Muntahan Bayi dan Kelonggaran Hukumnya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hal lumrah yang sering terjadi pada seorang bayi adalah muntahan ketika makan sesuatu atau saat minum ASI. Apabila tidak diketahui hukum status kenajisannya, tentunya sangat memberatan bagi para ibu. Najiskah muntahan bayi tersebut? Dan apakah memang ada yang mengatakan ma’fu (ditolerir)? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Alfia- Blitar Jawa Timur)

______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika makanan atau minuman yang sudah tertelan dan melewati batas tengah tenggorokan (tempat keluarnya huruf ha’), maka sudah dianggap masuk ke dalam tubuh. Sehingga apabila makanan tersebut keluar kembali, maka dinamakan kategori muntahan (Al-Qoi’) yang statusnya adalah najis. Sebagaimana penjelasan Syekh Zainuddin Al-Malibary dalam kitabnya yang berjudul Fathul Mu’in:

 وَقَىْئُ مَعِدَّةٍ وَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَهُوَ الرَّاجِعُ بَعْدَ الْوُصُوْلِ لِلْمَعِدَّةِ وَلَوْ مَاءً، أَمَّا الرَّاجِعُ قَبْلَ الْوُصُوْلِ إِلَيْهَا يَقِيْنًا أَوِ احْتِمَالًا فَلَا يَكُوْنَ نَجْسًا وَلَا مُتَنَجِّسًا

2 thoughts on “Muntahan Bayi dan Kelonggaran Hukumnya

  1. jadi, status muntahannya dima’fu ? betulkah pemahaman saya ini? karena ada yg bilang, yang dima’fu hanya apa yang disentuh oleh mulur bayi saja ( mulutnya )

  2. Assalamualaikum…menurut pemahaman saya, dari ibnu sholah, status muntahan bayi itu ditolerir atau dima’fu , apakah betul demikian?
    jadi, tidak hanya mulut terbatas pada mulutnya saja ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.