HomeSantri MenulisArti Sebuah Niat

Arti Sebuah Niat

0 1 likes 83 views share

Dewasa ini, tak jarang lagi kita dapati kebanyakan orang sering kali mengabaikan hal yang dianggap remeh  yang sebenarnya mempunyai dampak yang begitu besar. Termasuk di dalamnya permasalahan niat. Niat merupakan pondasi utama dalam setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang; Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ
“sesungguhnya segala sesuatu pekerjaan itu tergantung pada niatnya.”

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa baik buruknya suatu pekerjaan itu ditentukan dengan niatnya. Begitu juga amal, sah atau tidaknya suatu amal juga dengan niatnya. Banyak amal-amal duniawi dapat menjadi amal akhirat sebab niat. Niat yang dimaksud yakni khusnun niat, niat yang baik; Misalnya, makan agar diberi kekuatan dalam beribadah kepada Allah swt, tidur dengan niat dari pada ngegosipin orang lain, dan masih banyak lagi.

Disamping itu, banyak perbuatan yang secara lahiriah tampak seakan-akan amal akhirat, tapi berubah menjadi amal dunia yang hanya berakhir sia-sia bahkan mendapatkan dosa. Seperti halnya rajin salat, akan tetapi bertujuan agar mendapatkan pujian, agar dikira orang yang taat beribadah, agar disenangi banyak orang dan lain sebagainya.

Adapun niat yang perlu diperhatikan lagi bagi seorang pelajar atau orang yang sedang menuntut ilmu, yakni:

  1. Niat semata-mata untuk mencari rida Allah swt,

mendapatkan rida dari sesama manusia saja bisa membuat seseorang bahagia, apalagi ketika mendapatkan rida dari Allah yang telah menciptakannya. Lain halnya ketika dibenci oleh orang lain, tidak menutup kemungkinan hidupnya tidak bisa tenang dan tidak bisa merasa nyaman. Bahkan dapat menjadikan hidupnya dihantui kegelisahan. Itu semua baru sesama ciptaan Allah. Lantas bagaimana jika Allah yang membenci? Niscaya bukan hanya malapetaka, tapi memang benar-benar orang yang celaka.

  1. Mencari akhirat,

Ketika seseorang telah mendapatkan akhiratnya, maka dunia pun akan senantiasa mengikutinya; bukan harta yang dicari, tapi harta lah yang akan mencari. Misalnya, kiai atau ustaz, beliau tidak bekerja, kalau pun bekerja kemungkinan besar hanya untuk sampingan. Adapun hidupnya, semata-mata untuk beribadah kepada Allah, mensiarkan islam, menegakkan kebenaran dan memerangi kebodohan serta kemunkaran. Akan tetapi, Allah selalu mencukupi kebutuhan duniawinya. Sehingga tidak heran lagi jika kebanyakan kiai, para alim ulama kehidupannya terlihat begitu tenteram dan bahagia.

  1. Menghilangkan kebodohan,

Kebodohan yang dimaksud yakni bukan hanya kebodohan yang ada pada diri seseorang saja, melainkan juga kebodohan orang lain. dan niat ini hendaknya benar-benar ditanamkan di dalam hati.

  1. Menghidupkan agama,

Dalam artian untuk menetapkan Islam selama-lamanya. Jadi islam bukan hanya simbol atau status belaka, tapi memang benar-benar hidup dalam masyarakat.

Islam hidup dengan Ilmu. Dengan demikian, ketiak semua orang sudah tidak ada yang berilmu, maka akan ditunjuk salah satu deri mereka (orang-orang yang tidak berilmu) untuk dijadikan pemimpin, lalu ia berfatwa dan bisa dipastikan fatwa yang ia sampaikan salah karena tidak berdasarkan ilmu. Jangankan akhirat, dunia pun ada ilmunya. Berdagang ada ilmunya, andai tidak ada maka akan rugi; dokter ada ilmunya, andai tanpa ilmu, tidak bisa menjadi dokter. Segala amal tanpa ilmu,  semua perbuatan tanpa ilmu, sama dengan kosong. Sebagaimana misalnya, dia salat setiap hari, akan tetapi tidak mengetahui ilmunya, tidak mengetahui sarat rukunnya, tidak mengetahui bacaan-bacaannya, maka salatnya tidak akan sah. Dan jika tidak sah maka tidak diterima oleh Allah swt. dalam syairnya, syekh Burhanuddin berkata:

فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ # وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ

هُمَا فِتْنَةٌ فِي الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ # لِمَنْ بِهِمَا فِيْ دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

 

Kerusakan yang besar bagi orang yang berilmu tapi ia tidak peduli dengan keilmuannya. Tapi lebih rusak lagi apabila ada orang bodoh tapi beribadah. Kenapa lebih besar kerusakannya? Karena bagi orang berilmu, kesalahannya ia tidak mengamalkan ilmu yang dimilikinya secara iktikad sah. Sedangkan bagi orang yang bodoh tidak hanya iktikadnya saja yang tidak sah, tapi amalannya pun juga tidak sah. Kedua hal tersebut merupakan fitnah besar di dunia ini bagi orang-orang yang berpegang teguh pada kepada orang yang salah tadi, atau dalam istilah lain, menjadikan orang yang salah sebagai panutan. Lantas apa yang terjadi? Bukan amal jariah yang didapat, melainkan dosa jariah yang diperoleh. kesalahan yang terus menerus dan dan dosa yang tidak ada putusnya. Dalam sebuah hadis diriwayatkan:

“Janganlah kamu menjadi orang yang memulai kekufuran. Karena dosanya orang yang selanjutnya itu akan dilimpahkan pada orang yang pertama tadi.”

Selain niat-niat yang tertera di atas, belajar juga digunakan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah berupa nikmat akal dan sehatnya badan. Apabila seseorang mensyukuri nikmat yang Allah berikan, niscaya Allah akan menambahkan nikmatnya. Dan tidak diperkenankan dengan niat agar supaya disenangi orang, menarik harta dunia, mengharapkan kemuliaan di sisi seorang pemimpin atau selainnya.

Syekh Muhammad bin Hasan berkata: “Andaikan semua manusia itu budakku, maka akan aku merdekakan mereka semua dan aku tidak mau waris wala’ (warisan harta dari si budak, red.) darinya.” Hal itu membuktikan bahwa beliau tidak peduli terhadap harta yang dimiliki orang lain. jadi kesimpulannya apabila seseorang sudah mendapatkan nikmatnya ilmu, ia sudah merasa cukup dengan ilmu tersebut dan tidak butuh pada harta tersebut.

Syekh Himad bin Ibrahim dalam syairnya yang ditulis untuk Imam Abi hanifah berkata: “Barang siapa yang mencari ilmu karena akhirat, niscaya Allah swt. akan memberikan petunjuk kepadanya. Maka sebaiknya. Lihatlah kalian semua pada kerugian orang yang mencari ilmu hanya untuk memperoleh kebaikan dari orang lain.” hal ini mengecualikan ketika seseorang itu mencari kedudukan karena untuk amar ma’ruf nahi munkar, meneruskan perkara yang hak dan memuliakan agama. Hal ini diperbolehkan sebab bukan untuk dirinya sendiri dan tidak untuk kesenangannya.

Bagi seorang penuntut ilmu diupayakan agar selalu ingat bahwa sesungguhnya ilmu itu didapat dengan susah payah dengan segala bentuk perjuangan, sehingga ia tidak terkecoh oleh dunia yang rendah, sedikit dan merusak. Adapun orang yang terjebak dalam indahnya dunia itu lebih rendah dari yang terrendah, karena dunia adalah tipu daya bagi manusia yang sangat menggiurkan.

Sementara, sifat yang pantas dimiliki oleh ahli ilmu adalah sifat tawaduk dan ‘iffah (menjaga diri dari perkara haram), tidak layak memiliki sifat takabur, meskipun derajat mereka lebih dari yang lain, baik di mana pun itu dan kapan pun waktunya. Baik ketika bersama dengan orang menegah ke atas maupun orang menengah ke bawah.

-Disarikan dari, ta’lim al-Muta’alim karya syekh az-Zarnuji. (Surabaya, al-Haromain 1427 H./ 2006 M.) cet. Pertama, hal. 10-12.

Oleh: Arina Robitoh Fuadiana, Kelas 3 Tsanawiyah Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-at, asal Magelang.