Tag Archives: Bahtsul Masail

Hasil Keputusan Bahtsul Masail FMP3 Ke-XXIV di Pondok Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) yang digelar di Pondok Pesantren yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri telah usai. Selama dua hari, 22-23 Januari 2020, ratusan santri dari berbagai pesantren putri di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini melakukan diskusi ilmiah terkait problematika faktual dan aktual yang berkembang di masyarakat, mulai dari permasalahan nafkah di era millenial, Youtubers bersyariah, dan berbagai persoalan lainnya.

Dalam forum yang menjadi agenda tahunan pondok pesantren putri ini, semua peserta dibadi ke dalam tiga komisi, yakni A, B, dan C. Selain diskusi yang dibagi ke dalam dua sesi, seminar kebangsaan menjadi acara pamungkas.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan berikut:

Hasil Keputusan Bahtsul Masail FMP3 Ke-XXIV

Bahtsul Masail P3HMQ

Jumat (18/10) Pondok Pesantren Putri HMQ (P3HMQ) menggelar Bahtsul Masail di Aula P3HMQ.

Dalam Bahtsul Masail Sughro yang ke-7 ini, segenap santri membahas perihal polemik yang terjadi di media sosial, seperti fenomena prank, dan hal-hal yang dikerjakan konten kreator yang belum diketahui dasar hukumnya.

Bapak Faurok Tsabat (Aktifis Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo) menjadi perumus dalam bahtsul masail kali ini.
Acara tersebut dibagi menjadi dua jalsah (sesi). Jalsah pertama dimulai pukul 9 pagi hingga pukul 11 siang, dilanjutkan jalsah kedua yang dimulai pukul 2 siang hingga pukul 4 sore.

Dalam acara tersebut, Agus H. Sholeh Abdul Karim hadir sebagai mushohih. Semoga dengan dilaksanakannya acara tersebut, sumberdaya manusia santriwati di pesantren dalam hal bahtsul masail terus berkembang.

Hasil Keputusan Bahtsul Masail FMPP ke-35

LirboyoNet, Wonosobo- Agenda Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) ke 35 telah usai. Ajang diskusi para santri yang diselenggarakan selama dua hari, Rabu-Kamis, 9-10 Oktober 2019 dihadiri ratusan santri dari berbagai pesantren se Jawa-Madura. Bertempat di Pondok Pesantren Al-Mubarok Manggisan Wonosobo, para diskusi yang menjadi ciri khas keilmuan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini menghasilkan banyak jawaban atas berbagai problematika keagamaan yang faktual dan aktual di masyarakat. Persoalan-persoalan yang dibahas dibagi kedalam tiga komisi.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini.

KOMISI A
Fenomena Smartphone/Gadget
Masjid NU yang Dipertanyakan
Adzam ketika Berangkat Pergi
Cashback Toko Online

KOMISI B
Kebebasan Berdakwah
Problematika Daging Kurban
Pemusnahan Ayam Massal
Cerita Israiliyyat
Keharaman Wewangian bagi Muhrim

KOMISI C
Derita Eks Koruptor
Kupas Tuntas Jamak Fil Hadhor

Buah Kerja Keras Iblis dan ‘Kalam Hikmahnya’

Sebuah kisah datang dari kaum legendaris di dunia, yakni Bani Israel, seorang penghamba yang sudah bertahun-tahun lamanya mengabdikan hidupnya kepada Sang Pencipta, Allah Swt. sama sekali ia terlepas dari carut marut urusan dengan manusia, ia jengah dengan semua itu.

Suatu waktu, tempatnya bertapa didatangi oleh sekelompok orang yang sebelumnya sudah tahu riwayat hidup si pengabdi Tuhan ini, mereka hendak melaporkan bahwa ada sebuah daerah yang penduduknya bukannya menyembah Allah, melainkan pohon rindang nan besar yang dijadikan pujaan.

Mendengar tuturan mereka, sang pengabdi ini murka tak terbendung, darahnya memuncak diubun-ubun, segera ia ambil kapak miliknya, ia slempangkan ke bahunya. Benar, ia hendak pergi menebang ‘pohon sesat’ tersebut.

Sesampainya di dekat lokasi pemujaan, ia berjumpa dengan seorang tua, yang ternyata ia adalah Iblis yang sedang mewujudkan dirinya seperti manusia. si Pengabdi tidak tahu menahu.

hendak kemana kau akan pergi? Semoga Tuhan merahmatimu” sapa Kakek Tua sembari menebar doa.

aku akan menebang pohon ini” jawab si penghamba masih terbawa amarahnya.

buat apa kau melakukan kekonyolan ini, sedangkan kau meninggalkan aktifitas ibadah dan rutinitasmu?” si Tua menebar perangkapnya.

ini juga bentuk dari ibadahku” si Pengabdi membela diri bahwa yang ia lakukan dengan menebang pohon tersebut juga merupakan wujud pengabdiannya kepada Tuhan.

tak akan ku biarkan kau melakukannya” sanggah Iblis menantang. Si Pengabdi merasa dilecehkan, belum juga amarahnya reda ia menerjang si Tua, terjadilah pergulatan sengit. Setelah beberapa saat adu kekuatan, si Pengabdi akhirnya mampu menghempaskan tubuh si tua ke tanah. Dengan senang ia menduduki dadanya.

