Tag Archives: LBM

Kajian Islam Ahlusunnah Wal Jamaah NU Center Jawa Timur

LirboyoNet. Kediri 29/07/2018. Dalam rangka memeriahkan acara Konferensi NU Wilayah Jawa Timur. Aswaja NU Center Jawa Timur mengadakan KISWAH event (Kajian Islam Ahlusunnah Wal Jamaah). Acara ini cukup menarik perhatian santri Pondok Pesantren Lirboyo dan anggota Konferwil yang lain. Acara dibuka pukul 09.00 Wis yang bertempat di Masjid Al Hasan Lirboyo Area Konferwil NU JATIM.

Sebelum acara KISWAH dimulai, seluruh peserta dimohon oleh panitia untuk Bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan disambung dengan lagu YA LAL WATHON Gubahan K.H. Abdul Wahab Chasbulloh salah satu pendiri & penggerak NU.

Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan dari Aswaja NU Center Jatim atas terselenggaranya Konferwil, hal itu sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Aswaja NU Center Jatim, KH Abdurrahman Navis Lc. MHI “Kegiatan Kiswah Aswaja NU Center Jatim ini adalah untuk ikut memeriahkan dan mensupport Konferwil, sehingga lebih meriah dan lebih bermanfaat bagi umat,” kata kiai yang juga Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Dan beliau juga sedikit menceritakan profil singkat Aswaja NU Center Jatim, yakni pada tanggal 31 Januari 2011 bertepatan dengan peringatan Harlah NU ke 85 di PWNU Jawa Timur dilaksanakan launching perangkat pelaksana program yang berisikan tentang kajian Islam keaswajaan yang diberi nama ASWAJA NU CENTER JATIM  oleh wakil ketua umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama Drs H. As’ad Said Ali.

KISWAH Event Aswaja NU Center kali ini mengangkat tema-tema kajian kekinian yang lagi ramai diperbincangkan dan sering kali menimbulkan kesalahpahaman dalam mengartikan Ahlusunnah Wal Jamaah. Diantaranya:

  1. Ahlusunnah Wal Jama’ah dan firqoh-firqoh dalam Islam, oleh: Ust. Dafid Fuadi (Direktur Aswaja NU Center Kab. Kediri)
  2. Keunggulan aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, oleh Ust Abdul Wahab Ahmad (Aswaja NU Center Kab. Jember)
  3. Mengenal ajaran Tasawuf Imam al-Ghozali dan Imam Junaid al-Baghdadi, oleh: K.H. Yasin Asmuni (Syuriah PWNU Jatim & Pengasuh PP. Hidayatut Thulab Petuk Kediri)
  4. Fiqh Aswaja ‘ala Madzahib al-Arba’ah dan dalil-dalil Amaliyah, oleh: Ust. Ma’ruf Khozin (Aswaja NU Center  Jatim)

  5. Kajian Islam Nusantara dan Fiqh Kebangsaan, oleh: Tim LBM Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Dan rangkaian acara KISWAH Event kali ini diakhiri dengan kajian buku “Fikih Kebangsaan: Merajut kebersamaan ditengah kebinnekaan” oleh Ust. Muhammad Hamim Hr yang mana buku itu disusun oleh Tim LBM Pondok pesantren Lirboyo.  Diakhir acara, beliau Ust. Hamim sedikit menginformasikan bahwa dalam waktu dekat ini insyaallah Tim LBM Pondok pesantren Lirboyo akan menerbitkan kembali buku Fikih Kebangsaan jilid 2 yang isinya membahas seputar Jihad. Dan dengan berakhirnya KISWAH event ini, maka berakhir pula seluruh rangkaian KONFERWIL Jatim. Dan seluruh Tim ASNUTER Jatim berharap melalui acara KISWAH Event ini bisa menambah wawasan keaswajaan kita dan bisa bermanfaat dikemudian hari. Amien.

Pembukaan Kegiatan LBM PP. Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- (16/7/18) Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L) secara resmi memulai kembali aktifitasnya. Gedung LBM yang menjadi venue acara tersebutpun dipadati oleh para santri yang begitu antusias mengikuti acara. Sebagaimana diketahui, bahwa bahstul masail adalah salah satu tradisi pesantren-pesantren salaf yang sudah ada sejak dulu. Bahkan dalam acara itu beliau K.H. An’im Falahuddin Mahrus menuturkan bahwa dalam suatu forum bahtsul masail pernah Mbah Kiai Mahrus (KH. Mahrus Ali) berdebat dengan Mbah Kiai Wahab Hasbulloh selama tiga hari tiga malam tidak selesai, ini menandakan bahwa pesantren dengan bahstul masail adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.

