Tag Archives: Pondok Unit

PONDOK PESANTREN DARUSSA’ADAH

Pondok Pesantren Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan khusus untuk anak usia dini yang berorientasi pada pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, guna mencetak santri yang berakhlaqul karimah, berilmu, disiplin, mandiri, cakap, kreatif dan bertanggung jawab. Sehingga Santri diharapkan mampu menjadi pionir di tengah-tengah masyarakat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai salafiyah.

VISI

Mencetak generasi yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah, berilmu dan disiplin.

MISI

Mencetak generasi Islam yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah dan berilmu, serta menanamkan faham-faham Ahlussunnah wal Jamaa’ah An-Nahdliyah sejak dini.

PONDOK PESANTREN HM SYARIF HIDAYATULLAH

Pondok Pesantren HM Syarif Hidayatullah Kota Kediri didirkan pada tahun 2017 oleh KH. An’im Falachuddin Mahrus dilingkungan Pondok Pesantren Lirboyo dibawah naungan Yayasan Sunan Gunung Jati. Pondok pesantren ini adalah sebuah lembaga yang berorientasi pada pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter guna membentuk generasi yang tidak hanya cerdas dalam berfikir tapi juga tetap menjunjung tinggi nilai–nilai etika kemasyarakatan sehingga  para santri diharapkan mampu mengamalkan dan menyebarkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlu As-Sunnah Wa Al-Jamaah An-Nahdliyah.

VISI

Berilmu, Beriman, Bertaqwa Dan Berakhlaqul Karimah.

MISI

  • Mencetak Generasi Yang Memiliki Pemahaman Ilmu, Disiplin, Dan Mempunyai Dedikasi Tinggi Terhadap Agama, Masyarakat Dan Negara.
  • Menanamkan Rasa Cinta Pada Agama Dan Tanah Air Dalam Upaya Melahirkan Generasi Yang Siap Mengabdi Untuk Umat Dan Bangsa.

KEGIATAN

  • Membiasakan jamaah Salat lima waktu sebagai kegiatan yang dapat menumbuhkan jiwa agamis, dinamis dan disiplin.
  • Pembacaan Maulid sebagai sarana untuk menanamkan rasa cinta pada Nabi Muhammad  Shalallohu ‘alaihi Wasallam.
  • Mengaji al-Quran, sorogan kitab kuning, mengaji kitab-kitab Mu’tabaroh sebagai upaya memberikan pemahaman yang utuh terhadap agama.
  • Mengadakan Jami’iyyah mingguan yang berisi latihan pidato, tilawtil quran dll., sebagai sarana dalam melatih kemampuan dan mental santri agar lebih siap dalam menghadapi masyarakat.

KONSENTRASI KITAB YANG DIAJARKAN

Kitab- kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren HM Syarif Hidayatullah adalah kitab-kitab Mu’tabaroh berhaluan Ahlussunah Wal Jama’ah, diantaranya:

  1. Bidang ilmu tauhid seperti Aqidatul Awam, Matan Ibrohim al-Bajuri (tijanuddarori), Khoridatul Bahiyyah, Khomsatul Mutun, Kifayatul Awam dan lain lain.
  2. Bidang tafsir seperti Tafsir Jalalain, Tafsir Ayatul Ahkam dan lain lain.
  3. Bidang hadits seperti, Arbain Nawawi, Bulughul Marom, Riyadlusholihin, Jamiushoghir dan lain lain.
  4. Bidang ilmu fiqih seperti Sulam Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Kanzurroghibin dan lain lain.
  5. Bidang ilmu nahwu, seperti kitab Jurmiyyah, Amrithi, Alfiyah Ibnu Malik dan lain lain.
  6. Bidang ushul fiqh seperti Waroqot, Lubbul Ushul,  Jamul Jawami’ dan lain lain.
  7. Bidang akhlak dan tashowuf seperti, Washoya, Taysirul Kholaq, Tahliyah, Ta’lim Muta’allim, Salalimul Fudlola, Mau’idzotul Mu’minin dan lain lain.

SARANA DAN PRASARANA YANG DIMILIKI

NO JENIS JUMLAH KETERANGAN
  1 Kamar Santri 9 Baik
  2 Kantor 3 Baik
  3 Kamar Pengurus 2 Baik
  4 Aula 2 Baik
  5 Kamar Mandi 24 Baik
  6 Jemuran 2 Baik
  7 Perpustakaan 1 Terawat
  8 Taman 1 Terawat

Brosur HMS bisa didownload di sini.

hmslirboyo

Pondok Pesantren Haji Mahrus (PPHM)

Pondok Pesantren Lirboyo Haji Mahrus (PPHM) merupakan satu di antara beberapa pondok unit yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo. Pondok unit ini terletak sekitar 100 meter sebelah timur pondok induk. Tepatnya pada tahun 1952 M. pondok ini didirikan oleh KH. Mahrus Aly, ketika itu kondisi stabilitas nasional sedang diganggu oleh kaum komunis.

Awal-mulanya, sang pendiri KH. Mahrus Aly tidak bermaksud mendirikan pondok. Hanya secara kebetulan KH. Mahrus Aly diberi lahan oleh KH. Abdul Karim untuk membuat rumah sekaligus majelis taklim sebagai sarana mangajarkan atau membacakan kitab-kitab kepada para santri. Kemudian di sebelah utara dari majelis taklim dibuat sebuah kamar yang sangat sederhana berukuran lebar 2×4 m, sekedar sebuah tempat istirahat bagi santri yang sehari-harinya menjadi khadim beliau.