Tahu posisinya sedang tidak beruntung kakek ini mencari jalan negoisasi.

sebentar dulu, lepaskan aku, akan ku beri kau petuah-petuah”  tanpa ada rasa curiga, si Pengabdi bangkit dari ‘tempat duduknya’

hei engkau, sungguh Allah tidaklah menitahkanmu untuk melakukan pekerjaan ini, Ia tidak pula mewajibkanmu. Satu sisi kau tidak juga ikut-ikuan menyembah pohon tersebut. Allah punya banyak Nabi dipenjuru bumi ini, jika Ia mau laksana akan dikirim seorang nabi ke daerah ini lalu Ia perintahkan untuk menebang pohon tersebut”panjang sekali ‘nasihat’ Iblis ini mencoba meyakinkan agar ia mengurungkan niatnya.

namun ternyata sama sekali tidak mampu merobohkan tujuan mulia dari si Pengabdi tersebut, tanpa mau berlama-lama mendebat kakek tua ini, ia lagi-lagi menerjang si kakek. Sama seperti pertarungan pertama, dengan mudah ia menumbangkan si kakek, menghempaskannya lalu duduk di atas dadanya. Si kakek tanpa daya upaya.

apa kau mau menerima sebuah hal yang mungkin saja bisa menjadi penengah masalah kita sekarang ini? Suatu hal yang lebih baik bagimu lagi bermanfaat” untuk yang kedua kalinya kakek menawarkan negoisasi.

apa itu?” si Pengabdi mulai terpancing penasarannya.

lepaskan dulu aku agar lebih nyaman kita bicaranya”  kakek memanfaatkan peluang.

Dengan mudah ia terpedaya, ia bangkit dari atas dada sang kakek. Mulailah lagi kakek menebar perangkapnya.

kau adalah seorang yang melarat tak punya apa-apa, kau gantungkan hidupmu daripada uluran tangan manusia kepadamu. Mungkin saja kau ingin posisimu lebih utama dibanding rekanmu. Tetanggamu. Engkau mungkin juga ingin perutmu terisi sehingga tak lagi kau butuhkan uluran tangan manusia?.”

Entah apa yang menyebabkan si Pengabdi mengiyakan apa yang telah ditebak oleh si kakek.

jika benar maka urungkanlah pekerjaanmu ini, sebagai imbalannya setiap kau membuka matamu dipagi hari kau akan menemukan 2 Dinar disisimu yang bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluargamua, bisa juga kau gunakan untuk bersedakah kepada teman-temanmu, bukankah hal ini lebih bermanfaat bagimu juga umat muslim dibandingkan dengan kau tebang pohon tersebut, apalagi pohon itu juga masih bisa dimanfaatkan, menebangnya tidak membawa keburukan juga keuntungan, tidak berimbas baik pula untuk saudara seimanmu.” Sukses. Si Pengabdi mencerna kata perkata yang masuk menjalar ke telinganya. Ia resapi. Mencoba mencari kesimpulan.

Dalam hati ia berguma “benar juga apa yang dikatakan kakek tua ini, aku bukanlah seorang nabi sehingga wajib bagiku menebang pohon ini. Allah juga tidak memerintahkanku sehingga berdosa jika aku tak menebangnya. Semua yang tadi ia sebutkan juga sepertinya lebih banyak manfaatnya bagiku.”  mantap. Ia tegaskan lagi kebenaran dari janji-jani kakek tadi. Setelah dirasa omongannya bisa dipercaya. Mereka sepakat.

Kembali ia ke petapaannya. Semalam berlalu. Di pagi hari, benar, ia dapati 2 dirham di sisi kepalanya. Tanpa sungkan ia mengambinya. Di malam kedua hal yang sama masih terjadi. Setelah malam ke tiga. Ia tak lagi menjumpai 2 dirham tersebut. Serta merta ia murka, merasa ditipu oleh si kakek.

Ia bangkit membawa kapaknya ingin melanjutkan niatnya yang pertama, merobohkan ‘pohon sesat’. Lagi-lagi tanpa diduga ia bertemu Iblis yang menyamar jadi  kakek itu.

mau kemana lagi kau?” tanyanya tanpa beban.

akan ku tebang pohon itu ! “ bara amarah meletup dari sorot matanya.

kau bohong, demi Allah kau tidak akan mampu melakukannya. Tidak pula akan kau temukan caranya.

Kejadian yang sama terulang seperti yang telah lalu, namu kali ini ada yang mengherankan. Si Pengabdi yang tempo hari dengan mudah menumbangkan kakek tanpa keringat mengucur, hari ini dihadapan kakek ia laksana bocah bau kencur. Kekuatannya hilang seketika. Kakek duduk dengan tenang di atas dada si Pengabdi ini, mengulangi perlakuannya yang dulu. Membalas.

