KH. Abdullah Kafabihi: Ridho Allah dan Ridho Orang Tua

KH. Abdullah Kafabihi: Ridho Allah dan Ridho Orang Tua

KH. Abdullah Kafabih memberikan wejangan yang dalam kepada para santri tentang kedudukan orang tua dalam Islam, karena ridho mereka sangat menentukan ridho Allah Swt. Beliau menegaskan:

“Ridho Allah dihubungkan dengan ridho orang tua, begitu pun murkanya, itu menandakan betapa agungnya kedua orang tua.”

Baca juga: Agus Ahmad Kafabihi: Hujan dan Cinta

Hal ini menandakan bahwa bakti kepada orang tua bukan hanya perkara sosial, melainkan juga perkara ibadah yang langsung berhubungan dengan ridho Allah.

Birrul Walidain

Lebih lanjut, beliau mengingatkan kerugian besar yang menimpa seseorang bila memiliki orang tua, tetapi tidak melakukan birrul walidain (berbakti kepada keduanya). KH. Abdullah Kafabih berkata:

“Sangat rugi bila mana orang yang mempunyai kedua orang tua namun tidak birrul walidain dan tidak berbakti kepada kedua orang tuanya.”

Baca juga: KH. Anwar Manshur: Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar

Wejangan ini menjadi pengingat penting bahwa kesempatan berbakti kepada orang tua adalah ladang amal yang tidak tergantikan. Selama orang tua masih ada, jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan itu dengan perkataan atau sikap yang menyakitkan hati mereka.

Adab dalam Berkomunikasi

KH. Abdullah Kafabih juga mengingatkan adab sederhana namun sangat penting dalam berinteraksi dengan orang tua:

“Jangan sampai kita berkata yang menyakiti orang tua. Hendaknya, kita berbicara dengan suara yang lebih pelan dari pada orang tua.”

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Menjaga Hati

Pesan ini menekankan bahwa birrul walidain bukan hanya soal perbuatan besar, tetapi juga tercermin dalam tutur kata dan sikap sehari-hari. Dengan menjaga lisan dan nada suara, seorang anak menunjukkan rasa hormat, kasih sayang, dan kepatuhan yang menjadi bagian dari ridho Allah.

Secara fikih tidak apa-apa berpendapat di hadapan orang tua. Namun, sahabat Abdullah bin Umar ra. karena saking wira’inya, beliau sampai tidak berani menyampaikan pendapat kepada ayahnya yakni, Sayyidina Umar bin Khattab ra., saat sang ayah mengajak ia dan adiknya, Ubaidillah bin Umar, untuk bermusyawarah. Sahabat Abdullah bin Umar ra. menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sang ayah.

Wali Uwais al-Qorni (pembesar tabi’in) ini hidup pada zaman Rasulillah ﷺ, namun saat akan sowan Rasulillah beliau tidak jadi, sebab khidmahnya kepada sang ibu. Beliau khidmah luar biasa kepada ibunya sehingga beliau menjadi wali besar.

Menjaga Diri dari Makanan Haram dan Syubhat

Makan yang hati-hati, sebab apa yang kita makan akan berdampak pada perilaku kita serta anak turun kita. Maka para ulama sering menekankan pentingnya mencari rezeki halal dan menjauhi syubhat. Sesuap makanan yang haram bisa merusak doa, mengeraskan hati, bahkan memutus keberkahan keturunan.

Ridho Orang Tua Ridho Allah

Walaupun orang itu sukses, walaupun orang itu alim, namun bila mana tidak menghargai orang tua, tidak ngabekti (berbakti) pada orang tua, ini percuma, sebab ridho Allah di situ. Tidak sedikit kisah orang alim yang terhijab dari keberkahan ilmu hanya karena melalaikan birrul walidain.

Baca juga: KH. An’im Falahuddin: Kesunahan Ziarah Rasulullah

Sebagaimana dawuh ulama:

َمَا تَ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا يَعِيْش
“Manusia mati itu biasanya sesuai dengan kehidupannya.”

Maka kehidupan yang dijalani dengan birrul walidain insyaAllah akan ditutup dengan husnul khatimah.

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 27 Desember 2018, di aula Al Mu’tamar.(IM)

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses