Tag Archives: pesantren putri

Jiwa Jurnalistik di Pesantren Putri

LirboyoNet, Kediri—Hari Jumat adalah hari libur akbar bagi para santri. Hampir seluruh pesantren menjadikan hari Jumat sebagai hari berjenak, hari untuk istirahat dari rutinitas belajar selama enam hari sebelumnya.

Meski begitu, Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an (P3TQ) memiliki pandangan lain. Benar. Hari Jumat adalah hari libur. Tetapi itu bukan alasan untuk tidak memanfaatkannya dengan hal-hal yang lebih positif daripada berjenak dan tidur selama mungkin.

Setidaknya, itu yang diungkapkan salah satu santri. “Setiap harinya, kami cuma memiliki maksimal delapan jam tidur. Tapi di hari Jumat ini, kami tetap tidak ingin melewatkan waktu dengan percuma. Makanya, kami ikut ekstrakurikuler jurnalistik ini,” tutur santriwati yang enggan menyebut namanya ini.

Kegiatan ekstrakurikuler telah ada sejak lama. akan tetapi, ekstrakurikuler jurnalistik baru menjadi program resmi di tahun 2017-2018 ini. waktu kegiatannya dilaksanakan setiap Jumat, mulai pukul 14.30 Wis (Waktu Istiwa), hingga pukul 15.30. karena pesantren ini memiliki dua asrama yang berjauhan, maka kegiatan ini juga dilaksanakan di dua asrama itu: P3TQ Barat dan Timur.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah sekitar dua puluhan santriwati di tiap asrama.  Sepengakuan pembimbing, santri sekarang sudah saatnya menjadi pegiat literasi positif. Memandang, suasana jurnalistik di luar pesantren kini sudah tidak seperti dahulu, yang kompeten, serius, dan kredibel. “Sudah terlalu banyak konten berita dan jurnalistik lainnya yang tidak layak dibaca. Tidak terpercaya. Banyak media yang hanya memberitakan kabar burung yang tak jelas sumber dan arahnya. Maka santri sudah saatnya bisa memproduksi karya jurnalistik yang kompeten, serius dan kredibel itu,” tukas Ustadz Hasan, salah satu koordinator ekstrakurikuler yang ada di pesantren yang didirikan oleh almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi ini.

Santri sudah dibekali jiwa kejujuran dan kesederhanaan, yang sangat menunjang kegiatan literasi jurnalistik. Karenanya, dengan kemampuan santri di dalam bidang ini, informasi dan arus pemberitaan dalam bentuk apapun dapat disajikan dengan jujur dan kredibel.][

Takhtiman Santri putri Al-Baqoroh

LirboyoNet, Kediri. Menghkhatamkan mengaji Alquran memang bukan sesuatu yang mudah. Butuh kesabaran, ketelatenan, dan keseriusan agar dapat mencicipi manisnya didoakan puluan ribu malaikat. Tentu saja, sebab Allah telah menjanjikan enam puuluh ribu malaikat-Nya turun ke bumi untuk sekedar mendoakan mereka yang telah mengkhatamkan Alquran.

Kemarin (20/04), sebanyak lima puluh tujuh orang santri putri Ponpes Putri Al-Baqoroh Lirboyo diwisuda. Mereka naik panggung kehormatan, melantunkan bacaan suci Alquran dengan berbagai macam riwayat yang cukup “asing” di telinga masyarajat kita, dan mereka mendapatkan penghargaan langsung dari para masyayikh, dan guru. Satu persatu daari mereka menerima syahadah yang diserahkan langsung oleh Pengasuh Ponpes Albaqoroh, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, beserta segenap dzuriyah lain. Tak hanya itu, ada juga sesi foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan.  Santri yang diwisuda sendiri meliputi dua puluh tujuh orang peserta bil ghoib, tiga orang peserta bil ghoib dan qiroah sab’ah, empat orang peserta qiro’ah sab’ah, dan dua puluh tiga peserta bin nadzhor yang kesemuanya adalah santri putri Ponpes Al-Baqoroh.

Khataman yang ke lima kalinya ini bertempat di Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo, setelah tahun sebelumnya bertempat di halaman ndalem Ponpes Al-Baqoroh Lirboyo. Acara ini juga diramu dengan peringatan isrâ’ dan mi’râj baginda Nabi Muhammad SAW.

Dengan bangga dan terharu, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, atau yang biasa disapa Kiai Zam menuturkan, “Njenengan sedoyo (santri-santri –Red) leres mlebet dawuh ipun kanjeng Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ana wa’allamah.” (Kalian semua (para santri –Red) benar masuk dalam sabda Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ân wa ‘allamah, sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya).

Sementara KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, punya cerita sendiri dibalik penamaan unik pondok pesantren yang diasuh adik kandung beliau ini. Beliau berkata, “Pondok Pesantren Al-Baqoroh itu memang namanya aneh, Al-Baqoroh. Pondok kok namanya Al-Baqoroh, tapi yang menempatinya manusia, hafal Alquran pula.” Yang segera disambut tawa para hadirin. Al-Baqoroh sendiri jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki makna sapi. “ini cereitanya, dinamakan Al-Baqoroh, yang memberikan nama langsung KH. Imam Yahya Mahrus.” Waktu itu, ketika awal-awal pondok pesantren ini baru berdiri, KH. Imam Yahya masih sugeng. Beliau sendiri wafat tahun 2012 silam. “Yang dimaksud Al-Baqoroh itu, surat Al-Baqoroh.” Pungkas Kiai Kafabihi.

Dalam mau’idzotul hasanah, KH. Reza Ahmad Zahid sedikit banyak mengakui tentang kemuliaan para penghafal Alquran, “Satu kaidah dikatakan, segala sesuatu yang ada di dunia ini, bisa menjadi mulia karena sesuatu yang melekat kepadanya, karena sesuatu yang menempel kepadanya. Para santri-santri putri Al-Baqoroh saat ini sudah mendapatkan tempelan barokah yang luar biasa. Tempelan Alquran karim, tempelan ilmu-ilmu agama.” Ungkap Gus Reza, sapaan akrab KH. Reza Ahmad Zahid. Beliau juga menambahkan, “Hakikat manusia tidak ada apa-apanya, kita melihat manusia karena sesuatu yang menempel padanya. Kita melihat harga manusia karena sesuatu yang melekat padanya.

Beliau mendoakan, ”Para alumni-alumni dan para khâtimât-khâtimât insya Allah mendapatkan barokah yang menempel pada dirinya, yaitu barokâtul qur’ân, dan barokâtul ‘ulûm syar’iyyah. Moga-moga, keluar dari pondok insya Allah akan menjadi lebih wibawa dan lebih berharga.

Sebagai pengingat, rangkaian agenda akhirus sanah di pondok pesantren Lirboyo sudah hampir tiba. Jangan lupa pula untuk turut memeriahkan haul dan haflah akhirussanah Ponpes Lirboyo, yang malam puncaknya akan dilaksanakan pada0 9 Sya’ban 1438 H, atau bertepatan dengan jumat malam sabtu, tanggal 05 Mei 2017 M. sebagai penceramah tunggal, insya Allah akan hadir KH. Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar Sarang, juga selaku dewan Rais Syuriah PBNU.[]

Mengulas Majalah Dinding Ar-Rabiet P3HMQ

Pendidikan formal memanglah penting,  namun tak kalah penting juga pendidikan di bidang agama. Banyak orang mengaku sebagai penganut agama Islam tetapi dalam kenyataannya kini bisa sangat jelas kita lihat bahwa mereka yang berstatus muslim tak sedikit yang dengan bangganya memamerkan kemolekan tubuhnya, kecantikan wajahnya, dan segala keunggulan yang mereka punya. Tak jarang juga mereka tunjukkan adab yang membuat para muslim sejati hanya bisa mengelus dada.

Lantas bagaimana cara kita menjadi muslim sejati? Caranya cukup simpel, tapi juga butuh kesabaran dan ketlatenan, yaitu “nyantri”  di pondok pesantren. Sebagaimana yang kita tahu, pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan materi tentang Islam. Bukan hanya materi, tapi juga praktek dan peraturan pondok yang super ketat.

