Tag Archives: makanan

Saat Disuguhi Makanan, Bolehkan Membatalkan Puasa Sunah?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimanakah hukum membatalkan puasa sunah Rajab ketika kita disuguhi makanan oleh seseorang? Karena terkadang kita gak sampai hati untuk menolak demi menghormatinya. Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Aziz, Klaten)

_________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika melakukan puasa sunah, terkadang seseorang mendapatkan suguhan makanan maupun minuman dari orang lain yang tidak mengetahui bahwa ia sedang berpuasa. Keadaan itu sering dilema, apakah membatalkan puasa sunahnya atau tetap melanjutkan.

Dalam menghadapi keadaan demikian, apabila ada kekhawatiran menyinggung perasaan orang lain yang memberikan makanan, maka lebih utama membatalkan puasa dan ia sudah mendapatkan pahala yang telah dilakukannya. Namun apabila ada tidak kekhawatiran menyinggung perasaan orang tersebut, maka lebih baik untuk tetap berpuasa dan mengatakan secara halus bahwa ia sedang berpuasa., maka Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

يُنْدَبُ الْأَكْلُ فِي صَوْمِ نَفْلٍ وَلَوْ مُؤَكَّدًا لِإِرْضَاءِ ذِي الطَّعَامِ بِأَنْ شَقَّ عَلَيْهِ إِمْسَاكُهُ وَلَوْ آخِرَ النِّهَارِ لِلْأَمْرِ بِالْفِطْرِ وَيُثَابُ عَلَى مَا مَضَى وَقَضَى نَدْبًا يَوْمًا مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ يَشُقُّ عَلَيْهِ إِمْسَاكُهُ لُمْ يُنْدَبِ الْإِفْطَارُ بَلِ الْإِمْسَاكُ أَوْلَى قَالَ الْغَزَالِي: يُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ بِفِطْرِهِ إِدْخَالَ السُّرُوْرِ عَلَيْهِ.

Disunahkan membatalkan dengan makan ketika puasa sunah meskipun puasanya sangat dianjurkan dalam rangka melegakan pemberi makanan. Hal itu dilakukan ketika ia merasa sulit untuk tetap melanjutkan puasanya, meskipun telah di penghujung hari. Membatalkan itu adalah perintah dan ia akan mendapatkan pahala puasa yang telah dilakukannya. Ia juga dianjurkan untuk menqadlai di lain hari. Namun apabila ia tidak merasa sulit mempertahankan puasanya, maka tidak dianjurkan membatalkan puasa dan hal itu lebih utama. Imam al-Ghazali menambahkan, saat membatalkan puasanya disunahkan berniat membahagiakan orang yang memberikan makanan.”[1]

Imam Taqiyudin al-Hishni juga menjelaskan dalam kitab Kifayah al-Akhyar:

وَمَنْ شَرَعَ فِي صَوْمِ تَطَوُّعٍ لَمْ يَلْزَمْهُ إِتْمَامُهُ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ الْاِتْمَامُ فَلَوْ خَرَجَ مِنْهُ فَلَا قَضَاءَ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ وَهَلْ يُكْرَهُ أَن يَخْرُجَ مِنْهُ نَظَرٌ إِنْ خَرَجَ لِعُذْرٍ لَمْ يُكْرَهْ وَإِلَّا كُرِهَ وَمِنَ الْعُذْرِ أَن يُعِزَّ عَلَى مَنْ يُضِيْفُهُ امْتِنَاعَهُ مِنَ الْأَكْلِ

 “Orang yang berpuasa sunah tidak wajib menyelesaikannya. Akan tetapi ia dianjurkan untuk menyelesaikannya. Apabila ia membatalkan puasa sunah di tengah jalan, tidak ada keharusan qadha baginya, tetapi hanya dianjurkan (qadha). Apakah membatalkan puasa sunah itu makruh? permasalahan ini patut dipertimbangkan. Apabila ia membatalkannya karena uzur, maka tidak makruh. Tetapi jika tidak karena udzur tertentu, maka pembatalan puasa sunah makruh.  Dan di antara contoh uzur ialah penghormatan kepada orang yang menjamunya yang dapat mencegahnya untuk makan.”[2]

Ketentuan ini hanya berlaku hanya pada puasa sunah. Adapun puasa wajib (Ramadhan, puasa Qadla, dan puasa Kafarat) harus tetap melanjutkan puasanya. []waAllahu a’lam


[1] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, hlm. 493.