Kaget dengan kejadian yang baru menimpanya, tak diduga.  si Pengabdi mencoba melakukan susuatu, tak ada jalan, ia lemah, kakek itu begitu tangguh sekarang.

jika kau urungkan rencanamu akan kulepaskan, jika tidak, tanpa segan kau akan ku sembelih” kakek mengultimatum, membuat nyalinya keder. Penasarannya pun juga masih misteri kenpa kakek ini begitu tanggu sekarang, apa kemarin ia hanya mengalah saja?.

baiklah, lepaskan aku. Lalu ceritakan tentangmu kenapa tempo hari aku mampu dengan mudah mengalahkanmu sedangkan di hari ini kau begitu perkasa

Kakek melepaskannya. Ia bangkit.

Dihari pertama amarahmu membara karena niatmu tulus karena Allah, sengga Ia memudahkanmu untuk mengalahkanmku, namun dihari ini, kau murka karena nafsu juga karena dunia, tak heran kau bagaikan bocah dihadapanku” */[ABNA]

Menjawab Adzan Asli dan Aplikasi


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ada permasalahan yang ingin saya tanyakan mengenai kesunahan menjawab adzan. Mengapa dibedakan antara adzan yang berasal dari speaker di masjid atau mushola dengan adzan yang berasal dari aplikasi atau rekaman? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdus Shomad, Pontianak)

_________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika adzan berkumandang, maka bagi orang yang mendengarnya disunnahkan untuk menjawab adzan tersebut, meskipun hanya terdengar melalui perantara speaker atau pengeras suara. Alasannya, adzan yang terdengar merupakan suara asli seseorang yang adzan (muadzin) yang dikeraskan dengan bantuan teknologi speaker.

Beda halnya ketika suara adzan tersebut berasal dari suara rekaman, seperti halnya adzan yang ada dalam aplikasi waktu shalat, televisi, radio, dan semacamnya. Maka untuk adzan yang seperti ini tidak ada kesunahan untuk menjawabnya. Sebagimana penjelasan Syekh Ismail Zain dalam kitab fatwanya:

سُؤَالٌ هَلْ يُسَنُّ جَوَابُ اْلأَذَانِ مِنْ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ إِذَا كَانَ الْمُؤَذِّنُ بَعِيْدًا عَنْهُ بِحَيْثُ لَا يَسْمَعُ أَذَانَهُ إِلَّا بِوَاسِطَةِ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ أَوْ لَا، بَيِّنُوْا لَنَا ذَلِكَ؟ الْجَوَابُ نَعَمْ يُسَنُّ إِجَابَةُ الْمُؤَذِّنِ الْمَذْكُوْرِ وَالْمُكَبِّرُ غَايَةُ مَا فِيْهِ أَنَّهُ يُقَوِّي الصَّوْتَ وَيُبْلِغُهُ اِلَى مُدِيٍّ بَعِيْدٍ، هَذَا اِذَا كَانَ الْأَذَانُ مَنْقُوْلًا بِوَاسِطَةِ الْمُكَبِّرِ عَنْ مُؤَذِّنٍ يُؤَذِّنُ بِالْفَعْلِ، أَمَّا إِذَا كَانَ الْأَذَانُ فِي الشَّرِيْطِ الْمُسَجَّلِ فَلَا تُسَنُّ إِجَابَتُهُ لِأَنَّهُ حَاكٍ


Soal: Apakah disunahkan atau tidak menjawab adzan dari pengeras suara (speaker) ketika keberadaan orang yang adzan jauh dari pendengarnya, sekiranya adzan tersebut tak terdengar kecuali dengan perantara pengeras suara. Jelaskan itu pada kami? Jawab: Ya, disunnahkan menjawab adzan tersebut. Adapun pengeras suara (speaker) hanya mengeraskan dan menyampaikan suara pada jarak jauh. Kesunahan ini berlaku apabila adzan bersumber dari muadzin yang adzan secara nyata. Apabila adzan bersumber dari kaset rekaman maka tidak sunah menjawabnya, karena itu sebatas memutar rekaman.”[1]

Pemilahan hukum di atas juga berlaku pada setiap kesunahan yang didasari atas pendengaran, seperti kesunahan mengucapkan amin ketika mendengar doa. Ketika doa tersebut didengar secara nyata—meskipun melalui speaker atau telefon atau live streaming—dalam waktu yang bersamaan, maka ada muncullah kesunahan membaca amin bagi pendengarnya. Karena pada dasarnya suara itu terdengar secara nyata, bukan berupa rekaman yang mana suaranya direkam di waktu lampau dan diputar berulang-ulang di waktu mendatang. []waAllahu a’lam


[1] Qurroh Al-‘Ain Bi Fatawa Ismail Zain, hal. 52