Sebagian orang pasti beranggapan bahwa nyantri di pesantren adalah sebuah peyiksaan diri. Makan-minum seadanya, larangan keluar, kewajiban jama’ah, dan segala kegiatan sehari-hari yang menurut mereka monoton dan membosankan.  Apalagi untuk orang-orang yang hobi nge-trip, shopping,  dan selfie. Namun kini pondok pesantren telah berkembang menjadi tempat para perindu ilmu agama yang menarik, yang bisa mengikuti perkembangan zaman dan tetap selaras dengan kepentingan agama.

P3HMQ (Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat al-Qur’aniyyah),  begitulah pondok sederhana ini disebut. Berada di Kota Kediri Jawa Timur. Pesantren ini berdiri kokoh di bawah pengasuh yang masyhur dengan senyum ramahnya, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus bersama dengan istri Nyai Hj. Azzah Noor Laila Muhammad yang selalu sabar dan telaten dalam mengajarkan kitab suci Al-Quran kepada seluruh santri putrinya.

Para pembaca yang budiman, seperti yang saya utarakan sebelumnya bahwa pesantren tidak hanya monoton dengan kegiatan yang itu-itu saja. Di P3HMQ ini banyak hal menarik yang terselip diantara kegiatan para santri yang begitu padat. Salah satunya adalah Majalah Dinding Ar-Rabiet. Ar-Rabiet bukanlah majalah dinding biasa. Ia sangat digandrungi oleh para penikmat tulisan dan berita. Bagaimana tidak, setiap edisinya selalu diisi dengan berita unik, menarik, dan yang pasti up to date. Mereka para pujangga yang gemar berkarya adalah sasaran utama untuk menjadi crew mading. Jumlah anggota yang terbatas bukanlah suatu masalah besar untuk menyalurkan bakat atas sebuah karya. Mereka diperkenankan untuk ikut andil dalam penerbitan mading setiap bulannya. Apalagi kini Ar-Rabiet menawarkan inovasi baru yang mengadakan semacam lomba karya tulis yang membuat orang yang tak suka menulis pun ikut serta dalam lomba tersebut.

Sebenarnya tanpa ada lomba pun prestasi Madding Ar-Rabiet sudah sangat menarik minat baca para santri. Ar-Rabiet sedikit banyak telah membantu menyajikan informasi terbaru, baik berita pesantren maupun kabar umum tentang dunia luar. Dalam setiap edisinya juga disisipkan biografi para ulama beserta kalam hikmah yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya itu, para crew juga tak pernah lelah dan berhenti berkreasi. Dengan tema yang menarik, mereka menyisihkan tempat dalam mading bilik kaca untuk rubrik mereka. Isinya macam-macam: humor, karikatur, puisi, cerpen, kaligrafi, Kisah Tempo Dulu, dan terkadang juga tersirat ungkapan hati yang membuat para pembaca baper dibuatnya.

Bagaimana menurut kalian? Mungkin setelah membaca coretan ini, ada yang berminat mengikuti lomba karya tulis yang diadakan crew mading edisi berikutnya. Ada hadiah menarik lhoo… syaratnya cukup mudah. daftarkan dirimu sebagai santri di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah sekarang juga. Bukan hanya mengais seluruh ilmu agama, namun juga bebas berkarya dan berkreasi.[]

 

Penulis, Widdarislati, Kelas 3 Aliyah Madrasah Al-Hidayah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat al-Qur’aniyyah (P3HMQ), kamar Faza 01, Pemenang Favorit Lomba Penulisan Majalah Dinding Ar-Rabiet.

 

Mengenang KH. A. Idris Marzuqi, Santri Putri Khataman Al-Quran

LirboyoNet, Kediri — Hari Sabtu kemarin (04/03), suasana ramai terasa di Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran (P3TQ). Pasalnya, hari itu, sejak pagi hingga sore hari, pondok disibukkan dengan beberapa rangkaian acara peringatan Seribu Hari almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi.

Pada pagi hari, suasana pondok khidmat dengan khataman Al-Quran. Ada ratusan santri yang ikut berpartisipasi dalam khataman ini. Masing-masing dari mereka bergantian membaca Al-Quran untuk diperdengarkan dan disimak oleh beberapa kawannya. Suasana semakin khidmat karena yang terlibat bukan hanya para santri. Puluhan alumni pondok ini juga ikut hadir dan membaca Al-Quran, seperti santri-santri putri yang lain.

