Hukum Prank Orderan Ojek Online

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mohon penjelasannya bagaimana hukum prank orderan ojek online yang sering terjadi akhir-akhir ini demi sebuah konten Youtube? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ahmadi, Bandung)

_____________________________

Baca juga: Meninggalkan Salat Jumat Tiga Kali, Benarkah Murtad?

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Akhir-akhir ini, demi sebuah konten di chanel YouTube, marak terjadi fenomena prank terhadap driver ojek online (Ojol) dengan cara memesan makanan secara kemudian membuat sang driver kebingungan dengan membatalkan orderan atau pura-pura tidak mengakui orderannya. Setelah batas kesabarannya habis, baru mereka akan mengakui dan membayar orderan bahkan ditambah bonus untuk sang driver.

Oleh karena itu, dalam sudut pandang fikih, hukum prank semacam itu tidak diperbolehkan. Alasannya, pada saat orderan dibatalkan (cancel) atau tidak diakui, pada saat itulah driver akan merasa dirugikan dan dibingungkan. Karena alasan utama adalah menimbulkan kekhawatiran, bahkan tak jarang banyak driver Ojol yang menangis akibat ulah prank semacam ini. Meskipun setelah permainan itu, pengguna jasa atau customer tetap menggantinya.

Baca juga: Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya!

Hal demikian tertuang dalam penjelasannya Syaikh Ibn Hajar al-Haitami yang mengutip perkataan Imam az-Zarkasyi dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

إنَّ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ أَخْذِ الْمَتَاعِ عَلَى سَبِيلِ الْمُزَاحِ حَرَامٌ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ «لَا يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَاعِبًا جَادًّا» جَعَلَهُ لَاعِبًا مِنْ جِهَةِ أَنَّهُ أَخَذَهُ بِنِيَّةِ رَدِّهِ وَجَعَلَهُ جَادًّا؛ لِأَنَّهُ رَوَّعَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ بِفَقْدِ مَتَاعِهِ
.

Sesungguhnya perbuatan manusia untuk mengambil harta orang lain dengan cara bercanda tetap
haram. Dalam hadis dijelas: Tidak diperbolehkan bagi kalian untuk mengambil
harta teman kalian dengan cara bercanda yang serius. Nabi mengatakan hal itu
bercanda karena ada niat untuk mengembalikannya. Dan nabi mengatakan hal itu
serius karena menakuti saudara muslimnya dengan kehilangan hartanya
.”[1] [] WaAllahu a’lam

Baca juga: Benarkah Bulan Ṣafar Bulan Kesialan?


[1] Ibn Hajar al-Haitami, Hamisy Tuhfah al-Muhtaj, vol. X hlm. 287

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses