HomeAngkringKisah Sedekah dan Doa Untuk Jenazah

Kisah Sedekah dan Doa Untuk Jenazah

0 3 likes 261 views share

Dikisahkan dari Abi Qolabah:

Pada suatu hari, Abi Qolabah bermimpi melihat suatu pemakaman . Tiba-tiba, ia menyaksikan kuburan di situ seakan-akan terbelah. Mayat-mayat pun keluar dari kuburnya dan duduk di tepi kuburan. Seolah-olah di tangan masing-masing dari mereka terdapat nampan yang terbuat dari cahaya yang cemerlang. Di antara mereka, Abi Qolabah melihat seorang mayat laki-laki yang tidak memiliki nampan cahaya di tangannya.

Mengapa aku tak melihat cahaya diantara kedua tanganmu?”, tanya Abi Qolabah pada laki-laki tersebut.

Sesungguhnya mereka mempunyai anak dan kerabat yang mendoakan mereka dan bersedekah untuk mereka. Dan cahaya itu lah buah dari apa yang dipersembahkan untuk mereka. Sementara aku mempunyai anak yang tidak shaleh dan tidak mau mendoakan serta tidak bersedekah untukku. Oleh karena itu aku tidak memiliki nampan bercahaya. Dan aku sangat malu terhadap tetangga-tetanggaku di sini”, jawab laki-laki tersebut.

Kemudian, ketika Abi Qolabah terbangun dari tidurnya, segera dia menuju rumah si anak yang disebut oleh laki-laki dalam mimpinya itu. Dan menceritakan semua kejadian yang dialami dalam mimpinya.

Lalu anak itu berkata kepada Abi Qolabah, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku bertobat dan tidak akan kembali pada hal yang telah aku lakukan”.

Sejak sat itu, sang anak menyibukkan dirinya hanya untuk taat kepada Allah, berdoa dan bersedekah yang ditujukan kepada ayahnya.

Beberapa hari telah berlalu, Abi Qolabah kembali bermimpi berada di sekitar pemakaman yang dulu pernah muncul dalam mimpinya. Laki-laki yang dulu pernah dilihatnya, kini sudah memiliki nampan yang bercahaya pula. Bahkan nampan miliknya lebih berkilau daripada matahari dan lebih bersinar daripada yang lain.

Laki-laki itu berkata kepadanya,  “Wahai Abi Qolabah, semoga Allah membalas kebaikanmu. Karena berkat nasihatmu, anakku selamat dari api neraka dan juga aku terhindar dari rasa malu di antara tetanggaku, Alhamdulillah”.

[]waAllahu a’lam

____________

Disarikan dari kitab An-Nawadir, karya syech Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, halaman 43, cetakan Al-Haromain.