[2] Taqiyudin al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, I/208.

Hukum Prank Orderan Ojek Online

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mohon penjelasannya bagaimana hukum prank orderan ojek online yang sering terjadi akhir-akhir ini demi sebuah konten Youtube? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ahmadi, Bandung)

_____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Demi sebuah konten di chanel YouTube, marak terjadi fenomena prank terhadap driver ojek online (Ojol) dengan cara memesan makanan secara kemudian membuat sang driver kebingungan dengan membatalkan orderan atau pura-pura tidak mengakui orderannya. Setelah batas kesabarannya habis, baru mereka akan mengakui dan membayar orderan bahkan ditambah bonus untuk sang driver.

Dalam sudut pandang fikih, hukum prank semacam itu tidak diperbolehkan. Alasannya, pada saat orderan dibatalkan (cancel) atau tidak diakui, pada saat itulah driver akan merasa dirugikan dan dibingungkan. Karena alasan utama adalah menimbulkan kekhawatiran, bahkan tak jarang banyak driver Ojol yang menangis akibat ulah prank semacam ini. Meskipun setelah permainan itu, pengguna jasa atau customer tetap menggantinya.

Hal ini ditegaskan pendapat Ibn Hajar al-Haitami yang mengutip perkataan imam az-Zarkasyi dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

إنَّ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ أَخْذِ الْمَتَاعِ عَلَى سَبِيلِ الْمُزَاحِ حَرَامٌ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ «لَا يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَاعِبًا جَادًّا» جَعَلَهُ لَاعِبًا مِنْ جِهَةِ أَنَّهُ أَخَذَهُ بِنِيَّةِ رَدِّهِ وَجَعَلَهُ جَادًّا؛ لِأَنَّهُ رَوَّعَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ بِفَقْدِ مَتَاعِهِ .

Sesungguhnya perbuatan manusia untuk mengambil harta orang lain dengan cara bercanda tetap haram. Dalam hadis dijelas: Tidak diperbolehkan bagi kalian untuk mengambil harta teman kalian dengan cara bercanda yang serius. Nabi mengatakan hal itu bercanda karena ada niat untuk mengembalikannya. Dan nabi mengatakan hal itu serius karena menakuti saudara muslimnya dengan kehilangan hartanya.”[1] []waAllahu a’lam


[1] Ibn Hajar al-Haitami, Hamisy Tuhfah al-Muhtaj, vol. X hlm. 287

Nasihat Ulama Agar Hasil Pekerjaan Kita Berkah

Layaknya manusia yang normal, kita pasti menginginkan hidup yang berkecukupan, rizki yang baik dan semacamnya. di samping itu, karena mencari penghidupan juga merupakan keharusan bagi seseorang yang menjadi tulang punggung kelauarga, maka sudah selayaknya hal itu dilakukan dengan penuh nilai-nilai keluhuran agar kita sebagai manusia tidak terjebak menjadi robot yang hanya terus bekerja dan bekerja tanpa peduli teradap kondisi apa pun, bahkan kondisi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Oleh karena itu, penting kiranya kita mengetahui dan mengamalkan prinsip-prinsip luhur dalam bekerja, lebih-lebih agar hasil yang kita peroleh menjadi baik dan berkah.

Dalam hal ini, Imam Abu lais ash-Samarqandy dalam kitab Tanbihul Ghofilin menuturkan: bila seseorang menginginkan berkah dan sukses dalam pekerjaannya, maka ia harus menjaga lima hal berikut:

Pertama, tidak menunda-nunda hal-hal fardu hanya demi pekerjaannya dan tidak menjadikannya sesuatu yang kurang atau asal-asalan.

Kedua, tidak menyakiti atau merugikan orang lain demi pekerjaannya.

Ketiga, meniatkan diri dalam pekerjaannya itu, agar ia dan keluarganya terjaga dari kearaman, bukan untuk menumpuk dan memperbanyak harta.

Keempat, tidak memayahkan diri hanya demi pekerjaan.

Kelima, tidak meyakini bahwa rizki yang ia peroleh berasal dari jerih payah kerjanya, melainkan itu semata-mata dari Allah Swt, sedangkan pekerjaan hanyalah perantara saja.

Semoga kita sekalian bisa merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. setidak-tidaknya, berusaha agar memiliki sifat-sifat demikian. Semoga.(IM)