Sore harinya, rangkaian acara berganti dengan tahlil bersama. Pesertanya pun bertambah. Jika sebelumnya hanya santri dan alumni, acara yang dilaksanakan di ndalem itu juga diikuti oleh para pengajar P3TQ, TPQ Al-Muktamar, dan segenap khodim dan abdi ndalem keluarga almaghfurlah.

Acara ini adalah peringatan Seribu Hari almaghfurlah khusus bagi para santri dan alumni P3TQ. Adapun acara yang diperuntukkan bagi kalangan umum adalah besok Sabtu, 11 Maret/13 Jumadal Akhirah. Tempat pelaksanaannya masih sama, yakni di ndalem barat almaghfurlah.][

Ilmu dan Pengabdian

LirboyoNet, Kediri — Bagaimana jika manusia yang sakit, tak makan, tak minum, dan tak berobat? Ia akan mati. Begitupun hati. Jika ia tidak menerima kalam hikmah dan ilmu selama tiga hari, sejatinya ia telah mati. Idiom ini dipopulerkan oleh Imam Fath al-Mousili, yang dikutip ulang oleh ustadz Abdul Kafi Ridho, salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran (P3TQ).

Kutipan itu ia sampaikan di dalam Jam’iyah Nahdhiyah, yang terlaksana Kamis (17/11/16) lalu. Begitu agungnya ilmu, Allah menyebutkannya secara tersirat dalam Al-Baqarah: 31. Adam as., yang baru saja tercipta, oleh Allah dihadapkan kepada seluruh malaikat, sekaligus disuruhNya mereka untuk bersujud kepada Adam as. Mengapa, malaikat, makhluk tanpa cela, harus bersujud kepadanya? Karena ada satu hal yang diberikan Allah kepadanya, yang tak diberi kepada yang lain: pengetahuan.

Jam’iyah Nahdhiyah adalah salah satu kegiatan yang menjadi program Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fit Tahfizhi wal Qiro-aat (M3HMTQ). Ia diadakan sebagai penutup dari seluruh kegiatan yang berada di dalam program M3HMTQ. Baik, musyawarah, sorogan kitab, hingga sorogan nadzam. Karena pondok ini berlokasi di dua tempat, barat (samping ndalem barat almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi) dan timur (samping ndalem timur almaghfurlah), maka kegiatan juga dibagi menjadi dua, namun dilaksanakan bersamaan.

Di pondok barat, jamiyah ini diikuti kurang lebih 700 santri, yang terdiri dari 300 siswi ibtidaiyah, 400 siswi Tsanawiyah, Aliyah, dan ’Umdah (santri khusus tahfidz). Sementara di timur, yang ditutori oleh ustadz Zaenal Musthofa, ada sekitar 200 santri yang berpartisipasi.

Selama satu tahun, Jam’iyah Nahdhiyah dilaksanakan sebanyak dua kali, yakni di akhir masing-masing semester.

Di dalam kegiatan yang bertema Ilmu dan Pengabdian ini, juga diungkap bagaimana proses khidmah, mengabdi, adalah proses penting lagi mulia. Karena pengabdian sejatinya adalah pengorbanan, maka ia tak terkhusus kepada ilmu. Ada satu analogi menarik untuk membandingkan amal khidmah dengan amal ibadah lain: jika ibadah sunnah, shalat dhuha semisal, hanya bermanfaat bagi pelakunya secara pribadi, lain halnya dengan khidmah. Manfaat khidmah mesti dirasakan oleh banyak pihak.

Pertama, manfaat kepada pribadi, pernah ditulis oleh Ibn Qayyim al-Jauzi. “Yang bisa menentramkan hatia dalah membatu kepada orang yang membutuhkan dengan harta, pangkat, maupun tenaga kita. Ada kepuasan batin yang tidak akan dirasakan oleh orang yang bakhil.”

Kedua, dengan berkhidmah, kepada seorang guru\kiyai, seseorang akan tahu bagaimana strategi pengajaran dan dakwah mereka. Tentunya, sepulangnya nanti, ia dapat mempraktikkan strategi ini di tengah masyarakat nanti.][