HomeArtikelDemi Informasi Global, Pentingkah Tabayun?

Demi Informasi Global, Pentingkah Tabayun?

0 4 likes 1.6K views share

Kabar (khabar), meskipun ia bisa saja memiliki nilai kebenaran absolut, semisal Al-Quran, ia di tempat lain bisa saja memuat kesalahan, semisal berita-berita dari mulut ke mulut yang sering kita dengar[1]. Kabar, dengan mengecualikan Al-Quran dan Hadits terpilih, selalu bernilai ambigu: salah atau benar. Ambiguitas inilah yang menjadi viral dan obrolan penting akhir-akhir ini.

Bantuan modernisasi, terutama berupa produk-produk globalisasi, membuat informasi begitu mudah diungkap dan diambil. Kemudahan ini membuat kita dapat menerima informasi secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya. Idealnya, pengetahuan kita menjadi berkembang lebih luas daripada dengan pencarian informasi konvensional, tanpa internet dan semacamnya. Namun, alat modernisasi ini ternyata menyimpan pisau yang lain: berita-berita palsu (hoax) juga memanfaatkan kemudahan yang sama.

Berita-berita palsu memang sering menjadi keresahan banyak pihak. HM. Abdul Muid Shohib dalam tulisannya Tabayun di Era Literasi Digital, menyebut bahwa pernah terjadi kegoncangan hebat di kalangan kaum muslimin disebabkan berita semacam  ini, yakni haditsul ifki, gosip yang melanda ummul mukminin Sayyidah Aisyah ra.

Keresahan ini yang kemudian membuat Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo mempersoalkan berita hoax, terutama ketika berita ini tidak tersentuh koreksi dan penjelasan yang baik (tabayyun). LBM akan mencoba membahas permasalahan ini dalam Bahtsul Masail Kubro (BMK) Ponpes Lirboyo, Rabu-Kamis 23-24 Jumadal Akhirah/22-23 Maret besok.

Tidak hanya itu, ada beberapa persoalan lain yang penting untuk didiskusikan dengan santri-santri dari pondok pesantren lain se-Jawa Timur. Persoalan dan deskripsi permasalahan bisa diunduh di link ini.][

 

[1] Zakaria al-Anshari, Lubbul Ushul, dalam Pengantar Memahami Lubbul Ushul, Tim Kodifikasi Anfa’, 2015, hal. 236.