Beliau berpesan kepada para mubahisin agar bisa menempatkan diri dan senantiasa menjaga adab, meskipun mungkin dalam forum bahtsul masail seringkali terjadi perdebatan yang alot namun ‘alaqoh batiniah (hubungan emosional) harus tetap terjaga sebagaimana yang dicontohkan oleh para kiai terdahulu.

“Bisa menemptakan diri juga harus, jangan sampai mentang-mentang di pondok ahli bahstu, ilmunya tinggi sampai dirumah mendebat kiai-kiai desa yang sudah sepuh. Inikan adabnya kurang, harus bisa membedakan mana forum bahstu dan mana muasyaroh.” begitu tutur beliau. Beliau juga menuturkan dawuhnya mbah Mbah Mahrus bahwa kunci hidup seorang santri adalah berilmu dan pintar bergaul.
“Modal kita hidup ditengah masyarakat, di tengah organisasi, syarate men dikenal wong (agar dikenal orang), vokal, reaktif, dan kritis. Tapi tetap masalah tata krama, dan taadduban dijaga, agar bisa diterima ditengah masyarakat.” Begitu, pungkas beliau di acara malam hari itu. (IM)

Hasil Bahtsul Masa’il Penutupan 2018

LirboyoNet, Kediri- Ketika disebutkan istilah bahtsul masa’il maka tak akan jauh dengan nama Ponpes Lirboyo. Memang demikian, karena menjadi sebuah realita bahwa saat ini, pesantren yang berdiri sejak tahun 1910 Masehi tersebut dikenal karena kualitas musyawarah dan bahtsul masa’ilnya.

Maka dari itu, demi menjaga marwah dan kualitas santri dalam bermusyawarah dan berbahtsul masa’il, Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L) menggelar Bahtsul Masa’il Penutupan dalam rangka penutupan seluruh aktivitas Lajnah Bahtsul Masa’il serta menyongsong haul dan haflah Ponpes Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Acara yang digelar selama dua hari sejak Rabu-Kamis, 26-27 Jumadil Akhiroh 1439 /14-15 Maret 2017 ini dilaksanakan di serambi masjid Lawang Songo, Lirboyo.

Dalam acara tersebut, para peserta bahtsul masa’il yang terdiri dari perwakilan seluruh pengurus bahtsul masail jam’iyyah daerah, pondok unit, dan pesantren-pesantren yang diundang, dibagi menjadi dua komisi, yaitu komisi A dan komisi B. Di setiap komisi, mereka telah membahas berbagai problematika aktual kekinian yang membutuhkan jawaban dari kacamata syariat.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini:

KOMISI A

Meme Seorang Tokoh

Tinggal Bersama Saudara Ipar

Zakat Tijaroh

Penggunaan Mobil Patwal

Memutuskan Hukum Hanya Berdasarkan Mafsadah

KOMISI B

Pesan Ojek Online di Waktu Offline

Guyonan yang Perlu Dipertanyakan

Membakar Mushaf Wakafan

Paid Promote Instagram

 

Pembukaan Sorogan LBM

Lirboyonet, Kediri-secara resmi LBM telah membuka progam belajar dengan sorogan pada hari Senin sore (07/08/17) di gedung LBM, dalam acara pembukaan tersebut para santri yang telah mendaftar sebanyak 350 juga datang karena hal itu menjadi wajib berkat keikutsertaan mereka dalam program belajar sorogan.

Salah satu dari banyaknya santri yang ikut sorogan di LBM mendapatkan piagam penghargaan dari Tim sorogan LBM yang penyerahannya diserahkan langsung oleh Agus H. Sa’id Ridlwan, dan hebatnya lagi santri tersebut masih kelas 1 Tsanawyyah.

Agus H. Sa’id Ridlwan sebelum memberikan wejangan kepada peserta sorogan beliau berpesan kepada para penyorog untuk tetap bersemngat belajar bersama teman-teman santri yang masih sekolah, karena metode yang ampuh dalam belajar adalah dengan halaqoh. Sekelas Imam Al- Buyti yang merupakan murid dan pengganti Imam Syafi’i  juga melakukan metode halaqoh terhadap gurunya, meskipun Imam Al- Buyti sebelumnya sangat sulit untuk memhami pelajaran akan tetapi dengan halaqoh beliau bisa menjadi mufti.

