Tag Archives: sedekah

Khutbah Jumat: Momentum Bersedekah di Hari Penuh Berkah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي قَهَّرَ وَغَلَبَ. فَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَى وَلَا مُنِعَ لِمَا سَلَب.
فَسُبْحَانَهُ مِن إِلهٍ وَفَّقَ أَحْبَابَهُ لِمَرَاضِيهِ وَيَسَّرَ لَهُمُ المُسَبَّبَاتِ والسَّبَب.
أَحْمدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ مَنْ تَابَ إِلَيهِ وَهَرَب. وَأَشكُرُهُ شُكرًا يَفُوقُ عَدَّ مَنْ عَدَّ وَحِسَابَ مَن حَسَب.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فَارِجُ الكَرَب. وَالمُنْجِي مِنَ الوَرْطَاتِ والعَطَب.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ العَجَمِ وَالعَرَب.
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اقْتَفَى شَرْعُهُ المُطَهَّرُ وَإِلَى دِينِهِ الحَنِيفِيِّ انتَسَب.(أَمَّا بَعدُ) فَيَآ أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى. واعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ

Hadirin Jama’ah Jum’at yang berbahagia…

Pada momentum yang sangat spesial ini marilah kita senaniasa untuk selalu memupuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan berjuang sekuat tenaga dalam menjalankan segala perintah Allah Awt. dan mejauhi segala larangan-Nya

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah…

Di umur dunia yang semakin tua ini, kita rasakan banyak manusia yang lebih mementingkan kuantitas harta daripada kualitasnya. Manusia era modern yang kita rasakan ini dalam pandangan hidupnya lebih mengutamakan tentang seberapa banyak harta yang dimiliki daripada keberkahannya. Mereka beranggapan bahwa dengan memiliki harta yang melimpah, kebahagiaan hidup akan mereka dapatkan, sebab hidup dan rizki adalah sebuah perhitungan matematika yang jika satu tambah satu maka sama dengan dua, dan satu dikurangi satu sama dengan nol. Mereka lupa bahwa Allah memberikan rizki kepada para hamba-Nya sudah ada ketentuan dan kepastian-Nya. Masing- masing sudah ada bagiannya dan tidak akan tertukar satu sama lain sesuai dengan kehendak Allah Swt. Dalam al-Qur’an Allah Swt. berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ 

Artinya : Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (Q.S Ali Imron : 37 )

Maka segala hal apapun yang telah ditakdirkan oleh Allah kepada kita berusaha untuk  kita syukuri. Dengan mensyukuri atas pemberian-Nya, kita tidak akan menghitung-hitung seberapa jumlah banyak harta yang di  miliki.

Hadirin Jama’ah Jum’at yang bersahaja…

Tujuan utama Allah Swt. menciptakan manusia adalah semata-mata untuk beribadah. Harta yang diberikan oleh Allah kepada kita pada dasarnya adalah sebagai lantaran untuk beribadah dan istiqomah. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Arinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. ( Q.S. : az-Dzuriyat :56 )

Sebagai bentuk syukur kita kepada Allah Swt. diantaranya dengan rajin bersedekah dan berbagi rizki kepada orang lain serta tidak berpandangan bahwa harta yang kita bagikan akan berkurang. Malah sebaliknya, dengan kita memberi maka hakikatnya kita menerima. Dengan memberi, apa yang kita miliki akan semakin berkah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Janganlah khawatir akan harta berkurang tetapi yakinlah bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada hambanya sangatlah banyak sampai kita tidak mampu untuk mengitungnya . Allah berfirman dalam al-Qur’an :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya :Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. : An-Nahl: 18)

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang di dalamnya terdapat hari yang begitu agung yakni  hari raya Idul Adha. Ritual ibadah yang identik dengan hari raya ini diantarya adalah ibadah Kurban. Momentum yang sangat spesial ini adalah salah satu cara untuk bersedekah dengan menyembelih hewan kurban dan dibagikan  kepada orang lain. Terlebih masa pandemi covid-19 yang sampai sekarang belum reda. Segala sektor sedang mengalami kemrosotan tajam tak terkecuali perokominan. Masyarakat ekonomi kelas menengah kebawah sangat merasakan dampaknya. Semua dibatasi dan sulitnya mencari mata pencaharian dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Kurban bisa menjadi salah satu solusi dalam rangka mengurangi beban hidupnya.

