab syarah Ibnu Aqil. Dengan menjelaskan kembali kutipan-kutipan khilaf dan silang pendapat para ulama Nahwu dan Shorrof yang ada di dalamnya.

Intinya, kitab ini ingin membantu siapa saja yang ingin mengenal dan memahami kitab Alfiyyah Ibnu Malik secara lebih dekat dan tidak setengah-setengah. Para pembacanya akan dibuat terkesima dengan permainan bahasa penulisnya yang mampu menguraikan inti dan maksud dari nadzom kitab Alfiyyah Ibnu malik.[]

_______

Judul Asli: Syarah Ibnu Aqil Ala Alfiyyah Ibnu Malik

Penulis: Syaikh Abdulloh Bahauddin bin Abdulloh bin Abdur Rochim bin Abdulloh bin Aqil Al-Hasyimy

Penerbit: Al-Haramain

Tebal/Isi: 203 halaman

Peresensi: Nasikhun Amin (Pasuruan)