Beliau juga berpesan kepada para santri peserta sorogan :

Prinsip mengaji, Mencari ilmu itu tempatnya jangan hanya dikatakan di madrasah atau musyawaroh, ilmu itu tempatnya ada pada orang yang lebih ‘alim dari kamu, siapapun itu, mau mustahiq atupun teman sendiri. Datangilah orang-orang itu agar kamu bisa menyerap ilmunya. Siapapun yang lebih pinter ambil ilmunya.

Perlu diketahui di mesir pernah dilakukan riset dalam  pembelajaran, diantara metodologi belajar yang paling hebat dan juga untuk kejiwaanya itu ternyata adalah model halaqoh atau sorogan

Beliau juga bercerita “Paling banyak saya mendapatkan ilmu itu dengan mujalasah seperti privat kepada guru yang berupa sorogan bahkan para alumni yang telah menjadi mufti atau yang lainnya di daerah masing-masing juga awalnya melakukan privat sorogan”

Syarat menjadi ulama yang mutlak harus ahli membaca kitab tidak ada yang ahli bahtsu, ahli fatwa yang tidak ahli kitab dan tempat yang paling tepat untuk bisa membaca kitab ada di sorogan.

Cara belajar yang harus disiapkan setiap pelajaran itu empat metode yang harus dikuasai, Pertama harus bisa membaca tulisannya sendiri yang sesuai dengan kaedah nahwu shorof, Kedua harus bisa memurodi dengan benar. sampai-sampai, ada santri yang bener-bener ingin bisa memurodi, murod dari gurunya ditulis, jika itu sudah maka yang ketiga harus bisa menerangkan, dan yang keempat ini merupakan tambahan yakni siapkan kemusykilan. Dengan begitu maka mendapatkan ilmu akan cepat.

Semua itu hanyalah metode tetapi yang terpenting adalah kemauan dari dalam hati untuk menjadi yang lebih hebat, tinggal kita mau untuk bersungguh-sungguh, mempeng karena dalam mencari ilmu harus sabar dan istiqomah.

Demi Informasi Global, Pentingkah Tabayun?

Kabar (khabar), meskipun ia bisa saja memiliki nilai kebenaran absolut, semisal Al-Quran, ia di tempat lain bisa saja memuat kesalahan, semisal berita-berita dari mulut ke mulut yang sering kita dengar[1]. Kabar, dengan mengecualikan Al-Quran dan Hadits terpilih, selalu bernilai ambigu: salah atau benar. Ambiguitas inilah yang menjadi viral dan obrolan penting akhir-akhir ini.

Bantuan modernisasi, terutama berupa produk-produk globalisasi, membuat informasi begitu mudah diungkap dan diambil. Kemudahan ini membuat kita dapat menerima informasi secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya. Idealnya, pengetahuan kita menjadi berkembang lebih luas daripada dengan pencarian informasi konvensional, tanpa internet dan semacamnya. Namun, alat modernisasi ini ternyata menyimpan pisau yang lain: berita-berita palsu (hoax) juga memanfaatkan kemudahan yang sama.

Berita-berita palsu memang sering menjadi keresahan banyak pihak. HM. Abdul Muid Shohib dalam tulisannya Tabayun di Era Literasi Digital, menyebut bahwa pernah terjadi kegoncangan hebat di kalangan kaum muslimin disebabkan berita semacam  ini, yakni haditsul ifki, gosip yang melanda ummul mukminin Sayyidah Aisyah ra.

Keresahan ini yang kemudian membuat Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo mempersoalkan berita hoax, terutama ketika berita ini tidak tersentuh koreksi dan penjelasan yang baik (tabayyun). LBM akan mencoba membahas permasalahan ini dalam Bahtsul Masail Kubro (BMK) Ponpes Lirboyo, Rabu-Kamis 23-24 Jumadal Akhirah/22-23 Maret besok.

Tidak hanya itu, ada beberapa persoalan lain yang penting untuk didiskusikan dengan santri-santri dari pondok pesantren lain se-Jawa Timur. Persoalan dan deskripsi permasalahan bisa diunduh di link ini.][

 

[1] Zakaria al-Anshari, Lubbul Ushul, dalam Pengantar Memahami Lubbul Ushul, Tim Kodifikasi Anfa’, 2015, hal. 236.