Hadirin yang berbagia. ..

Dengan beberpa hal ini kita bisa mengetauhi bahwa bersedekah yang berupa kurban akan memiliki dua hubungan antara Allah sebagai tuhan dan hungan sesama sebagai bentuk sosial. Bersedekah sebagai wujud atas syukur kepada Allah. Ibadah Kurban  merupakan sebuah amal ibadah yang sangat dicintai Allah Swt. Rasulullah bersabda melalui hadits yang diriwayatkan dari Aisyah R.A.,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ إهْرَاقَةِ الدَّمٍ وَإِنَّهُا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Artinya : Tidaklah ada sesuatu amalan yang di kerjakan anak oleh manusia pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah Swt dari menyembelih kurban. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya ( H.R. Imam At-Turmudzi ).

Hadirin yang berbahagia…

               Demikian khutbah pada hari ini semoga bermanfaat. Mudah-mudahan kita semua dijadikan jiwa-jiwa yang selalu memilki ketaan dan ketakwaan yang tinggi disertai memilii kepekaan sosial untuk saling berbagi kepada sesama.

أَعُوذُ بالله مِن الشَّيْطان الرَّجِيم. واذْكُروا الله فِي أيّامٍ مَعدُوداتٍ فَمَنْ تَعَّجلَ في يومَين فَلا إِثْمَ عليه ومَن تَأَخَّر فلا إِثْمَ عليه لِمنِ اتَّقى. واتقو االهَ واعلموا أنكم إليه تُحشرون.

بارك الله لي ولكم في القرآن العضيم ونفعني وإياكم من الآيات والذكرِ الحكيمِ إنه تعالى جوازٌ كريمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رءُؤْفٌ رحيمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ. فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى ولَمْ يَزَلْ قَائِلا عَليمًا إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتكَ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هذا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِن فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أكبَر

Tuhan Bersama Orang-Orang Lemah

Rasulullah Saw. pernah berkisah bagaimana bentuk kasih Allah Swt. kepada makhluknya yang lemah. Di hari kiamat nanti, Allah akan berbincang dengan hamba-hamba-Nya.

Tibalah hari kiamat itu. Dan kepada salah satu hamba-Nya, Allah bertanya, “Wahai putra Adam. Dulu aku sakit, tetapi engkau tidak menjengukku.” Sang hamba heran. Bagaimana mungkin Tuhannya yang maha perkasa itu jatuh sakit? “Wahai Tuhanku. Bagaimana mungkin aku menjenguk di masa sakitmu, sedangkan Engkau adalah Tuhan segala semesta?

Wahai hamba-Ku. Tak tahukah engkau jika salah satu hamba-Ku sakit, tetapi kau enggan menjenguknya? Tak tahukah engkau, jika saja kau menjenguknya, kau akan menemukan-Ku di sampingnya?” Sang hamba terdiam. Barangkali ia sedang merenungi kesalahan-kesalahan masa lalunya.

Wahai putra Adam,” Allah menegurnya kembali, “Aku meminta sesuap nasi darimu, tapi engkau tak memberikannya.” Sang hamba yang tak merasa begitu zalimnya ia kepada Tuhannya, kepalanya kini penuh tanda tanya. “Tuhanku,” ia mulai mengeluh, “Bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Tuhan segala semesta?

Apakah kau tak tahu, seorang hamba-Ku telah datang padamu dan meminta sesuap nasi, tapi kau tak mengindahkannya? Tak tahukah kau jika saja dirimu memberinya makan, tentu kau akan menemukan-Ku di sampingnya?”