Pada tahun 1958, santri yang bermukim bertambah menjadi 20 orang sehingga tempat yang disediakan tidak cukup menampungnya. Akhirnya beliau dengan para santri membuat tiga kamar sederhana yang disediakan untuk para santri. Namun santri terus saja bertambah dan masih banyak santri yang ingin ikut bersama beliau. Sehingga tiga kamar tersebut diperbaiki sekaligus ditingkat menjadi enam kamar. Sedangkan dana untuk pembangunan kamar tersebut hanya mengandalkan dari simpatisan dan dermawan. Dikarenakan waktu itu belum berani meminta iuran dari wali santri, sebab santri yang ada belum seberapa banyak dan juga majelis taklim yang diselenggarakan beliau belum menjadi lembaga pesantren yang independen.

Tidak lama setelah dibangun enam kamar santri, maka dibangunlah kamar hunian santri yang khusus untuk masing-masing daerah. Pertama kali yaitu dari daerah Losari, Cirebon, membangun kamar yang terletak di sebelah selatan majelis taklim di atas jeding kobok, yang kemudian diberi nomor delapan (karena sebelum itu sudah ada tujuh kamar). Selang beberapa tahun setelah itu, seorang dermawan dari daerah Gebang, Cirebon, Bapak HM. Ma’mun bersama rekan-rekannya ikut membangun tempat hunian santri. Saat itu santri yang ada mayoritas dari daerah Jawa Barat dan sedikit dari Brebes, Tegal serta daerah lainnya. Pesatnya perkembangan pembangunan tempat hunian santri, ternyata juga diimbangi oleh perkembangan santri yang terus bertambah hingga mencapai 150 santri.

Sejauh itu, KH. Mahrus Aly masih tetap belum berani mengatakan bahwa tempatnya adalah pondok pesantren tersendiri, tapi hanya merupakan Himpunan Pelajar (HP) di antara beberapa HP yang ada di Lirboyo. Maka kemudian disebut dengan HP HM, artinya Himpunan Pelajar yang berada di majelis taklim KH. Mahrus. Sementara masalah keorganisasian dan tata administrsi lainnya masih mengikuti pada kebijaksanaan pondok induk, kepengurusannya juga mengikut pada pondok induk.

Dalam organisasi (jam’iyyah) juga masih merupakan wilayah JSP (Jam’iyah Subaniyah Pusat) Pondok Pesantren Lirboyo yang pada waktu itu meliputi tiga wilayah:

  1. Wilayah I, anggotanya para santri dari Jawa barat yang bertempat di Pondok Induk Lirboyo.
  2. Wilayah II, anggotanya para santri dari wilayah Pekalongan, Brebes dan Tegal (PABETA) yang berada di Pondok Induk Lirboyo.
  3. Wilayah III, anggotanya seluruh santri yang betempat di HM (H. Mahrus). Kesemuanya, kegiatan jam’iyyahnya dilaksanakan di Pondok Induk.

Situasi HM ketika itu masih cukup gelap dengan beberapa pepohonan yang tumbuh di sekitar lingkunganya. Tahun 1960-an, setelah KH. Mahrus Aly mengkhitankan putranya yang paling besar, Imam Yahya Mahrus, banyak tanaman yang rusak. KH. Mahrus Aly mengusulkan agar tempat tersebut dibangun pemukiman santri (sekarang tempat Jam’iyah Ukhuwah). Mengingat dana yang dibutuhkan tidak sedikit, akhirnya para santri senior pada saat itu mulai berfikir untuk meminta iuran pembangunan dari wali santri. Pada saat itu pula mereka mengajukan permohonan ke Pondok Induk agar HM ini bisa menjadi pondok tersendiri. Puncaknya pada tahun 1962 Pondok HM resmi menjadi pondok mandiri yang segala administrasi dan kepengurusannya ditentukan oleh Pondok HM. Bertepatan pada masa itu, KH. Mahrus Aly mengumumkan kepada para santri bahwa mushala di HM beralih status menjadi masjid yang bisa dibuat untuk i’tikaf, sebab seperti telah disinggung di atas bahwa mushala itu pada mulanya hanya merupakan majelis taklim.

Pasca kepergian KH. Mahrus Aly pada tanggal 06 Ramadlan 1405/ 26 Mei 1985, kepemimpinan Pondok Unit HM dilanjutkan oleh putra-putra beliau, yaitu KH. Imam Yahya Mahrus, K. Harun Musthofa SE, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. Zamzami Mahrus dan KH. An’im Falahuddin Mahrus.
Waktu itu, di antara putra-putra Mbah Mahrus yang lebih berperan aktif dalam mengurusi pondok pesantren HM adalah KH. Imam Yahya Mahrus mengingat KH. Imam Yahya merupakan putra terbesar. Setelah kurang lebih selama tiga tahun KH. Imam Yahya Mahrus mengurusi Pondok Pesantren HM, beliau mempunyai inisiatif untuk membangun Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan PPHM bisa didownload di link berikut:

Instagram
pphm_lirboyo