Sang hamba barangkali menggigil hebat kala Tuhannya menghakiminya kembali, “Kenapa kau tak memberi-Ku minum ketika Aku memintanya?” Sang hamba hanya bisa berpasrah. Ia luapkan permohonan maaf yang sama, “Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberimu minum sementara Engkau adalah Tuhan pemilik segalanya?”

Telah datang padamu seorang hamba-Ku. Ia meminta minum padamu, tapi kau mengacuhkannya. Jika saja Engkau memberinya apa yang ia pinta, tentu kau akan menemukan-Ku bersamanya.”

Dengan kisah-kisah sederhana seperti inilah Rasulullah acapkali mengajarkan nilai-nilai hidup yang baik kepada para sahabatnya. Benar. Kebaikan akan selalu bisa dilakukan dengan bentuk-bentuk paling sederhana sekalipun, seperti memberi minum kepada hewan, memberi makan kepada kawan yang membutuhkan, dan bentuk-bentuk kebaikan kecil yang lain.

Kebaikan-kebaikan seperti ini mungkin terlihat remeh di mata kita saat ini. Tetapi pada waktunya nanti, saat hari kiamat tiba dan perhitungan amal di depan mata, kita akan menyesal, bahwa kebaikan kecil yang kita lewatkan itu adalah gunung harta yang berlipat ganda di sisi Tuhan.

Disarikan dari: Hadis Qudsi

Kisah Sedekah dan Doa Untuk Jenazah

Dikisahkan dari Abi Qolabah:

Pada suatu hari, Abi Qolabah bermimpi melihat suatu pemakaman . Tiba-tiba, ia menyaksikan kuburan di situ seakan-akan terbelah. Mayat-mayat pun keluar dari kuburnya dan duduk di tepi kuburan. Seolah-olah di tangan masing-masing dari mereka terdapat nampan yang terbuat dari cahaya yang cemerlang. Di antara mereka, Abi Qolabah melihat seorang mayat laki-laki yang tidak memiliki nampan cahaya di tangannya.

Mengapa aku tak melihat cahaya diantara kedua tanganmu?”, tanya Abi Qolabah pada laki-laki tersebut.

Sesungguhnya mereka mempunyai anak dan kerabat yang mendoakan mereka dan bersedekah untuk mereka. Dan cahaya itu lah buah dari apa yang dipersembahkan untuk mereka. Sementara aku mempunyai anak yang tidak shaleh dan tidak mau mendoakan serta tidak bersedekah untukku. Oleh karena itu aku tidak memiliki nampan bercahaya. Dan aku sangat malu terhadap tetangga-tetanggaku di sini”, jawab laki-laki tersebut.

Kemudian, ketika Abi Qolabah terbangun dari tidurnya, segera dia menuju rumah si anak yang disebut oleh laki-laki dalam mimpinya itu. Dan menceritakan semua kejadian yang dialami dalam mimpinya.

Lalu anak itu berkata kepada Abi Qolabah, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku bertobat dan tidak akan kembali pada hal yang telah aku lakukan”.

Sejak sat itu, sang anak menyibukkan dirinya hanya untuk taat kepada Allah, berdoa dan bersedekah yang ditujukan kepada ayahnya.

Beberapa hari telah berlalu, Abi Qolabah kembali bermimpi berada di sekitar pemakaman yang dulu pernah muncul dalam mimpinya. Laki-laki yang dulu pernah dilihatnya, kini sudah memiliki nampan yang bercahaya pula. Bahkan nampan miliknya lebih berkilau daripada matahari dan lebih bersinar daripada yang lain.

Laki-laki itu berkata kepadanya,  “Wahai Abi Qolabah, semoga Allah membalas kebaikanmu. Karena berkat nasihatmu, anakku selamat dari api neraka dan juga aku terhindar dari rasa malu di antara tetanggaku, Alhamdulillah”.

[]waAllahu a’lam

____________

Disarikan dari kitab An-Nawadir, karya syech Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, halaman 43, cetakan Al-Haromain.